alexametrics
30.2 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Erupsi Raung, Jember-Bondowoso Aman

Mobile_AP_Rectangle 1

SIDOMULYO, Radar Jember – Pemandangan indah Gunung Raung bisa dilihat siapa saja yang tinggal di wilayah Tapal Kuda. Terlebih bagi warga yang ada di tiga kabupaten, yakni Jember, Banyuwangi, dan Bondowoso. Pagi dan sore hari bisa saja ber-selfie ria dengan latar belakang Gunung Raung.

BACA JUGA : Untuk Bebaskan Griner dan Whelan AS Membuat Proposal Penting ke Rusia

Seperti kemarin, cuaca cukup bersahabat sehingga pengambilan gambar seorang petani cukup pas dengan latar belakang Gunung Raung.  Sekalipun diambil dari Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, gunung tersebut tampak indah. Namun, siapa yang menyangka, gunung berapi tersebut tetap aktif sampai sekarang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam catatan sejarah, Gunung Raung kali pertama meletus tercatat pada tahun 1586 (baca grafis). Aktivitasnya terus aktif dari tahun ke tahun. Bahkan, dalam sua tahun terakhir juga tetap aktif, dan terakhir aktivitasnya masuk level 1. Ada letusan meski skala kecil dan abu vulkanisnya sampai di kota Jember.

Secara usia, Gunung Raung dengan aktivitas vulkanisnya bisa dibilang sudah sangat tua. Namun, gunung tersebut seperti tetap muda. Bagaimana tidak, gunung itu banyak memberi manfaat, meski dulunya disebut-sebut banyak orang meninggal saat gunung itu meletus di tahun-tahun yang tercatat sejarah.

Gunung Raung dengan gunung lain bisa dibilang memiliki perbedaan yang unik. Salah satunya memiliki kaldera dengan kedalaman sekitar 500 meter. Di sisi lain, puncak Gunung Raung yang dikenal dengan Puncak Sejati dikelilingi oleh sejumlah puncak lain yang lebih rendah.

Di Gunung Raung ini pula banyak kehidupan. Salah satunya pepohonan yang ada di lereng gunung, banyak memberikan manfaat bagi warga. Baik yang tinggal di Jember, Banyuwangi, maupun Bondowoso. Namun, sejarah mencatat adanya dampak yang membuat aktivitas warga terganggu. Bahkan tercatat ada insiden pilu yang membuat banyak orang meninggal. Untuk itu, demi mencegah kemungkinan-kemungkinan buruk, segala perkembangan perlu dikabarkan ke publik.

Di sisi lain, aktivitas Gunung Raung membuat sebagian petani di Jember khawatir. Terutama petani tembakau dan sayur. Sebab, semburan abu dari gunung yang berada di perbatasan tiga kabupaten itu bisa mengakibatkan tanaman petani rusak. “Para petani di sini waswas tanaman tembakau mereka rusak. Kebetulan saat ini sedang musim tembakau,” kata APK Istono, Kapolsek Sumberjambe, Jember, Kamis (28/7).

Saat erupsi Gunung Raung yang terjadi sekitar pukul 17.19, berdasar Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Gunung Raung, material erupsi Gunung Raung menuju ke dua arah, yakni barat dan barat laut. Hal itu menyebabkan adanya hujan abu vulkanis pada tiga wilayah di barat dan barat laut gunung setinggi 3.332 mdpl itu. Yakni di wilayah Bondowoso, Jember, dan sebagian Banyuwangi. “Berdasarkan laporan, masyarakat sempat mendengar gemuruh empat kali. Suara itu kemudian disusul semburan abu yang dirasakan warga di wilayah Sumberjambe bagian selatan, sehingga membuat mata pengendara terasa perih,” tuturnya.

Pihaknya telah mengimbau agar masyarakat terdekat dengan gunung tidak panik dan tetap waspada. Di sisi lain, Polsek Sumberjambe juga telah berkoordinasi dengan para kepala desa di wilayah kecamatan setempat. Seperti Desa Jambearum, Rowosari, dan Gunungmalang.

- Advertisement -

SIDOMULYO, Radar Jember – Pemandangan indah Gunung Raung bisa dilihat siapa saja yang tinggal di wilayah Tapal Kuda. Terlebih bagi warga yang ada di tiga kabupaten, yakni Jember, Banyuwangi, dan Bondowoso. Pagi dan sore hari bisa saja ber-selfie ria dengan latar belakang Gunung Raung.

BACA JUGA : Untuk Bebaskan Griner dan Whelan AS Membuat Proposal Penting ke Rusia

Seperti kemarin, cuaca cukup bersahabat sehingga pengambilan gambar seorang petani cukup pas dengan latar belakang Gunung Raung.  Sekalipun diambil dari Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, gunung tersebut tampak indah. Namun, siapa yang menyangka, gunung berapi tersebut tetap aktif sampai sekarang.

Dalam catatan sejarah, Gunung Raung kali pertama meletus tercatat pada tahun 1586 (baca grafis). Aktivitasnya terus aktif dari tahun ke tahun. Bahkan, dalam sua tahun terakhir juga tetap aktif, dan terakhir aktivitasnya masuk level 1. Ada letusan meski skala kecil dan abu vulkanisnya sampai di kota Jember.

Secara usia, Gunung Raung dengan aktivitas vulkanisnya bisa dibilang sudah sangat tua. Namun, gunung tersebut seperti tetap muda. Bagaimana tidak, gunung itu banyak memberi manfaat, meski dulunya disebut-sebut banyak orang meninggal saat gunung itu meletus di tahun-tahun yang tercatat sejarah.

Gunung Raung dengan gunung lain bisa dibilang memiliki perbedaan yang unik. Salah satunya memiliki kaldera dengan kedalaman sekitar 500 meter. Di sisi lain, puncak Gunung Raung yang dikenal dengan Puncak Sejati dikelilingi oleh sejumlah puncak lain yang lebih rendah.

Di Gunung Raung ini pula banyak kehidupan. Salah satunya pepohonan yang ada di lereng gunung, banyak memberikan manfaat bagi warga. Baik yang tinggal di Jember, Banyuwangi, maupun Bondowoso. Namun, sejarah mencatat adanya dampak yang membuat aktivitas warga terganggu. Bahkan tercatat ada insiden pilu yang membuat banyak orang meninggal. Untuk itu, demi mencegah kemungkinan-kemungkinan buruk, segala perkembangan perlu dikabarkan ke publik.

Di sisi lain, aktivitas Gunung Raung membuat sebagian petani di Jember khawatir. Terutama petani tembakau dan sayur. Sebab, semburan abu dari gunung yang berada di perbatasan tiga kabupaten itu bisa mengakibatkan tanaman petani rusak. “Para petani di sini waswas tanaman tembakau mereka rusak. Kebetulan saat ini sedang musim tembakau,” kata APK Istono, Kapolsek Sumberjambe, Jember, Kamis (28/7).

Saat erupsi Gunung Raung yang terjadi sekitar pukul 17.19, berdasar Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Gunung Raung, material erupsi Gunung Raung menuju ke dua arah, yakni barat dan barat laut. Hal itu menyebabkan adanya hujan abu vulkanis pada tiga wilayah di barat dan barat laut gunung setinggi 3.332 mdpl itu. Yakni di wilayah Bondowoso, Jember, dan sebagian Banyuwangi. “Berdasarkan laporan, masyarakat sempat mendengar gemuruh empat kali. Suara itu kemudian disusul semburan abu yang dirasakan warga di wilayah Sumberjambe bagian selatan, sehingga membuat mata pengendara terasa perih,” tuturnya.

Pihaknya telah mengimbau agar masyarakat terdekat dengan gunung tidak panik dan tetap waspada. Di sisi lain, Polsek Sumberjambe juga telah berkoordinasi dengan para kepala desa di wilayah kecamatan setempat. Seperti Desa Jambearum, Rowosari, dan Gunungmalang.

SIDOMULYO, Radar Jember – Pemandangan indah Gunung Raung bisa dilihat siapa saja yang tinggal di wilayah Tapal Kuda. Terlebih bagi warga yang ada di tiga kabupaten, yakni Jember, Banyuwangi, dan Bondowoso. Pagi dan sore hari bisa saja ber-selfie ria dengan latar belakang Gunung Raung.

BACA JUGA : Untuk Bebaskan Griner dan Whelan AS Membuat Proposal Penting ke Rusia

Seperti kemarin, cuaca cukup bersahabat sehingga pengambilan gambar seorang petani cukup pas dengan latar belakang Gunung Raung.  Sekalipun diambil dari Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, gunung tersebut tampak indah. Namun, siapa yang menyangka, gunung berapi tersebut tetap aktif sampai sekarang.

Dalam catatan sejarah, Gunung Raung kali pertama meletus tercatat pada tahun 1586 (baca grafis). Aktivitasnya terus aktif dari tahun ke tahun. Bahkan, dalam sua tahun terakhir juga tetap aktif, dan terakhir aktivitasnya masuk level 1. Ada letusan meski skala kecil dan abu vulkanisnya sampai di kota Jember.

Secara usia, Gunung Raung dengan aktivitas vulkanisnya bisa dibilang sudah sangat tua. Namun, gunung tersebut seperti tetap muda. Bagaimana tidak, gunung itu banyak memberi manfaat, meski dulunya disebut-sebut banyak orang meninggal saat gunung itu meletus di tahun-tahun yang tercatat sejarah.

Gunung Raung dengan gunung lain bisa dibilang memiliki perbedaan yang unik. Salah satunya memiliki kaldera dengan kedalaman sekitar 500 meter. Di sisi lain, puncak Gunung Raung yang dikenal dengan Puncak Sejati dikelilingi oleh sejumlah puncak lain yang lebih rendah.

Di Gunung Raung ini pula banyak kehidupan. Salah satunya pepohonan yang ada di lereng gunung, banyak memberikan manfaat bagi warga. Baik yang tinggal di Jember, Banyuwangi, maupun Bondowoso. Namun, sejarah mencatat adanya dampak yang membuat aktivitas warga terganggu. Bahkan tercatat ada insiden pilu yang membuat banyak orang meninggal. Untuk itu, demi mencegah kemungkinan-kemungkinan buruk, segala perkembangan perlu dikabarkan ke publik.

Di sisi lain, aktivitas Gunung Raung membuat sebagian petani di Jember khawatir. Terutama petani tembakau dan sayur. Sebab, semburan abu dari gunung yang berada di perbatasan tiga kabupaten itu bisa mengakibatkan tanaman petani rusak. “Para petani di sini waswas tanaman tembakau mereka rusak. Kebetulan saat ini sedang musim tembakau,” kata APK Istono, Kapolsek Sumberjambe, Jember, Kamis (28/7).

Saat erupsi Gunung Raung yang terjadi sekitar pukul 17.19, berdasar Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Gunung Raung, material erupsi Gunung Raung menuju ke dua arah, yakni barat dan barat laut. Hal itu menyebabkan adanya hujan abu vulkanis pada tiga wilayah di barat dan barat laut gunung setinggi 3.332 mdpl itu. Yakni di wilayah Bondowoso, Jember, dan sebagian Banyuwangi. “Berdasarkan laporan, masyarakat sempat mendengar gemuruh empat kali. Suara itu kemudian disusul semburan abu yang dirasakan warga di wilayah Sumberjambe bagian selatan, sehingga membuat mata pengendara terasa perih,” tuturnya.

Pihaknya telah mengimbau agar masyarakat terdekat dengan gunung tidak panik dan tetap waspada. Di sisi lain, Polsek Sumberjambe juga telah berkoordinasi dengan para kepala desa di wilayah kecamatan setempat. Seperti Desa Jambearum, Rowosari, dan Gunungmalang.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/