alexametrics
26.5 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Beasiswa Al-Azhar Era Gubernur Khofifah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Senin (14/6) Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberangkatkan tiga puluh (30) peserta matrikulasi Bahasa Arab ke Pusat Studi Islam dan Bahasa (PUSIBA) di Jakarta. PUSIBA adalah satu-satunya pusat studi yang dipercaya melakukan matrikulasi untuk memperkuat kemampuan bahasa arab bagi calon mahasiswa  Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Ketiga puluh calon mahasiswa dari Jawa Timur inilah yang hendak melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar atas biaya penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Ketiga puluh calon mahasiswa angkatan pertama dari Jawa Timur ini adalah lulusan Pendidikan Diniyah Formal ‘Ulya, Satuan Pendidikan Mu’adalah ‘Ulya, dan Madrasah Aliyah pesantren di Jawa Timur. Karena salah satu syaratnya harus ke-KTP Jawa Timur dan beasiswa ini benar-benar diperuntukkan untuk masyarakat Jawa Timur.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tanggal25 sampai dengan 31 Mei 2021 telah menugaskan Pengurus Lembaga Pengembangan Pendidikan Diniyah {LPPD)Jawa Timur (Drs. H. A. Hamid Syarif, MH., Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA., Dr. KH.  Ahmad Fahrur Rozi, M. Pd dan Fahmatul Kholidah Al-Khasani, M. Pd) untuk melakukan survei.Kami berempat telah melakukan silaturrahim dengan tokoh-tokoh asal Jawa Timur di Kairo, kami berdialog dengan tokoh-tokoh dan perwakilan mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Timur yang menurut informasi jumlahnya mencapai 1200-an. Mereka studi di Al-Azhar melalui program beasiswa Kementerian Agama, program kemitraan Pesantren Modern Gontor,Pesantren Amanatul Ummah dan kemitraan lembaga lainnya termasuk yang biaya mandiri. Kami juga mengunjungi Sekretariat Gama Jatim dan Graha Jatim. Gama Jatim adalah sekretariat mahasiswa asal Jatim dan Graha Jatim adalah flat yang tersedia ruang tamu dan 3 kamar yang disewakan untuk membantu kebutuhan operasional kegiatan mahasiswa asal Jatim. Selama di Kairo, kami melakukan banyak survei  untuk mendapatkan tempat dan asrama yang strategis bagi Mahasiswa Jawa Timur. Amanah yang bagi kami sangat penting, karena Gubernur Khofifah menginginkin tersedianya asrama mahasiswa yang representative, yang bersih, yang aman, yang kondusif untuk belajar dan yang mudah transportasi ke kampus dan sekaligus sebagai media belajar mandiri dan tentu saja membawa nama jawa timur. Selama survei kami selalu didampingi oleh KH. Mukhlason Jamaluddin (Rois Syuriah PCI NU Mesir) dan timnya.

Sepulang dari Mesir, beberapa kiai menghubungi kami, selain ingin mendapatkan informasi tentang program Beasiswa Al-Azhar dari Pemprov Jatim juga bertanya: kenapa harus ke Al-Azhar?, kami baru menjawab yang ringan-ringan, karena memang Al-Azhar (melalui kehadiran Grand Syaikh Al-Azhar) yang sudah pro-aktif  menjalin komunikasi, bersilaturrahim ke Grahadi, dan terjadi kesepakatandengan Gubernur Khofifah, sehingga para Kiai Muda dan LPPD sepakat mensupport. Selain itu. Universitas Al-Azhar Kairo Mesir sampai sekarang tetap menjadi tempat favorit untuk melanjutkan studi di universitas tertua di dunia.

Mobile_AP_Rectangle 2

Universitas Al Azhar pada mulanya hanya sebuah masjid. Adalah seorang komandan pasukan perang dinasti Fathimiyah yang tengah berkuasa di Mesir (Jawhar As Siqilli) menggagas berdirinya Masjid Al Azhar (358-361 H) dan pada 7 Ramadlan 361 H (972 M) pertama kali dilaksanakan shalat Jumat. Al Azhar adalah masjid pertama di Kairo dan masjid keempat di Mesir. Masjid Al Azhar mengalami beberapa kali renovasi. Pada abad ke-14 M, bangunan masjid ditambah sentra pendidikan Islam bernama Madrasah, sehingga terdapat Madrasah At Taibarsi,Madrasah Al Aqbaghawi dan madrasah ketiga yang juga dibangun oleh Jawhar al-Qanqabaiyang sama-sama mengajarkan hukum-hukum Islam.

Selanjutnya, pada masa kekuasaan Sultan Mamluk, dilakukan renovasi besar-besaran dengan membangun paviliun sebagai tempat penginapanpelajar untuk jangka waktu empat bulan. Setiap distrik di negeri Mesir dan negeri-negeri Islam lainnya mendapat jatah penginapan di paviliun tersebut. Penambahan area Masjid Al-Azhar seluas 3.300 menjadi 7.800 meter persegi, yang dapat menampung sekitar 20 ribu jamaah. Proyek renovasi besar-besaran ini telah mengubah status Al Azhar menjadi sebuah sentra Pendidikan Islam yang terkenal di dunia.

Menurut catatan terakhir, kini ada sekitar 40-an fakultas di Universitas Azhar yang mengembangkan ilmu pengetahuan agama, kedokteran, matematika, astronomi, geografi, sejarah dan sebagainya, baik yang berada di Kairo maupun di Assiut, Aswan, Qina, Diemyat, Suhat, Alexandria, Garga, Zagazig, Tanta, Mansoura, Menofiya, Damanhour dan Shebin Al Koum. Sekarang aktivitas pendidikan Universitas Al Azhar telah meluas ke sejumlah kota di Mesir, bukan hanya di Kairo.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Senin (14/6) Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberangkatkan tiga puluh (30) peserta matrikulasi Bahasa Arab ke Pusat Studi Islam dan Bahasa (PUSIBA) di Jakarta. PUSIBA adalah satu-satunya pusat studi yang dipercaya melakukan matrikulasi untuk memperkuat kemampuan bahasa arab bagi calon mahasiswa  Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Ketiga puluh calon mahasiswa dari Jawa Timur inilah yang hendak melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar atas biaya penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Ketiga puluh calon mahasiswa angkatan pertama dari Jawa Timur ini adalah lulusan Pendidikan Diniyah Formal ‘Ulya, Satuan Pendidikan Mu’adalah ‘Ulya, dan Madrasah Aliyah pesantren di Jawa Timur. Karena salah satu syaratnya harus ke-KTP Jawa Timur dan beasiswa ini benar-benar diperuntukkan untuk masyarakat Jawa Timur.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tanggal25 sampai dengan 31 Mei 2021 telah menugaskan Pengurus Lembaga Pengembangan Pendidikan Diniyah {LPPD)Jawa Timur (Drs. H. A. Hamid Syarif, MH., Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA., Dr. KH.  Ahmad Fahrur Rozi, M. Pd dan Fahmatul Kholidah Al-Khasani, M. Pd) untuk melakukan survei.Kami berempat telah melakukan silaturrahim dengan tokoh-tokoh asal Jawa Timur di Kairo, kami berdialog dengan tokoh-tokoh dan perwakilan mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Timur yang menurut informasi jumlahnya mencapai 1200-an. Mereka studi di Al-Azhar melalui program beasiswa Kementerian Agama, program kemitraan Pesantren Modern Gontor,Pesantren Amanatul Ummah dan kemitraan lembaga lainnya termasuk yang biaya mandiri. Kami juga mengunjungi Sekretariat Gama Jatim dan Graha Jatim. Gama Jatim adalah sekretariat mahasiswa asal Jatim dan Graha Jatim adalah flat yang tersedia ruang tamu dan 3 kamar yang disewakan untuk membantu kebutuhan operasional kegiatan mahasiswa asal Jatim. Selama di Kairo, kami melakukan banyak survei  untuk mendapatkan tempat dan asrama yang strategis bagi Mahasiswa Jawa Timur. Amanah yang bagi kami sangat penting, karena Gubernur Khofifah menginginkin tersedianya asrama mahasiswa yang representative, yang bersih, yang aman, yang kondusif untuk belajar dan yang mudah transportasi ke kampus dan sekaligus sebagai media belajar mandiri dan tentu saja membawa nama jawa timur. Selama survei kami selalu didampingi oleh KH. Mukhlason Jamaluddin (Rois Syuriah PCI NU Mesir) dan timnya.

Sepulang dari Mesir, beberapa kiai menghubungi kami, selain ingin mendapatkan informasi tentang program Beasiswa Al-Azhar dari Pemprov Jatim juga bertanya: kenapa harus ke Al-Azhar?, kami baru menjawab yang ringan-ringan, karena memang Al-Azhar (melalui kehadiran Grand Syaikh Al-Azhar) yang sudah pro-aktif  menjalin komunikasi, bersilaturrahim ke Grahadi, dan terjadi kesepakatandengan Gubernur Khofifah, sehingga para Kiai Muda dan LPPD sepakat mensupport. Selain itu. Universitas Al-Azhar Kairo Mesir sampai sekarang tetap menjadi tempat favorit untuk melanjutkan studi di universitas tertua di dunia.

Universitas Al Azhar pada mulanya hanya sebuah masjid. Adalah seorang komandan pasukan perang dinasti Fathimiyah yang tengah berkuasa di Mesir (Jawhar As Siqilli) menggagas berdirinya Masjid Al Azhar (358-361 H) dan pada 7 Ramadlan 361 H (972 M) pertama kali dilaksanakan shalat Jumat. Al Azhar adalah masjid pertama di Kairo dan masjid keempat di Mesir. Masjid Al Azhar mengalami beberapa kali renovasi. Pada abad ke-14 M, bangunan masjid ditambah sentra pendidikan Islam bernama Madrasah, sehingga terdapat Madrasah At Taibarsi,Madrasah Al Aqbaghawi dan madrasah ketiga yang juga dibangun oleh Jawhar al-Qanqabaiyang sama-sama mengajarkan hukum-hukum Islam.

Selanjutnya, pada masa kekuasaan Sultan Mamluk, dilakukan renovasi besar-besaran dengan membangun paviliun sebagai tempat penginapanpelajar untuk jangka waktu empat bulan. Setiap distrik di negeri Mesir dan negeri-negeri Islam lainnya mendapat jatah penginapan di paviliun tersebut. Penambahan area Masjid Al-Azhar seluas 3.300 menjadi 7.800 meter persegi, yang dapat menampung sekitar 20 ribu jamaah. Proyek renovasi besar-besaran ini telah mengubah status Al Azhar menjadi sebuah sentra Pendidikan Islam yang terkenal di dunia.

Menurut catatan terakhir, kini ada sekitar 40-an fakultas di Universitas Azhar yang mengembangkan ilmu pengetahuan agama, kedokteran, matematika, astronomi, geografi, sejarah dan sebagainya, baik yang berada di Kairo maupun di Assiut, Aswan, Qina, Diemyat, Suhat, Alexandria, Garga, Zagazig, Tanta, Mansoura, Menofiya, Damanhour dan Shebin Al Koum. Sekarang aktivitas pendidikan Universitas Al Azhar telah meluas ke sejumlah kota di Mesir, bukan hanya di Kairo.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Senin (14/6) Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberangkatkan tiga puluh (30) peserta matrikulasi Bahasa Arab ke Pusat Studi Islam dan Bahasa (PUSIBA) di Jakarta. PUSIBA adalah satu-satunya pusat studi yang dipercaya melakukan matrikulasi untuk memperkuat kemampuan bahasa arab bagi calon mahasiswa  Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Ketiga puluh calon mahasiswa dari Jawa Timur inilah yang hendak melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar atas biaya penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Ketiga puluh calon mahasiswa angkatan pertama dari Jawa Timur ini adalah lulusan Pendidikan Diniyah Formal ‘Ulya, Satuan Pendidikan Mu’adalah ‘Ulya, dan Madrasah Aliyah pesantren di Jawa Timur. Karena salah satu syaratnya harus ke-KTP Jawa Timur dan beasiswa ini benar-benar diperuntukkan untuk masyarakat Jawa Timur.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tanggal25 sampai dengan 31 Mei 2021 telah menugaskan Pengurus Lembaga Pengembangan Pendidikan Diniyah {LPPD)Jawa Timur (Drs. H. A. Hamid Syarif, MH., Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA., Dr. KH.  Ahmad Fahrur Rozi, M. Pd dan Fahmatul Kholidah Al-Khasani, M. Pd) untuk melakukan survei.Kami berempat telah melakukan silaturrahim dengan tokoh-tokoh asal Jawa Timur di Kairo, kami berdialog dengan tokoh-tokoh dan perwakilan mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Timur yang menurut informasi jumlahnya mencapai 1200-an. Mereka studi di Al-Azhar melalui program beasiswa Kementerian Agama, program kemitraan Pesantren Modern Gontor,Pesantren Amanatul Ummah dan kemitraan lembaga lainnya termasuk yang biaya mandiri. Kami juga mengunjungi Sekretariat Gama Jatim dan Graha Jatim. Gama Jatim adalah sekretariat mahasiswa asal Jatim dan Graha Jatim adalah flat yang tersedia ruang tamu dan 3 kamar yang disewakan untuk membantu kebutuhan operasional kegiatan mahasiswa asal Jatim. Selama di Kairo, kami melakukan banyak survei  untuk mendapatkan tempat dan asrama yang strategis bagi Mahasiswa Jawa Timur. Amanah yang bagi kami sangat penting, karena Gubernur Khofifah menginginkin tersedianya asrama mahasiswa yang representative, yang bersih, yang aman, yang kondusif untuk belajar dan yang mudah transportasi ke kampus dan sekaligus sebagai media belajar mandiri dan tentu saja membawa nama jawa timur. Selama survei kami selalu didampingi oleh KH. Mukhlason Jamaluddin (Rois Syuriah PCI NU Mesir) dan timnya.

Sepulang dari Mesir, beberapa kiai menghubungi kami, selain ingin mendapatkan informasi tentang program Beasiswa Al-Azhar dari Pemprov Jatim juga bertanya: kenapa harus ke Al-Azhar?, kami baru menjawab yang ringan-ringan, karena memang Al-Azhar (melalui kehadiran Grand Syaikh Al-Azhar) yang sudah pro-aktif  menjalin komunikasi, bersilaturrahim ke Grahadi, dan terjadi kesepakatandengan Gubernur Khofifah, sehingga para Kiai Muda dan LPPD sepakat mensupport. Selain itu. Universitas Al-Azhar Kairo Mesir sampai sekarang tetap menjadi tempat favorit untuk melanjutkan studi di universitas tertua di dunia.

Universitas Al Azhar pada mulanya hanya sebuah masjid. Adalah seorang komandan pasukan perang dinasti Fathimiyah yang tengah berkuasa di Mesir (Jawhar As Siqilli) menggagas berdirinya Masjid Al Azhar (358-361 H) dan pada 7 Ramadlan 361 H (972 M) pertama kali dilaksanakan shalat Jumat. Al Azhar adalah masjid pertama di Kairo dan masjid keempat di Mesir. Masjid Al Azhar mengalami beberapa kali renovasi. Pada abad ke-14 M, bangunan masjid ditambah sentra pendidikan Islam bernama Madrasah, sehingga terdapat Madrasah At Taibarsi,Madrasah Al Aqbaghawi dan madrasah ketiga yang juga dibangun oleh Jawhar al-Qanqabaiyang sama-sama mengajarkan hukum-hukum Islam.

Selanjutnya, pada masa kekuasaan Sultan Mamluk, dilakukan renovasi besar-besaran dengan membangun paviliun sebagai tempat penginapanpelajar untuk jangka waktu empat bulan. Setiap distrik di negeri Mesir dan negeri-negeri Islam lainnya mendapat jatah penginapan di paviliun tersebut. Penambahan area Masjid Al-Azhar seluas 3.300 menjadi 7.800 meter persegi, yang dapat menampung sekitar 20 ribu jamaah. Proyek renovasi besar-besaran ini telah mengubah status Al Azhar menjadi sebuah sentra Pendidikan Islam yang terkenal di dunia.

Menurut catatan terakhir, kini ada sekitar 40-an fakultas di Universitas Azhar yang mengembangkan ilmu pengetahuan agama, kedokteran, matematika, astronomi, geografi, sejarah dan sebagainya, baik yang berada di Kairo maupun di Assiut, Aswan, Qina, Diemyat, Suhat, Alexandria, Garga, Zagazig, Tanta, Mansoura, Menofiya, Damanhour dan Shebin Al Koum. Sekarang aktivitas pendidikan Universitas Al Azhar telah meluas ke sejumlah kota di Mesir, bukan hanya di Kairo.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/