alexametrics
29.1 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Kucing Hutan Itu Dilindungi, jika Menemukan Serahkan ke KSDA

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kucing hutan dengan nama latin Prionailurus bengalensis atau yang banyak disebut warga macan rem-rem memang menggemaskan dan imut. Tapi jangan salah, kucing hutan tersebut tetaplah predator yang memiliki sifat liar. Bahkan, terlalu jinak juga menjadi bumerang sendiri, karena naluri untuk bertahan hidup akan hilang.

Kucing hutan tersebut sempat ditemukan di halaman rumah Wakil Ketua DPRD Jember Dedy Dwi Setiawan, akhir pekan kemarin (22/5). Selanjutnya, hewan yang dilindungi itu telah diserahkan ke Kantor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jember. Plh Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jatim di Jember Purwantono mengatakan, kucing hutan tersebut telah ditempatkan sementara di Kantor KSDA di Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari.

Purwantono menjelaskan, kucing hutan dengan nama latin Prionailurus bengalensis itu diperkirakan masih muda. “Masih anakan, tapi usia persisnya belum tahu,” jelasnya. Ada beberapa kemungkinan mengapa kucing hutan yang habitat aslinya di hutan tersebut bisa masuk ke rumah warga.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pertama, kata dia, kemungkinan kucing hutan tersebut sedang diajari oleh induknya untuk menangkap mangsa. “Bisa jadi terlepas dari induknya atau tersesat. Makanya perlu ada kajian mengapa sampai ke rumah warga. Apalagi yang ditemukan adalah satu ekor anakan,” tuturnya.

Walau kucing hutan itu terkesan unik daripada kucing pada umumnya karena coraknya tutul, mirip macan tutul, namun hewan tersebut tetapkan kucing kecil. Bukan termasuk kategori kucing besar seperti harimau, ataupun macan tutul. “Besarnya ya seperti kucing. Tidak sampai sebesar macan. Walau masyarakat menyebut macan rem-rem,” katanya.

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Kehutanan (Permen LHK) RI 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, hewan tersebut termasuk satwa dilindungi. Tercatat juga ada empat nama kucing hutan dengan bentuk tutul yang dilindungi, yaitu kucing batu (Pardofelis marmorata), kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), kucing tandang (Prionailurus planiceps), dan kucing bakau (Prionailurus viverrinus). Juga ada dua kucing lagi yang dilindungi, yaitu kucing merah (Catopuma badia), dan kucing emas (Catopuma temminckii).

Untuk habitatnya, hampir tersebar di wilayah hutan. Termasuk di lereng Argopuro, daerah sekitar Taman Nasional (TN) Meru Betiri, hingga kawasan hutan Gunung Ijen. Namun, juga tercatat pernah masuk wilayah pertanian.

Menurutnya, penyerahan kucing hutan dari anggota dewan tidak hanya sekali ini saja. Sebelumnya juga pernah. “Penyerahan kucing hewan sebagai hewan dilindungi itu cukup bagus, karena untuk edukasi ke masyarakat,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kucing hutan dengan nama latin Prionailurus bengalensis atau yang banyak disebut warga macan rem-rem memang menggemaskan dan imut. Tapi jangan salah, kucing hutan tersebut tetaplah predator yang memiliki sifat liar. Bahkan, terlalu jinak juga menjadi bumerang sendiri, karena naluri untuk bertahan hidup akan hilang.

Kucing hutan tersebut sempat ditemukan di halaman rumah Wakil Ketua DPRD Jember Dedy Dwi Setiawan, akhir pekan kemarin (22/5). Selanjutnya, hewan yang dilindungi itu telah diserahkan ke Kantor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jember. Plh Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jatim di Jember Purwantono mengatakan, kucing hutan tersebut telah ditempatkan sementara di Kantor KSDA di Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari.

Purwantono menjelaskan, kucing hutan dengan nama latin Prionailurus bengalensis itu diperkirakan masih muda. “Masih anakan, tapi usia persisnya belum tahu,” jelasnya. Ada beberapa kemungkinan mengapa kucing hutan yang habitat aslinya di hutan tersebut bisa masuk ke rumah warga.

Pertama, kata dia, kemungkinan kucing hutan tersebut sedang diajari oleh induknya untuk menangkap mangsa. “Bisa jadi terlepas dari induknya atau tersesat. Makanya perlu ada kajian mengapa sampai ke rumah warga. Apalagi yang ditemukan adalah satu ekor anakan,” tuturnya.

Walau kucing hutan itu terkesan unik daripada kucing pada umumnya karena coraknya tutul, mirip macan tutul, namun hewan tersebut tetapkan kucing kecil. Bukan termasuk kategori kucing besar seperti harimau, ataupun macan tutul. “Besarnya ya seperti kucing. Tidak sampai sebesar macan. Walau masyarakat menyebut macan rem-rem,” katanya.

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Kehutanan (Permen LHK) RI 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, hewan tersebut termasuk satwa dilindungi. Tercatat juga ada empat nama kucing hutan dengan bentuk tutul yang dilindungi, yaitu kucing batu (Pardofelis marmorata), kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), kucing tandang (Prionailurus planiceps), dan kucing bakau (Prionailurus viverrinus). Juga ada dua kucing lagi yang dilindungi, yaitu kucing merah (Catopuma badia), dan kucing emas (Catopuma temminckii).

Untuk habitatnya, hampir tersebar di wilayah hutan. Termasuk di lereng Argopuro, daerah sekitar Taman Nasional (TN) Meru Betiri, hingga kawasan hutan Gunung Ijen. Namun, juga tercatat pernah masuk wilayah pertanian.

Menurutnya, penyerahan kucing hutan dari anggota dewan tidak hanya sekali ini saja. Sebelumnya juga pernah. “Penyerahan kucing hewan sebagai hewan dilindungi itu cukup bagus, karena untuk edukasi ke masyarakat,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kucing hutan dengan nama latin Prionailurus bengalensis atau yang banyak disebut warga macan rem-rem memang menggemaskan dan imut. Tapi jangan salah, kucing hutan tersebut tetaplah predator yang memiliki sifat liar. Bahkan, terlalu jinak juga menjadi bumerang sendiri, karena naluri untuk bertahan hidup akan hilang.

Kucing hutan tersebut sempat ditemukan di halaman rumah Wakil Ketua DPRD Jember Dedy Dwi Setiawan, akhir pekan kemarin (22/5). Selanjutnya, hewan yang dilindungi itu telah diserahkan ke Kantor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jember. Plh Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jatim di Jember Purwantono mengatakan, kucing hutan tersebut telah ditempatkan sementara di Kantor KSDA di Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari.

Purwantono menjelaskan, kucing hutan dengan nama latin Prionailurus bengalensis itu diperkirakan masih muda. “Masih anakan, tapi usia persisnya belum tahu,” jelasnya. Ada beberapa kemungkinan mengapa kucing hutan yang habitat aslinya di hutan tersebut bisa masuk ke rumah warga.

Pertama, kata dia, kemungkinan kucing hutan tersebut sedang diajari oleh induknya untuk menangkap mangsa. “Bisa jadi terlepas dari induknya atau tersesat. Makanya perlu ada kajian mengapa sampai ke rumah warga. Apalagi yang ditemukan adalah satu ekor anakan,” tuturnya.

Walau kucing hutan itu terkesan unik daripada kucing pada umumnya karena coraknya tutul, mirip macan tutul, namun hewan tersebut tetapkan kucing kecil. Bukan termasuk kategori kucing besar seperti harimau, ataupun macan tutul. “Besarnya ya seperti kucing. Tidak sampai sebesar macan. Walau masyarakat menyebut macan rem-rem,” katanya.

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Kehutanan (Permen LHK) RI 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, hewan tersebut termasuk satwa dilindungi. Tercatat juga ada empat nama kucing hutan dengan bentuk tutul yang dilindungi, yaitu kucing batu (Pardofelis marmorata), kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), kucing tandang (Prionailurus planiceps), dan kucing bakau (Prionailurus viverrinus). Juga ada dua kucing lagi yang dilindungi, yaitu kucing merah (Catopuma badia), dan kucing emas (Catopuma temminckii).

Untuk habitatnya, hampir tersebar di wilayah hutan. Termasuk di lereng Argopuro, daerah sekitar Taman Nasional (TN) Meru Betiri, hingga kawasan hutan Gunung Ijen. Namun, juga tercatat pernah masuk wilayah pertanian.

Menurutnya, penyerahan kucing hutan dari anggota dewan tidak hanya sekali ini saja. Sebelumnya juga pernah. “Penyerahan kucing hewan sebagai hewan dilindungi itu cukup bagus, karena untuk edukasi ke masyarakat,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/