alexametrics
28.7 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Dari Balap Liar, Konflik Warga Lokal, hingga Potensi Wisata Konservasi

Siapa tidak mengenal jalur lintas selatan atau JLS. Di jalur penghubung Jember-Lumajang itu, berbagai cerita tersaji di sana. Dari yang menarik, unik, sampai bikin pilu. Semuanya ada. Berikut ulasannya.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore menjadi waktu yang pas untuk menikmati keindahan alam sekitar pesisir. Tepatnya di kawasan JLS, yang juga disebut Jalur Pantai Selatan atau Pansela. Apa pun sebutannya, semua sepakat bahwa JLS itu eksotis. Jalannya mulus, lebar, dengan spot pemandangan yang jauh ke depan. Apalagi ketika senja mulai memerah.

Siapa pun yang melintas pasti kepincut. Mereka akan dimanjakan dengan keindahan pantai selatan yang terkenal akan garang ombaknya. Namun, menurut warga, kemulusan jalur JLS itu justru disalahgunakan. Biasanya anak-anak remaja yang iseng. “Mereka yang sering balapan liar. Biasanya tengah malam,” kata Romlah, salah satu warga pemilik warung kopi di sekitar JLS, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas.

Pemandangan balap liar itu memang sering ditemui. Bukan hanya warga setempat, kepolisian juga kerap mendapati mereka adu nyali di atas aspal. Bahkan, mereka juga langganan terjaring razia. Namun, seperti tidak ada habisnya, balap liar tetap saja ada dan masih eksis hingga hari ini. Kapolsek Gumukmas Iptu Subagio membenarkan hal tersebut. “Balap liar memang sering, tapi kami terus upayakan untuk mencegah aksi balap liar itu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tak sampai di situ, di kawasan sempadan sisi selatan JLS juga menawarkan spot wisata pantai yang menarik. Bahkan di beberapa titik atau lokasi, sudah tenar dikunjungi. Seperti Pantai Cemara, atau Pantai Tawang Samudra yang masuk wilayah Kecamatan Puger. Itu di sisi selatan JLS. Jika beranjak ke sisi utara, bentangan areal pertanian milik warga juga terlihat menyejukkan sejauh mata memandang. Mereka ada yang bercocok tanam padi. Beberapa di antaranya menanam semangka dan mengelola tambak tradisional.

Di balik kedua sisi jalur JLS itu, rupanya terdapat hamparan pasir. Beberapa di antaranya masih berupa gundukan, berbentuk bukit kecil. Namun, ada juga yang sudah habis. Bukan diterjang ombak, tapi memang diborong untuk diambil pasirnya.

Bahkan, sempat tersiar kabar bahwa pasir itu menjadi biang konflik warga. Satu dari sekian cerita dari sisi JLS. Meski saat ini isu tersebut sudah meredup, tapi muncul isu baru yang memantik konflik masyarakat setempat. Yakni soal isu tambak yang disebut mengancam kelestarian lingkungan.

Kabar terbaru, konflik warga lokal dengan para pengelola tambak di sekitar sana juga mencuat. Dari persoalan limbah tambak, ketenagakerjaan, sampai soal corporate sosial responsibility atau CSR.

Walau sederet konflik itu mulai mereda, tapi bukan berarti sudah selesai. Muhklas, Ketua BPD Kepanjen, menyatakan, sewaktu-waktu konflik itu bisa meledak kembali. “Karena itu, butuh penanganan segera atau keterlibatan pemerintah daerah. Jangan sampai warga memakai cara sendiri,” harapnya.

Jalur yang terbentang dari Desa Puger Kulon hingga perbatasan Lumajang itu juga menyuguhkan cerita beragam. Selain isu konflik lokal soal lingkungan dan aktivitas urakan anak-anak muda dan remaja, sebenarnya juga ada sejumlah kabar yang tak kalah menarik.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore menjadi waktu yang pas untuk menikmati keindahan alam sekitar pesisir. Tepatnya di kawasan JLS, yang juga disebut Jalur Pantai Selatan atau Pansela. Apa pun sebutannya, semua sepakat bahwa JLS itu eksotis. Jalannya mulus, lebar, dengan spot pemandangan yang jauh ke depan. Apalagi ketika senja mulai memerah.

Siapa pun yang melintas pasti kepincut. Mereka akan dimanjakan dengan keindahan pantai selatan yang terkenal akan garang ombaknya. Namun, menurut warga, kemulusan jalur JLS itu justru disalahgunakan. Biasanya anak-anak remaja yang iseng. “Mereka yang sering balapan liar. Biasanya tengah malam,” kata Romlah, salah satu warga pemilik warung kopi di sekitar JLS, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas.

Pemandangan balap liar itu memang sering ditemui. Bukan hanya warga setempat, kepolisian juga kerap mendapati mereka adu nyali di atas aspal. Bahkan, mereka juga langganan terjaring razia. Namun, seperti tidak ada habisnya, balap liar tetap saja ada dan masih eksis hingga hari ini. Kapolsek Gumukmas Iptu Subagio membenarkan hal tersebut. “Balap liar memang sering, tapi kami terus upayakan untuk mencegah aksi balap liar itu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Tak sampai di situ, di kawasan sempadan sisi selatan JLS juga menawarkan spot wisata pantai yang menarik. Bahkan di beberapa titik atau lokasi, sudah tenar dikunjungi. Seperti Pantai Cemara, atau Pantai Tawang Samudra yang masuk wilayah Kecamatan Puger. Itu di sisi selatan JLS. Jika beranjak ke sisi utara, bentangan areal pertanian milik warga juga terlihat menyejukkan sejauh mata memandang. Mereka ada yang bercocok tanam padi. Beberapa di antaranya menanam semangka dan mengelola tambak tradisional.

Di balik kedua sisi jalur JLS itu, rupanya terdapat hamparan pasir. Beberapa di antaranya masih berupa gundukan, berbentuk bukit kecil. Namun, ada juga yang sudah habis. Bukan diterjang ombak, tapi memang diborong untuk diambil pasirnya.

Bahkan, sempat tersiar kabar bahwa pasir itu menjadi biang konflik warga. Satu dari sekian cerita dari sisi JLS. Meski saat ini isu tersebut sudah meredup, tapi muncul isu baru yang memantik konflik masyarakat setempat. Yakni soal isu tambak yang disebut mengancam kelestarian lingkungan.

Kabar terbaru, konflik warga lokal dengan para pengelola tambak di sekitar sana juga mencuat. Dari persoalan limbah tambak, ketenagakerjaan, sampai soal corporate sosial responsibility atau CSR.

Walau sederet konflik itu mulai mereda, tapi bukan berarti sudah selesai. Muhklas, Ketua BPD Kepanjen, menyatakan, sewaktu-waktu konflik itu bisa meledak kembali. “Karena itu, butuh penanganan segera atau keterlibatan pemerintah daerah. Jangan sampai warga memakai cara sendiri,” harapnya.

Jalur yang terbentang dari Desa Puger Kulon hingga perbatasan Lumajang itu juga menyuguhkan cerita beragam. Selain isu konflik lokal soal lingkungan dan aktivitas urakan anak-anak muda dan remaja, sebenarnya juga ada sejumlah kabar yang tak kalah menarik.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore menjadi waktu yang pas untuk menikmati keindahan alam sekitar pesisir. Tepatnya di kawasan JLS, yang juga disebut Jalur Pantai Selatan atau Pansela. Apa pun sebutannya, semua sepakat bahwa JLS itu eksotis. Jalannya mulus, lebar, dengan spot pemandangan yang jauh ke depan. Apalagi ketika senja mulai memerah.

Siapa pun yang melintas pasti kepincut. Mereka akan dimanjakan dengan keindahan pantai selatan yang terkenal akan garang ombaknya. Namun, menurut warga, kemulusan jalur JLS itu justru disalahgunakan. Biasanya anak-anak remaja yang iseng. “Mereka yang sering balapan liar. Biasanya tengah malam,” kata Romlah, salah satu warga pemilik warung kopi di sekitar JLS, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas.

Pemandangan balap liar itu memang sering ditemui. Bukan hanya warga setempat, kepolisian juga kerap mendapati mereka adu nyali di atas aspal. Bahkan, mereka juga langganan terjaring razia. Namun, seperti tidak ada habisnya, balap liar tetap saja ada dan masih eksis hingga hari ini. Kapolsek Gumukmas Iptu Subagio membenarkan hal tersebut. “Balap liar memang sering, tapi kami terus upayakan untuk mencegah aksi balap liar itu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Tak sampai di situ, di kawasan sempadan sisi selatan JLS juga menawarkan spot wisata pantai yang menarik. Bahkan di beberapa titik atau lokasi, sudah tenar dikunjungi. Seperti Pantai Cemara, atau Pantai Tawang Samudra yang masuk wilayah Kecamatan Puger. Itu di sisi selatan JLS. Jika beranjak ke sisi utara, bentangan areal pertanian milik warga juga terlihat menyejukkan sejauh mata memandang. Mereka ada yang bercocok tanam padi. Beberapa di antaranya menanam semangka dan mengelola tambak tradisional.

Di balik kedua sisi jalur JLS itu, rupanya terdapat hamparan pasir. Beberapa di antaranya masih berupa gundukan, berbentuk bukit kecil. Namun, ada juga yang sudah habis. Bukan diterjang ombak, tapi memang diborong untuk diambil pasirnya.

Bahkan, sempat tersiar kabar bahwa pasir itu menjadi biang konflik warga. Satu dari sekian cerita dari sisi JLS. Meski saat ini isu tersebut sudah meredup, tapi muncul isu baru yang memantik konflik masyarakat setempat. Yakni soal isu tambak yang disebut mengancam kelestarian lingkungan.

Kabar terbaru, konflik warga lokal dengan para pengelola tambak di sekitar sana juga mencuat. Dari persoalan limbah tambak, ketenagakerjaan, sampai soal corporate sosial responsibility atau CSR.

Walau sederet konflik itu mulai mereda, tapi bukan berarti sudah selesai. Muhklas, Ketua BPD Kepanjen, menyatakan, sewaktu-waktu konflik itu bisa meledak kembali. “Karena itu, butuh penanganan segera atau keterlibatan pemerintah daerah. Jangan sampai warga memakai cara sendiri,” harapnya.

Jalur yang terbentang dari Desa Puger Kulon hingga perbatasan Lumajang itu juga menyuguhkan cerita beragam. Selain isu konflik lokal soal lingkungan dan aktivitas urakan anak-anak muda dan remaja, sebenarnya juga ada sejumlah kabar yang tak kalah menarik.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/