alexametrics
24 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Sejarah Madrasah Diniyah

Mobile_AP_Rectangle 1

Dari kutipan tersebut tampak bahwa masjid merupakan tahapan pertama lembaga pendidikan Islam. Ia tidak saja berfungsi sebagai pusat ibadah (dalam artian sempit) tetapi juga sebagai pusat pengajaran dan pendidikan. Tahapan kedua adalah masjid-khan, di mana khan merupakan asrama yang berfungsi sebagai pondokan bagi peserta didik yang berasal dari luar kota. Dan madrasah, sebagaimana telah disebut, merupakan tahapan ketiga yang memadukan fungsi masjid dan khan dalam satu lembaga pendidikan.

Madrasah di Indonesia merupakan pendidikan lanjutan bagi peserta didik yang telah menguasai studi pendahuluan di masjid atau langgar. Masjid atau langgar merupakan lembaga pendidikan pertama bagi orang Islam di Indonesia, Abdul Hafidz Dasuki menjelaskan:

Indeed, the masdjid and the langgar are the first institutions of Indonesian Muslim learning. Instruction in the elementary from is in Qur’anic recitation, given on the basis of the booklet in which Arabic characters are printed with and without the vowels and other symbols . . . Teaching is carried out on individual basis. The guru ngaji teaches the pupils who are by one the floor around him in a circle. Each pupil waits for his turn to see the guru ngaji and receive instruction. Those who want to go deeper into study of Islamic teaching should go to a madrasa. Some of them go to a pondok-pesantren (1974: 26,29-30).

Mobile_AP_Rectangle 2

Dari penjelasan tersebut diketahui bahwa melalui masjid dan langgar kebanyakan Umat Islam Indonesia belajar membaca Alquran dengan bantuan seorang guru mengaji. Proses belajar-mengajarnya berlangsung secara individual: guru ngaji mengajar para santri yang duduk melingkar di sekelilingnya satu per satu, metode pengajarannya adalah guru ngaji mengeja huruf demi huruf dari alfabet Arab, atau guru ngaji membaca Alquran kata demi kata, frasa demi frasa, dan santri mengikuti bacaan guru ngaji; para santri sering juga membaca Alquran secara bersama dengan irama lagu tertentu. Abdul Hafidz Dasuki (1974: 27-28) menambahkan bahwa secara tradisional yang diajarkan di masjid atau langgar tidak semata membaca Alquran, tetapi juga pendidikan agama yang mencakup pengajaran wudhu, salat berikut praktiknya, akhlak dan praktiknya, serta sejarah kehidupan Nabi. Dari penguasaan studi pendahuluan itu, mereka yang ingin memperdalam studi Islam selanjutnya masuk madrasah, yang dikenal dengan madrasah diniyah, dan inilah cikal bakal kurikulum madrasah diniyah.

 

*) Prof Dr H Abd Halim Soebahar MA adalah Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur, Direktur Pascasarjana UIN KHAS Jember dan Pengasuh Pesantren Shofa Marwa Jember.

- Advertisement -

Dari kutipan tersebut tampak bahwa masjid merupakan tahapan pertama lembaga pendidikan Islam. Ia tidak saja berfungsi sebagai pusat ibadah (dalam artian sempit) tetapi juga sebagai pusat pengajaran dan pendidikan. Tahapan kedua adalah masjid-khan, di mana khan merupakan asrama yang berfungsi sebagai pondokan bagi peserta didik yang berasal dari luar kota. Dan madrasah, sebagaimana telah disebut, merupakan tahapan ketiga yang memadukan fungsi masjid dan khan dalam satu lembaga pendidikan.

Madrasah di Indonesia merupakan pendidikan lanjutan bagi peserta didik yang telah menguasai studi pendahuluan di masjid atau langgar. Masjid atau langgar merupakan lembaga pendidikan pertama bagi orang Islam di Indonesia, Abdul Hafidz Dasuki menjelaskan:

Indeed, the masdjid and the langgar are the first institutions of Indonesian Muslim learning. Instruction in the elementary from is in Qur’anic recitation, given on the basis of the booklet in which Arabic characters are printed with and without the vowels and other symbols . . . Teaching is carried out on individual basis. The guru ngaji teaches the pupils who are by one the floor around him in a circle. Each pupil waits for his turn to see the guru ngaji and receive instruction. Those who want to go deeper into study of Islamic teaching should go to a madrasa. Some of them go to a pondok-pesantren (1974: 26,29-30).

Dari penjelasan tersebut diketahui bahwa melalui masjid dan langgar kebanyakan Umat Islam Indonesia belajar membaca Alquran dengan bantuan seorang guru mengaji. Proses belajar-mengajarnya berlangsung secara individual: guru ngaji mengajar para santri yang duduk melingkar di sekelilingnya satu per satu, metode pengajarannya adalah guru ngaji mengeja huruf demi huruf dari alfabet Arab, atau guru ngaji membaca Alquran kata demi kata, frasa demi frasa, dan santri mengikuti bacaan guru ngaji; para santri sering juga membaca Alquran secara bersama dengan irama lagu tertentu. Abdul Hafidz Dasuki (1974: 27-28) menambahkan bahwa secara tradisional yang diajarkan di masjid atau langgar tidak semata membaca Alquran, tetapi juga pendidikan agama yang mencakup pengajaran wudhu, salat berikut praktiknya, akhlak dan praktiknya, serta sejarah kehidupan Nabi. Dari penguasaan studi pendahuluan itu, mereka yang ingin memperdalam studi Islam selanjutnya masuk madrasah, yang dikenal dengan madrasah diniyah, dan inilah cikal bakal kurikulum madrasah diniyah.

 

*) Prof Dr H Abd Halim Soebahar MA adalah Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur, Direktur Pascasarjana UIN KHAS Jember dan Pengasuh Pesantren Shofa Marwa Jember.

Dari kutipan tersebut tampak bahwa masjid merupakan tahapan pertama lembaga pendidikan Islam. Ia tidak saja berfungsi sebagai pusat ibadah (dalam artian sempit) tetapi juga sebagai pusat pengajaran dan pendidikan. Tahapan kedua adalah masjid-khan, di mana khan merupakan asrama yang berfungsi sebagai pondokan bagi peserta didik yang berasal dari luar kota. Dan madrasah, sebagaimana telah disebut, merupakan tahapan ketiga yang memadukan fungsi masjid dan khan dalam satu lembaga pendidikan.

Madrasah di Indonesia merupakan pendidikan lanjutan bagi peserta didik yang telah menguasai studi pendahuluan di masjid atau langgar. Masjid atau langgar merupakan lembaga pendidikan pertama bagi orang Islam di Indonesia, Abdul Hafidz Dasuki menjelaskan:

Indeed, the masdjid and the langgar are the first institutions of Indonesian Muslim learning. Instruction in the elementary from is in Qur’anic recitation, given on the basis of the booklet in which Arabic characters are printed with and without the vowels and other symbols . . . Teaching is carried out on individual basis. The guru ngaji teaches the pupils who are by one the floor around him in a circle. Each pupil waits for his turn to see the guru ngaji and receive instruction. Those who want to go deeper into study of Islamic teaching should go to a madrasa. Some of them go to a pondok-pesantren (1974: 26,29-30).

Dari penjelasan tersebut diketahui bahwa melalui masjid dan langgar kebanyakan Umat Islam Indonesia belajar membaca Alquran dengan bantuan seorang guru mengaji. Proses belajar-mengajarnya berlangsung secara individual: guru ngaji mengajar para santri yang duduk melingkar di sekelilingnya satu per satu, metode pengajarannya adalah guru ngaji mengeja huruf demi huruf dari alfabet Arab, atau guru ngaji membaca Alquran kata demi kata, frasa demi frasa, dan santri mengikuti bacaan guru ngaji; para santri sering juga membaca Alquran secara bersama dengan irama lagu tertentu. Abdul Hafidz Dasuki (1974: 27-28) menambahkan bahwa secara tradisional yang diajarkan di masjid atau langgar tidak semata membaca Alquran, tetapi juga pendidikan agama yang mencakup pengajaran wudhu, salat berikut praktiknya, akhlak dan praktiknya, serta sejarah kehidupan Nabi. Dari penguasaan studi pendahuluan itu, mereka yang ingin memperdalam studi Islam selanjutnya masuk madrasah, yang dikenal dengan madrasah diniyah, dan inilah cikal bakal kurikulum madrasah diniyah.

 

*) Prof Dr H Abd Halim Soebahar MA adalah Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur, Direktur Pascasarjana UIN KHAS Jember dan Pengasuh Pesantren Shofa Marwa Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/