alexametrics
24.9 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Tri Ukhuwwah dan Diplomasi Global

Mobile_AP_Rectangle 1

Piagam tersebut, antara lain mengandung butir-butir sebagai berikut: (1) Kaum Muslim, baik yang dari Makah maupun yang bermukim di Yatsrib, serta yang mengikut dan menyusul mereka dalam berjuang bersama adalah satu umat (kesatuan), (2) Kaum Muhajir dan kalangan Quraisy tetap dapat melaksanakan adat kebiasaan mereka yang baik dan berlaku di kalangan mereka, seperti bersama-sama menerima dan membayar tebusan darah di antara mereka dengan cara yang baik dan adil di antara sesama orang mukmin, demikian juga Bani ‘Auf menurut adat kebiasaan mereka yang baik, (3) Orang-orang beriman harus membantu sesama Mukmin dalam memikul beban utang yang berat atau dalam membayar tebusan tawanan dan diyah, (4) Orang Mukmin harus melawan orang yang melakukan kejahatan/permusuhan dan perusakan walau terhadap anak-anak mereka, (5) Orang Mukmin tidak boleh membunuh orang Mukmin demi kepentingan orang kafir, (6) Siapa pun dari kalangan orang Yahudi yang bersedia memihak kepada kelompok/mengikuti kaum muslim, maka ia berhak mendapat pertolongan dan persamaan, (7) Persetujuan damai orang-orang mukmin sifatnya satu, sehingga tidak dibenarkan seorang mukmin mengadakan perjanjian sendiri dengan meninggalkan mukmin lainnya dalam keadaan perang di Jalan Allah, (8) Tidak dibenarkan melindungi harta dan jiwa kaum Quraisy (yang kafir) dan tidak boleh juga merintangi orang beriman (dalam perjuangannya), (9) Bilamana terjadi perselisihan antara para “penanda tangan piagam ini”, maka keputusan dikembalikan kepada Rasul SAW., (10) Masyarakat Yahudi harus menanggung biaya perang (pertahanan) selama masih dalam keadaan perang, (11) Masyarakat Yahudi Bani ‘Auf adalah satu umat (kesatuan masyarakat) dengan orang-orang beriman. Masyarakat Yahudi bebas melaksanakan agama mereka dan kaum muslim pun demikian, bahwa tidak seorang pun di antara mereka yang boleh keluar, kecuali atas izin Muhammad SAW. (12) Seseorang tidak boleh dihalangi dalam menuntut haknya. Barang siapa yang diserang, maka ia bersama keluarganya harus menjaga diri, kecuali yang berlaku aniaya, (13) Orang Yahudi menanggung nafkah sesama mereka, orang-orang mukmin pun demikian. Tetapi, mereka semua (Mukmin dan Yahudi) harus saling membantu menghadapi pihak yang menentang piagam ini. Mereka semua sama-sama berkewajiban, nasihat-menasihati, bahu membahu dalam kebajikan, dan menjauhi dosa dan keburukan, (14) Seseorang tidak boleh melakukan keburukan kepada sesamanya dan bahwa pertolongan/pembelaan harus diberikan kepada yang teraniaya, (15) Kota Yatsrib adalah kota “Haram” (suci/terhormat) bagi para penanda tangan piagam ini. Kota yang dihormati tidak boleh dihuni tanpa izin penduduknya, (16) Siapa pun yang keluar atau tinggal di kota Yatsrib, maka keselamatannya terjamin, kecuali yang melakukan kezaliman/kejahatan.

Butir-butir Piagam Madinah adalah dokumen yang sangat strategis bagi pengembangan komitmen kebangsaan yang digagas oleh Nabi Muhammad SAW. Rasanya, kita memang perlu belajar dan mengambil ‘ibrah dari pesan-pesan piagam yang digagas Nabi Muhammad SAW untuk menggagas kemaslahatan. Membangun ukhuwah wathaniyah berarti memperkuat komitmen kebangsaan dan sekaligus membangun peradaban bangsa.

Tri Ukhuwah yang ketiga, adalah Ukhuwah Basyariyah. Membangun ukhuwah berarti membangun kebutuhan fisik, akal, dan kalbu, sekaligus “kita sendiri harus serius membangun hubungan dengan Allah Yang Maha Kuasa” yang telah memberi kita karunia fisik, akal dan kalbu. Membangun ukhuwah tidak hanya bermodal kepandaian, pangkat, atau jabatan, karena yang memberi kita potensi fisik, akal dan kalbu adalah Allah SWT.  Islam mengajarkan, jika kita memutus hubungan dengan Allah SWT jangan berharap ukhuwah akan tercapai, karena ukhuwah adalah bagian dari karunia Allah SWT. Ukhuwah basyariyah  adalah fondasi bagi bangunan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Ukhuwah basyariyah adalah persaudaraan yang substantif, menyangkut kebutuhan fisik, akal dan kalbu sesama manusia. Nabi Muhammad SAW memberi contoh yang mengagumkan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Muhammad Husain Haekal (Hayat Muhammad, cetakan 15, 1992) berhasil menelusuri, bahwa setelah Nabi Muhammad SAW bermusyawarah dengan Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar ibn al-Khattab agar barisan kaum Muslim lebih kokoh sekaligus menghilangkan segala bayangan yang bisa membangkitkan api permusuhan, kaum muslimin diajak supaya masing-masing dua bersaudara hanya demi Allah SWT. Nabi sendiri bersaudara dengan Ali ibn Abi Thalib, Hamzah paman Nabi bersaudara dengan Zaid bekas budaknya, Abu Bakar as-Shiddiq bersaudara dengan Kharija bin Zaid, Umar ibn al-Khattab bersaudara dengan ‘Itban bin Malik al-Kharraji. Demikian pula yang lainnya, setiap orang dari kalangan Muhajirin dipersaudarakan pula dengan setiap orang dari kalangan Anshar.

 

*Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA, Pengasuh Pesantren Shofa Marwa Jember, Guru Besar UIN KHAS Jember dan Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur.

- Advertisement -

Piagam tersebut, antara lain mengandung butir-butir sebagai berikut: (1) Kaum Muslim, baik yang dari Makah maupun yang bermukim di Yatsrib, serta yang mengikut dan menyusul mereka dalam berjuang bersama adalah satu umat (kesatuan), (2) Kaum Muhajir dan kalangan Quraisy tetap dapat melaksanakan adat kebiasaan mereka yang baik dan berlaku di kalangan mereka, seperti bersama-sama menerima dan membayar tebusan darah di antara mereka dengan cara yang baik dan adil di antara sesama orang mukmin, demikian juga Bani ‘Auf menurut adat kebiasaan mereka yang baik, (3) Orang-orang beriman harus membantu sesama Mukmin dalam memikul beban utang yang berat atau dalam membayar tebusan tawanan dan diyah, (4) Orang Mukmin harus melawan orang yang melakukan kejahatan/permusuhan dan perusakan walau terhadap anak-anak mereka, (5) Orang Mukmin tidak boleh membunuh orang Mukmin demi kepentingan orang kafir, (6) Siapa pun dari kalangan orang Yahudi yang bersedia memihak kepada kelompok/mengikuti kaum muslim, maka ia berhak mendapat pertolongan dan persamaan, (7) Persetujuan damai orang-orang mukmin sifatnya satu, sehingga tidak dibenarkan seorang mukmin mengadakan perjanjian sendiri dengan meninggalkan mukmin lainnya dalam keadaan perang di Jalan Allah, (8) Tidak dibenarkan melindungi harta dan jiwa kaum Quraisy (yang kafir) dan tidak boleh juga merintangi orang beriman (dalam perjuangannya), (9) Bilamana terjadi perselisihan antara para “penanda tangan piagam ini”, maka keputusan dikembalikan kepada Rasul SAW., (10) Masyarakat Yahudi harus menanggung biaya perang (pertahanan) selama masih dalam keadaan perang, (11) Masyarakat Yahudi Bani ‘Auf adalah satu umat (kesatuan masyarakat) dengan orang-orang beriman. Masyarakat Yahudi bebas melaksanakan agama mereka dan kaum muslim pun demikian, bahwa tidak seorang pun di antara mereka yang boleh keluar, kecuali atas izin Muhammad SAW. (12) Seseorang tidak boleh dihalangi dalam menuntut haknya. Barang siapa yang diserang, maka ia bersama keluarganya harus menjaga diri, kecuali yang berlaku aniaya, (13) Orang Yahudi menanggung nafkah sesama mereka, orang-orang mukmin pun demikian. Tetapi, mereka semua (Mukmin dan Yahudi) harus saling membantu menghadapi pihak yang menentang piagam ini. Mereka semua sama-sama berkewajiban, nasihat-menasihati, bahu membahu dalam kebajikan, dan menjauhi dosa dan keburukan, (14) Seseorang tidak boleh melakukan keburukan kepada sesamanya dan bahwa pertolongan/pembelaan harus diberikan kepada yang teraniaya, (15) Kota Yatsrib adalah kota “Haram” (suci/terhormat) bagi para penanda tangan piagam ini. Kota yang dihormati tidak boleh dihuni tanpa izin penduduknya, (16) Siapa pun yang keluar atau tinggal di kota Yatsrib, maka keselamatannya terjamin, kecuali yang melakukan kezaliman/kejahatan.

Butir-butir Piagam Madinah adalah dokumen yang sangat strategis bagi pengembangan komitmen kebangsaan yang digagas oleh Nabi Muhammad SAW. Rasanya, kita memang perlu belajar dan mengambil ‘ibrah dari pesan-pesan piagam yang digagas Nabi Muhammad SAW untuk menggagas kemaslahatan. Membangun ukhuwah wathaniyah berarti memperkuat komitmen kebangsaan dan sekaligus membangun peradaban bangsa.

Tri Ukhuwah yang ketiga, adalah Ukhuwah Basyariyah. Membangun ukhuwah berarti membangun kebutuhan fisik, akal, dan kalbu, sekaligus “kita sendiri harus serius membangun hubungan dengan Allah Yang Maha Kuasa” yang telah memberi kita karunia fisik, akal dan kalbu. Membangun ukhuwah tidak hanya bermodal kepandaian, pangkat, atau jabatan, karena yang memberi kita potensi fisik, akal dan kalbu adalah Allah SWT.  Islam mengajarkan, jika kita memutus hubungan dengan Allah SWT jangan berharap ukhuwah akan tercapai, karena ukhuwah adalah bagian dari karunia Allah SWT. Ukhuwah basyariyah  adalah fondasi bagi bangunan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Ukhuwah basyariyah adalah persaudaraan yang substantif, menyangkut kebutuhan fisik, akal dan kalbu sesama manusia. Nabi Muhammad SAW memberi contoh yang mengagumkan.

Muhammad Husain Haekal (Hayat Muhammad, cetakan 15, 1992) berhasil menelusuri, bahwa setelah Nabi Muhammad SAW bermusyawarah dengan Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar ibn al-Khattab agar barisan kaum Muslim lebih kokoh sekaligus menghilangkan segala bayangan yang bisa membangkitkan api permusuhan, kaum muslimin diajak supaya masing-masing dua bersaudara hanya demi Allah SWT. Nabi sendiri bersaudara dengan Ali ibn Abi Thalib, Hamzah paman Nabi bersaudara dengan Zaid bekas budaknya, Abu Bakar as-Shiddiq bersaudara dengan Kharija bin Zaid, Umar ibn al-Khattab bersaudara dengan ‘Itban bin Malik al-Kharraji. Demikian pula yang lainnya, setiap orang dari kalangan Muhajirin dipersaudarakan pula dengan setiap orang dari kalangan Anshar.

 

*Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA, Pengasuh Pesantren Shofa Marwa Jember, Guru Besar UIN KHAS Jember dan Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur.

Piagam tersebut, antara lain mengandung butir-butir sebagai berikut: (1) Kaum Muslim, baik yang dari Makah maupun yang bermukim di Yatsrib, serta yang mengikut dan menyusul mereka dalam berjuang bersama adalah satu umat (kesatuan), (2) Kaum Muhajir dan kalangan Quraisy tetap dapat melaksanakan adat kebiasaan mereka yang baik dan berlaku di kalangan mereka, seperti bersama-sama menerima dan membayar tebusan darah di antara mereka dengan cara yang baik dan adil di antara sesama orang mukmin, demikian juga Bani ‘Auf menurut adat kebiasaan mereka yang baik, (3) Orang-orang beriman harus membantu sesama Mukmin dalam memikul beban utang yang berat atau dalam membayar tebusan tawanan dan diyah, (4) Orang Mukmin harus melawan orang yang melakukan kejahatan/permusuhan dan perusakan walau terhadap anak-anak mereka, (5) Orang Mukmin tidak boleh membunuh orang Mukmin demi kepentingan orang kafir, (6) Siapa pun dari kalangan orang Yahudi yang bersedia memihak kepada kelompok/mengikuti kaum muslim, maka ia berhak mendapat pertolongan dan persamaan, (7) Persetujuan damai orang-orang mukmin sifatnya satu, sehingga tidak dibenarkan seorang mukmin mengadakan perjanjian sendiri dengan meninggalkan mukmin lainnya dalam keadaan perang di Jalan Allah, (8) Tidak dibenarkan melindungi harta dan jiwa kaum Quraisy (yang kafir) dan tidak boleh juga merintangi orang beriman (dalam perjuangannya), (9) Bilamana terjadi perselisihan antara para “penanda tangan piagam ini”, maka keputusan dikembalikan kepada Rasul SAW., (10) Masyarakat Yahudi harus menanggung biaya perang (pertahanan) selama masih dalam keadaan perang, (11) Masyarakat Yahudi Bani ‘Auf adalah satu umat (kesatuan masyarakat) dengan orang-orang beriman. Masyarakat Yahudi bebas melaksanakan agama mereka dan kaum muslim pun demikian, bahwa tidak seorang pun di antara mereka yang boleh keluar, kecuali atas izin Muhammad SAW. (12) Seseorang tidak boleh dihalangi dalam menuntut haknya. Barang siapa yang diserang, maka ia bersama keluarganya harus menjaga diri, kecuali yang berlaku aniaya, (13) Orang Yahudi menanggung nafkah sesama mereka, orang-orang mukmin pun demikian. Tetapi, mereka semua (Mukmin dan Yahudi) harus saling membantu menghadapi pihak yang menentang piagam ini. Mereka semua sama-sama berkewajiban, nasihat-menasihati, bahu membahu dalam kebajikan, dan menjauhi dosa dan keburukan, (14) Seseorang tidak boleh melakukan keburukan kepada sesamanya dan bahwa pertolongan/pembelaan harus diberikan kepada yang teraniaya, (15) Kota Yatsrib adalah kota “Haram” (suci/terhormat) bagi para penanda tangan piagam ini. Kota yang dihormati tidak boleh dihuni tanpa izin penduduknya, (16) Siapa pun yang keluar atau tinggal di kota Yatsrib, maka keselamatannya terjamin, kecuali yang melakukan kezaliman/kejahatan.

Butir-butir Piagam Madinah adalah dokumen yang sangat strategis bagi pengembangan komitmen kebangsaan yang digagas oleh Nabi Muhammad SAW. Rasanya, kita memang perlu belajar dan mengambil ‘ibrah dari pesan-pesan piagam yang digagas Nabi Muhammad SAW untuk menggagas kemaslahatan. Membangun ukhuwah wathaniyah berarti memperkuat komitmen kebangsaan dan sekaligus membangun peradaban bangsa.

Tri Ukhuwah yang ketiga, adalah Ukhuwah Basyariyah. Membangun ukhuwah berarti membangun kebutuhan fisik, akal, dan kalbu, sekaligus “kita sendiri harus serius membangun hubungan dengan Allah Yang Maha Kuasa” yang telah memberi kita karunia fisik, akal dan kalbu. Membangun ukhuwah tidak hanya bermodal kepandaian, pangkat, atau jabatan, karena yang memberi kita potensi fisik, akal dan kalbu adalah Allah SWT.  Islam mengajarkan, jika kita memutus hubungan dengan Allah SWT jangan berharap ukhuwah akan tercapai, karena ukhuwah adalah bagian dari karunia Allah SWT. Ukhuwah basyariyah  adalah fondasi bagi bangunan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Ukhuwah basyariyah adalah persaudaraan yang substantif, menyangkut kebutuhan fisik, akal dan kalbu sesama manusia. Nabi Muhammad SAW memberi contoh yang mengagumkan.

Muhammad Husain Haekal (Hayat Muhammad, cetakan 15, 1992) berhasil menelusuri, bahwa setelah Nabi Muhammad SAW bermusyawarah dengan Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar ibn al-Khattab agar barisan kaum Muslim lebih kokoh sekaligus menghilangkan segala bayangan yang bisa membangkitkan api permusuhan, kaum muslimin diajak supaya masing-masing dua bersaudara hanya demi Allah SWT. Nabi sendiri bersaudara dengan Ali ibn Abi Thalib, Hamzah paman Nabi bersaudara dengan Zaid bekas budaknya, Abu Bakar as-Shiddiq bersaudara dengan Kharija bin Zaid, Umar ibn al-Khattab bersaudara dengan ‘Itban bin Malik al-Kharraji. Demikian pula yang lainnya, setiap orang dari kalangan Muhajirin dipersaudarakan pula dengan setiap orang dari kalangan Anshar.

 

*Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA, Pengasuh Pesantren Shofa Marwa Jember, Guru Besar UIN KHAS Jember dan Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/