alexametrics
27.3 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Ma’had Aly

Mobile_AP_Rectangle 1

SALAH satu bentuk pendidikan formal yang khas pesantren dan hanya boleh diselenggarakan di pesantren adalah Ma’had Aly, bentuk lainnya adalah Satuan Pendidikan Mu’adalah dan Pendidikan Diniyah Formal. Dari perspektif sejarah, keberadaan Ma’had Aly di Indonesia cukup lama. Jauh sebelum masa Reformasi, seperti Ma’had Aly yang dirintis oleh KHR As’ad Syamsul Arifin di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo telah berdiri sebelum tahun 1990, populasi Ma’had Aly mulai berkembang sejak adanya Peraturan Menteri Agama Nomor 71 Tahun 2015 tentang Ma’had Aly. Ke depan pasca-diundangkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren dan Peraturan Menteri Agama Nomor 32 Tahun 2020 tentang Ma’had Aly, bisa diprediksi bahwa perkembangan Ma’had Aly akan lebih signifikan.

Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 Pasal 1 poin 7 dinyatakan bahwa Ma’had Aly adalah pendidikan pesantren jenjang pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh pesantren dan berada di lingkungan pesantren dengan mengembangkan kajian keislaman sesuai dengan kekhasan pesantren yang berbasis kitab kuning secara berjenjang dan terstruktur.

Dari pengertian tentang Ma’had Aly dan nomenklatur “berbasis Kitab Kuning” sekaligus telah mempertegas dan membatasi penyelenggaraan Ma’had Aly, bahwa Ma’had Aly hanya bisa diselenggarakan di Pesantren Salafiyah. Tidak bisa diselenggarakan di Pesantren Ashriyah karena harus berbasis kitab kuning, sehingga tidak semua pesantren bisa menyelenggarakan Ma’had Aly. Termasuk tidak semua Pesantren Salafiyah bisa menyelenggarakan Ma’had Aly.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, pada pasal 22 dinyatakan bahwa Ma’had Aly menyelenggarakan pendidikan akademik pada program sarjana, magister, dan doktor”. Program sarjana pada Ma’had Aly disebut Marhalah Ula (M-1), program magister pada Ma’had Aly disebut marhalah tsaniyah (M-2), dan program doktor pada Ma’had Aly disebut Marhalah Tsalisah (M-3),

Sebagai salah satu bentuk perguruan tinggi yang sebelumnya sudah diakui dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, maka Ma’had Aly adalah bentuk yang khas pesantren. Secara keilmuan, Ma’had Aly hanya mengembangkan rumpun ilmu agama Islam berbasis kitab kuning dengan pendalaman bidang ilmu keislaman tertentu, berdasarkan tradisi akademik pesantren dalam bentuk konsentrasi kajian.

Rumpun agama Islam yang dikembangkan Ma’had Aly masih sangat terbatas. Terbatas pada: Alquran dan ilmu Alquran, tafsir dan ilmu tafsir, hadis dan ilmu hadis, fikih dan ushul fikih, akidah dan filsafat Islam, tasawuf dan tarekat, ilmu falak, sejarah dan peradaban Islam, bahasa dan sastra Arab, dan sebagainya.

- Advertisement -

SALAH satu bentuk pendidikan formal yang khas pesantren dan hanya boleh diselenggarakan di pesantren adalah Ma’had Aly, bentuk lainnya adalah Satuan Pendidikan Mu’adalah dan Pendidikan Diniyah Formal. Dari perspektif sejarah, keberadaan Ma’had Aly di Indonesia cukup lama. Jauh sebelum masa Reformasi, seperti Ma’had Aly yang dirintis oleh KHR As’ad Syamsul Arifin di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo telah berdiri sebelum tahun 1990, populasi Ma’had Aly mulai berkembang sejak adanya Peraturan Menteri Agama Nomor 71 Tahun 2015 tentang Ma’had Aly. Ke depan pasca-diundangkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren dan Peraturan Menteri Agama Nomor 32 Tahun 2020 tentang Ma’had Aly, bisa diprediksi bahwa perkembangan Ma’had Aly akan lebih signifikan.

Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 Pasal 1 poin 7 dinyatakan bahwa Ma’had Aly adalah pendidikan pesantren jenjang pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh pesantren dan berada di lingkungan pesantren dengan mengembangkan kajian keislaman sesuai dengan kekhasan pesantren yang berbasis kitab kuning secara berjenjang dan terstruktur.

Dari pengertian tentang Ma’had Aly dan nomenklatur “berbasis Kitab Kuning” sekaligus telah mempertegas dan membatasi penyelenggaraan Ma’had Aly, bahwa Ma’had Aly hanya bisa diselenggarakan di Pesantren Salafiyah. Tidak bisa diselenggarakan di Pesantren Ashriyah karena harus berbasis kitab kuning, sehingga tidak semua pesantren bisa menyelenggarakan Ma’had Aly. Termasuk tidak semua Pesantren Salafiyah bisa menyelenggarakan Ma’had Aly.

Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, pada pasal 22 dinyatakan bahwa Ma’had Aly menyelenggarakan pendidikan akademik pada program sarjana, magister, dan doktor”. Program sarjana pada Ma’had Aly disebut Marhalah Ula (M-1), program magister pada Ma’had Aly disebut marhalah tsaniyah (M-2), dan program doktor pada Ma’had Aly disebut Marhalah Tsalisah (M-3),

Sebagai salah satu bentuk perguruan tinggi yang sebelumnya sudah diakui dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, maka Ma’had Aly adalah bentuk yang khas pesantren. Secara keilmuan, Ma’had Aly hanya mengembangkan rumpun ilmu agama Islam berbasis kitab kuning dengan pendalaman bidang ilmu keislaman tertentu, berdasarkan tradisi akademik pesantren dalam bentuk konsentrasi kajian.

Rumpun agama Islam yang dikembangkan Ma’had Aly masih sangat terbatas. Terbatas pada: Alquran dan ilmu Alquran, tafsir dan ilmu tafsir, hadis dan ilmu hadis, fikih dan ushul fikih, akidah dan filsafat Islam, tasawuf dan tarekat, ilmu falak, sejarah dan peradaban Islam, bahasa dan sastra Arab, dan sebagainya.

SALAH satu bentuk pendidikan formal yang khas pesantren dan hanya boleh diselenggarakan di pesantren adalah Ma’had Aly, bentuk lainnya adalah Satuan Pendidikan Mu’adalah dan Pendidikan Diniyah Formal. Dari perspektif sejarah, keberadaan Ma’had Aly di Indonesia cukup lama. Jauh sebelum masa Reformasi, seperti Ma’had Aly yang dirintis oleh KHR As’ad Syamsul Arifin di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo telah berdiri sebelum tahun 1990, populasi Ma’had Aly mulai berkembang sejak adanya Peraturan Menteri Agama Nomor 71 Tahun 2015 tentang Ma’had Aly. Ke depan pasca-diundangkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren dan Peraturan Menteri Agama Nomor 32 Tahun 2020 tentang Ma’had Aly, bisa diprediksi bahwa perkembangan Ma’had Aly akan lebih signifikan.

Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 Pasal 1 poin 7 dinyatakan bahwa Ma’had Aly adalah pendidikan pesantren jenjang pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh pesantren dan berada di lingkungan pesantren dengan mengembangkan kajian keislaman sesuai dengan kekhasan pesantren yang berbasis kitab kuning secara berjenjang dan terstruktur.

Dari pengertian tentang Ma’had Aly dan nomenklatur “berbasis Kitab Kuning” sekaligus telah mempertegas dan membatasi penyelenggaraan Ma’had Aly, bahwa Ma’had Aly hanya bisa diselenggarakan di Pesantren Salafiyah. Tidak bisa diselenggarakan di Pesantren Ashriyah karena harus berbasis kitab kuning, sehingga tidak semua pesantren bisa menyelenggarakan Ma’had Aly. Termasuk tidak semua Pesantren Salafiyah bisa menyelenggarakan Ma’had Aly.

Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, pada pasal 22 dinyatakan bahwa Ma’had Aly menyelenggarakan pendidikan akademik pada program sarjana, magister, dan doktor”. Program sarjana pada Ma’had Aly disebut Marhalah Ula (M-1), program magister pada Ma’had Aly disebut marhalah tsaniyah (M-2), dan program doktor pada Ma’had Aly disebut Marhalah Tsalisah (M-3),

Sebagai salah satu bentuk perguruan tinggi yang sebelumnya sudah diakui dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, maka Ma’had Aly adalah bentuk yang khas pesantren. Secara keilmuan, Ma’had Aly hanya mengembangkan rumpun ilmu agama Islam berbasis kitab kuning dengan pendalaman bidang ilmu keislaman tertentu, berdasarkan tradisi akademik pesantren dalam bentuk konsentrasi kajian.

Rumpun agama Islam yang dikembangkan Ma’had Aly masih sangat terbatas. Terbatas pada: Alquran dan ilmu Alquran, tafsir dan ilmu tafsir, hadis dan ilmu hadis, fikih dan ushul fikih, akidah dan filsafat Islam, tasawuf dan tarekat, ilmu falak, sejarah dan peradaban Islam, bahasa dan sastra Arab, dan sebagainya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/