alexametrics
23.1 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Sisipkan Nilai Edukatif, Belanja Kebutuhan Jadi Asyik

Mereka adalah perempuan tangguh. Bertahun-tahun lamanya menjalani bisnis sesama perempuan. Kini, aktivis itu menampakkan hidungnya melalui jual beli barang yang edukatif, dengan tujuan belanja sambil belajar.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pengalaman panjang tentang kehidupan tak menentu dalam membentuk karakter dan kekompakan para aktivis perempuan di Jember. Cerita perempuan yang disepelekan hingga urusan kekerasan membuat sejumlah orang rela memeras otak demi memberi perlindungan terhadap kaum hawa. Baik segi hukum maupun sosial ekonominya.

Nasib seseorang ke depan tidak ada yang tahu. itu adalah istilah yang pas untuk menggambarkan perjalanan hidup. Bahwa perempuan yang memiliki masalah bukan hanya yang secara ekonomi kurang beruntung. Akan tetapi, masalah yang rumit bisa pula menyapa perempuan yang pernah hidup mapan.

Inilah yang menginisiasi kehadiran Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember. Perkumpulan aktivis perempuan yang berkumpul di Perumahan Royal City, Cluster Sidney, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, Jember, itu sejatinya telah lama ada. Sejumlah nama tergabung di dalamnya. Mulai Sri Sulistyani aktivis Yamini yang sudah menasional. Serta, sejumlah perempuan tangguh lain seperti Suminah, Fitriyah Fajarwati, Mariana Oktavia, Rita Puji Lestari, dan masih banyak lagi. Para perempuan tersebut mendedikasikan diri mereka untuk peduli terhadap perempuan, termasuk urusan ekonomi perempuan.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA : Ingatkan agar Tidak Boros Belanja

Beberapa tahun lalu, Sulis, Yamini, dan yang lain mungkin banyak dikenal sebagai orang yang kerap melakukan pendampingan terhadap perempuan yang menjadi korban di mata hukum. Tetapi, di balik itu, mereka juga berjuang untuk memberdayakan perekonomian kaum hawa. Demi bagaimana caranya perempuan juga bisa berdikari.

Pada 2016 lalu, mereka yang kini meluncurkan website GPP Jember, pernah memiliki grup WhatsApp yang jumlah anggotanya mencapai 2 ribu orang. Grup itu dinamai Pasar Kita. “Sampai sekarang, grup itu masih ada,” kata Sulis.

Perempuan yang menjadi direktur di GPP Jember itu menyebut, grup online tersebut dimanfaatkan untuk jual beli. Uniknya, penjualnya perempuan dan pembelinya pun perempuan. Barang yang diperjualbelikan mulai kebutuhan dapur, mainan, kendaraan, sampai rumah juga diperdagangkan dalam grup itu. “Pernah ada laki-laki yang ikut, akhirnya saya keluarkan. Syarat pertama ikut jualan di grup adalah perempuan,” ucapnya.

Agar transaksi tidak terkurung dalam komunitas, beberapa waktu lalu para aktivis perempuan itu sepakat untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Salah satu caranya adalah harus melek informasi teknologi dan memanfaatkan kecanggihan alat serta mengikuti perkembangan zaman.

“Kalau di WA terbatas di komunitas. Memang bisa menjual ke orang yang tidak masuk grup, tetapi prosesnya kurang singkat,” ulas Sulis.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pengalaman panjang tentang kehidupan tak menentu dalam membentuk karakter dan kekompakan para aktivis perempuan di Jember. Cerita perempuan yang disepelekan hingga urusan kekerasan membuat sejumlah orang rela memeras otak demi memberi perlindungan terhadap kaum hawa. Baik segi hukum maupun sosial ekonominya.

Nasib seseorang ke depan tidak ada yang tahu. itu adalah istilah yang pas untuk menggambarkan perjalanan hidup. Bahwa perempuan yang memiliki masalah bukan hanya yang secara ekonomi kurang beruntung. Akan tetapi, masalah yang rumit bisa pula menyapa perempuan yang pernah hidup mapan.

Inilah yang menginisiasi kehadiran Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember. Perkumpulan aktivis perempuan yang berkumpul di Perumahan Royal City, Cluster Sidney, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, Jember, itu sejatinya telah lama ada. Sejumlah nama tergabung di dalamnya. Mulai Sri Sulistyani aktivis Yamini yang sudah menasional. Serta, sejumlah perempuan tangguh lain seperti Suminah, Fitriyah Fajarwati, Mariana Oktavia, Rita Puji Lestari, dan masih banyak lagi. Para perempuan tersebut mendedikasikan diri mereka untuk peduli terhadap perempuan, termasuk urusan ekonomi perempuan.

BACA JUGA : Ingatkan agar Tidak Boros Belanja

Beberapa tahun lalu, Sulis, Yamini, dan yang lain mungkin banyak dikenal sebagai orang yang kerap melakukan pendampingan terhadap perempuan yang menjadi korban di mata hukum. Tetapi, di balik itu, mereka juga berjuang untuk memberdayakan perekonomian kaum hawa. Demi bagaimana caranya perempuan juga bisa berdikari.

Pada 2016 lalu, mereka yang kini meluncurkan website GPP Jember, pernah memiliki grup WhatsApp yang jumlah anggotanya mencapai 2 ribu orang. Grup itu dinamai Pasar Kita. “Sampai sekarang, grup itu masih ada,” kata Sulis.

Perempuan yang menjadi direktur di GPP Jember itu menyebut, grup online tersebut dimanfaatkan untuk jual beli. Uniknya, penjualnya perempuan dan pembelinya pun perempuan. Barang yang diperjualbelikan mulai kebutuhan dapur, mainan, kendaraan, sampai rumah juga diperdagangkan dalam grup itu. “Pernah ada laki-laki yang ikut, akhirnya saya keluarkan. Syarat pertama ikut jualan di grup adalah perempuan,” ucapnya.

Agar transaksi tidak terkurung dalam komunitas, beberapa waktu lalu para aktivis perempuan itu sepakat untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Salah satu caranya adalah harus melek informasi teknologi dan memanfaatkan kecanggihan alat serta mengikuti perkembangan zaman.

“Kalau di WA terbatas di komunitas. Memang bisa menjual ke orang yang tidak masuk grup, tetapi prosesnya kurang singkat,” ulas Sulis.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pengalaman panjang tentang kehidupan tak menentu dalam membentuk karakter dan kekompakan para aktivis perempuan di Jember. Cerita perempuan yang disepelekan hingga urusan kekerasan membuat sejumlah orang rela memeras otak demi memberi perlindungan terhadap kaum hawa. Baik segi hukum maupun sosial ekonominya.

Nasib seseorang ke depan tidak ada yang tahu. itu adalah istilah yang pas untuk menggambarkan perjalanan hidup. Bahwa perempuan yang memiliki masalah bukan hanya yang secara ekonomi kurang beruntung. Akan tetapi, masalah yang rumit bisa pula menyapa perempuan yang pernah hidup mapan.

Inilah yang menginisiasi kehadiran Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember. Perkumpulan aktivis perempuan yang berkumpul di Perumahan Royal City, Cluster Sidney, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, Jember, itu sejatinya telah lama ada. Sejumlah nama tergabung di dalamnya. Mulai Sri Sulistyani aktivis Yamini yang sudah menasional. Serta, sejumlah perempuan tangguh lain seperti Suminah, Fitriyah Fajarwati, Mariana Oktavia, Rita Puji Lestari, dan masih banyak lagi. Para perempuan tersebut mendedikasikan diri mereka untuk peduli terhadap perempuan, termasuk urusan ekonomi perempuan.

BACA JUGA : Ingatkan agar Tidak Boros Belanja

Beberapa tahun lalu, Sulis, Yamini, dan yang lain mungkin banyak dikenal sebagai orang yang kerap melakukan pendampingan terhadap perempuan yang menjadi korban di mata hukum. Tetapi, di balik itu, mereka juga berjuang untuk memberdayakan perekonomian kaum hawa. Demi bagaimana caranya perempuan juga bisa berdikari.

Pada 2016 lalu, mereka yang kini meluncurkan website GPP Jember, pernah memiliki grup WhatsApp yang jumlah anggotanya mencapai 2 ribu orang. Grup itu dinamai Pasar Kita. “Sampai sekarang, grup itu masih ada,” kata Sulis.

Perempuan yang menjadi direktur di GPP Jember itu menyebut, grup online tersebut dimanfaatkan untuk jual beli. Uniknya, penjualnya perempuan dan pembelinya pun perempuan. Barang yang diperjualbelikan mulai kebutuhan dapur, mainan, kendaraan, sampai rumah juga diperdagangkan dalam grup itu. “Pernah ada laki-laki yang ikut, akhirnya saya keluarkan. Syarat pertama ikut jualan di grup adalah perempuan,” ucapnya.

Agar transaksi tidak terkurung dalam komunitas, beberapa waktu lalu para aktivis perempuan itu sepakat untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Salah satu caranya adalah harus melek informasi teknologi dan memanfaatkan kecanggihan alat serta mengikuti perkembangan zaman.

“Kalau di WA terbatas di komunitas. Memang bisa menjual ke orang yang tidak masuk grup, tetapi prosesnya kurang singkat,” ulas Sulis.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/