alexametrics
23.9 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Patah Kaki Tak Lantas Menghilangkan Semangat Beraktivitas

Memiliki organ tubuh yang utuh adalah harapan setiap penyandang disabilitas. Dengan begitu, bisa beraktivitas seperti orang-orang normal lainnya. Namun, keterbatasan menjadi tantangan lain yang pantas untuk diperjuangkan. Hal tersebut terjadi pada Ahmad Baidowi.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandangan mata Ahmad Baidowi fokus ke depan saat memulai pemanasan di Jember Sport Garden, kemarin (26/3) pagi. Meski mengalami keterbatasan gerak, semangatnya tetap membumbung tinggi dalam melatih kuda-kuda bak sedang melempar bola besi tersebut. Hal itu tampak dari banyaknya keringat yang bercucuran.

Ya, Baidowi adalah salah seorang atlet tolak peluru yang dipersiapkan untuk mengikuti agenda pekan olahraga disabilitas pada 24 April mendatang. Karena agenda masih satu bulan lagi, dia tak absen menjalani latihan rutin di sela-sela kegiatannya.

Tak terasa, matahari kian meninggi. Pria yang memiliki nama lengkap Ahmad Baidowi itu mulai mengistirahatkan sendi-sendinya. Sekilas, dia sangat berhati-hati saat membenarkan pola duduknya. Yakni dengan memegangi lutut kaki bagian kanan. Setelah nyaman dengan posisi duduk, dia melepaskan kaki palsunya. “Gerah soalnya, biar terkena angin,” tuturnya sambil tersenyum.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ditanya tentang keadaan kakinya, matanya mulai berbinar. Pria yang berusia 36 tahun tersebut lantas menceritakan pengalaman pilunya. Dia menjelaskan bahwa kakinya harus diamputasi pada saat usianya baru 17 tahun.

Masih sangat jelas di ingatannya, kenangan pahit kala itu. Niatnya membeli bensin berujung pada kecelakaan maut yang tak bisa dihindari. “Saya ditabrak mobil pikap setelah membeli bensin. Tepat beberapa meter dari tempat saya membeli bensin,” ulasnya.

Prraaaakkkkk! Itu bunyi yang kali terakhir diingat olehnya. Setelah tersadar, kakinya tinggal satu lantaran harus diamputasi. “Jelas, saya sangat frustrasi saat itu. Saya malu hingga enggan keluar rumah,” tegas pria asli Kabupaten Malang itu. Belum lagi, usianya masih belia. Dia takut tak ada orang yang mau menerimanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandangan mata Ahmad Baidowi fokus ke depan saat memulai pemanasan di Jember Sport Garden, kemarin (26/3) pagi. Meski mengalami keterbatasan gerak, semangatnya tetap membumbung tinggi dalam melatih kuda-kuda bak sedang melempar bola besi tersebut. Hal itu tampak dari banyaknya keringat yang bercucuran.

Ya, Baidowi adalah salah seorang atlet tolak peluru yang dipersiapkan untuk mengikuti agenda pekan olahraga disabilitas pada 24 April mendatang. Karena agenda masih satu bulan lagi, dia tak absen menjalani latihan rutin di sela-sela kegiatannya.

Tak terasa, matahari kian meninggi. Pria yang memiliki nama lengkap Ahmad Baidowi itu mulai mengistirahatkan sendi-sendinya. Sekilas, dia sangat berhati-hati saat membenarkan pola duduknya. Yakni dengan memegangi lutut kaki bagian kanan. Setelah nyaman dengan posisi duduk, dia melepaskan kaki palsunya. “Gerah soalnya, biar terkena angin,” tuturnya sambil tersenyum.

Ditanya tentang keadaan kakinya, matanya mulai berbinar. Pria yang berusia 36 tahun tersebut lantas menceritakan pengalaman pilunya. Dia menjelaskan bahwa kakinya harus diamputasi pada saat usianya baru 17 tahun.

Masih sangat jelas di ingatannya, kenangan pahit kala itu. Niatnya membeli bensin berujung pada kecelakaan maut yang tak bisa dihindari. “Saya ditabrak mobil pikap setelah membeli bensin. Tepat beberapa meter dari tempat saya membeli bensin,” ulasnya.

Prraaaakkkkk! Itu bunyi yang kali terakhir diingat olehnya. Setelah tersadar, kakinya tinggal satu lantaran harus diamputasi. “Jelas, saya sangat frustrasi saat itu. Saya malu hingga enggan keluar rumah,” tegas pria asli Kabupaten Malang itu. Belum lagi, usianya masih belia. Dia takut tak ada orang yang mau menerimanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandangan mata Ahmad Baidowi fokus ke depan saat memulai pemanasan di Jember Sport Garden, kemarin (26/3) pagi. Meski mengalami keterbatasan gerak, semangatnya tetap membumbung tinggi dalam melatih kuda-kuda bak sedang melempar bola besi tersebut. Hal itu tampak dari banyaknya keringat yang bercucuran.

Ya, Baidowi adalah salah seorang atlet tolak peluru yang dipersiapkan untuk mengikuti agenda pekan olahraga disabilitas pada 24 April mendatang. Karena agenda masih satu bulan lagi, dia tak absen menjalani latihan rutin di sela-sela kegiatannya.

Tak terasa, matahari kian meninggi. Pria yang memiliki nama lengkap Ahmad Baidowi itu mulai mengistirahatkan sendi-sendinya. Sekilas, dia sangat berhati-hati saat membenarkan pola duduknya. Yakni dengan memegangi lutut kaki bagian kanan. Setelah nyaman dengan posisi duduk, dia melepaskan kaki palsunya. “Gerah soalnya, biar terkena angin,” tuturnya sambil tersenyum.

Ditanya tentang keadaan kakinya, matanya mulai berbinar. Pria yang berusia 36 tahun tersebut lantas menceritakan pengalaman pilunya. Dia menjelaskan bahwa kakinya harus diamputasi pada saat usianya baru 17 tahun.

Masih sangat jelas di ingatannya, kenangan pahit kala itu. Niatnya membeli bensin berujung pada kecelakaan maut yang tak bisa dihindari. “Saya ditabrak mobil pikap setelah membeli bensin. Tepat beberapa meter dari tempat saya membeli bensin,” ulasnya.

Prraaaakkkkk! Itu bunyi yang kali terakhir diingat olehnya. Setelah tersadar, kakinya tinggal satu lantaran harus diamputasi. “Jelas, saya sangat frustrasi saat itu. Saya malu hingga enggan keluar rumah,” tegas pria asli Kabupaten Malang itu. Belum lagi, usianya masih belia. Dia takut tak ada orang yang mau menerimanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/