alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Refleksi Beasiswa Madin Era Tiga Gubernur

Prof Dr H. Abd. Halim Soebahar MA*

Mobile_AP_Rectangle 1

Ketika program beasiswa S-1 madin menjadi program PempovJatim sejak tahun 2006, Khofifah Indar Parawansa adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama.Beliau juga politisi andal di DPR RI di Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, dan sejak Presiden Abdurrahman Wahid sebagai menteri. Seperti Menteri Pemberdayaan Perempuan/Kepala BKKNI dan terakhir sebagai Menteri Sosial RI sampai tahun 2018.

Gubernur Khofifah menerapkan kebijakan “continuityandchange”, kesinambungan dan perubahan, yang baik diteruskan tetapi dikembangkan, atau bahasa santrinya terkenal dengan semboyan “al-muhafadhatu ‘alalqadiymishshalihwalakhdzubil jadid al-ashlah”. Ini sekaligus untuk menepis keraguan beberapa tokoh ketika itu yang mengira jika Khofifah menjadi gubernur, maka beasiswa madinakan berakhir.

Pada era Gubernur Khofifah, beasiswa S-1 madin mulai dikaji lebih serius setelah adanya masukan bahwa di beberapa daerah kuota calon mahasiswa program beasiswa S-1 madin mulai kekurangan pendaftar yang berasal dari guru madin.Sejak tahun akademik 2019/2020 sasaran beasiswa S-1 madin mulai dikurangi (sampai tahun 2020, sasaran beasiswa S-1 madin sudah mencapai 14.401 mahasiswa). Namun demikian, Gubernur Khofifah memberikan banyak solusi dan mengembangkan kemitraan dengan banyak perguruan tinggi penyelenggara pascasarjana, pesantren penyelenggara Ma’had Aly dan pesantren penyelenggara Satuan Pendidikan Mu’adalah Ulya, Pendidikan Diniyah Formal Ulya dan Madrasah Aliyah di Pesantren.

Mobile_AP_Rectangle 2

Setelah Gubernur Khofifah memulai banyak rintisan, barulah payung hukum tentang pesantren semakin kuat dengan diundangkannya Undang-UndangNomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, dan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 31 Tahun 2020 tentang Pendidikan Pesantren, dan PMANomor 32 Tahun 2020 tentang Ma’had Aly.

Kemitraan dengan 15 perguruan tinggi penyelenggara pascasarjana di Jatim untuk merintis beasiswa S-2 madin, kemitraan dengan 16 Ma’had Aly di Jatim untuk merintis Beasiswa Ma’had Aly, dan sejak tahun akademik 2020/2021 menjalin kemitraan dengan UniversitasAl-Azhar Kairo Mesir untuk memberi kesempatan lulusanSatuan Pendidikan Mu’adalah Ulya, Pendidikan Diniyah Formal Ulya dan Madrasah Aliyah di pesantren untuk berkompetisi meraih kesempatan memperoleh beasiswa S-1 di Universitas Al-AzharKairo Mesir. Kuliah di Al-Azhar berarti mempersiapkan ulama-ulama moderat yang bisa bermanfaat dan maslahah untuk memperkuat Indonesia, khususnya Jatim.

Catatan Akhir

Penting dikemukakan pernyataan apresiasi Gubernur Khofifah terhadap Gubernur Jatim sebelumnya, bahwa Jatim seperti sekarang ini karena jasa para Gubernur Jatim terdahulu, sehingga secara khusus ketika menyambut Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1443, yang dihadiri Wakil Gubernur, Forkopimda Provinsi Jatim, para bupati dan wali kota seJatim, serta forkopimdakabupaten/kota se-Jatim, beliau memulai penyelenggaraan istighotsah, tahlil, dan menghadiahkan bacaan surah Al-fatihah secara khusus kepada seluruh gubernur di Jawa Timur sebelumnya dengan menyebut satu perbsatu nama gubernur terdahulu.

Karena itu, jasa ketiga gubernur tersebut penting ditulis karena pada saatnya akan menjadi cerita panjang dalam kehidupan mereka para sarjana, magister dan doktor lulusan penerima program beasiswa Pemprov Jatim. Ada sarjana yang wasilahnya melalui program beasiswa yang ditanda tangani oleh Gubernur Imam Utomo.Ada sarjana yang wasilahnya melalui program beasiswa yang ditanda tangani Gubernur Soekarwo. Dan, ada sarjana dan magister yang wasilahnya melalui program beasiswa yang ditanda tangani oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa.Bahkan terbuka peluang segera dirintis beasiswa program doktor.

Para sarjana, magister, dan doktor tersebut akan bercerita dengan penuh kebanggaan kepada para kerabat, tetangga, murid dan anak cucu mereka bahwa mereka menjadi sarjana, menjadi magister, dan menjadi doktor adalah karena“program beasiswa”.Antara lain berkat jariyah melalui kebijakan gubernur yang ditanda tangani dengan penuh keyakinan dan keikhlasan semata-mata untuk kemaslahatan generasi Jatim. (*)

*)Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA adalah Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jatim, Direktur Pascasarjana UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember.

- Advertisement -

Ketika program beasiswa S-1 madin menjadi program PempovJatim sejak tahun 2006, Khofifah Indar Parawansa adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama.Beliau juga politisi andal di DPR RI di Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, dan sejak Presiden Abdurrahman Wahid sebagai menteri. Seperti Menteri Pemberdayaan Perempuan/Kepala BKKNI dan terakhir sebagai Menteri Sosial RI sampai tahun 2018.

Gubernur Khofifah menerapkan kebijakan “continuityandchange”, kesinambungan dan perubahan, yang baik diteruskan tetapi dikembangkan, atau bahasa santrinya terkenal dengan semboyan “al-muhafadhatu ‘alalqadiymishshalihwalakhdzubil jadid al-ashlah”. Ini sekaligus untuk menepis keraguan beberapa tokoh ketika itu yang mengira jika Khofifah menjadi gubernur, maka beasiswa madinakan berakhir.

Pada era Gubernur Khofifah, beasiswa S-1 madin mulai dikaji lebih serius setelah adanya masukan bahwa di beberapa daerah kuota calon mahasiswa program beasiswa S-1 madin mulai kekurangan pendaftar yang berasal dari guru madin.Sejak tahun akademik 2019/2020 sasaran beasiswa S-1 madin mulai dikurangi (sampai tahun 2020, sasaran beasiswa S-1 madin sudah mencapai 14.401 mahasiswa). Namun demikian, Gubernur Khofifah memberikan banyak solusi dan mengembangkan kemitraan dengan banyak perguruan tinggi penyelenggara pascasarjana, pesantren penyelenggara Ma’had Aly dan pesantren penyelenggara Satuan Pendidikan Mu’adalah Ulya, Pendidikan Diniyah Formal Ulya dan Madrasah Aliyah di Pesantren.

Setelah Gubernur Khofifah memulai banyak rintisan, barulah payung hukum tentang pesantren semakin kuat dengan diundangkannya Undang-UndangNomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, dan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 31 Tahun 2020 tentang Pendidikan Pesantren, dan PMANomor 32 Tahun 2020 tentang Ma’had Aly.

Kemitraan dengan 15 perguruan tinggi penyelenggara pascasarjana di Jatim untuk merintis beasiswa S-2 madin, kemitraan dengan 16 Ma’had Aly di Jatim untuk merintis Beasiswa Ma’had Aly, dan sejak tahun akademik 2020/2021 menjalin kemitraan dengan UniversitasAl-Azhar Kairo Mesir untuk memberi kesempatan lulusanSatuan Pendidikan Mu’adalah Ulya, Pendidikan Diniyah Formal Ulya dan Madrasah Aliyah di pesantren untuk berkompetisi meraih kesempatan memperoleh beasiswa S-1 di Universitas Al-AzharKairo Mesir. Kuliah di Al-Azhar berarti mempersiapkan ulama-ulama moderat yang bisa bermanfaat dan maslahah untuk memperkuat Indonesia, khususnya Jatim.

Catatan Akhir

Penting dikemukakan pernyataan apresiasi Gubernur Khofifah terhadap Gubernur Jatim sebelumnya, bahwa Jatim seperti sekarang ini karena jasa para Gubernur Jatim terdahulu, sehingga secara khusus ketika menyambut Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1443, yang dihadiri Wakil Gubernur, Forkopimda Provinsi Jatim, para bupati dan wali kota seJatim, serta forkopimdakabupaten/kota se-Jatim, beliau memulai penyelenggaraan istighotsah, tahlil, dan menghadiahkan bacaan surah Al-fatihah secara khusus kepada seluruh gubernur di Jawa Timur sebelumnya dengan menyebut satu perbsatu nama gubernur terdahulu.

Karena itu, jasa ketiga gubernur tersebut penting ditulis karena pada saatnya akan menjadi cerita panjang dalam kehidupan mereka para sarjana, magister dan doktor lulusan penerima program beasiswa Pemprov Jatim. Ada sarjana yang wasilahnya melalui program beasiswa yang ditanda tangani oleh Gubernur Imam Utomo.Ada sarjana yang wasilahnya melalui program beasiswa yang ditanda tangani Gubernur Soekarwo. Dan, ada sarjana dan magister yang wasilahnya melalui program beasiswa yang ditanda tangani oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa.Bahkan terbuka peluang segera dirintis beasiswa program doktor.

Para sarjana, magister, dan doktor tersebut akan bercerita dengan penuh kebanggaan kepada para kerabat, tetangga, murid dan anak cucu mereka bahwa mereka menjadi sarjana, menjadi magister, dan menjadi doktor adalah karena“program beasiswa”.Antara lain berkat jariyah melalui kebijakan gubernur yang ditanda tangani dengan penuh keyakinan dan keikhlasan semata-mata untuk kemaslahatan generasi Jatim. (*)

*)Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA adalah Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jatim, Direktur Pascasarjana UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember.

Ketika program beasiswa S-1 madin menjadi program PempovJatim sejak tahun 2006, Khofifah Indar Parawansa adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama.Beliau juga politisi andal di DPR RI di Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, dan sejak Presiden Abdurrahman Wahid sebagai menteri. Seperti Menteri Pemberdayaan Perempuan/Kepala BKKNI dan terakhir sebagai Menteri Sosial RI sampai tahun 2018.

Gubernur Khofifah menerapkan kebijakan “continuityandchange”, kesinambungan dan perubahan, yang baik diteruskan tetapi dikembangkan, atau bahasa santrinya terkenal dengan semboyan “al-muhafadhatu ‘alalqadiymishshalihwalakhdzubil jadid al-ashlah”. Ini sekaligus untuk menepis keraguan beberapa tokoh ketika itu yang mengira jika Khofifah menjadi gubernur, maka beasiswa madinakan berakhir.

Pada era Gubernur Khofifah, beasiswa S-1 madin mulai dikaji lebih serius setelah adanya masukan bahwa di beberapa daerah kuota calon mahasiswa program beasiswa S-1 madin mulai kekurangan pendaftar yang berasal dari guru madin.Sejak tahun akademik 2019/2020 sasaran beasiswa S-1 madin mulai dikurangi (sampai tahun 2020, sasaran beasiswa S-1 madin sudah mencapai 14.401 mahasiswa). Namun demikian, Gubernur Khofifah memberikan banyak solusi dan mengembangkan kemitraan dengan banyak perguruan tinggi penyelenggara pascasarjana, pesantren penyelenggara Ma’had Aly dan pesantren penyelenggara Satuan Pendidikan Mu’adalah Ulya, Pendidikan Diniyah Formal Ulya dan Madrasah Aliyah di Pesantren.

Setelah Gubernur Khofifah memulai banyak rintisan, barulah payung hukum tentang pesantren semakin kuat dengan diundangkannya Undang-UndangNomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, dan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 31 Tahun 2020 tentang Pendidikan Pesantren, dan PMANomor 32 Tahun 2020 tentang Ma’had Aly.

Kemitraan dengan 15 perguruan tinggi penyelenggara pascasarjana di Jatim untuk merintis beasiswa S-2 madin, kemitraan dengan 16 Ma’had Aly di Jatim untuk merintis Beasiswa Ma’had Aly, dan sejak tahun akademik 2020/2021 menjalin kemitraan dengan UniversitasAl-Azhar Kairo Mesir untuk memberi kesempatan lulusanSatuan Pendidikan Mu’adalah Ulya, Pendidikan Diniyah Formal Ulya dan Madrasah Aliyah di pesantren untuk berkompetisi meraih kesempatan memperoleh beasiswa S-1 di Universitas Al-AzharKairo Mesir. Kuliah di Al-Azhar berarti mempersiapkan ulama-ulama moderat yang bisa bermanfaat dan maslahah untuk memperkuat Indonesia, khususnya Jatim.

Catatan Akhir

Penting dikemukakan pernyataan apresiasi Gubernur Khofifah terhadap Gubernur Jatim sebelumnya, bahwa Jatim seperti sekarang ini karena jasa para Gubernur Jatim terdahulu, sehingga secara khusus ketika menyambut Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1443, yang dihadiri Wakil Gubernur, Forkopimda Provinsi Jatim, para bupati dan wali kota seJatim, serta forkopimdakabupaten/kota se-Jatim, beliau memulai penyelenggaraan istighotsah, tahlil, dan menghadiahkan bacaan surah Al-fatihah secara khusus kepada seluruh gubernur di Jawa Timur sebelumnya dengan menyebut satu perbsatu nama gubernur terdahulu.

Karena itu, jasa ketiga gubernur tersebut penting ditulis karena pada saatnya akan menjadi cerita panjang dalam kehidupan mereka para sarjana, magister dan doktor lulusan penerima program beasiswa Pemprov Jatim. Ada sarjana yang wasilahnya melalui program beasiswa yang ditanda tangani oleh Gubernur Imam Utomo.Ada sarjana yang wasilahnya melalui program beasiswa yang ditanda tangani Gubernur Soekarwo. Dan, ada sarjana dan magister yang wasilahnya melalui program beasiswa yang ditanda tangani oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa.Bahkan terbuka peluang segera dirintis beasiswa program doktor.

Para sarjana, magister, dan doktor tersebut akan bercerita dengan penuh kebanggaan kepada para kerabat, tetangga, murid dan anak cucu mereka bahwa mereka menjadi sarjana, menjadi magister, dan menjadi doktor adalah karena“program beasiswa”.Antara lain berkat jariyah melalui kebijakan gubernur yang ditanda tangani dengan penuh keyakinan dan keikhlasan semata-mata untuk kemaslahatan generasi Jatim. (*)

*)Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA adalah Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jatim, Direktur Pascasarjana UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/