alexametrics
29 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Bermula dari Postingan Medsos

Kasus Penipuan Kades Rp 4,7 Miliar

Mobile_AP_Rectangle 1

Upayanya itu cukup sukses memikat hingga membuat Pak Kades percaya, bahwa Gus Dani adalah benar-benar seorang ajudan mantan Kapolri.

Kemudian, cerita pun berlanjut. Di saat bersamaan, dari beberapa pertemuan Gus Dani dengan kades, ia jelas menangkap ada maksud yang ingin disampaikan korban. Dari situ, dimulailah transaksi uang yang masuk ke Gus Dani dari kades.

Ia membenarkan, ada sebanyak delapan kali transaksi lewat tunai dan transfer yang masuk ke kantongnya. Jumlahnya variatif. Dari transaksi pertama dengan nominal Rp 200 juta, lalu kedua Rp 350 juta, Rp 400 juta, dan sejumlah nominal lain yang nilainya nyaris sama. “Saya tidak menjanjikan beliau (korban, Red) masuk sebagai komisaris di PT Imasco, atau memasukkan anaknya ke Akpol. Tapi, dianya sendiri yang berharap. Saya iyakan saja, uang itu saya pakai,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Rupanya, kata Gus Dani, kades itu mengetahui kalau Badrodin Haiti memiliki saham di PT Semen Imasco, Puger. Karena itu, ia tergiur bisa menduduki jabatan komisaris dengan membayar sejumlah uang. Bahkan juga menambahkan nilai transfer untuk bisa membantu putranya masuk ke Akpol.

Lalu, bagaimana pembagian uang itu dengan AR? Ia menjawab sambil melemparkan senyum. “Saya sisihkan sedikit, dari uang itu,” katanya, tanpa menyebut nominal. Namun, belakangan diketahui informasi AR menerima sebanyak Rp 23 juta dari aksi menyamarnya sebagai mantan Kapolri KW tersebut.

Sementara, mengenai total transfernya yang mencapai Rp 4,7 miliar itu, ia berkilah bahwa jumlahnya tidak sampai segitu. Menurutnya, nilai itu perkiraan estimasi total saja. Saat ditanya, ke mana larinya uang yang kerap diberikan oleh Pak Kades, ia juga menjawabnya. “Saya sadar, uang itu saya buat jalan-jalan, foya-foya. Tapi, sesekali saya ke masjid atau musala, saya tetap sisihkan untuk kotak amal. Haq itu benar,” jawabnya, serius.

Ia juga membenarkan, beberapa unggahan di Facebook yang baru-baru ini adalah hasil uang dari Pak Kades. “Khusus yang postingan saya sampai di Singapura atau Malaysia itu, saya menaruh lokasi di sana, tapi saya tidak benar-benar pelesiran ke sana. Seumur-umur belum pernah naik pesawat,” katanya, tersenyum.

Di sela-sela obrolan, tiba-tiba istri AR dan kedua putrinya kembali datang menemui. Kala itu, mereka mau berpamitan pulang. Wajah putri bungsu AR mulai tenang. Namun, tidak bagi si sulung. Ia sepertinya cukup terpukul atas kasus yang menimpa ayahnya. AR pun kembali memenangkan kedua putrinya itu. “Sini Nak, sini Nak,” pinta AR, sambil memeluk dan mencium kedua putrinya.

Melihat pemandangan yang mengharu biru itu, sejumlah petugas di ruang SPKT Polsek Wuluhan seketika tertunduk. Mereka tidak meminta keluarga ini segera pulang, meski jam besuknya sudah habis. Tak berselang lama, mereka berpamitan. Pandangan AR pun tak henti-henti. Tatapannya seolah mengantarkan orang-orang tercintanya itu keluar dari ruang SPKT Polsek Wuluhan.

Usai ketiganya pulang, Gus Dani kembali melanjutkan ceritanya. Kali ini ia mengaku menyesali perbuatannya itu. “Sejak awal saya sudah tahu kalau ini berisiko tinggi,” akunya.

Dan benar saja. Sekitar April 2021 lalu, laporan yang dibuat Pak Kades seketika menetapkan dirinya sebagai tersangka atas kasus penipuan senilai Rp 4,7 miliar. Seperti yang dikatakan M Sholeh sebelumnya, bahwa ada potensi atau dugaan korban lainnya. Namun, Gus Dani menampik. “Tidak, tidak ada korban lainnya. Hanya satu itu (kades, Red),” jelasnya.

Gus Dani yang merupakan si bungsu dari delapan bersaudara ini mengaku sudah pasrah. Ia masih tidak habis pikir, gara-gara unggahannya di Facebook-nya itu, ia bisa bertindak sejauh ini. “Saya benar-benar menyesal. Saya berharap, teman-teman, rekan saya, saudara saya bisa lebih bijak menggunakan medsos. Mudah-mudahan ada pelajaran berharga buat saya,” ujarnya.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Gus Dani dan AR bakal menjalani kerasnya palu sidang pengadilan. Dan bakal merasakan udara pengap di balik jeruji besi. Mereka dijerat dengan pasal penipuan dengan ancaman empat tahun kurungan penjara.

 

 

Jurnalis : Maulana
Fotografer : Jumai, Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Upayanya itu cukup sukses memikat hingga membuat Pak Kades percaya, bahwa Gus Dani adalah benar-benar seorang ajudan mantan Kapolri.

Kemudian, cerita pun berlanjut. Di saat bersamaan, dari beberapa pertemuan Gus Dani dengan kades, ia jelas menangkap ada maksud yang ingin disampaikan korban. Dari situ, dimulailah transaksi uang yang masuk ke Gus Dani dari kades.

Ia membenarkan, ada sebanyak delapan kali transaksi lewat tunai dan transfer yang masuk ke kantongnya. Jumlahnya variatif. Dari transaksi pertama dengan nominal Rp 200 juta, lalu kedua Rp 350 juta, Rp 400 juta, dan sejumlah nominal lain yang nilainya nyaris sama. “Saya tidak menjanjikan beliau (korban, Red) masuk sebagai komisaris di PT Imasco, atau memasukkan anaknya ke Akpol. Tapi, dianya sendiri yang berharap. Saya iyakan saja, uang itu saya pakai,” katanya.

Rupanya, kata Gus Dani, kades itu mengetahui kalau Badrodin Haiti memiliki saham di PT Semen Imasco, Puger. Karena itu, ia tergiur bisa menduduki jabatan komisaris dengan membayar sejumlah uang. Bahkan juga menambahkan nilai transfer untuk bisa membantu putranya masuk ke Akpol.

Lalu, bagaimana pembagian uang itu dengan AR? Ia menjawab sambil melemparkan senyum. “Saya sisihkan sedikit, dari uang itu,” katanya, tanpa menyebut nominal. Namun, belakangan diketahui informasi AR menerima sebanyak Rp 23 juta dari aksi menyamarnya sebagai mantan Kapolri KW tersebut.

Sementara, mengenai total transfernya yang mencapai Rp 4,7 miliar itu, ia berkilah bahwa jumlahnya tidak sampai segitu. Menurutnya, nilai itu perkiraan estimasi total saja. Saat ditanya, ke mana larinya uang yang kerap diberikan oleh Pak Kades, ia juga menjawabnya. “Saya sadar, uang itu saya buat jalan-jalan, foya-foya. Tapi, sesekali saya ke masjid atau musala, saya tetap sisihkan untuk kotak amal. Haq itu benar,” jawabnya, serius.

Ia juga membenarkan, beberapa unggahan di Facebook yang baru-baru ini adalah hasil uang dari Pak Kades. “Khusus yang postingan saya sampai di Singapura atau Malaysia itu, saya menaruh lokasi di sana, tapi saya tidak benar-benar pelesiran ke sana. Seumur-umur belum pernah naik pesawat,” katanya, tersenyum.

Di sela-sela obrolan, tiba-tiba istri AR dan kedua putrinya kembali datang menemui. Kala itu, mereka mau berpamitan pulang. Wajah putri bungsu AR mulai tenang. Namun, tidak bagi si sulung. Ia sepertinya cukup terpukul atas kasus yang menimpa ayahnya. AR pun kembali memenangkan kedua putrinya itu. “Sini Nak, sini Nak,” pinta AR, sambil memeluk dan mencium kedua putrinya.

Melihat pemandangan yang mengharu biru itu, sejumlah petugas di ruang SPKT Polsek Wuluhan seketika tertunduk. Mereka tidak meminta keluarga ini segera pulang, meski jam besuknya sudah habis. Tak berselang lama, mereka berpamitan. Pandangan AR pun tak henti-henti. Tatapannya seolah mengantarkan orang-orang tercintanya itu keluar dari ruang SPKT Polsek Wuluhan.

Usai ketiganya pulang, Gus Dani kembali melanjutkan ceritanya. Kali ini ia mengaku menyesali perbuatannya itu. “Sejak awal saya sudah tahu kalau ini berisiko tinggi,” akunya.

Dan benar saja. Sekitar April 2021 lalu, laporan yang dibuat Pak Kades seketika menetapkan dirinya sebagai tersangka atas kasus penipuan senilai Rp 4,7 miliar. Seperti yang dikatakan M Sholeh sebelumnya, bahwa ada potensi atau dugaan korban lainnya. Namun, Gus Dani menampik. “Tidak, tidak ada korban lainnya. Hanya satu itu (kades, Red),” jelasnya.

Gus Dani yang merupakan si bungsu dari delapan bersaudara ini mengaku sudah pasrah. Ia masih tidak habis pikir, gara-gara unggahannya di Facebook-nya itu, ia bisa bertindak sejauh ini. “Saya benar-benar menyesal. Saya berharap, teman-teman, rekan saya, saudara saya bisa lebih bijak menggunakan medsos. Mudah-mudahan ada pelajaran berharga buat saya,” ujarnya.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Gus Dani dan AR bakal menjalani kerasnya palu sidang pengadilan. Dan bakal merasakan udara pengap di balik jeruji besi. Mereka dijerat dengan pasal penipuan dengan ancaman empat tahun kurungan penjara.

 

 

Jurnalis : Maulana
Fotografer : Jumai, Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

Upayanya itu cukup sukses memikat hingga membuat Pak Kades percaya, bahwa Gus Dani adalah benar-benar seorang ajudan mantan Kapolri.

Kemudian, cerita pun berlanjut. Di saat bersamaan, dari beberapa pertemuan Gus Dani dengan kades, ia jelas menangkap ada maksud yang ingin disampaikan korban. Dari situ, dimulailah transaksi uang yang masuk ke Gus Dani dari kades.

Ia membenarkan, ada sebanyak delapan kali transaksi lewat tunai dan transfer yang masuk ke kantongnya. Jumlahnya variatif. Dari transaksi pertama dengan nominal Rp 200 juta, lalu kedua Rp 350 juta, Rp 400 juta, dan sejumlah nominal lain yang nilainya nyaris sama. “Saya tidak menjanjikan beliau (korban, Red) masuk sebagai komisaris di PT Imasco, atau memasukkan anaknya ke Akpol. Tapi, dianya sendiri yang berharap. Saya iyakan saja, uang itu saya pakai,” katanya.

Rupanya, kata Gus Dani, kades itu mengetahui kalau Badrodin Haiti memiliki saham di PT Semen Imasco, Puger. Karena itu, ia tergiur bisa menduduki jabatan komisaris dengan membayar sejumlah uang. Bahkan juga menambahkan nilai transfer untuk bisa membantu putranya masuk ke Akpol.

Lalu, bagaimana pembagian uang itu dengan AR? Ia menjawab sambil melemparkan senyum. “Saya sisihkan sedikit, dari uang itu,” katanya, tanpa menyebut nominal. Namun, belakangan diketahui informasi AR menerima sebanyak Rp 23 juta dari aksi menyamarnya sebagai mantan Kapolri KW tersebut.

Sementara, mengenai total transfernya yang mencapai Rp 4,7 miliar itu, ia berkilah bahwa jumlahnya tidak sampai segitu. Menurutnya, nilai itu perkiraan estimasi total saja. Saat ditanya, ke mana larinya uang yang kerap diberikan oleh Pak Kades, ia juga menjawabnya. “Saya sadar, uang itu saya buat jalan-jalan, foya-foya. Tapi, sesekali saya ke masjid atau musala, saya tetap sisihkan untuk kotak amal. Haq itu benar,” jawabnya, serius.

Ia juga membenarkan, beberapa unggahan di Facebook yang baru-baru ini adalah hasil uang dari Pak Kades. “Khusus yang postingan saya sampai di Singapura atau Malaysia itu, saya menaruh lokasi di sana, tapi saya tidak benar-benar pelesiran ke sana. Seumur-umur belum pernah naik pesawat,” katanya, tersenyum.

Di sela-sela obrolan, tiba-tiba istri AR dan kedua putrinya kembali datang menemui. Kala itu, mereka mau berpamitan pulang. Wajah putri bungsu AR mulai tenang. Namun, tidak bagi si sulung. Ia sepertinya cukup terpukul atas kasus yang menimpa ayahnya. AR pun kembali memenangkan kedua putrinya itu. “Sini Nak, sini Nak,” pinta AR, sambil memeluk dan mencium kedua putrinya.

Melihat pemandangan yang mengharu biru itu, sejumlah petugas di ruang SPKT Polsek Wuluhan seketika tertunduk. Mereka tidak meminta keluarga ini segera pulang, meski jam besuknya sudah habis. Tak berselang lama, mereka berpamitan. Pandangan AR pun tak henti-henti. Tatapannya seolah mengantarkan orang-orang tercintanya itu keluar dari ruang SPKT Polsek Wuluhan.

Usai ketiganya pulang, Gus Dani kembali melanjutkan ceritanya. Kali ini ia mengaku menyesali perbuatannya itu. “Sejak awal saya sudah tahu kalau ini berisiko tinggi,” akunya.

Dan benar saja. Sekitar April 2021 lalu, laporan yang dibuat Pak Kades seketika menetapkan dirinya sebagai tersangka atas kasus penipuan senilai Rp 4,7 miliar. Seperti yang dikatakan M Sholeh sebelumnya, bahwa ada potensi atau dugaan korban lainnya. Namun, Gus Dani menampik. “Tidak, tidak ada korban lainnya. Hanya satu itu (kades, Red),” jelasnya.

Gus Dani yang merupakan si bungsu dari delapan bersaudara ini mengaku sudah pasrah. Ia masih tidak habis pikir, gara-gara unggahannya di Facebook-nya itu, ia bisa bertindak sejauh ini. “Saya benar-benar menyesal. Saya berharap, teman-teman, rekan saya, saudara saya bisa lebih bijak menggunakan medsos. Mudah-mudahan ada pelajaran berharga buat saya,” ujarnya.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Gus Dani dan AR bakal menjalani kerasnya palu sidang pengadilan. Dan bakal merasakan udara pengap di balik jeruji besi. Mereka dijerat dengan pasal penipuan dengan ancaman empat tahun kurungan penjara.

 

 

Jurnalis : Maulana
Fotografer : Jumai, Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/