Banyak Monyet Turun Gunung, Mulai Ganggu Pengunjung Papuma

Bagus Supriadi/Radar Jember MENCARI SOLUSI: Femke Den Haas, pendiri  Jakarta Animal Aid Network bersama petugas BKSDA dan Papuma saat melihat kera-kera yang turun dari hutan.

RADARJEMBER.ID – Kumpulan monyet di kawasan Pantai Papuma mulai meresahkan pengunjung. Sebab, mereka turun ke bawah dan mencari makanan. Tak jarang, satwa liar itu merusak fasilitas serta kendaraan milik pengunjung dan pengelola.

IKLAN

“Ada 20 kelompok kera yang turun di sejumlah titik,” kata Suharno, senior duty manager Papuma. Menurut dia, gerombolan kera itu turun untuk mencari makanan, satu kelompok bisa mencapai 20 kera. Penyebabnya bukan hanya karena pohon yang sudah kering, namun juga terbiasa diberi makanan.

Di musim kemarau ini, dedaunan mulai kering dan membuat kebutuhan makanan kera berkurang. Sementara di kawasan Papuma, banyak pengunjung yang datang lalu memberi makanan. “Padahal, kami sudah melarangnya untuk memberi makanan,” terangnya.

Namun, memberi makanan kera menjadi kegiatan yang menarik bagi para pengunjung. Sebab, bisa menghibur, terutama bagi anak-anaknya. Hanya saja, bila tetap dibiarkan akan menimbulkan dampak yang negatif. “Sampai sekarang masih belum ada yang menyerang manusia,” akunya.

Kera itu, lanjut dia, ada yang dilepas oleh masyarakat ke alam liar. Akibatnya, populasinya terganggu karena tidak saling mengenal. Bahkan, bisa saling mengganggu habitatnya. “Berbeda dengan lutung yang lebih banyak diam,” ujarnya.

Setiap pagi dan sore, kera itu turun ke bawah mencari makan. Ketika tidak menemukan makanan, mereka bisa merebut makanan pengunjung. Hal itu bisa terjadi dan cukup membahayakan.

Untuk mencegah dampak negatif itu, petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jember menggandeng Jakarta Animal Aid Network untuk mencegah satwa liar itu membuat kerusakan.

“Orang memberi makan kera akibatnya ada ketergantungan,” tambah Femke Den Haas, pendiri  Jakarta Animal Aid Network sejak tahun 2002 lalu. Lembaga yang fokus pada perlindungan satwa liar. Tak heran, ketika ada manusia, mereka mendatangi untuk mencari makan.

Di hutan, kata dia, kera itu sudah malas untuk mencari  makan. Apalagi di musim kemarau, makanan semakin berkurang. Salah satu solusi adalah mempertegas larangan pengunjung memberi makan kera. “Kedua, bisa dijadikan tempat khusus untuk memberi makanan,” ujarnya.

Titik kumpul itu akan menjadikan kera tidak ke mana-mana. Sehingga, bisa mencegah bahaya yang dimunculkan oleh kera. “Bisa jadi, ketika ada anak yang main, diserang, kalau tidak diantisipasi,” tambah perempuan asal Belanda tersebut.

NGO yang dipimpin oleh Femke itu sudah menyurati bupati untuk mencegah pemeliharaan dan jual beli kera. Namun, belum ada tanggapan sampai sekarang. Sebab, yang terjadi masih banyak warga memperjualbelikan kera.

“Kondisi yang terjadi, banyak warga pelihara anak kera,” tambah Budi Harsono, kepala resort konservasi wilayah 16 Jember. Ketika kera itu sudah besar, cenderung berontak dan ingin lepas liar. Sering kali, bila sudah tak sanggup merawat, dilepas oleh pemiliknya.

Reporter & Fotografer: Bagus Supriadi
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :