Rabu 13 Februari 2019, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elistianto Dardak resmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur 2019-2024 di Istana Negara Jakarta. Kami sudah mengenal Gubernur Khofifah sejak lama, sejak beliau masih aktif sebagai mahasiswa. Khofifah adalah gubernur perempuan pertama di Jawa Timur yang dikenal cerdas. Beliau adalah perempuan pertama yang menjadi Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Surabaya, dan sejak orde baru menjabat sebagai Anggota DPR RI dari F-PPP dan F-PKB. Khofifah adalah mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan era Presiden KH. Abdurrahan Wahid dan mantan Menteri Sosial era Presiden Joko Widodo. Sampai sekarang Khofifah adalah sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama.

IKLAN

Hari ini, Kamis 13 Pebruari 2020, persis satu tahun Gubernur Khofifah Indar Parawansa memimpin Jawa Timur. Dengan bekal kecerdasan, pengalaman, silaturrahim, kesantunan dan jaringan yang dimiliki, kami yakin bahwa Gubernur Khofifah akan berhasil membawa kemajuan Jawa Timur lebih cepat. Kami hanya ingin menulis secara singkat catatan dari sebagian capaian Gubernur Khofifah memimpin Jawa Timur bidang pendidikan, khususnya pendidikan Islam.

Pertama, tentang pesantren sebagai cikal bakal pendidikan di Indonesia yang kini jumlahnya mencapai sekitar 28.000 lembaga. Meskipun pesantren sudah ada beberapa ratus tahun sebelum Indonesia merdeka dan kontribusi pesantren terhadap keberadaan NKRI tidaklah kecil, tapi pemihakan pemerintah terhadap pesantren sangat terlambat. Pemerintah baru mengakui nomenklatur pesantren secara yuridis sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Pengakuan lebih jelas baru terjadi sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren pada 16 Oktober 2019, pesantren menjadi mainstream pengembangan pendidikan Isam di Indonesia.

Perhatian Gubernur Khofifah terhadap pengembangan pesantren sejak awal sudah sangat jelas. Gubernur Khofifah menjelaskan, ketika perkembangan teknologi 4.0 sangat pesat, menurutnya masih banyak masyarakat khususnya kalangan pesantren yang berkutat pada teknologi 2.0 dan 3.0, sehingga memaksa beliau mengambil kebijakan percepatan pengembangan SDM pesantren agar pesantren bisa berfungsi sebagai lembaga pendidikan sekaligus agent of change. Untuk pengembangan wawasan pesantren, Gubernur Khofifah mengundang pemangku pesantren yang memiliki Ma’had Aly, Mu’adalah, dan Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya Jawa Timur untuk diskusi dan merumuskan solusi agar pesantrren tidak tertinggal. Akhirnya, terwujud program beasiswa untuk Ma’had Aly dan beasiswa untuk studi lanjut ke Al-Azhar University bagi lulusan PDF Ulya, Mu’adalah dan Madrasah Aliyah Pesantren.

Selain itu, untuk membangun kemandirian dan ketrampilan santri, dirintislah OPOP: One Pesantren One Product. Tujuan OPOP sangat fundamental bagi lulusan pesantren, karena: (1) Memandu mind set santri, bahwa “tafaqquh fiddîn” bukan terbatas hanya pada ilmu-ilmu agama seperti yang dikenal dengan: ulum al-qur’an, ulum al-hadits, tauhid, syariah, akhlak dan sebagainya, karena agama juga sangat menganjurkan kita belajar ilmu alam, ilmu kedokteran, ketampilan dan sebagainya. Melalui Program OPOP, santri akan mengetahui jenis produk pesantren, santri akan menjalani proses pengembangan produk yang dihasilkan, dan santri akan mengkaji jenis produk dengan dasar-dasar keagamaan, sehingga mereka akan memiliki pemahaman dan bekal dakwah sesuai dengan produk unggulan pesantrennya; (2) Mempersiapkan ketrampilan santri sebagai bekal memasuki kehidupan mendatang. Program OPOP sangat potensial melatih kemandirian santri, karena santri di pesantren akan belajar baca kitab sekaligus belajar jenis produk yang dihasilkan. Di pesantren, ilmu bukan sekedar untuk dipelajari dan diketahui, melainkan untuk diamalkan, sehingga ilmu yang dipahami santri, dipraktekkan santri selama di pesantren. Hal ini akan melatih kemandirian dan menjadi bekal kemandiriannya ketika hidup ditengah-tengah masyarakat; dan (3) Tidak semua santri bercita-cita menjadi ulama dan atau kiai, sehingga bekal ketrampilan harus dipersiapkan sedini mungkin. Program OPOP adalah program yang memberi kemudahan dan memfasilitasi orang yang sedang belajar, adalah berpahala besar, bahkan Allah SWT akan memberi kemudahan baginya jalan menuju surga.

Kedua, tentang madrasah. Pada 24 September 2019, kami bertemu Gubernur Khofifah di Islamic Center Surabaya. Setelah kami mengucapkan salam, beliau menjawab dan bilang: “Prof, nanti jam 4 sore kita diskusi di kantor”. Sesuai waktu yang ditentukan, kami di Kantor Gubernur, oleh Ajudan langsung diarahkan ke ruang rapat. Di Ruang rapat telah hadir Kepala dan Sekretaris Dinas Pendidikan, Kabag Hukum, Bagian Aset, Wakil PWNU, PW Muhammadiyah, RMI, Kepala Kanwil Kemenag Jatim, Kepala Kemenag Surabaya, dan para ahli pendidikan. Sebelum rapat dimulai, kami dipanggil Gubernur Khofifah, diajak diskusi tentang Payung Hukum Madrasah, karena Gubernur akan mengalokasikan mulai APBD 2020 untuk madrasah dan menjadi tema yang akan dibahas dari berbagai perspektif tentang madrasah di forum rapat yang dihadiri banyak ahli. Dari diskusi tersebut, kami memahami bahwa komitmen Gubernur Khofifah untuk mengembangkan pendidikan sangat kuat, bahkan jika perlu akan mengambil “kebijakan diskresi” yang non diskriminatif untuk menjamin kemashlahatan generasi mendatang, khususnya satuan pendidikan yang menjadi wilayah kewenangan gubernur.

Ketiga, program beasiswa dan kerjasama Internasional. Diawal kepemimpinan Gubernur Khofifah, banyak pengamat pendidikan, ahli dan kiai yang masih skeptis akan keberlanjutan program beasiswa yang dikenal dengan Beasiswa Madrasah Diniyah (Madin). Beasiswa Madin adalah program unggulan Jawa Timur yang dirintis sejak tahun 2006, sejak Kepemimpinan Gubernur Imam Utomo, dilanjutkan Gubernur Soekarwo. Bagaimana komitmen Gubernur Khofifah? Dilanjutkan dan ditingkatkan, jawab Gubernur Khofifah, jadi ada continuity and change, ada keberlanjutan dan perubahan meski yang banyak adalah perubahan dan pengembangan.

Setahun Gubernur Khofifah memimpin Jawa Timur telah merealisasi format kebijakan strategis baru pengembangan sumberdaya manusia (SDM) Jawa Timur berupa 3 program rintisan dan 1 program lanjutan. Program rintisannya adalah: (1) Merintis Beasiswa Program Sarjana untuk Mahasantri Ma’had Aly Marhalah Ula/ Sarjana di 11 Ma’had Aly Jawa Timur. Ma’had Aly adalah salah satu bentuk perguruan Tinggi yang diakui berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, bertujuan mencetak Sarjana dan Cendekiawan Muslim yang memiliki penguasaan tinggi terhadap khazanah keislaman dan berbasis Kitab Kuning; (2) Merintis Beasiswa Program Magister di 15 Pascasarjana Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri dan Swasta Jawa Timur; dan (3) Program Beasiswa kuliah di Al-Azhar University bagi siswa berprestasi yang di seleksi secara kompetitif berasal dari PDF-Ulya, Mu’adalah, dan Madrasah di Pesantren Jawa Timur untuk memperebutkan 50 beasiswa dan living cost selama program di Al-Azhar Kairo. Sedang program yang melanjutkan adalah beasiswa program sarjana kualifikasi akademik Guru Madrasah Diniyah, dengan menambah besaran beasiswa dari tahun-tahun sebelumnya dari Rp. 8.000.000,- menjadi Rp. 10.000.000,-; di 35 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri dan Swasta Jawa Timur;

Tentu, masih banyak hal yang terlewati dari catatan kami, seperti: revitalisasi SMK dan SMK Pengampu, SMA dan MA double track, Bosda Madin, dan sebagainya. Namun sebagai penutup ingin kami kemukakan, bahwa Ibu Gubernur sangat total memimpin Jawa Timur. Tenaga dan waktu beliau khidmahkan untuk masyarakat Jawa Timur. Dua contoh saya saksikan sendiri. Pertama, Ibu Gubernur sangat sering menerima tamu berombongan di kantor sampai jam 23.00 WIB, beliau berkhidmah sudah tidak menggunakan ukuran jam kerja lagi.

Kedua, kepeduliannya terhadap masyarakat sangat kuat. Ketika banjir melanda Mojokerto, Gresik dan kota lain, Ibu Gubernur masih melaksanakan Ibadah Umroh. Sekitar jam 08.00 WIB mendarat di Juanda, di kediaman Beliau Jemursari sudah tamu peziarah, ternyata beliau langsung pertemuan dengan konsulat Amerika dan rapat koordinasi dengan OPD Jatim, dan setelah itu langsung mendatangi masyarakat di area terdampak banjir di Mojokerto, di Gresik, dan lanjut membuka Pelatihan Manasik bersama Ketua Umum PBNU di Asrama Haji. Baru sekitar Jam 22.00 WIB Ibu Gubernur tiba di Kediaman Jemursari.

Selain itu, semangat silaturrahim Ibu dengan berbagai kalangan, khususnya kiai dan sesepuh sudah membentuk tradisi. Tiada hari tanpa silaturrahim. Selamat Ibu Gubernur, Ibu telah menjadi lokomotif pemberdayaan pendidikan di Jawa Timur. Semoga Allah Swt Selalu melindungi dan memberikan kemudahan dalam memimpin Jawa Timur (bersambung)

*Penulis adalah Direktur Pascasarjana IAIN Jember, Ketua Umum MUI dan PengasuhPondok Pesantren Shofa Marwa Jember