alexametrics
24.3 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Mulai Suasana Deg-degan hingga Kerap Jadi Korban Hoaks

Vaksinasi bukan merupakan istilah asing, terutama bagi para tenaga kesehatan. Banyak kegiatan vaksinasi yang sebelumnya pernah dilakukan. Mulai dari vaksin influenza, hepatitis, tetanus, dan masih banyak lainnya. Tak berbeda dengan metode vaksinasi Covid-19 yang juga serupa. Lalu, apa yang membuat nakesnya deg-degan?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terbalut alat pelindung diri (APD), Insih Indrawati menanti calon penerima vaksin yang masih menyelesaikan tahap screening. “Silakan duduk, Pak,” tuturnya penuh perhatian kepada salah seorang penerima vaksin. Sejurus kemudian, dia menyobek bungkus plastik, memisahkan alat suntik dari bungkusnya, membuka penutup jarum, lalu mengambil vaksin.

Dimasukkannya ujung jarum tersebut ke dalam vial vaksin. Tepat pada angka 0,5 mililiter, dia menghentikan tarikan punggung jarum. Lalu, mengeluarkan udara dalam suntik supaya bisa memaksimalkan vaksinasi. “Aduh, aduh, aduh,” rengek salah seorang penerima vaksin sambil memalingkan muka.

Respons ini menjadi pemandangan yang biasa ditemui sepanjang masa vaksinasi di aula PB Sudirman Pemkab Jember. “Kalau menemui orang yang takut jarum itu sudah biasa. Soalnya  memang banyak orang yang takut jarum,” ucap wanita berusia 44 tahun itu. Apalagi, dia juga melakukan vaksinasi di Puskesmas Ledokombo, tempatnya bertugas.

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun, bagian yang membuat Insih dan petugas nakes merasa cemas dan deg-degan, lanjutnya, adalah suasana pandemi. Menurut wanita yang berprofesi perawat itu, pandemi membawa dampak yang sangat besar bagi dunia kesehatan. Tak terkecuali di Kabupaten Jember. “Pandemi ini berlangsung lama, penyebarannya cepat, dan vaksin pun baru ada tahun ini,” terangnya.

Sebagai nakes, kekhawatiran selalu dirasakan lantaran mereka menjadi subjek yang rentan terpapar dan bisa menularkan virus. “Tapi, yang lebih meresahkan adalah hoaks-hoaks yang booming di masyarakat,” ujarnya. Yakni terkait dengan Covid-19 maupun manjur tidaknya vaksin tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terbalut alat pelindung diri (APD), Insih Indrawati menanti calon penerima vaksin yang masih menyelesaikan tahap screening. “Silakan duduk, Pak,” tuturnya penuh perhatian kepada salah seorang penerima vaksin. Sejurus kemudian, dia menyobek bungkus plastik, memisahkan alat suntik dari bungkusnya, membuka penutup jarum, lalu mengambil vaksin.

Dimasukkannya ujung jarum tersebut ke dalam vial vaksin. Tepat pada angka 0,5 mililiter, dia menghentikan tarikan punggung jarum. Lalu, mengeluarkan udara dalam suntik supaya bisa memaksimalkan vaksinasi. “Aduh, aduh, aduh,” rengek salah seorang penerima vaksin sambil memalingkan muka.

Respons ini menjadi pemandangan yang biasa ditemui sepanjang masa vaksinasi di aula PB Sudirman Pemkab Jember. “Kalau menemui orang yang takut jarum itu sudah biasa. Soalnya  memang banyak orang yang takut jarum,” ucap wanita berusia 44 tahun itu. Apalagi, dia juga melakukan vaksinasi di Puskesmas Ledokombo, tempatnya bertugas.

Namun, bagian yang membuat Insih dan petugas nakes merasa cemas dan deg-degan, lanjutnya, adalah suasana pandemi. Menurut wanita yang berprofesi perawat itu, pandemi membawa dampak yang sangat besar bagi dunia kesehatan. Tak terkecuali di Kabupaten Jember. “Pandemi ini berlangsung lama, penyebarannya cepat, dan vaksin pun baru ada tahun ini,” terangnya.

Sebagai nakes, kekhawatiran selalu dirasakan lantaran mereka menjadi subjek yang rentan terpapar dan bisa menularkan virus. “Tapi, yang lebih meresahkan adalah hoaks-hoaks yang booming di masyarakat,” ujarnya. Yakni terkait dengan Covid-19 maupun manjur tidaknya vaksin tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terbalut alat pelindung diri (APD), Insih Indrawati menanti calon penerima vaksin yang masih menyelesaikan tahap screening. “Silakan duduk, Pak,” tuturnya penuh perhatian kepada salah seorang penerima vaksin. Sejurus kemudian, dia menyobek bungkus plastik, memisahkan alat suntik dari bungkusnya, membuka penutup jarum, lalu mengambil vaksin.

Dimasukkannya ujung jarum tersebut ke dalam vial vaksin. Tepat pada angka 0,5 mililiter, dia menghentikan tarikan punggung jarum. Lalu, mengeluarkan udara dalam suntik supaya bisa memaksimalkan vaksinasi. “Aduh, aduh, aduh,” rengek salah seorang penerima vaksin sambil memalingkan muka.

Respons ini menjadi pemandangan yang biasa ditemui sepanjang masa vaksinasi di aula PB Sudirman Pemkab Jember. “Kalau menemui orang yang takut jarum itu sudah biasa. Soalnya  memang banyak orang yang takut jarum,” ucap wanita berusia 44 tahun itu. Apalagi, dia juga melakukan vaksinasi di Puskesmas Ledokombo, tempatnya bertugas.

Namun, bagian yang membuat Insih dan petugas nakes merasa cemas dan deg-degan, lanjutnya, adalah suasana pandemi. Menurut wanita yang berprofesi perawat itu, pandemi membawa dampak yang sangat besar bagi dunia kesehatan. Tak terkecuali di Kabupaten Jember. “Pandemi ini berlangsung lama, penyebarannya cepat, dan vaksin pun baru ada tahun ini,” terangnya.

Sebagai nakes, kekhawatiran selalu dirasakan lantaran mereka menjadi subjek yang rentan terpapar dan bisa menularkan virus. “Tapi, yang lebih meresahkan adalah hoaks-hoaks yang booming di masyarakat,” ujarnya. Yakni terkait dengan Covid-19 maupun manjur tidaknya vaksin tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/