Harga LPG Melon Makin Ngawur: Hajatan Bikin Langka

WAWAN DWI/RADAR JEMBER SUSAH DIDAPAT: Armiati (kiri) bersama tetangganya kesulitan mencari elpiji 3 kilogram. Mereka harus berjalan sekitar tiga kilometer untuk mendapatkan bahan bakar gas tersebut.

RADARJEMBER.ID – Langkanya gas elpiji 3 kilogram tak hanya terjadi di tingkat pengecer. Di pangkalan elpiji, yang merupakan jalur distribusi resmi PT Pertamina, juga mengalami kekosongan barang. Kondisi ini terjadi sejak sepekan terakhir, tepatnya sebelum Hari Raya Iduladha, lalu.

IKLAN

Atmari, pemilik pangkalan elpiji di Desa Purwoasri, Kecamatan Gumukmas mengungkapkan, jika sebelumnya biasanya ada truk pengangkut gas elpiji yang mengirimkan barang ke pangkalannya, sejak terjadinya kelangkaan, kondisinya berbalik. Dirinya yang harus mendatangi agen untuk mendapat gas melon tersebut.

Saat ini, Atmari mengungkapkan, dirinya hanya mendapat jatah 110 tabung setiap hari. Padahal, sebelum ada kebijakan pembatasan yang diterapkan sejak November 2017 lalu, pangkalannya bisa mendapat hingga 200-250 tabung per hari. “Biasanya memang tidak terbatas. Namun, pasca perubahan sejak bulan November 2017, ada wacana pengurangan 20 persen,” ujarnya.

Selain ada pembatasan, perubahan sistem pembayaran yang awalnya tunai menjadi nontunai juga disebutnya menjadi problem tersendiri. Sebab, saat ini pemilik pangkalan harus mentrasfer uang sesuai dengan jumlah pesanan ke agen, baru kemudian mengambil barang sesuai dengan jumlah yang dipesan. “Kami sebagai penjual kan hanya sebagai jembatan. Jadi, kalau disuruh memilih, ya ingin berlaku seperti dulu tanpa ada pembatasan,” katanya.

Dampaknya, saat ini dirinya tak melayani para pengecer. Sebab, untuk memenuhi kebutuhan konsumen saja, dia kerap menolak pembeli, sebab stoknya memang sedang kosong. Bahkan, Atmari mengungkapkan, setiap harinya ada 50 orang yang ditolak. “Kalau soal harga masih normal. Cuma gasnya yang langka. Tapi kalau sudah di pengecer kami tidak tahu. Mungkin tokonya juga mau ambil untung,” ucapnya.

Sementara itu, Sales Eksekutif Rayon VII PT Pertamina M Ali Akbar Felayati mengungkapkan, sebenarnya jika dilihat dari sisi pasokan, Pertamina sudah menambah sebanyak 209.800 dari alokasi normal, yang rata-rata 64 ribu tabung per hari. Hanya saja, kebutuhan yang cukup tinggi di masyarakat beberapa hari ini membuat serapan elpiji bersubsidi tersebut juga meningkat. “Sebenarnya untuk Jember saja, kami sudah menambah 320 persen dari rata-rata alokasi harian, atau sebanyak 200 ribu tabung lebih,” jelasnya.

Menurut Akfel, sapaannya, ternyata kelangkaan elpiji di masyarakat itu disebabkan beberapa faktor. Selain itu, pihaknya juga menemukan adanya gas elpiji 3 kilogram yang digunakan tidak sesuai peruntukan yang seharusnya hanya untuk rumah tangga dan usaha mikro.

Akfel menyebut, yang paling masif penggunaan gas bersubsidi itu untuk hajatan acara Hari Kemerdekaan, Hari Raya Iduladha, dan syukuran haji. Menurut dia, kebutuhannya bisa mencapai 5-7 tabung dalam satu kali hajatan.

Kedua, sambungnya, digunakan sebagai bahan bakar mesin pompa diesel untuk mengairi sawah. Karena musim kemarau kali ini cukup panjang, kebutuhan petani terhadap air cukup tinggi. Sementara, pasokan air irigasi tak mencukupi kebutuhan tersebut. “Di pengairan malah lebih ngeri lagi. Dalam setiap kali mengairi sawah, petani menggunakan hingga 3-15 tabung, tergantung luas sawah yang diairi,” ungkapnya.

Faktor selanjutnya adalah ditemukannya elpiji 3 kilogram itu untuk kebutuhan peternakan. Bahkan, setiap hari peternakan ayam tersebut membutuhkan antara 5-6 tabung. “Saya tegaskan lagi, kalau di sisi pasokan, kami sudah meningkatkan hingga 320 persen. Dan di lapangan, untuk jalur distribusi resmi di agen maupun pangkalan, stoknya juga masih cukup,” ujarnya.

Akfel juga mengklaim, selain stok yang mencukupi, di jalur distribusi resmi peruntukannya juga sesuai, yakni bagi rumah tangga maupun usaha mikro. Biasanya, kata dia, komplain baru terjadi jika ada konsumen rumah tangga yang membeli di tingkat pengecer, karena tak mendapatkan barang.

“Beberapa hari lalu kami juga menggelar pasar murah, rata-rata serapannya juga tidak sampai 100 persen. Hanya berkisar 60-70 persen dari jumlah tabung yang disediakan. Artinya, stok yang dianggap kurang itu hanya di level pengecer atau toko,” jelasnya.

Akfel membantah jika selama ini ada kebijakan pembatasan kuota ke pangkalan. Menurutnya, tak ada pembatasan atau pengurangan alokasi yang disediakan. Justru sebaliknya, ada tambahan kuota yang dialokasikan yang mencapai 320 persen tersebut.

Dia menyebut, pembatasan yang dipahami oleh pemilik pangkalan itu lebih karena barang yang dikirimkan diberikan lebih cepat habis, sehingga merasa kurang. Sebab, penyaluran elpiji ke pangkalan ada kontraknya. Oleh karena itu, jika dicek pasti jumlahnya lebih dari pasokan sebelumnya. “Biasanya kasusnya adalah barangnya datang, begitu sudah ada langsung habis. Sehingga mereka merasa kurang, atau jumlah barang yang datang tidak sesuai dengan keinginan dia,” tuturnya.

Sementara perubahan pola pembayaran, dari sebelumnya tunai menjadi nontunai, dikatakannya juga tidak berpengaruh terhadap stok barang. Justru sistem pembayaran yang baru ini akan memudahkan pengawasan Pertamina terhadap penyalur elpiji sesuai jalur distribusi resmi.

Dengan sistem yang begitu, pihaknya bisa memantau apakah ada pengurangan atau penambahan. Selain itu, pola ini juga membantu pengawasan Pertamina, termasuk soal harga jual sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET).

“Kalau pakai tunai, masih berpotensi ada permainan di tingkat pangkalan. Sehingga, dengan sistem nontunai ini, harga dengan barangnya sama. Sesuai HET yang ditetapkan dalam Pergub Nomor 6 Tahun 2015,” paparnya.

Dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 6 Tahun 2015 tentang Harga Eceran Tertinggi LPG Tabung 3 KG di Provinsi Jawa Timur disebutkan, HET dari stasiun pengisian elpiji adalah Rp 11.584 ditambah biaya operasional distribusi Rp 1.715. Sedangkan agen ke pangkalan Rp 14.500, pangkalan ke konsumen Rp 16.000. “Kalau ada pangkalan menjual melebihi HET, berarti ulah oknum itu sendiri, bukan dari Pertamina atau pemerintah,” tegasnya.

Sedangkan mengenai tingginya harga di tingkat pengecer yang mencapai Rp 22 ribu per tabung, Akfel memastikan, hal itu merupakan ulah spekulan yang memanfaatkan situasi. Dia mengatakan, biasanya para spekulan melihat kesempatan seperti ini untuk membeli tabung di sejumlah tempat dengan jumlah yang banyak. Kemudian, sambung dia, mereka menjual kembali dengan harga yang tinggi. “Ini yang perlu diklirkan. Jadi, jangan ditambahi lagi dengan berita yang memancing spekulan tumbuh,” pintanya.

Meski begitu, Akfel menuturkan, saat ini kondisi di lapangan masih normal. Konsumen belum bisa disebut panic buying. Karena menurutnya, tidak ada antrean memanjang di sejumlah pengecer maupun pangkalan. “Hanya saja, dari sisi serapan memang kencang. Jadi, barang cepat habis. Tapi kalau kondisi dari sisi penjualan masih normal, karena memang belum ada antrean,” tandasnya.

Reporter : Mahrus Sholih
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :