alexametrics
30.6 C
Jember
Sunday, 23 January 2022

Gubernur Khofifah dan Beasiswa Al-Azhar

Mobile_AP_Rectangle 1

PADA tanggal 25 Mei 2021 selama seminggu kami berkunjung ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Kami tidak sendiri, tetapi berempat bersama Drs H A Hamid Syarif MH, Dr KH Ahmad Fahrur Rozi MPd, dan Fahmatul Kholidah Al-Khasani MPd. Kesemuanya adalah Pengurus Lembaga Pengembangan Pendidikan Diniyah (LPPD) Provinsi Jawa Timur yang diberi tugas oleh Gubernur Khofifah untuk mempersiapkan pemondokan bagi calon mahasiswa penerima beasiswa   di Al-Azhar University dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Di Kairo, Mesir, kami bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh asal Jawa Timur. Berdialog dengan mereka dan dengan perwakilan mahasiswa Al-Azhar yang berasal dari Jawa Timur, yang menurut informasi jumlahnya mencapai 1.200-an mahasiswa. Mereka studi di Al-Azhar melalui program beasiswa Kementerian Agama, program kemitraan Pesantren Modern Gontor, Pesantren Amanatul Ummah, dan kemitraan lembaga lainnya, termasuk yang biaya mandiri. Selain itu, kami sempatkan mengunjungi Sekretariat Gama Jatim dan Graha Jatim. Gama Jatim adalah sekretariat mahasiswa asal Jatim dan Graha Jatim adalah flat yang tersedia ruang tamu dan tiga kamar yang disewakan untuk membantu kebutuhan operasional kegiatan mahasiswa asal Jatim.

Selama di Kairo, kami melakukan banyak survei untuk mendapatkan tempat pemondokan yang strategis bagi mahasiswa Jawa Timur. Amanah ini bagi kami sangat penting, karena Gubernur Khofifah menginginkan tersedianya asrama mahasiswa yang representatif, bersih, aman, kondusif untuk belajar, dan yang mudah transportasi ke kampus dan sekaligus sebagai media belajar mandiri dan tentu saja membawa nama Jawa Timur. Selama survei kami didampingi oleh KH Mukhlason Jamaluddin (Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa NU Mesir) dan timnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sepulang dari Mesir, beberapa kiai menghubungi kami. Selain ingin mendapatkan informasi tentang program Beasiswa Al-Azhar dari Pemprov Jatim juga bertanya: kenapa harus ke Al-Azhar? Kami baru menjawab yang ringan-ringan, karena memang Al-Azhar (melalui kehadiran Grand Syaikh Al-Azhar) yang sudah proaktif menjalin komunikasi, bersilaturahmi ke Grahadi, dan terjadi kesepakatan dengan Gubernur Khofifah, sehingga para kiai muda dan LPPD sepakat men-support program beasiswa ini. Selain itu, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, sampai sekarang tetap menjadi tempat favorit untuk melanjutkan studi di universitas Islam tertua di dunia.

Senin (14/6), Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberangkatkan 30 peserta matrikulasi bahasa Arab (yang terseleksi sangat ketat) ke Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA) di Jakarta. PUSIBA adalah satu-satunya pusat studi yang dipercaya melakukan matrikulasi untuk memperkuat kemampuan bahasa Arab bagi calon mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo. Ketiga puluh calon mahasiswa asal Jawa Timur inilah yang hendak melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar atas beasiswa penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Mereka adalah lulusan Pendidikan Diniyah Formal ‘Ulya, Satuan Pendidikan Mu’adalah ‘Ulya, dan Madrasah Aliyah pesantren di Jawa Timur. Karena salah satu syaratnya harus ber-KTP Jawa Timur dan beasiswa ini benar-benar diperuntukkan untuk masyarakat Jawa Timur.

Selanjutnya, Senin (08/11) Pengurus LPPD Provinsi Jawa Timur berkunjung ke Pusat Studi Al-Qur’an dan Bahasa Arab (Pusiba) Jakarta sekaligus menjemput mereka karena program pendampingan dan matrikulasi sudah berakhir dan seluruh peserta sudah menjalani seleksi terakhir dari Pusiba dalam waktu sekitar lima bulan. Sungguh luar biasa, semula kuota mahasiswa S-1 Al-Azhar ditentukan hanya 25 mahasiswa, sehingga karena peserta matrikulasi berjumlah 30 orang, maka lima orang akan tereliminasi, ternyata tidak. Ke-30 peserta matrikulasi dinyatakan memenuhi syarat untuk melanjutkan studi S-1 di Al-Azhar. Suatu prestasi yang membanggakan. Mungkin karena tekad, kesungguhan, dan kedisiplinan mereka selama lima bulan mengikuti matrikulasi.

Universitas Al Azhar pada mulanya hanya sebuah masjid. Seorang komandan pasukan perang dinasti Fathimiyah yang tengah berkuasa di Mesir (Jawhar As Siqilli) menggagas berdirinya Masjid Al Azhar (358-361 H) dan pada 7 Ramadan 361 H (972 M) pertama kali dilaksanakan salat Jumat. Al Azhar adalah masjid pertama di Kairo dan masjid keempat di Mesir. Masjid Al Azhar mengalami beberapa kali renovasi. Pada abad ke-14 M, bangunan masjid ditambah sentra pendidikan Islam bernama Madrasah, sehingga terdapat Madrasah At Taibarsi, Madrasah Al Aqbaghawi, dan madrasah ketiga yang juga dibangun oleh Jawhar al-Qanqabai yang sama-sama mengajarkan hukum-hukum Islam.

Pada masa kekuasaan Sultan Mamluk, dilakukan renovasi besar-besaran dengan membangun paviliun sebagai tempat penginapan pelajar untuk jangka waktu empat bulan. Setiap distrik di negeri Mesir dan negeri-negeri Islam lainnya mendapat jatah penginapan di paviliun tersebut. Penambahan area Masjid Al-Azhar seluas 3.300 menjadi 7.800 meter persegi, yang dapat menampung sekitar 20 ribu jamaah. Proyek renovasi besar-besaran ini telah mengubah status Al Azhar menjadi sebuah sentra Pendidikan Islam yang terkenal di dunia.

- Advertisement -

PADA tanggal 25 Mei 2021 selama seminggu kami berkunjung ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Kami tidak sendiri, tetapi berempat bersama Drs H A Hamid Syarif MH, Dr KH Ahmad Fahrur Rozi MPd, dan Fahmatul Kholidah Al-Khasani MPd. Kesemuanya adalah Pengurus Lembaga Pengembangan Pendidikan Diniyah (LPPD) Provinsi Jawa Timur yang diberi tugas oleh Gubernur Khofifah untuk mempersiapkan pemondokan bagi calon mahasiswa penerima beasiswa   di Al-Azhar University dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Di Kairo, Mesir, kami bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh asal Jawa Timur. Berdialog dengan mereka dan dengan perwakilan mahasiswa Al-Azhar yang berasal dari Jawa Timur, yang menurut informasi jumlahnya mencapai 1.200-an mahasiswa. Mereka studi di Al-Azhar melalui program beasiswa Kementerian Agama, program kemitraan Pesantren Modern Gontor, Pesantren Amanatul Ummah, dan kemitraan lembaga lainnya, termasuk yang biaya mandiri. Selain itu, kami sempatkan mengunjungi Sekretariat Gama Jatim dan Graha Jatim. Gama Jatim adalah sekretariat mahasiswa asal Jatim dan Graha Jatim adalah flat yang tersedia ruang tamu dan tiga kamar yang disewakan untuk membantu kebutuhan operasional kegiatan mahasiswa asal Jatim.

Selama di Kairo, kami melakukan banyak survei untuk mendapatkan tempat pemondokan yang strategis bagi mahasiswa Jawa Timur. Amanah ini bagi kami sangat penting, karena Gubernur Khofifah menginginkan tersedianya asrama mahasiswa yang representatif, bersih, aman, kondusif untuk belajar, dan yang mudah transportasi ke kampus dan sekaligus sebagai media belajar mandiri dan tentu saja membawa nama Jawa Timur. Selama survei kami didampingi oleh KH Mukhlason Jamaluddin (Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa NU Mesir) dan timnya.

Sepulang dari Mesir, beberapa kiai menghubungi kami. Selain ingin mendapatkan informasi tentang program Beasiswa Al-Azhar dari Pemprov Jatim juga bertanya: kenapa harus ke Al-Azhar? Kami baru menjawab yang ringan-ringan, karena memang Al-Azhar (melalui kehadiran Grand Syaikh Al-Azhar) yang sudah proaktif menjalin komunikasi, bersilaturahmi ke Grahadi, dan terjadi kesepakatan dengan Gubernur Khofifah, sehingga para kiai muda dan LPPD sepakat men-support program beasiswa ini. Selain itu, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, sampai sekarang tetap menjadi tempat favorit untuk melanjutkan studi di universitas Islam tertua di dunia.

Senin (14/6), Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberangkatkan 30 peserta matrikulasi bahasa Arab (yang terseleksi sangat ketat) ke Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA) di Jakarta. PUSIBA adalah satu-satunya pusat studi yang dipercaya melakukan matrikulasi untuk memperkuat kemampuan bahasa Arab bagi calon mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo. Ketiga puluh calon mahasiswa asal Jawa Timur inilah yang hendak melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar atas beasiswa penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Mereka adalah lulusan Pendidikan Diniyah Formal ‘Ulya, Satuan Pendidikan Mu’adalah ‘Ulya, dan Madrasah Aliyah pesantren di Jawa Timur. Karena salah satu syaratnya harus ber-KTP Jawa Timur dan beasiswa ini benar-benar diperuntukkan untuk masyarakat Jawa Timur.

Selanjutnya, Senin (08/11) Pengurus LPPD Provinsi Jawa Timur berkunjung ke Pusat Studi Al-Qur’an dan Bahasa Arab (Pusiba) Jakarta sekaligus menjemput mereka karena program pendampingan dan matrikulasi sudah berakhir dan seluruh peserta sudah menjalani seleksi terakhir dari Pusiba dalam waktu sekitar lima bulan. Sungguh luar biasa, semula kuota mahasiswa S-1 Al-Azhar ditentukan hanya 25 mahasiswa, sehingga karena peserta matrikulasi berjumlah 30 orang, maka lima orang akan tereliminasi, ternyata tidak. Ke-30 peserta matrikulasi dinyatakan memenuhi syarat untuk melanjutkan studi S-1 di Al-Azhar. Suatu prestasi yang membanggakan. Mungkin karena tekad, kesungguhan, dan kedisiplinan mereka selama lima bulan mengikuti matrikulasi.

Universitas Al Azhar pada mulanya hanya sebuah masjid. Seorang komandan pasukan perang dinasti Fathimiyah yang tengah berkuasa di Mesir (Jawhar As Siqilli) menggagas berdirinya Masjid Al Azhar (358-361 H) dan pada 7 Ramadan 361 H (972 M) pertama kali dilaksanakan salat Jumat. Al Azhar adalah masjid pertama di Kairo dan masjid keempat di Mesir. Masjid Al Azhar mengalami beberapa kali renovasi. Pada abad ke-14 M, bangunan masjid ditambah sentra pendidikan Islam bernama Madrasah, sehingga terdapat Madrasah At Taibarsi, Madrasah Al Aqbaghawi, dan madrasah ketiga yang juga dibangun oleh Jawhar al-Qanqabai yang sama-sama mengajarkan hukum-hukum Islam.

Pada masa kekuasaan Sultan Mamluk, dilakukan renovasi besar-besaran dengan membangun paviliun sebagai tempat penginapan pelajar untuk jangka waktu empat bulan. Setiap distrik di negeri Mesir dan negeri-negeri Islam lainnya mendapat jatah penginapan di paviliun tersebut. Penambahan area Masjid Al-Azhar seluas 3.300 menjadi 7.800 meter persegi, yang dapat menampung sekitar 20 ribu jamaah. Proyek renovasi besar-besaran ini telah mengubah status Al Azhar menjadi sebuah sentra Pendidikan Islam yang terkenal di dunia.

PADA tanggal 25 Mei 2021 selama seminggu kami berkunjung ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Kami tidak sendiri, tetapi berempat bersama Drs H A Hamid Syarif MH, Dr KH Ahmad Fahrur Rozi MPd, dan Fahmatul Kholidah Al-Khasani MPd. Kesemuanya adalah Pengurus Lembaga Pengembangan Pendidikan Diniyah (LPPD) Provinsi Jawa Timur yang diberi tugas oleh Gubernur Khofifah untuk mempersiapkan pemondokan bagi calon mahasiswa penerima beasiswa   di Al-Azhar University dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Di Kairo, Mesir, kami bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh asal Jawa Timur. Berdialog dengan mereka dan dengan perwakilan mahasiswa Al-Azhar yang berasal dari Jawa Timur, yang menurut informasi jumlahnya mencapai 1.200-an mahasiswa. Mereka studi di Al-Azhar melalui program beasiswa Kementerian Agama, program kemitraan Pesantren Modern Gontor, Pesantren Amanatul Ummah, dan kemitraan lembaga lainnya, termasuk yang biaya mandiri. Selain itu, kami sempatkan mengunjungi Sekretariat Gama Jatim dan Graha Jatim. Gama Jatim adalah sekretariat mahasiswa asal Jatim dan Graha Jatim adalah flat yang tersedia ruang tamu dan tiga kamar yang disewakan untuk membantu kebutuhan operasional kegiatan mahasiswa asal Jatim.

Selama di Kairo, kami melakukan banyak survei untuk mendapatkan tempat pemondokan yang strategis bagi mahasiswa Jawa Timur. Amanah ini bagi kami sangat penting, karena Gubernur Khofifah menginginkan tersedianya asrama mahasiswa yang representatif, bersih, aman, kondusif untuk belajar, dan yang mudah transportasi ke kampus dan sekaligus sebagai media belajar mandiri dan tentu saja membawa nama Jawa Timur. Selama survei kami didampingi oleh KH Mukhlason Jamaluddin (Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa NU Mesir) dan timnya.

Sepulang dari Mesir, beberapa kiai menghubungi kami. Selain ingin mendapatkan informasi tentang program Beasiswa Al-Azhar dari Pemprov Jatim juga bertanya: kenapa harus ke Al-Azhar? Kami baru menjawab yang ringan-ringan, karena memang Al-Azhar (melalui kehadiran Grand Syaikh Al-Azhar) yang sudah proaktif menjalin komunikasi, bersilaturahmi ke Grahadi, dan terjadi kesepakatan dengan Gubernur Khofifah, sehingga para kiai muda dan LPPD sepakat men-support program beasiswa ini. Selain itu, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, sampai sekarang tetap menjadi tempat favorit untuk melanjutkan studi di universitas Islam tertua di dunia.

Senin (14/6), Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberangkatkan 30 peserta matrikulasi bahasa Arab (yang terseleksi sangat ketat) ke Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA) di Jakarta. PUSIBA adalah satu-satunya pusat studi yang dipercaya melakukan matrikulasi untuk memperkuat kemampuan bahasa Arab bagi calon mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo. Ketiga puluh calon mahasiswa asal Jawa Timur inilah yang hendak melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar atas beasiswa penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Mereka adalah lulusan Pendidikan Diniyah Formal ‘Ulya, Satuan Pendidikan Mu’adalah ‘Ulya, dan Madrasah Aliyah pesantren di Jawa Timur. Karena salah satu syaratnya harus ber-KTP Jawa Timur dan beasiswa ini benar-benar diperuntukkan untuk masyarakat Jawa Timur.

Selanjutnya, Senin (08/11) Pengurus LPPD Provinsi Jawa Timur berkunjung ke Pusat Studi Al-Qur’an dan Bahasa Arab (Pusiba) Jakarta sekaligus menjemput mereka karena program pendampingan dan matrikulasi sudah berakhir dan seluruh peserta sudah menjalani seleksi terakhir dari Pusiba dalam waktu sekitar lima bulan. Sungguh luar biasa, semula kuota mahasiswa S-1 Al-Azhar ditentukan hanya 25 mahasiswa, sehingga karena peserta matrikulasi berjumlah 30 orang, maka lima orang akan tereliminasi, ternyata tidak. Ke-30 peserta matrikulasi dinyatakan memenuhi syarat untuk melanjutkan studi S-1 di Al-Azhar. Suatu prestasi yang membanggakan. Mungkin karena tekad, kesungguhan, dan kedisiplinan mereka selama lima bulan mengikuti matrikulasi.

Universitas Al Azhar pada mulanya hanya sebuah masjid. Seorang komandan pasukan perang dinasti Fathimiyah yang tengah berkuasa di Mesir (Jawhar As Siqilli) menggagas berdirinya Masjid Al Azhar (358-361 H) dan pada 7 Ramadan 361 H (972 M) pertama kali dilaksanakan salat Jumat. Al Azhar adalah masjid pertama di Kairo dan masjid keempat di Mesir. Masjid Al Azhar mengalami beberapa kali renovasi. Pada abad ke-14 M, bangunan masjid ditambah sentra pendidikan Islam bernama Madrasah, sehingga terdapat Madrasah At Taibarsi, Madrasah Al Aqbaghawi, dan madrasah ketiga yang juga dibangun oleh Jawhar al-Qanqabai yang sama-sama mengajarkan hukum-hukum Islam.

Pada masa kekuasaan Sultan Mamluk, dilakukan renovasi besar-besaran dengan membangun paviliun sebagai tempat penginapan pelajar untuk jangka waktu empat bulan. Setiap distrik di negeri Mesir dan negeri-negeri Islam lainnya mendapat jatah penginapan di paviliun tersebut. Penambahan area Masjid Al-Azhar seluas 3.300 menjadi 7.800 meter persegi, yang dapat menampung sekitar 20 ribu jamaah. Proyek renovasi besar-besaran ini telah mengubah status Al Azhar menjadi sebuah sentra Pendidikan Islam yang terkenal di dunia.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca