BPBD Jember Petakan Titik Rawan

Jumai/Radar Jember MENGERING: Salah satu kawasan hutan di wilayah Dusun Mandilis 1, Desa Sanenrejo, Kecamatan Tempurejo ini sangat rawan terjadi kebakaran

RADARJEMBER.ID – Musim kemarau memang memicu bencana kebakaran. Tak hanya rumah dan lahan, namun juga memicu terjadinya kebakaran hutan akibat banyaknya pohon yang mengering. Ceroboh sedikit saja, bukan tak mungkin kebakaran terjadi.

IKLAN

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember sudah mulai melakukan antisipasi dan mengidentifikasi penyebabnya. Salah satunya adalah aktivitas masyarakat sendiri. Yakni membakar sampah sembarangan dan pembakaran jerami sisa hasil panen di sawah.

Untuk titik-titik rawan, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember Mahmud Rizal mengatakan, tersebar di beberapa tititk. “Yang memiliki risiko tinggi di Tempurejo. Dari delapan desa yang ada, lima di antaranya rawan kebakaran lahan dan hutan,” jelas Rizal.

Di Tempurejo, potensi kebakaran lahan dan hutan tinggi di Desa Curahnongko dan Curah Takir. Sedangkan di Desa Andongrejo, Pondokrejo, dan Tempurejo berpotensi sedang.

Di kecamatan lain juga terdapat titik rawan. Namun, intensitasnya sedang, yakni Kecamatan Silo (Desa Sidomulyo, Garahan, Harjomulyo, Pace, dan Sumberjati). Lalu Kecamatan Ledokombo (Desa Slateng dan Sumbersalak), Kecamatan Sumberjambe (Desa Gunung Malang, Rowoasri, dan Jambearum), serta Kecamatan Mumbulsari (Desa Mumbulsari, Kawangrejo, Lengkong, Karang Kedawung, dan Suco).

Selain itu, titik rawan kebakaran terdapat di Kecamatan Rambipuji, yakni di Desa Nogosari, Kaliwining, dan Curahmalang. Lalu di Kecamatan Puger (Desa Grenden), Balung (Desa Curah Lele), Ambulu (Desa Pontang dan Sumberejo), Bangsalsari (Desa Tugusari, Sukorejo, Petung, Trisnogambar, Langkap, Bangsalsari, dan Gambirono), Tanggul (Desa Selodakon, Darungan, Sukoharjo, Pondok Dalem, dan Patemon), serta Sumberbaru (Desa Gelang, Karang Bayat, Jamintoro, dan Kaliglagah).

Dikatakan, memang di Jember tidak ada titik api. Namun, potensi itu sangat besar. Salah satu yang menjadi prioritas pihaknya yakni masalah hasil panen petani. “Kebiasaan masyarakat yang mencari jalan mudah membersihkan sisa hasil panen dengan dibakar ini cukup rawan,” kata Rizal. Kegiatan itu banyak dilakukan di areal lahan sawah, baik itu bekas sisa tebu, jagung, maupun jerami padi.

Ini diakuinya menjadi potensi untuk menyebabkan dan memicu kejadian kebakaran yang lebih besar nantinya. “Kalau merembet ke yang lain kan berbahaya,” jelasnya. Pihaknya menuturkan, seharusnya hal seperti ini sudah bisa dihindari demi mencegah terjadinya kebakaran.

Apalagi, di tengah kondisi panas dan angin seperti saat ini, dikhawatirkan aktivitas membakar sembarangan itu akan menjalar dan menyebabkan kebakaran di titik sekitarnya. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan khusus terkait hal ini.  “Secara umum, kebakaran tahun ini berkurang dibanding tahun lalu. Tapi masih ada,” jelas Rizal.

Khusus di Tempurejo, perlu kewaspadaan khusus. Sebab, di musim kemarau seperti ini sangat rawan terjadinya kebakaran hutan. Di antaranya di kawasan hutan di Kecamatan Tempurejo, seperti kawasan hutan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). “Banyak daun yang kering dan itu cukup rawan terjadinya kebakaran hutan,” ucap AKP Suhartanto, Kapolsek Tempurejo, kemarin.

Untuk itu, pihaknya mengimbau kepada warga untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan. “Terutama warga yang sedang mencari rumput atau kayu di hutan,” ujar Tanto, panggilan akrabnya.

Pihaknya selalu melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan penebangan hutan, serta ikut menjaga dan melakukan antisipasi dini jika kebetulan berada di hutan, agar tidak sampai terjadi kebakaran hutan. “Sosialisasi ini sering kami lakukan pada masyarakat yang ada di pinggir hutan TNMB,” jelas Tanto.

Pihaknya memang melakukan pemantauan yang intens di tiga desa yang saat musim penghujan rawan banjir dan tanah longsor. “Tiga Desa itu masing-masing desa Curahnongko, Curahtakir, dan Desa Sanenrejo,” ujar Sutikno Kades Sanenrejo.

Reporter : Rangga Mahardika, Jumai
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah
Fotografer: Jumai

Reporter :

Fotografer :

Editor :