alexametrics
27.8 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Bisa Ciptakan Lapangan Kerja dan Cegah Pergaulan Bebas Anak

Membatik tak hanya memiliki nilai ekonomi, tapi juga edukasi. Inilah yang disampaikan Dwi Nurul Khairiyah. Ia menggunakan kemampuan membatiknya untuk menjaring pelajar yang putus sekolah, hingga terjerat pergaulan bebas. Apakah caranya efektif?

Mobile_AP_Rectangle 1

Menurutnya, butuh proses panjang untuk mengalihkan fokus anak-anak ini pada kegiatan membatik. Sebab, kata dia, anak-anak itu sudah terkontaminasi dengan minuman keras dan obat-obatan terlarang. Pada prosesnya, Dwi sempat mengalami penolakan dari siswa yang ia ajak membatik. Solusinya, ia arahkan pada kesibukan lain. Bahkan, Dwi sampai membutuhkan waktu lebih tiga tahun untuk mengarahkan murid-muridnya tersebut. “Cara mendekatinya, pokok ngemong,” terangnya.

Kini, ikhtiar tersebut berbuah manis. Anak-anak yang ia bina dapat diberdayakan melalui sanggar batiknya. Saat ini, terdapat 20 anak yang mengikuti jejak membatik di sanggar miliknya. Motif batik yang sering dibuat adalah motif karakter. Misalnya, karakter Si Bolang, sepeda, gitar, dan mainan. Ia juga membuat batik bertemakan kopi, tembakau, dan lainnya.

Dwi berharap, usaha batiknya akan semakin berkembang, dan jumlah anak-anak yang diberdayakan semakin banyak. “Minimal mereka mencintai batik. Lalu memiliki cita-cita jadi pengusaha batik,” pungkasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

 

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Dian Cahyani
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Menurutnya, butuh proses panjang untuk mengalihkan fokus anak-anak ini pada kegiatan membatik. Sebab, kata dia, anak-anak itu sudah terkontaminasi dengan minuman keras dan obat-obatan terlarang. Pada prosesnya, Dwi sempat mengalami penolakan dari siswa yang ia ajak membatik. Solusinya, ia arahkan pada kesibukan lain. Bahkan, Dwi sampai membutuhkan waktu lebih tiga tahun untuk mengarahkan murid-muridnya tersebut. “Cara mendekatinya, pokok ngemong,” terangnya.

Kini, ikhtiar tersebut berbuah manis. Anak-anak yang ia bina dapat diberdayakan melalui sanggar batiknya. Saat ini, terdapat 20 anak yang mengikuti jejak membatik di sanggar miliknya. Motif batik yang sering dibuat adalah motif karakter. Misalnya, karakter Si Bolang, sepeda, gitar, dan mainan. Ia juga membuat batik bertemakan kopi, tembakau, dan lainnya.

Dwi berharap, usaha batiknya akan semakin berkembang, dan jumlah anak-anak yang diberdayakan semakin banyak. “Minimal mereka mencintai batik. Lalu memiliki cita-cita jadi pengusaha batik,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Dian Cahyani
Redaktur : Mahrus Sholih

Menurutnya, butuh proses panjang untuk mengalihkan fokus anak-anak ini pada kegiatan membatik. Sebab, kata dia, anak-anak itu sudah terkontaminasi dengan minuman keras dan obat-obatan terlarang. Pada prosesnya, Dwi sempat mengalami penolakan dari siswa yang ia ajak membatik. Solusinya, ia arahkan pada kesibukan lain. Bahkan, Dwi sampai membutuhkan waktu lebih tiga tahun untuk mengarahkan murid-muridnya tersebut. “Cara mendekatinya, pokok ngemong,” terangnya.

Kini, ikhtiar tersebut berbuah manis. Anak-anak yang ia bina dapat diberdayakan melalui sanggar batiknya. Saat ini, terdapat 20 anak yang mengikuti jejak membatik di sanggar miliknya. Motif batik yang sering dibuat adalah motif karakter. Misalnya, karakter Si Bolang, sepeda, gitar, dan mainan. Ia juga membuat batik bertemakan kopi, tembakau, dan lainnya.

Dwi berharap, usaha batiknya akan semakin berkembang, dan jumlah anak-anak yang diberdayakan semakin banyak. “Minimal mereka mencintai batik. Lalu memiliki cita-cita jadi pengusaha batik,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Dian Cahyani
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/