Bagi kaum santri, sanad keilmuan, ibadah dan kepahlawanan memiliki kekhasan, berbeda dengan komunitas lainnya. Mencari ilmu atau belajar bagi kaum santri bukan hanya untuk memahami teori, tetapi sekaligus untuk mempraktikkan teori yang dipahaminya dalam kehidupan sehari-hari. Teori dan praktik menjadi satu kesatuan yang utuh dan terintegrasi, dan itulah yang dicontohkan para kiai di pesantren, tidak ditemukan di lembaga pendidikan lainnya. Ketika kiai menjelaskan teori atau tata cara (kaifiyah) sholat tasbih, misalnya, maka kiai akan langsung mengajak para santrinya untuk praktik sholat tasbih di tengah malam. Jadi, yang disampaikan kiai ke kaum santri dan yang dipraktikkan kiai bersama para santrinya, adalah teori dan sekaligus praktik yang dicontohkan oleh para pendidik kiai yang dasar-dasarnya memiliki persambungan dengan yang diajarkan dan dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Ketika penulis dibina oleh KH. Achmad Siddiq di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqi Putera Jember (1978-1987), penulis memperoleh kesan yang sangat mendalam tentang ke-NU-an dan tentang ibadah, karena pemahaman dan praktik keagamaannya dibimbing langsung oleh KH. Achmad Siddiq. Ketika beliau menjelaskan tentang kaifiyah sholat, beliau mengemukakan dasar-dasar ajaran tentang sholat dari al-Qur’an, al-Hadits, dari Imam Madzhab, bahkan dari segi kesehatan, dan dari guru beliau KH. Moh. Hasyim Asy’ari. Setelah menjelaskan beliau mempraktikkan dan menyuruh beberapa santri untuk praktik sholat disaksikan beliau. Sehingga santri menjadi yakin bahwa apa yang dilakukannya benar, memiliki persambungan (sanad) yang terpercaya dan memiliki dasar-dasar keagamaan yang kuat. Jadi, dalam hal ini kaum santri memperoleh ilmu, praktik ibadah dan sekaligus ikatan hubungan batin yang kuat antara kiai dan santri.

Hubungan bathin yang kuat antara kiai dan santri diperluas dengan keluarga kiai dan keluarga santri, dan diperluas lagi dengan jaringan kiai dan jaringan santri. Inilah sebenarnya kekuatan utama NU, berbasis di pesantren. NU dan Pesantren memiliki hubungan yang kuat. Di pesantrenlah sanad keilmuan, keyakinan, dan kepahlawanan kaum santri dibina, bukan hanya sanad dalam hadits, tetapi kaum santri juga memiliki sanad dalam akidah, syariah/ibadah, dan tasawuf. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang utuh dan diwujudkan dalam kehidupan keseharian kaum santri.

Oleh karena itu ajaran Islam sangat luas, mencakup berbagai aspek. Aspek terpenting adalah akidah yang menimbulkan ilmu kalam atau teologi dalam istilah Indonesia modern. Pemikiran mengenai akidah ini menghasilkan aliran: khawarij yang berpandangan sempit, Murji’an yang berpandangan luas, Mu’tazilah yang berpandangan rasional, Asy’ariyah yang bercorak tradisional, dan Maturidiyah yang berada di antara kerasionalan Mu’tazilah dan ketradisionalan Asy’ariyah. Arus besar kaum santri mengikuti aliran Asy’ariyah dan atau Maturidiyah.

Teologi rasional itu diwarnai oleh kedudukan akal yang tinggi, kebebasan manusia dalam kehendak serta perbuatan, keyakinan akan adanya hukum alam ciptaan Tuhan yang mengatur perjalanan alam dan kecenderungan untuk mengambil arti tersirat dari teks-teks wahyu yang arti lafdzinya tak sejalan dengan pemikiran rasional dan ilmiah. Teologi ini dikenal dengan nama qadariyah. Sementara itu, dalam teologi tradisional kedudukan akal rendah, kebebasan manusia dalam kehendak dan perbuatan tidak ada, keyakinan akan adanya hukum-hukum tak berubah yang mengatur alam tidak terdapat, dan kecenderungan untuk mengambil arti lafdzi dari wahyu mempengaruhi pemahaman teks ayat-ayat Al-Qur’an dan teks Hadits. Teologi ini disebut teologi jabariyah. Kalau dalam teologi qadariyah terdapat pemikiran rasional dan ilmiah dan konsep manusia bebas dan dinamis sehingga segala sesuatu timbul karena kehendak makhluk sendiri tidak ada campur tangan Tuhan, dalam teologi jabariyah terdapat pemikiran tradisional yang tak sejalan  dengan rasio serta ilmu pengetahuan dan konsep manusia terikat, statis, sehingga mereka berpendapat bahwa makhluk tidak mempunyai rasa tanggung jawab karena tidak memiliki kemampuan untuk berkehendak berbuat apa-apa.

Bagi kaum santri yang berhaluan ahlussunnah wal jama’ah, prinsip tawassuth bukan hanya dalam bidang filosofis, tetapi meliputi semua bidang, termasuk akidah, ibadah dan selainnya. Dalam bidang akidah, berpegang teguh pada dalil naqli (nash al-qur’an dan al-hadits) dan dalil ‘aqli (rasio dan logika) yang tidak bertentangan dengan dalil naqli. Kaum santri menghormati secara wajar semua sahabat-sahabat, terutama khulafaur rasyidin tanpa membenci kepada siapapun di antara mereka. Jika ada perbedaan pendapat diantara mereka, maka itu adalah hasil ijtihad masing-masing. Kaum santri berpendirian bahwa “masyi’ah” (kehendak yang menentukan) itu dari Tuhan, sedangkan “kasab” (ikhtiar dan usaha) dari manusia, dengan perkataan lain manusia mempunyai rencana, namun Tuhanlah yang menentukan berhasil tidaknya rencana itu.

Ketika menghadapi suatu peristiwa kaum santri merespon secara wajar, tidak panik kemudian terjerumus menyalahkan semua pihak, apalagi mengkafirkannya, dan dengan demikian menolak ekstremisme yang ada pada: Mu’tazilah, yang terlalu rasionalistis sehingga memaksa-maksa dalil naqly untuk disesuaikan dengan apa yang dapat dipahami oleh akal mereka (dalil ‘aqli); Khawarij, yang terlalu jengkel terhadap dua pihak yang sedang bertentangan (sayyidina Ali dan sayyidina Mu’awiyah), sehingga memusuhi kedua-duanya; Syi’ah yang terlalu mencintai Sayyidina Ali sehingga menyalahkan/memusuhi semua pihak yang tidak mau memuja Sayyidina Ali menurut cara mereka.

Aspek penting kedua adalah ibadah yang pemikiran   didalamnya menghasilkan empat madzhab: Imam Hanafi yang bercorak rasional, Imam Maliki serta Hambali yang bercorak tradisional, dan Imam Syafi’i yang menggabungkan pendekatan rasional Abu Hanifah dan pendekatan tradisionalnya Imam Malik bin Anas menjadi madzhab baru yang dikenal dengan namanya. Dalam ijtihadnya Imam Syafii bersikap amat hati-hati dan dengan demikian mengambil pendapat yang terselamat dan oleh karena itu madzhabnya agak berat jika dibandingkan dengan madzhab-madzhab lainnya.

Aspek tasawuf yang sangat erat kaitannya dengan ibadah, mengandung dua aliran: Sunni yang dipelopori oleh Al-Ghazali dan aliran Syi’ah yang dapat membenarkan pengalaman sufi bersatu dengan Tuhan. Tasawuf Sunni menerima pendekatan diri kepada Tuhan hanya sampai tingkat ma’rifat, melihat Tuhan dengan mata hati.

Masalahnya pemikiran keislaman mana dari beragam corak pemikiran keislaman tersebut yang berkembang di kalangan kaum santri?. Pengalaman di beberapa pesantren, tidak semua ragam pemikiran tersebut mempengaruhi kaum santri, arus mainstream yang berkembang dan mempengaruhi pemikiran kaum santri adalah arus pemikiran keislaman yang dianut ahlussunnah wal jama’ah an-nahdliyah yang moderat, sehingga sikap sosial kaum santri selalu moderat, memadukan kedua titik ekstremitas yang saling berlawanan, atau dalam Al-qur’an disebut “ummatan wasathan” (QS. Al-Baqarah: 143), jadi, tidak ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

*Penulis adalah Pengasuh Pesantren Shofa Marwa, Ketua Umum MUI dan Guru Besar/Direktur Pascasarjana IAIN Jember