alexametrics
27.9 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Bisa Ciptakan Lapangan Kerja dan Cegah Pergaulan Bebas Anak

Membatik tak hanya memiliki nilai ekonomi, tapi juga edukasi. Inilah yang disampaikan Dwi Nurul Khairiyah. Ia menggunakan kemampuan membatiknya untuk menjaring pelajar yang putus sekolah, hingga terjerat pergaulan bebas. Apakah caranya efektif?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Membatik bukanlah hal yang mudah. Membutuhkan proses belajar yang panjang. Walaupun memiliki ketertarikan pada seni, bukan lantas menjadikan seseorang piawai membatik. Inilah yang sebelumnya dirasakan Dwi Nurul Khairiyah, guru Seni Budaya dan Kerajinan (SBK) di MA Yasrama, Baratan, Kecamatan Patrang.

Mulanya, Dwi Nurul tertarik agar bisa membatik. Ia pun belajar pada sebuah lembaga kursus yang terletak di Kecamatan Pakusari. Ketertarikan belajar membatik datang manakala Dwi melihat tugas membatik milik anaknya yang bersekolah di Pakusari. Hingga akhirnya ia bisa menerapkan kerajinan tersebut.

Lalu, pada 2017, Dwi mengajarkan batik kepada siswa di tempat ia mengajar. Hal ini berangkat dari kegelisahannya ketika melihat banyak anak-anak di daerahnya maupun di tempat ia mengajar yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas. “Ada yang nakal-nakal. Misalnya mabuk-mabukan. Laki-laki dan perempuan sama,” ungkapnya, ketika diundang untuk praktik membatik di kantor Jawa Pos Radar Jember, beberapa waktu lalu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebelumnya, Dwi telah menjajal mengarahkan mereka dengan aktivitas menjahit. Namun gagal. Sebab, mayoritas tidak suka menjahit. Akhirnya, alternatif lain yang dipilih Dwi adalah membatik. “Jadi, ibu belajar membatik. Tujuannya juga ngajari anak-anak itu,” sambung perempuan yang berdomisili di Lingkungan Krajan RT 001 RW015, Patrang, tersebut.

Di sekolah, murid-murid mendapat perlakuan khusus. Pada mata pelajaran umum, Dwi memilih untuk membebaskan mereka mengikuti kegiatan membatik. Sebab, menurutnya, jika mengikuti kelas, justru akan memberikan pengaruh kurang baik kepada teman sebayanya. “Kalau waktunya pelajaran, anak yang nakal itu ibu keluarkan. Ibu ikutkan membatik,” tuturnya.

Inisiatifnya untuk mengajar batik didasari karena Dwi memiliki jiwa pendidik. Prinsipnya, tidak ada anak yang nakal. Adanya adalah anak-anak yang kurang dirangkul dan minim mendapat perhatian. “Mereka memang tidak pintar masalah akademik. Namun setidaknya, dengan membatik, mereka berhenti dari mabuk dan hidup normal. Itu tujuan saya,” bebernya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Membatik bukanlah hal yang mudah. Membutuhkan proses belajar yang panjang. Walaupun memiliki ketertarikan pada seni, bukan lantas menjadikan seseorang piawai membatik. Inilah yang sebelumnya dirasakan Dwi Nurul Khairiyah, guru Seni Budaya dan Kerajinan (SBK) di MA Yasrama, Baratan, Kecamatan Patrang.

Mulanya, Dwi Nurul tertarik agar bisa membatik. Ia pun belajar pada sebuah lembaga kursus yang terletak di Kecamatan Pakusari. Ketertarikan belajar membatik datang manakala Dwi melihat tugas membatik milik anaknya yang bersekolah di Pakusari. Hingga akhirnya ia bisa menerapkan kerajinan tersebut.

Lalu, pada 2017, Dwi mengajarkan batik kepada siswa di tempat ia mengajar. Hal ini berangkat dari kegelisahannya ketika melihat banyak anak-anak di daerahnya maupun di tempat ia mengajar yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas. “Ada yang nakal-nakal. Misalnya mabuk-mabukan. Laki-laki dan perempuan sama,” ungkapnya, ketika diundang untuk praktik membatik di kantor Jawa Pos Radar Jember, beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, Dwi telah menjajal mengarahkan mereka dengan aktivitas menjahit. Namun gagal. Sebab, mayoritas tidak suka menjahit. Akhirnya, alternatif lain yang dipilih Dwi adalah membatik. “Jadi, ibu belajar membatik. Tujuannya juga ngajari anak-anak itu,” sambung perempuan yang berdomisili di Lingkungan Krajan RT 001 RW015, Patrang, tersebut.

Di sekolah, murid-murid mendapat perlakuan khusus. Pada mata pelajaran umum, Dwi memilih untuk membebaskan mereka mengikuti kegiatan membatik. Sebab, menurutnya, jika mengikuti kelas, justru akan memberikan pengaruh kurang baik kepada teman sebayanya. “Kalau waktunya pelajaran, anak yang nakal itu ibu keluarkan. Ibu ikutkan membatik,” tuturnya.

Inisiatifnya untuk mengajar batik didasari karena Dwi memiliki jiwa pendidik. Prinsipnya, tidak ada anak yang nakal. Adanya adalah anak-anak yang kurang dirangkul dan minim mendapat perhatian. “Mereka memang tidak pintar masalah akademik. Namun setidaknya, dengan membatik, mereka berhenti dari mabuk dan hidup normal. Itu tujuan saya,” bebernya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Membatik bukanlah hal yang mudah. Membutuhkan proses belajar yang panjang. Walaupun memiliki ketertarikan pada seni, bukan lantas menjadikan seseorang piawai membatik. Inilah yang sebelumnya dirasakan Dwi Nurul Khairiyah, guru Seni Budaya dan Kerajinan (SBK) di MA Yasrama, Baratan, Kecamatan Patrang.

Mulanya, Dwi Nurul tertarik agar bisa membatik. Ia pun belajar pada sebuah lembaga kursus yang terletak di Kecamatan Pakusari. Ketertarikan belajar membatik datang manakala Dwi melihat tugas membatik milik anaknya yang bersekolah di Pakusari. Hingga akhirnya ia bisa menerapkan kerajinan tersebut.

Lalu, pada 2017, Dwi mengajarkan batik kepada siswa di tempat ia mengajar. Hal ini berangkat dari kegelisahannya ketika melihat banyak anak-anak di daerahnya maupun di tempat ia mengajar yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas. “Ada yang nakal-nakal. Misalnya mabuk-mabukan. Laki-laki dan perempuan sama,” ungkapnya, ketika diundang untuk praktik membatik di kantor Jawa Pos Radar Jember, beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, Dwi telah menjajal mengarahkan mereka dengan aktivitas menjahit. Namun gagal. Sebab, mayoritas tidak suka menjahit. Akhirnya, alternatif lain yang dipilih Dwi adalah membatik. “Jadi, ibu belajar membatik. Tujuannya juga ngajari anak-anak itu,” sambung perempuan yang berdomisili di Lingkungan Krajan RT 001 RW015, Patrang, tersebut.

Di sekolah, murid-murid mendapat perlakuan khusus. Pada mata pelajaran umum, Dwi memilih untuk membebaskan mereka mengikuti kegiatan membatik. Sebab, menurutnya, jika mengikuti kelas, justru akan memberikan pengaruh kurang baik kepada teman sebayanya. “Kalau waktunya pelajaran, anak yang nakal itu ibu keluarkan. Ibu ikutkan membatik,” tuturnya.

Inisiatifnya untuk mengajar batik didasari karena Dwi memiliki jiwa pendidik. Prinsipnya, tidak ada anak yang nakal. Adanya adalah anak-anak yang kurang dirangkul dan minim mendapat perhatian. “Mereka memang tidak pintar masalah akademik. Namun setidaknya, dengan membatik, mereka berhenti dari mabuk dan hidup normal. Itu tujuan saya,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/