alexametrics
23.9 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Dapat Banyak Dukungan dari Warga Sekitar

Geliat Warga Binaan Dirikan Masjid

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bunyi hantaman palu beradu dengan paku terdengar nyaring di pelataran salah satu bangunan di lingkungan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Kelas II A Jember. Salah seorang warga binaan bernama Sumarto sedang merapikan saringan pasir dengan memasang jaring menggunakan palu dan paku. Sementara itu, warga binaan lain tampak memindahkan batako menuju ke sisi utara bangunan.

Jika ditelisik, rupanya mereka tengah membangun masjid. Sumarto menuturkan, sudah hampir delapan bulan mereka beraktivitas di sini. Dirinya bersama dengan delapan warga binaan lain diberikan kepercayaan untuk mendirikan masjid. “Lumayan, dari yang nggak bisa nguli sampai hafal,” ungkap pria asal Kecamatan Tanggul itu.

Dari sembilan warga binaan yang ditugaskan, lanjut dia, sedianya hanya dua orang yang paham teknis pertukangan. Sisanya merupakan laden atau bertugas membantu tukang. “Saya juga demikian, nggak paham dunia pertukangan. Tapi lama-lama juga bisa,” ucap pria kelahiran 1955 tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sumarto sendiri sudah berada di sana sejak awal pembangunan fondasi. Sampai mencapai pembangunan masjid sekitar 40 persen ini, banyak hal unik yang terjadi. “Kalau sekadar belajar sesuatu yang sebelumnya belum bisa, itu sudah biasa. Asalkan istiqamah, pasti bisa,” ungkapnya.

Berada di luar lapas dan karakteristik warga sekitar menjadi keunikan tersendiri. Tak semua warga Lapas Jember bisa berada di SAE karena benar-benar harus diseleksi dulu. Hal ini diakui oleh Ansori, warga binaan lainnya. “Harus memiliki sikap baik dan bisa dipercaya karena di sini langsung bersinggungan dengan masyarakat,” ungkap warga Kecamatan Kalisat itu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bunyi hantaman palu beradu dengan paku terdengar nyaring di pelataran salah satu bangunan di lingkungan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Kelas II A Jember. Salah seorang warga binaan bernama Sumarto sedang merapikan saringan pasir dengan memasang jaring menggunakan palu dan paku. Sementara itu, warga binaan lain tampak memindahkan batako menuju ke sisi utara bangunan.

Jika ditelisik, rupanya mereka tengah membangun masjid. Sumarto menuturkan, sudah hampir delapan bulan mereka beraktivitas di sini. Dirinya bersama dengan delapan warga binaan lain diberikan kepercayaan untuk mendirikan masjid. “Lumayan, dari yang nggak bisa nguli sampai hafal,” ungkap pria asal Kecamatan Tanggul itu.

Dari sembilan warga binaan yang ditugaskan, lanjut dia, sedianya hanya dua orang yang paham teknis pertukangan. Sisanya merupakan laden atau bertugas membantu tukang. “Saya juga demikian, nggak paham dunia pertukangan. Tapi lama-lama juga bisa,” ucap pria kelahiran 1955 tersebut.

Sumarto sendiri sudah berada di sana sejak awal pembangunan fondasi. Sampai mencapai pembangunan masjid sekitar 40 persen ini, banyak hal unik yang terjadi. “Kalau sekadar belajar sesuatu yang sebelumnya belum bisa, itu sudah biasa. Asalkan istiqamah, pasti bisa,” ungkapnya.

Berada di luar lapas dan karakteristik warga sekitar menjadi keunikan tersendiri. Tak semua warga Lapas Jember bisa berada di SAE karena benar-benar harus diseleksi dulu. Hal ini diakui oleh Ansori, warga binaan lainnya. “Harus memiliki sikap baik dan bisa dipercaya karena di sini langsung bersinggungan dengan masyarakat,” ungkap warga Kecamatan Kalisat itu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bunyi hantaman palu beradu dengan paku terdengar nyaring di pelataran salah satu bangunan di lingkungan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Kelas II A Jember. Salah seorang warga binaan bernama Sumarto sedang merapikan saringan pasir dengan memasang jaring menggunakan palu dan paku. Sementara itu, warga binaan lain tampak memindahkan batako menuju ke sisi utara bangunan.

Jika ditelisik, rupanya mereka tengah membangun masjid. Sumarto menuturkan, sudah hampir delapan bulan mereka beraktivitas di sini. Dirinya bersama dengan delapan warga binaan lain diberikan kepercayaan untuk mendirikan masjid. “Lumayan, dari yang nggak bisa nguli sampai hafal,” ungkap pria asal Kecamatan Tanggul itu.

Dari sembilan warga binaan yang ditugaskan, lanjut dia, sedianya hanya dua orang yang paham teknis pertukangan. Sisanya merupakan laden atau bertugas membantu tukang. “Saya juga demikian, nggak paham dunia pertukangan. Tapi lama-lama juga bisa,” ucap pria kelahiran 1955 tersebut.

Sumarto sendiri sudah berada di sana sejak awal pembangunan fondasi. Sampai mencapai pembangunan masjid sekitar 40 persen ini, banyak hal unik yang terjadi. “Kalau sekadar belajar sesuatu yang sebelumnya belum bisa, itu sudah biasa. Asalkan istiqamah, pasti bisa,” ungkapnya.

Berada di luar lapas dan karakteristik warga sekitar menjadi keunikan tersendiri. Tak semua warga Lapas Jember bisa berada di SAE karena benar-benar harus diseleksi dulu. Hal ini diakui oleh Ansori, warga binaan lainnya. “Harus memiliki sikap baik dan bisa dipercaya karena di sini langsung bersinggungan dengan masyarakat,” ungkap warga Kecamatan Kalisat itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/