alexametrics
25 C
Jember
Wednesday, 26 January 2022

Menyegarkan Kembali Hablun Minallah Hablun Minannas

Mobile_AP_Rectangle 1

Sudah hampir dua tahun kita hidup dalam tradisi era pandemi. Era ini hadir begitu saja di luar prediksi kita, tapi telah mengubah pola pikir dan tradisi kita. Perubahan tradisi kita bukan hanya dalam ranah kehidupan pribadi, tapi sekaligus ranah publik. Bahkan telah menyentuh ke semua sisi kehidupan manusia, tak terkecuali perihal hablun minallah dan hablun minannas. Tulisan berikut ingin memotivasi perlunya menyegarkan kembali hablun minallah dan hablun minannas.

Sependek pengetahuan kami, setiap ibadah yang diperintahkan Allah SWT adalah untuk meningkatkan hubungan vertikal dan horizontal secara seimbang. Hubungan vertikal yaitu hubungan kita dengan Allah (hablun min Allah), sedangkan hubungan horizontal adalah hubungan kita dengan sesama makhluk Allah, khususnya manusia (hablun min annas). Hubungan ini merupakan bentuk komunikasi yang bersifat eksternal antara manusia dengan di luar dirinya. Namun, ada satu bentuk komunikasi yang sering luput dari perhatian kita, yaitu hubungan dengan diri sendiri (hablun min annafs).

Merajut hubungan dengan Allah, dengan sesama dan dengan diri sendiri terasa semakin sering diabaikan dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan iklim mutakhir. Merajut hubungan dengan Allah, misalnya, kita sering terjebak pada yang bersifat rutinitas daripada bentuk ketundukan kepada-Nya. Beribadah seringkali hanya sebagai seremonial tidak menghadirkan kekhusyukan dan keikhlasan, dan beribadah menjadi sebuah beban bukan kebutuhan, dan beribadah akhirnya kurang berimplikasi terhadap kehidupan pribadi dan sosial.

Mobile_AP_Rectangle 2

Islam bukanlah agama yang memerintahkan untuk hanya beribadah kepada Allah tanpa memikirkan kehidupan dunia. Begitu pun sebaliknya, tidak juga hanya mengejar kehidupan dunia saja dengan melalaikan akhirat. Tetapi setiap ibadah itu harus seimbang antara dunia dan akhirat. Salat diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam yang mendoakan seluruh makhluk yang ada di bumi ini. Artinya, dalam bacaan salat pun ada hubungan antara Allah dan sesama manusia. Begitu pun dengan ibadah puasa di bulan Ramadan, puasa merupakan ibadah yang penilaiannya langsung oleh Allah, setelah satu bulan berpuasa yang merupakan peningkatan hubungan dengan Allah, maka di akhir Ramadan sebelum salat Idul Fitri kita diwajibkan menunaikan zakat fitrah yang merupakan peningkatan hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama manusia.

Dalam Islam, salah satu media merajut hubungan dengan Allah adalah salat. Jika kita melakukan refleksi, akan bisa memahami bahwa ketika memulai salat kita awali dengan bertakbir Allahu Akbar dan menyatakan dengan penuh khusyuk sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku, kupersembahkan hanya untuk Allah Rabbul Alamin. Dan, ketika mengakhiri salat, kita secara sadar menyatakan komitmen kedamaian dengan mengucap salam, dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Ini perlambang bahwa salat akan berimplikasi terciptanya kedamaian. Alangkah dahsyatnya jika kita melaksanakan salat berjamaah, tentu sekat-sekat primordial, sekat-sekat partai politik, sekat-sekat ormas keagamaan, dan berbagai hambatan psikologis lain akan luntur disinari dengan statemen kita: “sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua kupersembahkan hanya untuk Allah Rabbul Alamin.”

Dalam hadis banyak dikemukakan, bahwa Allah senantiasa menunggu hamba-Nya yang mau berkomunikasi dengan-Nya. Pintu maaf-Nya selalu terbuka, mengingat Allah adalah Maha Mendengar, Maha Penerima Taubat, dan pemberi kedamaian. Ketika hati seorang mukmin telah dipenuhi rasa cinta dan rindu pada Allah, maka panggilan salat merupakan panggilan yang indah dan menggairahkan, laiknya anak muda yang jatuh cinta selalu ingin berjumpa kekasihnya, atau seorang ibu yang merindukan untuk bersua anak-anaknya yang berada jauh darinya. Dalam konteks inilah menjadi sangat mudah dipahami mengapa Rasulullah SAW menganjurkan agar seorang muslim hendaknya salat di awal waktu, jangan menunda salat, bergegaslah memenuhi panggilan Allah SWT.

Betapa sejuk dan ceria ketika menjalani salat. Semua kegiatan ditinggalkan karena tidak ada yang lebih utama ketimbang menghadap Allah SWT. Jika kita salat dan merasakan perasaan rindu dan cinta pada Allah, maka kita akan betah berlama-lama, merasakan aliran energi cinta dan damai dari-Nya. Kalau ini menjadi kebiasaan dan kualitas salat kita, maka ketika kita mengakhiri salat dengan salam dan menoleh ke kanan dan ke kiri, kita akan melanjutkannya dengan menebar salam perdamaian pada siapa pun yang dekat dengan kita, baik di lingkungan keluarga, teman kantor, maupun pergaulan sehari-hari. Pendeknya, mereka yang senang salat adalah juga mereka yang senang menebar rasa damai di hati dan bagi lingkungannya.

- Advertisement -

Sudah hampir dua tahun kita hidup dalam tradisi era pandemi. Era ini hadir begitu saja di luar prediksi kita, tapi telah mengubah pola pikir dan tradisi kita. Perubahan tradisi kita bukan hanya dalam ranah kehidupan pribadi, tapi sekaligus ranah publik. Bahkan telah menyentuh ke semua sisi kehidupan manusia, tak terkecuali perihal hablun minallah dan hablun minannas. Tulisan berikut ingin memotivasi perlunya menyegarkan kembali hablun minallah dan hablun minannas.

Sependek pengetahuan kami, setiap ibadah yang diperintahkan Allah SWT adalah untuk meningkatkan hubungan vertikal dan horizontal secara seimbang. Hubungan vertikal yaitu hubungan kita dengan Allah (hablun min Allah), sedangkan hubungan horizontal adalah hubungan kita dengan sesama makhluk Allah, khususnya manusia (hablun min annas). Hubungan ini merupakan bentuk komunikasi yang bersifat eksternal antara manusia dengan di luar dirinya. Namun, ada satu bentuk komunikasi yang sering luput dari perhatian kita, yaitu hubungan dengan diri sendiri (hablun min annafs).

Merajut hubungan dengan Allah, dengan sesama dan dengan diri sendiri terasa semakin sering diabaikan dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan iklim mutakhir. Merajut hubungan dengan Allah, misalnya, kita sering terjebak pada yang bersifat rutinitas daripada bentuk ketundukan kepada-Nya. Beribadah seringkali hanya sebagai seremonial tidak menghadirkan kekhusyukan dan keikhlasan, dan beribadah menjadi sebuah beban bukan kebutuhan, dan beribadah akhirnya kurang berimplikasi terhadap kehidupan pribadi dan sosial.

Islam bukanlah agama yang memerintahkan untuk hanya beribadah kepada Allah tanpa memikirkan kehidupan dunia. Begitu pun sebaliknya, tidak juga hanya mengejar kehidupan dunia saja dengan melalaikan akhirat. Tetapi setiap ibadah itu harus seimbang antara dunia dan akhirat. Salat diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam yang mendoakan seluruh makhluk yang ada di bumi ini. Artinya, dalam bacaan salat pun ada hubungan antara Allah dan sesama manusia. Begitu pun dengan ibadah puasa di bulan Ramadan, puasa merupakan ibadah yang penilaiannya langsung oleh Allah, setelah satu bulan berpuasa yang merupakan peningkatan hubungan dengan Allah, maka di akhir Ramadan sebelum salat Idul Fitri kita diwajibkan menunaikan zakat fitrah yang merupakan peningkatan hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama manusia.

Dalam Islam, salah satu media merajut hubungan dengan Allah adalah salat. Jika kita melakukan refleksi, akan bisa memahami bahwa ketika memulai salat kita awali dengan bertakbir Allahu Akbar dan menyatakan dengan penuh khusyuk sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku, kupersembahkan hanya untuk Allah Rabbul Alamin. Dan, ketika mengakhiri salat, kita secara sadar menyatakan komitmen kedamaian dengan mengucap salam, dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Ini perlambang bahwa salat akan berimplikasi terciptanya kedamaian. Alangkah dahsyatnya jika kita melaksanakan salat berjamaah, tentu sekat-sekat primordial, sekat-sekat partai politik, sekat-sekat ormas keagamaan, dan berbagai hambatan psikologis lain akan luntur disinari dengan statemen kita: “sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua kupersembahkan hanya untuk Allah Rabbul Alamin.”

Dalam hadis banyak dikemukakan, bahwa Allah senantiasa menunggu hamba-Nya yang mau berkomunikasi dengan-Nya. Pintu maaf-Nya selalu terbuka, mengingat Allah adalah Maha Mendengar, Maha Penerima Taubat, dan pemberi kedamaian. Ketika hati seorang mukmin telah dipenuhi rasa cinta dan rindu pada Allah, maka panggilan salat merupakan panggilan yang indah dan menggairahkan, laiknya anak muda yang jatuh cinta selalu ingin berjumpa kekasihnya, atau seorang ibu yang merindukan untuk bersua anak-anaknya yang berada jauh darinya. Dalam konteks inilah menjadi sangat mudah dipahami mengapa Rasulullah SAW menganjurkan agar seorang muslim hendaknya salat di awal waktu, jangan menunda salat, bergegaslah memenuhi panggilan Allah SWT.

Betapa sejuk dan ceria ketika menjalani salat. Semua kegiatan ditinggalkan karena tidak ada yang lebih utama ketimbang menghadap Allah SWT. Jika kita salat dan merasakan perasaan rindu dan cinta pada Allah, maka kita akan betah berlama-lama, merasakan aliran energi cinta dan damai dari-Nya. Kalau ini menjadi kebiasaan dan kualitas salat kita, maka ketika kita mengakhiri salat dengan salam dan menoleh ke kanan dan ke kiri, kita akan melanjutkannya dengan menebar salam perdamaian pada siapa pun yang dekat dengan kita, baik di lingkungan keluarga, teman kantor, maupun pergaulan sehari-hari. Pendeknya, mereka yang senang salat adalah juga mereka yang senang menebar rasa damai di hati dan bagi lingkungannya.

Sudah hampir dua tahun kita hidup dalam tradisi era pandemi. Era ini hadir begitu saja di luar prediksi kita, tapi telah mengubah pola pikir dan tradisi kita. Perubahan tradisi kita bukan hanya dalam ranah kehidupan pribadi, tapi sekaligus ranah publik. Bahkan telah menyentuh ke semua sisi kehidupan manusia, tak terkecuali perihal hablun minallah dan hablun minannas. Tulisan berikut ingin memotivasi perlunya menyegarkan kembali hablun minallah dan hablun minannas.

Sependek pengetahuan kami, setiap ibadah yang diperintahkan Allah SWT adalah untuk meningkatkan hubungan vertikal dan horizontal secara seimbang. Hubungan vertikal yaitu hubungan kita dengan Allah (hablun min Allah), sedangkan hubungan horizontal adalah hubungan kita dengan sesama makhluk Allah, khususnya manusia (hablun min annas). Hubungan ini merupakan bentuk komunikasi yang bersifat eksternal antara manusia dengan di luar dirinya. Namun, ada satu bentuk komunikasi yang sering luput dari perhatian kita, yaitu hubungan dengan diri sendiri (hablun min annafs).

Merajut hubungan dengan Allah, dengan sesama dan dengan diri sendiri terasa semakin sering diabaikan dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan iklim mutakhir. Merajut hubungan dengan Allah, misalnya, kita sering terjebak pada yang bersifat rutinitas daripada bentuk ketundukan kepada-Nya. Beribadah seringkali hanya sebagai seremonial tidak menghadirkan kekhusyukan dan keikhlasan, dan beribadah menjadi sebuah beban bukan kebutuhan, dan beribadah akhirnya kurang berimplikasi terhadap kehidupan pribadi dan sosial.

Islam bukanlah agama yang memerintahkan untuk hanya beribadah kepada Allah tanpa memikirkan kehidupan dunia. Begitu pun sebaliknya, tidak juga hanya mengejar kehidupan dunia saja dengan melalaikan akhirat. Tetapi setiap ibadah itu harus seimbang antara dunia dan akhirat. Salat diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam yang mendoakan seluruh makhluk yang ada di bumi ini. Artinya, dalam bacaan salat pun ada hubungan antara Allah dan sesama manusia. Begitu pun dengan ibadah puasa di bulan Ramadan, puasa merupakan ibadah yang penilaiannya langsung oleh Allah, setelah satu bulan berpuasa yang merupakan peningkatan hubungan dengan Allah, maka di akhir Ramadan sebelum salat Idul Fitri kita diwajibkan menunaikan zakat fitrah yang merupakan peningkatan hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama manusia.

Dalam Islam, salah satu media merajut hubungan dengan Allah adalah salat. Jika kita melakukan refleksi, akan bisa memahami bahwa ketika memulai salat kita awali dengan bertakbir Allahu Akbar dan menyatakan dengan penuh khusyuk sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku, kupersembahkan hanya untuk Allah Rabbul Alamin. Dan, ketika mengakhiri salat, kita secara sadar menyatakan komitmen kedamaian dengan mengucap salam, dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Ini perlambang bahwa salat akan berimplikasi terciptanya kedamaian. Alangkah dahsyatnya jika kita melaksanakan salat berjamaah, tentu sekat-sekat primordial, sekat-sekat partai politik, sekat-sekat ormas keagamaan, dan berbagai hambatan psikologis lain akan luntur disinari dengan statemen kita: “sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua kupersembahkan hanya untuk Allah Rabbul Alamin.”

Dalam hadis banyak dikemukakan, bahwa Allah senantiasa menunggu hamba-Nya yang mau berkomunikasi dengan-Nya. Pintu maaf-Nya selalu terbuka, mengingat Allah adalah Maha Mendengar, Maha Penerima Taubat, dan pemberi kedamaian. Ketika hati seorang mukmin telah dipenuhi rasa cinta dan rindu pada Allah, maka panggilan salat merupakan panggilan yang indah dan menggairahkan, laiknya anak muda yang jatuh cinta selalu ingin berjumpa kekasihnya, atau seorang ibu yang merindukan untuk bersua anak-anaknya yang berada jauh darinya. Dalam konteks inilah menjadi sangat mudah dipahami mengapa Rasulullah SAW menganjurkan agar seorang muslim hendaknya salat di awal waktu, jangan menunda salat, bergegaslah memenuhi panggilan Allah SWT.

Betapa sejuk dan ceria ketika menjalani salat. Semua kegiatan ditinggalkan karena tidak ada yang lebih utama ketimbang menghadap Allah SWT. Jika kita salat dan merasakan perasaan rindu dan cinta pada Allah, maka kita akan betah berlama-lama, merasakan aliran energi cinta dan damai dari-Nya. Kalau ini menjadi kebiasaan dan kualitas salat kita, maka ketika kita mengakhiri salat dengan salam dan menoleh ke kanan dan ke kiri, kita akan melanjutkannya dengan menebar salam perdamaian pada siapa pun yang dekat dengan kita, baik di lingkungan keluarga, teman kantor, maupun pergaulan sehari-hari. Pendeknya, mereka yang senang salat adalah juga mereka yang senang menebar rasa damai di hati dan bagi lingkungannya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca