alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Sempat Minder karena Kaki Bengkok, Tak Mengira Dapat Juara di Level Provinsi

Zainul Arifin membawa kontingen NPCI Jember mampu berdiri tegak dalam ajang Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) Jatim, pekan kemarin. Ini setelah dia berhasil menyabet medali emas dari perhelatan olahraga khusus bagi difabel tersebut. Bagaimana perjuangannya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lembing berwarna merah itu mulai digenggam oleh Zainul Arifin. Lewat tangan kirinya, dia mencoba belajar sekuat-kuatnya melempar lembing. Sayangnya, lembing itu tidak langsung menancap ke tanah. “Posisi jari dan cara melemparnya ada yang salah,” ucap Rixki Saputra, pelatih National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Jember kepada Zainul.

Sebelum berangkat ke Surabaya mengikuti Peparprov Jatim, Zainul beserta rekan-rekannya sesama atlet disabilitas menggelar latihan intensif di JSG. Namun, dirinya fokus latihan lompat jauh, bukan lempar lembing. Dia mencoba hanya karena ingin merasakan bagaimana caranya teknik lempar lembing.

Dalam Peparprov, Zainul termasuk menjadi tumpuan meraih medali. “Target emas itu di lari putra 100 meter dan lompat jauh putra. Atlet yang diproyeksikan mendapatkan itu adalah Zainul,” ucap Rixki.

Mobile_AP_Rectangle 2

Memiliki kaki kiri yang mengecil dan bagian engkel bengkok tidak membuat Zainul patah semangat untuk memberikan yang terbaik bagi Jember. Juga untuk dirinya dan keluarga. Pada lomba lari 100 meter putra, dirinya tetap turun, walau secara klasifikasi salah. Dia bertanding dengan penyandang difabel dengan kaki normal, hanya tangan yang tidak sempurna. “Gagal di lari 100 meter putra itu karena salah klasifikasi. Seharusnya Zainul masuk lower, tapi bertandingnya masuk upper,” jelasnya.

Gagal meraih medali, padahal di Kejurda 2019 mencatatkan waktu lari 100 meter 14,3 detik, tidak membuat Zainul bersedih. Pemuda asal Panti itu mampu menjawab dan membalas kekalahan itu di lompat jauh. Lompatannya setidaknya setengah dari rekor nasional yang dipegang Safwaturahman dengan lompatan sejauh 7,98 meter. Sementara, lompatan Zainul di Peparprov Jatim adalah 4,05 meter. Dia lebih unggul dari atlet Pasuruan yang menduduki peringkat dua. Atas capaian itu, Zainul berhasil meraih medali emas, dan menjadi emas satu-satunya untuk kontingen NPCI Jember.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Zainul menyampaikan, rasa tidak percaya diri karena fisiknya tak sempurna pernah dirasakannya. Apalagi, kakak adiknya, serta kedua orang tuanya terlahir normal. Dukungan penguatan dari keluarga dan lingkungan membuat rasa minder itu terkikis. Terlebih, Zainul mengenyam pendidikan di sekolah umum, bukan di sekolah khusus disabilitas.

Sebagai keluarga kurang mampu dan mendapatkan Program Keluarga Harapan (PKH), sebelum terjun ke NPCI, Zaenul mencoba berlatih silat. “Sebelum ikut NPCI, dulu pernah ikut latihan silat,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lembing berwarna merah itu mulai digenggam oleh Zainul Arifin. Lewat tangan kirinya, dia mencoba belajar sekuat-kuatnya melempar lembing. Sayangnya, lembing itu tidak langsung menancap ke tanah. “Posisi jari dan cara melemparnya ada yang salah,” ucap Rixki Saputra, pelatih National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Jember kepada Zainul.

Sebelum berangkat ke Surabaya mengikuti Peparprov Jatim, Zainul beserta rekan-rekannya sesama atlet disabilitas menggelar latihan intensif di JSG. Namun, dirinya fokus latihan lompat jauh, bukan lempar lembing. Dia mencoba hanya karena ingin merasakan bagaimana caranya teknik lempar lembing.

Dalam Peparprov, Zainul termasuk menjadi tumpuan meraih medali. “Target emas itu di lari putra 100 meter dan lompat jauh putra. Atlet yang diproyeksikan mendapatkan itu adalah Zainul,” ucap Rixki.

Memiliki kaki kiri yang mengecil dan bagian engkel bengkok tidak membuat Zainul patah semangat untuk memberikan yang terbaik bagi Jember. Juga untuk dirinya dan keluarga. Pada lomba lari 100 meter putra, dirinya tetap turun, walau secara klasifikasi salah. Dia bertanding dengan penyandang difabel dengan kaki normal, hanya tangan yang tidak sempurna. “Gagal di lari 100 meter putra itu karena salah klasifikasi. Seharusnya Zainul masuk lower, tapi bertandingnya masuk upper,” jelasnya.

Gagal meraih medali, padahal di Kejurda 2019 mencatatkan waktu lari 100 meter 14,3 detik, tidak membuat Zainul bersedih. Pemuda asal Panti itu mampu menjawab dan membalas kekalahan itu di lompat jauh. Lompatannya setidaknya setengah dari rekor nasional yang dipegang Safwaturahman dengan lompatan sejauh 7,98 meter. Sementara, lompatan Zainul di Peparprov Jatim adalah 4,05 meter. Dia lebih unggul dari atlet Pasuruan yang menduduki peringkat dua. Atas capaian itu, Zainul berhasil meraih medali emas, dan menjadi emas satu-satunya untuk kontingen NPCI Jember.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Zainul menyampaikan, rasa tidak percaya diri karena fisiknya tak sempurna pernah dirasakannya. Apalagi, kakak adiknya, serta kedua orang tuanya terlahir normal. Dukungan penguatan dari keluarga dan lingkungan membuat rasa minder itu terkikis. Terlebih, Zainul mengenyam pendidikan di sekolah umum, bukan di sekolah khusus disabilitas.

Sebagai keluarga kurang mampu dan mendapatkan Program Keluarga Harapan (PKH), sebelum terjun ke NPCI, Zaenul mencoba berlatih silat. “Sebelum ikut NPCI, dulu pernah ikut latihan silat,” ungkapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lembing berwarna merah itu mulai digenggam oleh Zainul Arifin. Lewat tangan kirinya, dia mencoba belajar sekuat-kuatnya melempar lembing. Sayangnya, lembing itu tidak langsung menancap ke tanah. “Posisi jari dan cara melemparnya ada yang salah,” ucap Rixki Saputra, pelatih National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Jember kepada Zainul.

Sebelum berangkat ke Surabaya mengikuti Peparprov Jatim, Zainul beserta rekan-rekannya sesama atlet disabilitas menggelar latihan intensif di JSG. Namun, dirinya fokus latihan lompat jauh, bukan lempar lembing. Dia mencoba hanya karena ingin merasakan bagaimana caranya teknik lempar lembing.

Dalam Peparprov, Zainul termasuk menjadi tumpuan meraih medali. “Target emas itu di lari putra 100 meter dan lompat jauh putra. Atlet yang diproyeksikan mendapatkan itu adalah Zainul,” ucap Rixki.

Memiliki kaki kiri yang mengecil dan bagian engkel bengkok tidak membuat Zainul patah semangat untuk memberikan yang terbaik bagi Jember. Juga untuk dirinya dan keluarga. Pada lomba lari 100 meter putra, dirinya tetap turun, walau secara klasifikasi salah. Dia bertanding dengan penyandang difabel dengan kaki normal, hanya tangan yang tidak sempurna. “Gagal di lari 100 meter putra itu karena salah klasifikasi. Seharusnya Zainul masuk lower, tapi bertandingnya masuk upper,” jelasnya.

Gagal meraih medali, padahal di Kejurda 2019 mencatatkan waktu lari 100 meter 14,3 detik, tidak membuat Zainul bersedih. Pemuda asal Panti itu mampu menjawab dan membalas kekalahan itu di lompat jauh. Lompatannya setidaknya setengah dari rekor nasional yang dipegang Safwaturahman dengan lompatan sejauh 7,98 meter. Sementara, lompatan Zainul di Peparprov Jatim adalah 4,05 meter. Dia lebih unggul dari atlet Pasuruan yang menduduki peringkat dua. Atas capaian itu, Zainul berhasil meraih medali emas, dan menjadi emas satu-satunya untuk kontingen NPCI Jember.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Zainul menyampaikan, rasa tidak percaya diri karena fisiknya tak sempurna pernah dirasakannya. Apalagi, kakak adiknya, serta kedua orang tuanya terlahir normal. Dukungan penguatan dari keluarga dan lingkungan membuat rasa minder itu terkikis. Terlebih, Zainul mengenyam pendidikan di sekolah umum, bukan di sekolah khusus disabilitas.

Sebagai keluarga kurang mampu dan mendapatkan Program Keluarga Harapan (PKH), sebelum terjun ke NPCI, Zaenul mencoba berlatih silat. “Sebelum ikut NPCI, dulu pernah ikut latihan silat,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/