Sejumlah siswi SMPN 4 Banjarangkan kesurupan di sekolah saat upacara Guru Piduka di padmasana sekolah, Selasa (22/10) kemarin. (Dewa Ayu Pitri Arisanti/Jawa Pos Radar Bali)

JawaPos.com – Pascakesurupan masal yang dialami siswi SMP Negeri 4 Banjarangkan secara berturut-turut sejak akhir September lalu, pihak sekolah akhirnya memutuskan menghentikan proses pembelajaran di sekolah sementara waktu. Siswa diminta belajar di rumah mulai Rabu (23/10) lalu hingga Kamis (31/10) mendatang.

IKLAN

Pihak sekolah juga akan mengisi waktu liburan itu untuk mengajak siswa melakukan kegiatan-kegiatan spiritual dan refreshing di luar sekolah.

Tujuannya untuk menghilangkan rasa trauma para siswa akibat peristiwa tersebut. Wakil Kepala Sekolah Kurikulum SMP Negeri 4 Banjarangkan I Made Agus Suardina saat ditemui di halaman Pura Pucak Jati, Desa Timuhun, Kecamatan Banjarangkan, Kamis (24/10).

Sejumlah siswa SMPN 4 Banjarangkan saat menikmati pemandangan seusai melakukan persembahyangan bersama di Pura Pucak Jati, Desa Timuhun, Kecamatan Banjarangkan, kemarin. (Dewa Ayu Pitri Arisanti/Jawa Pos Radar Bali)

Ia menuturkan, peristiwa kesurupan masal yang terjadi cukup rutin sejak akhir September lalu telah menumbuhkan rasa trauma bagi para siswa. Terutama bagi siswa-siswa yang mengalami kesurupan, kerap merasa diintai seseorang dan bila datang ke sekolah kembali mengalami kesurupan.

Atas peristiwa itu pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Klungkung akhirnya menyarankan pihak sekolah untuk menghentikan kegiatan pembelajaran di sekolah untuk sementara waktu.

“Kegiatan ini dilakukan sambil menunggu upacara Macaru Manca Sanak dan Abrumbunan yang rencananya digelar Jumat (1/11). Berdasar hasil nunasin (meminta petunjuk, Red) ke seorang Tapakan (para normal, Red) kami diminta untuk membuat dua pelinggih dan menggelar upacara itu,” bebernya seperti dikutip Jawa Pos Radar Bali.

Terakhir saat dilakukan upacara Guru Piduka di Padmasana SMP Negeri 4 Banjarangkan berlangsung cukup mencengkam, Selasa (22/10) sekitar pukul 09.00. Saat ratusan siswa dan guru SMP tersebut sedang melakukan Puja Trisandya bersama, empat siswi tiba-tiba berteriak dan menangis histeris.

Empat siswi itu masing-masing Dewa Ayu Nadia kelas IX, Kadek Ginanti kelas VII, Ni Nengah Devi Ariani kelas IX, dan Ketut Martini Asih kelas VII.

Lantaran sulit dihentikan, Wakil Bupati Klungkung, I Made Kasta pun akhirnya turun tangan untuk menyadarkan para siswa yang kesurupan. Agar siswa tidak kembali mengalami kesurupan, Wabup Made Kasta menyarankan pihak sekolah agar membuat pelinggih sederhana untuk tempat makhluk halus tersebut.

Selain itu pihaknya juga meminta agar pihak sekolah membuat sesajen. “Pihak sekolah nanti akan membuat upacara mecaru mancewarna,” kata Wabup Kasta.

Editor : Mohamad Nur Asikin