alexametrics
23.3 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Tolak Otsus, Tuntut Referendum

Aksi Mahasiswa Papua di Bundaran DPRD

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suara Thina Kotouky begitu melengking. Semangat mahasiswa itu membara ketika membacakan puisi tentang perjuangan. Ia seolah tak peduli meski siang itu cukup terik. Sebab, puisi yang dibawakan Thina disebut mewakili suara hati mereka yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) tersebut.

Siang kemarin (26/4), lebih dari 20 mahasiswa berjalan dari double way Universitas Jember (Unej) hingga bundaran DPRD. Mereka menyuarakan penolakan Otonomi Khusus (Otsus) Jilid II serta penolakan Daerah Otonomi Baru (DOB) di Papua Barat.

Koordinator Aksi AMP Jack Kogoya mengungkapkan, Otsus Papua yang berlangsung sejak tahun 2001, justru tidak mengurangi kasus diskriminasi di Papua. Justru, kata dia, menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan pembungkaman menuntut referendum. “Aksi kekerasan di Jayapura sampai sekarang masih belum selesai. Terbaru, dua bulan belakangan ada pelanggaran terhadap warga sipil di Irian Jaya. Gereja warga sipil di sana dikuasai Polri,” kata Jack ketika aksi berlangsung.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, hal ini merupakan bukti bahwa Otsus Jilid I yang diberlakukan di atas tanah Papua gagal. Selanjutnya, pemekaran provinsi dan kabupaten di Papua juga dianggap sebagai keputusan pemerintah yang akan memperparah penderitaan masyarakat setempat. Sebab, menurut Jack, pemekaran tidak membawa kesejahteraan bagi masyarakat di sana. Selain itu, mahasiswa juga menuntut pelibatan tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda Papua dalam setiap pengambilan kebijakan pemerintah.

Aksi yang dilakukan oleh AMP tidak hanya orasi. Mereka juga menyanyikan yel-yel yang berbunyi, ‘NKRI… No..!’ secara kompak dan lantang. Jack mengaku, hal itu merupakan yel-yel yang spontan keluar dari koordinator aksi. Solidaritas inilah yang nantinya akan menguatkan keinginan dan cita-cita masyarakat Papua.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suara Thina Kotouky begitu melengking. Semangat mahasiswa itu membara ketika membacakan puisi tentang perjuangan. Ia seolah tak peduli meski siang itu cukup terik. Sebab, puisi yang dibawakan Thina disebut mewakili suara hati mereka yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) tersebut.

Siang kemarin (26/4), lebih dari 20 mahasiswa berjalan dari double way Universitas Jember (Unej) hingga bundaran DPRD. Mereka menyuarakan penolakan Otonomi Khusus (Otsus) Jilid II serta penolakan Daerah Otonomi Baru (DOB) di Papua Barat.

Koordinator Aksi AMP Jack Kogoya mengungkapkan, Otsus Papua yang berlangsung sejak tahun 2001, justru tidak mengurangi kasus diskriminasi di Papua. Justru, kata dia, menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan pembungkaman menuntut referendum. “Aksi kekerasan di Jayapura sampai sekarang masih belum selesai. Terbaru, dua bulan belakangan ada pelanggaran terhadap warga sipil di Irian Jaya. Gereja warga sipil di sana dikuasai Polri,” kata Jack ketika aksi berlangsung.

Menurut dia, hal ini merupakan bukti bahwa Otsus Jilid I yang diberlakukan di atas tanah Papua gagal. Selanjutnya, pemekaran provinsi dan kabupaten di Papua juga dianggap sebagai keputusan pemerintah yang akan memperparah penderitaan masyarakat setempat. Sebab, menurut Jack, pemekaran tidak membawa kesejahteraan bagi masyarakat di sana. Selain itu, mahasiswa juga menuntut pelibatan tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda Papua dalam setiap pengambilan kebijakan pemerintah.

Aksi yang dilakukan oleh AMP tidak hanya orasi. Mereka juga menyanyikan yel-yel yang berbunyi, ‘NKRI… No..!’ secara kompak dan lantang. Jack mengaku, hal itu merupakan yel-yel yang spontan keluar dari koordinator aksi. Solidaritas inilah yang nantinya akan menguatkan keinginan dan cita-cita masyarakat Papua.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suara Thina Kotouky begitu melengking. Semangat mahasiswa itu membara ketika membacakan puisi tentang perjuangan. Ia seolah tak peduli meski siang itu cukup terik. Sebab, puisi yang dibawakan Thina disebut mewakili suara hati mereka yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) tersebut.

Siang kemarin (26/4), lebih dari 20 mahasiswa berjalan dari double way Universitas Jember (Unej) hingga bundaran DPRD. Mereka menyuarakan penolakan Otonomi Khusus (Otsus) Jilid II serta penolakan Daerah Otonomi Baru (DOB) di Papua Barat.

Koordinator Aksi AMP Jack Kogoya mengungkapkan, Otsus Papua yang berlangsung sejak tahun 2001, justru tidak mengurangi kasus diskriminasi di Papua. Justru, kata dia, menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan pembungkaman menuntut referendum. “Aksi kekerasan di Jayapura sampai sekarang masih belum selesai. Terbaru, dua bulan belakangan ada pelanggaran terhadap warga sipil di Irian Jaya. Gereja warga sipil di sana dikuasai Polri,” kata Jack ketika aksi berlangsung.

Menurut dia, hal ini merupakan bukti bahwa Otsus Jilid I yang diberlakukan di atas tanah Papua gagal. Selanjutnya, pemekaran provinsi dan kabupaten di Papua juga dianggap sebagai keputusan pemerintah yang akan memperparah penderitaan masyarakat setempat. Sebab, menurut Jack, pemekaran tidak membawa kesejahteraan bagi masyarakat di sana. Selain itu, mahasiswa juga menuntut pelibatan tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda Papua dalam setiap pengambilan kebijakan pemerintah.

Aksi yang dilakukan oleh AMP tidak hanya orasi. Mereka juga menyanyikan yel-yel yang berbunyi, ‘NKRI… No..!’ secara kompak dan lantang. Jack mengaku, hal itu merupakan yel-yel yang spontan keluar dari koordinator aksi. Solidaritas inilah yang nantinya akan menguatkan keinginan dan cita-cita masyarakat Papua.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/