alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Jelang Magrib, Air Bedadung Meluap

Puluhan Rumah Warga Terendam Air

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Teriakan warga yang tinggal di bawah Gladak Kembar, persisnya sisi Jalan Sumatera, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, saling menyahut ketika air Sungai Bedadung mulai naik, kemarin (29/1) sore. Mereka tampak panik dan berlarian menyelamatkan nyawa dan harta benda. Beberapa rumah yang berdiri di bantaran sungai ada yang tersapu luapan air. Sebagian benda mereka ada yang hanyut. Bahkan, jembatan yang menuju Jalan Sumatera juga dikabarkan retak.

Di antara kepanikan itu, Muhammad Iqbal Fauzi tampak terduduk lesu. Dia meratap tepat di salah satu gang di permukiman bawah Gladak Kembar. Keringatnya masih bercucuran. Tatapan matanya hampa, meski orang-orang sedang berlarian di sekitarnya. “Rumahku tersapu air Bedadung yang meluap. Semua barang di dalam rumah berantakan. Sedangkan barang-barang di dapur dan dalam gudang sudah hanyut terbawa arus,” ucapnya, sambil gemetaran.

Dia mulai berjalan ke dalam rumah dan menunjukkan rumahnya yang terendam air. Pria 24 tahun tersebut menjelaskan, air mulai naik sekitar pukul 17.00. Karena merasa ada yang tidak beres, dia pun memperingatkan orang-orang untuk bersiaga.

Mobile_AP_Rectangle 2

Nyatanya, yang dia rasakan menjadi kenyataan. Pria kelahiran Juli 1997 itu menuturkan, air semakin naik menjelang Magrib, hingga satu setengah jam kemudian. “Setelah air tinggi, orang-orang langsung mengungsikan diri ke atas. Kami mengutamakan para lansia,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Teriakan warga yang tinggal di bawah Gladak Kembar, persisnya sisi Jalan Sumatera, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, saling menyahut ketika air Sungai Bedadung mulai naik, kemarin (29/1) sore. Mereka tampak panik dan berlarian menyelamatkan nyawa dan harta benda. Beberapa rumah yang berdiri di bantaran sungai ada yang tersapu luapan air. Sebagian benda mereka ada yang hanyut. Bahkan, jembatan yang menuju Jalan Sumatera juga dikabarkan retak.

Di antara kepanikan itu, Muhammad Iqbal Fauzi tampak terduduk lesu. Dia meratap tepat di salah satu gang di permukiman bawah Gladak Kembar. Keringatnya masih bercucuran. Tatapan matanya hampa, meski orang-orang sedang berlarian di sekitarnya. “Rumahku tersapu air Bedadung yang meluap. Semua barang di dalam rumah berantakan. Sedangkan barang-barang di dapur dan dalam gudang sudah hanyut terbawa arus,” ucapnya, sambil gemetaran.

Dia mulai berjalan ke dalam rumah dan menunjukkan rumahnya yang terendam air. Pria 24 tahun tersebut menjelaskan, air mulai naik sekitar pukul 17.00. Karena merasa ada yang tidak beres, dia pun memperingatkan orang-orang untuk bersiaga.

Nyatanya, yang dia rasakan menjadi kenyataan. Pria kelahiran Juli 1997 itu menuturkan, air semakin naik menjelang Magrib, hingga satu setengah jam kemudian. “Setelah air tinggi, orang-orang langsung mengungsikan diri ke atas. Kami mengutamakan para lansia,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Teriakan warga yang tinggal di bawah Gladak Kembar, persisnya sisi Jalan Sumatera, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, saling menyahut ketika air Sungai Bedadung mulai naik, kemarin (29/1) sore. Mereka tampak panik dan berlarian menyelamatkan nyawa dan harta benda. Beberapa rumah yang berdiri di bantaran sungai ada yang tersapu luapan air. Sebagian benda mereka ada yang hanyut. Bahkan, jembatan yang menuju Jalan Sumatera juga dikabarkan retak.

Di antara kepanikan itu, Muhammad Iqbal Fauzi tampak terduduk lesu. Dia meratap tepat di salah satu gang di permukiman bawah Gladak Kembar. Keringatnya masih bercucuran. Tatapan matanya hampa, meski orang-orang sedang berlarian di sekitarnya. “Rumahku tersapu air Bedadung yang meluap. Semua barang di dalam rumah berantakan. Sedangkan barang-barang di dapur dan dalam gudang sudah hanyut terbawa arus,” ucapnya, sambil gemetaran.

Dia mulai berjalan ke dalam rumah dan menunjukkan rumahnya yang terendam air. Pria 24 tahun tersebut menjelaskan, air mulai naik sekitar pukul 17.00. Karena merasa ada yang tidak beres, dia pun memperingatkan orang-orang untuk bersiaga.

Nyatanya, yang dia rasakan menjadi kenyataan. Pria kelahiran Juli 1997 itu menuturkan, air semakin naik menjelang Magrib, hingga satu setengah jam kemudian. “Setelah air tinggi, orang-orang langsung mengungsikan diri ke atas. Kami mengutamakan para lansia,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/