alexametrics
23.8 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Kucing Hutan Itu Dilindungi, jika Menemukan Serahkan ke KSDA

Mobile_AP_Rectangle 1

Bagaimana menentukan ciri kucing hutan dengan kucing pada umumnya bila berjumpa? Selain dari fisik yang tidak sama, juga ada sifat yang bisa dibedakan. Kucing hutan masih melihat manusia sebagai ancaman. Tidak seperti kucing pada umumnya. Bahkan, saat ditangkap oleh manusia, tak jarang kucing hutan akan mengerang.

Purwantono kembali menegaskan, bagi warga yang terpaksa memelihara hewan dilindungi, termasuk kucing hutan, alangkah baiknya diserahkan ke BKSD, atau langsung dilepasliarkan. “Kalau hewan liar, tapi sudah dipelihara dan jinak, itu kasihan. Sebab, saat dilepasliarkan hewan tersebut susah mencari makan. Karena telah terbiasa diberi makan,” paparnya.

Oleh karena itu, menurut dia, untuk melepasliarkan perlu tahapan. Perlu fase rehabilitasi sebelum dilepasliarkan. Selain itu, kata dia, bila merawat hewan liar dari hutan, yang ditakutkan juga adalah penyakit zoonosis. Ini adalah jenis penyakit yang dapat ditularkan hewan ke manusia. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme, seperti bakteri, virus, jamur, atau parasit.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, Beni Wijaya Putra dari komunitas pencinta satwa mengatakan, saat ini sudah jarang sekali ada informasi jual beli kucing hutan atau macan rem-rem. Dia mengaku pernah tahu ada yang menjual di media sosial. Tapi kebanyakan dari luar kota, dengan harga kisaran Rp 200 ribu – Rp 300 ribu per ekor untuk ukuran bayi. “Akunnya yang jual ya akun fake atau akun palsu,” terangnya.

Walau Beni berasal dari komunitas iguana, tapi setidaknya pernah ada rekan-rekan pencinta hewan yang memelihara kucing hutan. Dulu ada salah seorang temannya yang menemukan anakan kucing hutan. Dan saat dibawa pulang, anak kucing hutan tersebut nyusu ke kucing kampung. “Jadi, disusukan ke kucing kampung yang kebetulan juga punya anak,” paparnya. Namun, saat besar, sifat liar kucing hutan tersebut masih terlihat.

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Grafis reza
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Bagaimana menentukan ciri kucing hutan dengan kucing pada umumnya bila berjumpa? Selain dari fisik yang tidak sama, juga ada sifat yang bisa dibedakan. Kucing hutan masih melihat manusia sebagai ancaman. Tidak seperti kucing pada umumnya. Bahkan, saat ditangkap oleh manusia, tak jarang kucing hutan akan mengerang.

Purwantono kembali menegaskan, bagi warga yang terpaksa memelihara hewan dilindungi, termasuk kucing hutan, alangkah baiknya diserahkan ke BKSD, atau langsung dilepasliarkan. “Kalau hewan liar, tapi sudah dipelihara dan jinak, itu kasihan. Sebab, saat dilepasliarkan hewan tersebut susah mencari makan. Karena telah terbiasa diberi makan,” paparnya.

Oleh karena itu, menurut dia, untuk melepasliarkan perlu tahapan. Perlu fase rehabilitasi sebelum dilepasliarkan. Selain itu, kata dia, bila merawat hewan liar dari hutan, yang ditakutkan juga adalah penyakit zoonosis. Ini adalah jenis penyakit yang dapat ditularkan hewan ke manusia. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme, seperti bakteri, virus, jamur, atau parasit.

Sementara itu, Beni Wijaya Putra dari komunitas pencinta satwa mengatakan, saat ini sudah jarang sekali ada informasi jual beli kucing hutan atau macan rem-rem. Dia mengaku pernah tahu ada yang menjual di media sosial. Tapi kebanyakan dari luar kota, dengan harga kisaran Rp 200 ribu – Rp 300 ribu per ekor untuk ukuran bayi. “Akunnya yang jual ya akun fake atau akun palsu,” terangnya.

Walau Beni berasal dari komunitas iguana, tapi setidaknya pernah ada rekan-rekan pencinta hewan yang memelihara kucing hutan. Dulu ada salah seorang temannya yang menemukan anakan kucing hutan. Dan saat dibawa pulang, anak kucing hutan tersebut nyusu ke kucing kampung. “Jadi, disusukan ke kucing kampung yang kebetulan juga punya anak,” paparnya. Namun, saat besar, sifat liar kucing hutan tersebut masih terlihat.

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Grafis reza
Redaktur : Mahrus Sholih

Bagaimana menentukan ciri kucing hutan dengan kucing pada umumnya bila berjumpa? Selain dari fisik yang tidak sama, juga ada sifat yang bisa dibedakan. Kucing hutan masih melihat manusia sebagai ancaman. Tidak seperti kucing pada umumnya. Bahkan, saat ditangkap oleh manusia, tak jarang kucing hutan akan mengerang.

Purwantono kembali menegaskan, bagi warga yang terpaksa memelihara hewan dilindungi, termasuk kucing hutan, alangkah baiknya diserahkan ke BKSD, atau langsung dilepasliarkan. “Kalau hewan liar, tapi sudah dipelihara dan jinak, itu kasihan. Sebab, saat dilepasliarkan hewan tersebut susah mencari makan. Karena telah terbiasa diberi makan,” paparnya.

Oleh karena itu, menurut dia, untuk melepasliarkan perlu tahapan. Perlu fase rehabilitasi sebelum dilepasliarkan. Selain itu, kata dia, bila merawat hewan liar dari hutan, yang ditakutkan juga adalah penyakit zoonosis. Ini adalah jenis penyakit yang dapat ditularkan hewan ke manusia. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme, seperti bakteri, virus, jamur, atau parasit.

Sementara itu, Beni Wijaya Putra dari komunitas pencinta satwa mengatakan, saat ini sudah jarang sekali ada informasi jual beli kucing hutan atau macan rem-rem. Dia mengaku pernah tahu ada yang menjual di media sosial. Tapi kebanyakan dari luar kota, dengan harga kisaran Rp 200 ribu – Rp 300 ribu per ekor untuk ukuran bayi. “Akunnya yang jual ya akun fake atau akun palsu,” terangnya.

Walau Beni berasal dari komunitas iguana, tapi setidaknya pernah ada rekan-rekan pencinta hewan yang memelihara kucing hutan. Dulu ada salah seorang temannya yang menemukan anakan kucing hutan. Dan saat dibawa pulang, anak kucing hutan tersebut nyusu ke kucing kampung. “Jadi, disusukan ke kucing kampung yang kebetulan juga punya anak,” paparnya. Namun, saat besar, sifat liar kucing hutan tersebut masih terlihat.

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Grafis reza
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/