alexametrics
27.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Menyegarkan Kembali Hablun Minallah Hablun Minannas

Mobile_AP_Rectangle 1

Artinya, hubungan dengan sesama manusia pun akan baik, karena secara empirik, tidak sedikit komunikasi dengan sesama yang akhirnya hanya menorehkan noda, luka, dan petaka. Jika berkomunikasi dengan sesuatu di luar dirinya saja sulit, maka akan lebih sulit lagi berkomunikasi dengan diri sendiri, ibarat melihat tengkuk sendiri, “begitu dekat, tetapi begitu jauh dan sulitnya untuk dilihat dan ditelisik”. Akibatnya, area untuk melakukan objektifikasi kepada objek komunikasi, yaitu diri sendiri, menjadi sangat sempit. Karenanya, bukan hal aneh ketika terjadi gejolak dalam diri sendiri, ada kecenderungan untuk melemparkan kesalahan kepada orang lain. Maka, ada pepatah “bila ingin tahu tentang pribadi seseorang yang sesungguhnya, tanyakanlah kepada kawannya”. Ini menunjukkan betapa sulitnya seseorang untuk mendeskripsikan dirinya sendiri secara objektif.

Mengenal diri sendiri sangat penting untuk membangun hubungan dengan manusia dan Allah. Salah satu bentuk mengenali diri sendiri adalah mengenal apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya. Ibarat rumah, sebelum menata isinya dan menaruh pernak pernik, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenai kelebihan dan kekurangan serta keterbatasan tata ruang atau desain interiornya. Jangan sampai membeli kursi ukuran jumbo dan berbentuk L, padahal ruang tamu yang tersedia ukurannya kecil dan bundar. Jika batas dan kekurangan rumahnya terletak pada ruangan tamu yang sempit, tidak boleh dipaksa diisi dengan barang berukuran jumbo. Mungkin barang itu bisa masuk, tetapi tidak serasi, tidak nyaman dilihat dan ditempati. Padahal ruang sempit lagi kecil juga akan tetap nyaman dan indah bila ditata sesuai dengan kondisi yang ada. Dengan mengenali dan menerima keterbatasan ruang yang kita punya, tidak perlu ada pikiran, ucapan dan sikap yang menuduh si pembuat kursi jumbolah yang tidak tahu diri, salah, atau bodoh. Saat tuduhan dilontarkan, satu jari kita menunjuk ke kebodohan orang lain, tanpa disadari bahwa keempat jari lainnya menunjuk ke diri kita sendiri.

Akhirnya, sebagai pamungkas, kita perlu melakukan refleksi meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Allah, sesama dan diri sendiri. Kita bisa mengambil ibrah tentang salat: ketika memulai salat kita bertakbir Allahu Akbar dan menyatakan dengan penuh khusyuk, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku, kupersembahkan untuk Allah Rabbul Alamin. Dan, ketika kita mengakhiri salat, kita menyatakan komitmen kedamaian dengan mengucapkan salam dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Ini perlambang, bahwa salat kita berimplikasi terhadap terciptanya kedamaian bagi sesama, apa pun partainya, apa pun ormasnya, dan apa pun paham keagamaannya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Nah, kini saatnya kita menyegarkan kembali hubungan kita dengan Allah, dengan diri sendiri dan dengan sesama. Karena itulah jalan bagi kita untuk menjalani kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

 

*Prof Dr H. Abd. Halim Soebahar MA adalah Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur, Direktur Pascasarjana UIN KHAS Jember dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember.

- Advertisement -

Artinya, hubungan dengan sesama manusia pun akan baik, karena secara empirik, tidak sedikit komunikasi dengan sesama yang akhirnya hanya menorehkan noda, luka, dan petaka. Jika berkomunikasi dengan sesuatu di luar dirinya saja sulit, maka akan lebih sulit lagi berkomunikasi dengan diri sendiri, ibarat melihat tengkuk sendiri, “begitu dekat, tetapi begitu jauh dan sulitnya untuk dilihat dan ditelisik”. Akibatnya, area untuk melakukan objektifikasi kepada objek komunikasi, yaitu diri sendiri, menjadi sangat sempit. Karenanya, bukan hal aneh ketika terjadi gejolak dalam diri sendiri, ada kecenderungan untuk melemparkan kesalahan kepada orang lain. Maka, ada pepatah “bila ingin tahu tentang pribadi seseorang yang sesungguhnya, tanyakanlah kepada kawannya”. Ini menunjukkan betapa sulitnya seseorang untuk mendeskripsikan dirinya sendiri secara objektif.

Mengenal diri sendiri sangat penting untuk membangun hubungan dengan manusia dan Allah. Salah satu bentuk mengenali diri sendiri adalah mengenal apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya. Ibarat rumah, sebelum menata isinya dan menaruh pernak pernik, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenai kelebihan dan kekurangan serta keterbatasan tata ruang atau desain interiornya. Jangan sampai membeli kursi ukuran jumbo dan berbentuk L, padahal ruang tamu yang tersedia ukurannya kecil dan bundar. Jika batas dan kekurangan rumahnya terletak pada ruangan tamu yang sempit, tidak boleh dipaksa diisi dengan barang berukuran jumbo. Mungkin barang itu bisa masuk, tetapi tidak serasi, tidak nyaman dilihat dan ditempati. Padahal ruang sempit lagi kecil juga akan tetap nyaman dan indah bila ditata sesuai dengan kondisi yang ada. Dengan mengenali dan menerima keterbatasan ruang yang kita punya, tidak perlu ada pikiran, ucapan dan sikap yang menuduh si pembuat kursi jumbolah yang tidak tahu diri, salah, atau bodoh. Saat tuduhan dilontarkan, satu jari kita menunjuk ke kebodohan orang lain, tanpa disadari bahwa keempat jari lainnya menunjuk ke diri kita sendiri.

Akhirnya, sebagai pamungkas, kita perlu melakukan refleksi meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Allah, sesama dan diri sendiri. Kita bisa mengambil ibrah tentang salat: ketika memulai salat kita bertakbir Allahu Akbar dan menyatakan dengan penuh khusyuk, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku, kupersembahkan untuk Allah Rabbul Alamin. Dan, ketika kita mengakhiri salat, kita menyatakan komitmen kedamaian dengan mengucapkan salam dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Ini perlambang, bahwa salat kita berimplikasi terhadap terciptanya kedamaian bagi sesama, apa pun partainya, apa pun ormasnya, dan apa pun paham keagamaannya.

Nah, kini saatnya kita menyegarkan kembali hubungan kita dengan Allah, dengan diri sendiri dan dengan sesama. Karena itulah jalan bagi kita untuk menjalani kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

 

*Prof Dr H. Abd. Halim Soebahar MA adalah Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur, Direktur Pascasarjana UIN KHAS Jember dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember.

Artinya, hubungan dengan sesama manusia pun akan baik, karena secara empirik, tidak sedikit komunikasi dengan sesama yang akhirnya hanya menorehkan noda, luka, dan petaka. Jika berkomunikasi dengan sesuatu di luar dirinya saja sulit, maka akan lebih sulit lagi berkomunikasi dengan diri sendiri, ibarat melihat tengkuk sendiri, “begitu dekat, tetapi begitu jauh dan sulitnya untuk dilihat dan ditelisik”. Akibatnya, area untuk melakukan objektifikasi kepada objek komunikasi, yaitu diri sendiri, menjadi sangat sempit. Karenanya, bukan hal aneh ketika terjadi gejolak dalam diri sendiri, ada kecenderungan untuk melemparkan kesalahan kepada orang lain. Maka, ada pepatah “bila ingin tahu tentang pribadi seseorang yang sesungguhnya, tanyakanlah kepada kawannya”. Ini menunjukkan betapa sulitnya seseorang untuk mendeskripsikan dirinya sendiri secara objektif.

Mengenal diri sendiri sangat penting untuk membangun hubungan dengan manusia dan Allah. Salah satu bentuk mengenali diri sendiri adalah mengenal apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya. Ibarat rumah, sebelum menata isinya dan menaruh pernak pernik, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenai kelebihan dan kekurangan serta keterbatasan tata ruang atau desain interiornya. Jangan sampai membeli kursi ukuran jumbo dan berbentuk L, padahal ruang tamu yang tersedia ukurannya kecil dan bundar. Jika batas dan kekurangan rumahnya terletak pada ruangan tamu yang sempit, tidak boleh dipaksa diisi dengan barang berukuran jumbo. Mungkin barang itu bisa masuk, tetapi tidak serasi, tidak nyaman dilihat dan ditempati. Padahal ruang sempit lagi kecil juga akan tetap nyaman dan indah bila ditata sesuai dengan kondisi yang ada. Dengan mengenali dan menerima keterbatasan ruang yang kita punya, tidak perlu ada pikiran, ucapan dan sikap yang menuduh si pembuat kursi jumbolah yang tidak tahu diri, salah, atau bodoh. Saat tuduhan dilontarkan, satu jari kita menunjuk ke kebodohan orang lain, tanpa disadari bahwa keempat jari lainnya menunjuk ke diri kita sendiri.

Akhirnya, sebagai pamungkas, kita perlu melakukan refleksi meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Allah, sesama dan diri sendiri. Kita bisa mengambil ibrah tentang salat: ketika memulai salat kita bertakbir Allahu Akbar dan menyatakan dengan penuh khusyuk, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku, kupersembahkan untuk Allah Rabbul Alamin. Dan, ketika kita mengakhiri salat, kita menyatakan komitmen kedamaian dengan mengucapkan salam dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Ini perlambang, bahwa salat kita berimplikasi terhadap terciptanya kedamaian bagi sesama, apa pun partainya, apa pun ormasnya, dan apa pun paham keagamaannya.

Nah, kini saatnya kita menyegarkan kembali hubungan kita dengan Allah, dengan diri sendiri dan dengan sesama. Karena itulah jalan bagi kita untuk menjalani kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

 

*Prof Dr H. Abd. Halim Soebahar MA adalah Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur, Direktur Pascasarjana UIN KHAS Jember dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/