Metode Pemadaman Kebakaran Hutan, Masih Sangat Manual

SKPH Perhutani Lumajang for RAME SIMULASI: Personel Perum Perhutani sedang ikut simulasi menerapkan metode gepyokan untuk memadamkan kebakaran hutan.

RADARJEMBER.ID – Hampir seluruh kejadian kebakaran lahan dan hutan (karlahut) di Lumajang terjadi di titik-titik yang sulit dijangkau. Di sisi lain, cara-cara penanganan karlahut yang bisa ditempuh masih tergolong cukup sederhana.

IKLAN

Lokasi yang sulit dijangkau adalah wilayah ketinggian gunung. Di wilayah berkontur semacam itu memadamkan api dengan semprotan air pemadam kebakaran hampir mustahil. Cara lain, dengan semprotan dari udara dengan mengandalkan helikopter justru menuntut biasa yang tidak sedikit.

Kepala Sub Kawasan Pemangku Hutan (SKPH) Perhutan Lumajang, Mukhlisin mengakui, selama ini penanganan kebakaran lahan dan hutan di areal yang sulit dijangkau hanya mengandalkan cara sekatan. Cara sekatan maksudnya adalah membersihkan seresah (rumput), daun, dan ilalang kering di areal yang bisa dijangkau, hingga selebar dua meter mengelilingi lokasi kebakaran. Tujuannya, kata dia, agar api tidak menjalar semakin luas.

Cara itu, kata Mukhlisin, akan membuat api padam secara alami, karena kehabisan bahan bakar. Mengingat, selama ini yang menjadi sebab membesarnya kebakaran adalah seresah (rumput), daun, dan ilalang kering.

Namun konsekuensinya, lokasi-lokasi yang sulit dijangkau akan tetap terlahap api, karena tidak mungkin ditangani. ”Jadi ketika dibuat sekatan selebar 2 meter mengelilingi areal kebakaran, api tidak bisa menjalar lagi dengan lebih luas, kehabisan bahan makan, dan padam dengan sendirinya,” paparnya.

Namun cara seperti itu menjadi altertatif kedua jika memang lokasiknya sulit dijangkau. Ketika memungkinkan, maka tenaga pemadam (biasanya dari unsur Perhutani, Kepolisian, dan BPBD) akan bergerak lebih responsif dengan cara gepyokan. Gepyokan merupakan metode pemadaman kebakaran lahan dan hutan dengan cara memukul-mukul api secara manual. Biasanya menggunakan serabut kelapa yang dibasahi.

Hitung-hitungannya, butuh tenaga 20 personel guna memadamkan api yang menjalar di areal 1,5 hektare. Semakin luas areal kebakarannya, maka semakin banyak personel yang diperlukan. “Biasanya metode gepyokan dilakukan pada lokasi kebakaran yang ada di lereng. Pokoknya masih bisa dijangkau oleh personel,” tuturnya.

Kendati demikian, cara gepyokan hanya mungkin dilakukan untuk ketinggian api di bawah 2 meter. Begitu api meninggi sampai di atas 2 meter, maka solusinya adalah disekat, kendati lokasinya masih bisa dijangkau.

Cara-cara pemadaman konvensional dengan menggunakan semprotan air, ucap Mukhlisin, hampir tidak pernah dilakukan dalam  kasus kebakaran lahan dan hutan. Karena, metode seperti itu justru tidak efektif dan sulit dilakukan di medan hutan dan gunung.

Reporter : Khawas Auskarni Muhyidin
Editor : Narto
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :