sumber : nu.or.id

Menjadi NU tidak cukup hanya belajar tentang ke-NU-an, khususnya bagi kaum santri. Menjadi NU perlu juga mewarisi semangat keilmuan, ibadah, pengabdian dan kepahlawanan para pendiri dan pejuang NU. Banyaknya pahlawan nasional berlatar belakang NU mengindikasikan bahwa peran NU sebagai jam’iyah sangat penting dalam proses kebangsaan dan keindonesiaan.

IKLAN

Berikut disajikan narasi singkat pahlawan nasional yang berlatar belakang NU berdasarkan tahun penetapan gelar, sebagai ‘ibrah untuk kepahlawanan generasi mendatang, yaitu:

Hadratus Syaikh KH. Moh. Hasyim Asy’ari (10 April 1875 – 25 Juli 1947), adalah tokoh utama dan pendiri Nahdatul Ulama pada 31 Januari 1926. Beliau adalah satu-satunya penyandang gelar Ra’is Akbar NU hingga akhir hayatnya dan tidak pernah ada lagi gelar Ro’is Akbar hingga sekarang. Beliau ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 17 Nopember 1964 berkat jasanya yang berperan besar dalam pendidikan, NU dan melawan penjajah. Salah satu jasanya untuk negara ini adalah keputusannya mengeluarkan Resolusi Jihad fi Sabilillah yang direkomendasikan untuk Pemerintah RI yang baru berdiri dan Jihad fi Sabilillah untuk umat Islam dengan fatwa bahwa setiap orang dewasa yang berada dalam radius 90 km dari medan pertempuran melawan penjajah wajib berjihad. Keduanya diputuskan menjadi pernyataan resmi NU pada 22 Oktober 1945. Tanggal 22 Oktober kemudian dijadikan sebagai Hari Santri Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.   

KH. Abdul Wahid Hasyim (1 Juni 1914 – 19 April 1953), adalah putra Hadratus Syaikh KH. Moh.  Hasyim As’yari dan ayah dari Presiden RI  keempat, KH Abdurrahmann Wahid. Beliau adalah salah satu anggota Badan Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pernah menjadi sebagai Menteri Agama RI. Di Tebuireng beliau mempelopori masuknya ilmu pengetahuan umum ke dunia pesantren dengan mendirikan Madrasah Nidzmiyah dengan kurikulum ilmu umum 70 persen, ilmu agama 30 persen. Beliau  ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tanggal 17 Nopember 1960.

KH. Zainul Arifin (2 September 1909 – 2 Maret 1963), adalah tokoh NU asal Barus, Sumatera Utara. Keturunan raja-raja Barus ini aktif di NU sejak muda melalui kader dakwah. Di antara jasanya adalah membentuk  pasukan semi militer Hizbullah. Kemudian menjadi panglimanya. Beliau  pernah menjadi Perdana Menteri Indonesia, Ketua DPR-GR, dan berjasa ketika menjadi anggota badan pekerja Komite Nasional Pusat. Pemerintah menetapkan sebagai pahlawan nasional pada 4 Maret 1963.

KH. Zainal Musthafa (1 Januari 1899 – 28 Maret 1944), adalah tokoh NU dari Tasikmalaya, dan pernah menjadi salah seorang Wakil Rais Syuriyah. Beliau salah seorang kiai yang secara terang-terangan melawan para penjajah Belanda. Ketika Belanda lengser dan diganti penjajah Jepang, beliau tetap menolak kehadiran penjajah. Bersama para santrinya mengadakan perang dengan Jepang. Atas jasanya beliau dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional pada 1972.

Dr. KH. Idham Chalid (27 Agustus 1921 – 11 Juli 2010), adalah tokoh NU, politisi dan eksekutif.  Beliau pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Beliau juga pernah menjabat sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR. Selain sebagai politikus, beliau adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 1956-1984. Beliau adalah Ketua Umum PBNU paling lama, hampir 30 tahun. Atas jasanya, beliau ditetapkan sebagai pahlawan pada 8 Nopember 2011, dan pada 19 Desember 2016, Pemerintah mengabadikannya di pecahan uang kertas rupiah baru, pecahan Rp 5 ribu.

KH. Abdul Wahab Chasbullah (31 Maret 1888 – 29 Desember 1971), adalah salah seorang pendiri NU. Sebelumnya, pendiri kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran), pendiri Madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Negeri), pendiri Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang). Sejak 1924, mengusulkan agar dibentuk perhimpunan ulama untuk melindungi kepentingan kaum tradisionalis yang bermazhab. Usulannya terwujud dengan mendirikan NU pada 1926 bersama kiai-kiai lain. Beliau juga salah seorang penggagas MIAI, pernah menjadi Rais ‘Aam PBNU. Kiai yang wafat pada 29 Desember 1971 itu mendapatkan gelar pahlawan pada 8 Nopember 2014.

KH. As’ad Syamsul Arifin (… 1897 – 4 Agustus 1990), adalah salah seorang kiai berperang melawan penjajah. Ia menjadi pemimpin para pejuang di Karesidenan Besuki yang meliputi Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi dan Jember  Jawa Timur. Di masa revolusi fisik, Kiai As’ad menjadi motor penggerak massa dalam pertempuran melawan penjajah pada 10 November 1945. Pasca kemerdekaan Kiai As’ad adalah penggerak ekonomi-sosial masyarakat. Ia menyerap aspirasi dari warga kemudian mendorong pemerintah daerah, menteri, maupun presiden guna mewujudkan pembangunan yang merata. Kiai As’ad juga berperan menjelaskan hubungan Islam dan Pancasila . Atas jasa-jasanya, ia mendapat anugerah pahlawan pada 9 Nopember 2016.

Brigadir Jenderal TNI, KH. Syam’un (5 April 1894 – 28 Pebruari 1949), adalah pengurus NU di Serang, Banten. Ia pernah hadir di Muktamar NU ke-4 di Semarang pada 1929, pada Muktamar NU ke-5 di Pekalongan 1930 dan pada Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin pada 1936. KH Syam’un selain alim dalam keilmuan, menguasai tiga bahasa asing dan pernah mengajar di Arab Saudi pada masa mudanya, ketika kembali ke tanah air, ia bergabung dengan kelaskaran. Ia pernah menjadi perwira tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Pernah menjadi Komandan Batalyon berpangkat daidancho atau mayor tahun 1943. Tahun 1944 dilantik jadi Komandan Batalion PETA berpangkat mayor, memimpin 567-600 orang pasukan. Saat TKR dibentuk 5 Oktober 1945, pangkatnya naik jadi kolonel, Komandan Divisi l TKR dengan memimpin 10.000 orang pasukan. Tahun 1948, ia naik pangkat brigadir jenderal. Ia memimpin gerilya di wilayah Banten, sampai wafatnya tahun 1949. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI pada 8 November 2018.

KH. Masykur (30 Desember 1904 – 25 Desember 1994), adalah tokoh Nahdlatul Ulama pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Di antara kontribusinya semasa hidup adalah ikut merumuskan Pancasila sebagai dasar negara. KH Masjkur juga tercatat selaku pendiri Pembela Tanah Air (PETA) yang kemudian menjadi unsur laskar rakyat dan TNI di seluruh Jawa. Ketika pertempuran 10 Nopember 1945, namanya muncul sebagai pemimpin Barisan Sabilillah. Beliau pernah menjadi Menteri Agama pada 1947-1949 dan 1953 -1955. Beliau juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI periode 1956-1971 dan anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1968. Selain itu, Kiai Masjkur ikut serta membangun moral bangsa dengan mendirikan Yayasan Sabililah Malang. Beliau akhirnya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI pada 8 Nopember 2019.

Selain para pahlawan nasional tersebut sangat banyak tokoh-tokoh NU yang kontribusinya tidak diragukan sebagai ‘ibrah dalam proses  perjalanan bangsa ini, seperti: KH. Moh. Kholil Bangkalan, KH. A. Wahib Wahab, KH. Abdurrahman Wahid, KH. Achmad Siddiq, KH. Hasan Genggong, KH. Zaini Kraksaan, KH. Ali Maksum Krapyak, dan banyak kiai lainnya.

*Penulis adalah Guru Besar dan Direktur Pascasarjana IAIN Jember