alexametrics
24.6 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Percampuran Multibudaya, Lahirkan Lagu “Jember Nusantara” Juara

Penampilan Linkrafin membuat merinding. Lagu ‘Jember Nusantara’ beserta tariannya itu begitu merasuk ke relung jiwa. Sebuah gambaran tentang percampuran multibudaya Jember yang sebenarnya.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seberkas cahaya muncul di balik video gelap yang menjadi pembuka penampilan Linkrafin. Suara melengking dan sosok lelaki memecah perasaan tegang, menjadi merinding. Tetapi, ada ketenangan di dalamnya. Lagu “Jember Nusantara” membius siapa saja yang mendengarnya.

Pada awal pementasan, kerja keras dan latihan mereka yang ada di atas pentas atau di belakang layar mendapat apresiasi yang pantas. Setara dengan karya musik dan lagu yang didendangkan. Iringan tarian khas yang diciptakan, semakin menjadi magnet yang menenangkan. Orang yang melihat pun merasa bungah dan bangga.

Orang yang memandang penampilan Linkrafin selama lomba Kamu Aku di Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif (Kemenparekraf) di Jakarta itu, seketika kagum. Bukan saja penonton, Menteri Sandiaga Uno dan dewan juri pun terpukau menyaksikan kearifan lokal Jember yang disajikan itu. Sebuah mahakarya yang dihasilkan dari kekayaan budaya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain Jamsari, vokalis kejhung, seni bernyanyi kuno khas Madura, yang menggetarkan sukma, juga ada empat vokalis lain yang sangat membius. Masing-masing adalah Azki Zarkasi Muhammad, Dian Komala, dan Aiga Diva. Satu lagi sinden Jawa, Dea Ananda Melati. Selain para vokalis, ada puluhan seniman, pelaku industri, dan kreator yang terlibat di dalamnya.

Lagu Jember Nusantara dibawakan dengan tarian yang menggabungkan semacam teatrikal. Mengisahkan tentang Jember yang merupakan bagian Nusantara. Penyajiannya mewakili etnis Jawa-Madura, serta multietnis yang ada di Jember. Sepanjang lagu ini dinyanyikan dengan berbagai vokal, sepanjang itu pula orang yang menyaksikan dalam puncak lomba merasa takjub. Menyentuh hati hingga perasaan berbunga-bunga.

Linkrafin dengan karyanya mampu menyabet juara 1 dan favorit bukan sebuah kebetulan. Bukan pula karena tak ada pesaing yang tangguh. Akan tetapi, karya Linkrafin benar-benar berkelas. Andai saja karya itu kaleng-kaleng, bisa jadi dalam babak penyisihan, lima besar, dan saat final akan tersisih menghadapi 416 komunitas lain yang berasal dari segala penjuru di Indonesia. Tetapi, lagu Jember Nusantara menumbangkan seluruh karya lain dalam ajang terbuka itu.

Ketua Umum sekaligus founder Linkrafin, Yudho Andriansyah mengatakan, Jember Nusantara merupakan lagu tradisional kontemporer. “Lagu ini menggambarkan Jember sebagai bagian dari khazanah wilayah eksotis berupa lembah di timur pulau Jawa,” katanya.

Tak hanya itu, lagu tersebut juga menggambarkan tentang percampuran budaya Jawa-Madura dan multietnis di Jember. “Hal itu yang kemudian menjadi ilustrasi yang dikolaborasikan dalam syair kejhung dan syair sinden Jawa yang dirangkum di dalamnya,” papar Yudho.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seberkas cahaya muncul di balik video gelap yang menjadi pembuka penampilan Linkrafin. Suara melengking dan sosok lelaki memecah perasaan tegang, menjadi merinding. Tetapi, ada ketenangan di dalamnya. Lagu “Jember Nusantara” membius siapa saja yang mendengarnya.

Pada awal pementasan, kerja keras dan latihan mereka yang ada di atas pentas atau di belakang layar mendapat apresiasi yang pantas. Setara dengan karya musik dan lagu yang didendangkan. Iringan tarian khas yang diciptakan, semakin menjadi magnet yang menenangkan. Orang yang melihat pun merasa bungah dan bangga.

Orang yang memandang penampilan Linkrafin selama lomba Kamu Aku di Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif (Kemenparekraf) di Jakarta itu, seketika kagum. Bukan saja penonton, Menteri Sandiaga Uno dan dewan juri pun terpukau menyaksikan kearifan lokal Jember yang disajikan itu. Sebuah mahakarya yang dihasilkan dari kekayaan budaya.

Selain Jamsari, vokalis kejhung, seni bernyanyi kuno khas Madura, yang menggetarkan sukma, juga ada empat vokalis lain yang sangat membius. Masing-masing adalah Azki Zarkasi Muhammad, Dian Komala, dan Aiga Diva. Satu lagi sinden Jawa, Dea Ananda Melati. Selain para vokalis, ada puluhan seniman, pelaku industri, dan kreator yang terlibat di dalamnya.

Lagu Jember Nusantara dibawakan dengan tarian yang menggabungkan semacam teatrikal. Mengisahkan tentang Jember yang merupakan bagian Nusantara. Penyajiannya mewakili etnis Jawa-Madura, serta multietnis yang ada di Jember. Sepanjang lagu ini dinyanyikan dengan berbagai vokal, sepanjang itu pula orang yang menyaksikan dalam puncak lomba merasa takjub. Menyentuh hati hingga perasaan berbunga-bunga.

Linkrafin dengan karyanya mampu menyabet juara 1 dan favorit bukan sebuah kebetulan. Bukan pula karena tak ada pesaing yang tangguh. Akan tetapi, karya Linkrafin benar-benar berkelas. Andai saja karya itu kaleng-kaleng, bisa jadi dalam babak penyisihan, lima besar, dan saat final akan tersisih menghadapi 416 komunitas lain yang berasal dari segala penjuru di Indonesia. Tetapi, lagu Jember Nusantara menumbangkan seluruh karya lain dalam ajang terbuka itu.

Ketua Umum sekaligus founder Linkrafin, Yudho Andriansyah mengatakan, Jember Nusantara merupakan lagu tradisional kontemporer. “Lagu ini menggambarkan Jember sebagai bagian dari khazanah wilayah eksotis berupa lembah di timur pulau Jawa,” katanya.

Tak hanya itu, lagu tersebut juga menggambarkan tentang percampuran budaya Jawa-Madura dan multietnis di Jember. “Hal itu yang kemudian menjadi ilustrasi yang dikolaborasikan dalam syair kejhung dan syair sinden Jawa yang dirangkum di dalamnya,” papar Yudho.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seberkas cahaya muncul di balik video gelap yang menjadi pembuka penampilan Linkrafin. Suara melengking dan sosok lelaki memecah perasaan tegang, menjadi merinding. Tetapi, ada ketenangan di dalamnya. Lagu “Jember Nusantara” membius siapa saja yang mendengarnya.

Pada awal pementasan, kerja keras dan latihan mereka yang ada di atas pentas atau di belakang layar mendapat apresiasi yang pantas. Setara dengan karya musik dan lagu yang didendangkan. Iringan tarian khas yang diciptakan, semakin menjadi magnet yang menenangkan. Orang yang melihat pun merasa bungah dan bangga.

Orang yang memandang penampilan Linkrafin selama lomba Kamu Aku di Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif (Kemenparekraf) di Jakarta itu, seketika kagum. Bukan saja penonton, Menteri Sandiaga Uno dan dewan juri pun terpukau menyaksikan kearifan lokal Jember yang disajikan itu. Sebuah mahakarya yang dihasilkan dari kekayaan budaya.

Selain Jamsari, vokalis kejhung, seni bernyanyi kuno khas Madura, yang menggetarkan sukma, juga ada empat vokalis lain yang sangat membius. Masing-masing adalah Azki Zarkasi Muhammad, Dian Komala, dan Aiga Diva. Satu lagi sinden Jawa, Dea Ananda Melati. Selain para vokalis, ada puluhan seniman, pelaku industri, dan kreator yang terlibat di dalamnya.

Lagu Jember Nusantara dibawakan dengan tarian yang menggabungkan semacam teatrikal. Mengisahkan tentang Jember yang merupakan bagian Nusantara. Penyajiannya mewakili etnis Jawa-Madura, serta multietnis yang ada di Jember. Sepanjang lagu ini dinyanyikan dengan berbagai vokal, sepanjang itu pula orang yang menyaksikan dalam puncak lomba merasa takjub. Menyentuh hati hingga perasaan berbunga-bunga.

Linkrafin dengan karyanya mampu menyabet juara 1 dan favorit bukan sebuah kebetulan. Bukan pula karena tak ada pesaing yang tangguh. Akan tetapi, karya Linkrafin benar-benar berkelas. Andai saja karya itu kaleng-kaleng, bisa jadi dalam babak penyisihan, lima besar, dan saat final akan tersisih menghadapi 416 komunitas lain yang berasal dari segala penjuru di Indonesia. Tetapi, lagu Jember Nusantara menumbangkan seluruh karya lain dalam ajang terbuka itu.

Ketua Umum sekaligus founder Linkrafin, Yudho Andriansyah mengatakan, Jember Nusantara merupakan lagu tradisional kontemporer. “Lagu ini menggambarkan Jember sebagai bagian dari khazanah wilayah eksotis berupa lembah di timur pulau Jawa,” katanya.

Tak hanya itu, lagu tersebut juga menggambarkan tentang percampuran budaya Jawa-Madura dan multietnis di Jember. “Hal itu yang kemudian menjadi ilustrasi yang dikolaborasikan dalam syair kejhung dan syair sinden Jawa yang dirangkum di dalamnya,” papar Yudho.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/