alexametrics
23 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Bangunannya Megah, tapi Muspro karena Tak Ditempati Pedagang

Pasar Tegalboto lokasinya strategis. Tepat di daerah kos-kosan mahasiswa Jl Jawa dan Jl Nias. Walau begitu, banyak mahasiswa tidak tahu daerah kampus itu memiliki pasar tradisional yang kini bangunannya telah megah. Walau sudah direnovasi, namun tidak ada pedagang di sana. Biasanya, hanya menjadi langganan tukang becak beristirahat.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rindang, tentram, dan jauh dari kebisingan, itulah suasana Pasar Tegalboto, siang itu. Rimbunnya pohon ketepeng membuat pasar tersebut semakin nyaman untuk disinggahi para tukang becak yang ingin beristirahat sejenak. Apalagi, lantai pasar yang keramik itu masih mulus. Tembok putih dan pilar warna merah pun bersih tidak ada bercak kotor.

Ditambah lagi di antara los pasar dengan pintu harmonika warna merah itu juga masih tertutup rapat. “Tutup semua ini, tidak ada yang jualan,” ucap Paisah, pedagang rokok dan kopi di Pasar Tegalboto. Lapak jualan Paisah pun berbeda dengan yang lain. Berada di paling pojok. Bentuknya juga seperti warung dari kayu dan beratapkan asbes. Dia tak menempati salah satu kios di pasar.

Dia juga menunjukkan satu los miliknya. “Ini jatahnya aku,” terangnya. Walau diberikan kesempatan untuk mendapatkan lapak, tapi Paisah sejatinya tidak begitu senang. Sebab, harga sewa per bulannya cukup tinggi baginya. “Per bulan itu Rp 400 ribu. Tidak kuat bayarnya. Apalagi pasar ya sepi. Enak yang biasa saja. Tidak apa kalau bayar setengahnya, Rp 200 ribu per bulan,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Memasuki lebih dalam lagi, Pasar Tegalboto ini seperti mati suri. Sebab, tidak ada secuil pun aktivitas laiknya pasar tradisional pada umumnya. Tidak ada pedagang dan tidak ada pembeli. Lengang. Di bagian tengah pasar, yaitu tempat terbuka, rumputnya juga telah memanjang. Sementara toiletnya masih berfungsi. Keran airnya masih mengalir. Namun sayang, pintunya telah rusak. Bahkan, penutup pintu toilet digantikan kayu tinggi sekitar setengah meter.

Semakin siang, Paisah berinisiatif membersihkan pasar dari daun ketepeng yang berjatuhan. Dengan sapu lidi, satu per satu daun itu terkumpul dan segera dibakar. Raut wajah Paisah yang awalnya semangat membersihkan, langsung merengut. Sebab, terdapat titik lokasi yang basah dan berbau kurang sedap. “Ngene iki lho. Ada toilet di belakang, kok pipis di sini,” ucapnya. Mulut perempuan 65 tahun ini pun langsung nyerocos sendiri. Dia uring-uringan karena tukang becak yang beristirahat di Pasar Tegalboto buang air kecil sembarangan.

Paisah bisa dikatakan adalah pedagang satu-satunya yang tetap berjualan di Pasar Tegalboto. Dirinya berbeda dengan pedagang yang lain, karena tidak ada pilihan lagi. Apalagi dia juga sebagai seorang janda. Pasar Tegalboto yang baru direnovasi 2019 kemarin, menurutnya, sempat ada yang berjualan. “Sempat ada yang jualan di sini,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rindang, tentram, dan jauh dari kebisingan, itulah suasana Pasar Tegalboto, siang itu. Rimbunnya pohon ketepeng membuat pasar tersebut semakin nyaman untuk disinggahi para tukang becak yang ingin beristirahat sejenak. Apalagi, lantai pasar yang keramik itu masih mulus. Tembok putih dan pilar warna merah pun bersih tidak ada bercak kotor.

Ditambah lagi di antara los pasar dengan pintu harmonika warna merah itu juga masih tertutup rapat. “Tutup semua ini, tidak ada yang jualan,” ucap Paisah, pedagang rokok dan kopi di Pasar Tegalboto. Lapak jualan Paisah pun berbeda dengan yang lain. Berada di paling pojok. Bentuknya juga seperti warung dari kayu dan beratapkan asbes. Dia tak menempati salah satu kios di pasar.

Dia juga menunjukkan satu los miliknya. “Ini jatahnya aku,” terangnya. Walau diberikan kesempatan untuk mendapatkan lapak, tapi Paisah sejatinya tidak begitu senang. Sebab, harga sewa per bulannya cukup tinggi baginya. “Per bulan itu Rp 400 ribu. Tidak kuat bayarnya. Apalagi pasar ya sepi. Enak yang biasa saja. Tidak apa kalau bayar setengahnya, Rp 200 ribu per bulan,” ucapnya.

Memasuki lebih dalam lagi, Pasar Tegalboto ini seperti mati suri. Sebab, tidak ada secuil pun aktivitas laiknya pasar tradisional pada umumnya. Tidak ada pedagang dan tidak ada pembeli. Lengang. Di bagian tengah pasar, yaitu tempat terbuka, rumputnya juga telah memanjang. Sementara toiletnya masih berfungsi. Keran airnya masih mengalir. Namun sayang, pintunya telah rusak. Bahkan, penutup pintu toilet digantikan kayu tinggi sekitar setengah meter.

Semakin siang, Paisah berinisiatif membersihkan pasar dari daun ketepeng yang berjatuhan. Dengan sapu lidi, satu per satu daun itu terkumpul dan segera dibakar. Raut wajah Paisah yang awalnya semangat membersihkan, langsung merengut. Sebab, terdapat titik lokasi yang basah dan berbau kurang sedap. “Ngene iki lho. Ada toilet di belakang, kok pipis di sini,” ucapnya. Mulut perempuan 65 tahun ini pun langsung nyerocos sendiri. Dia uring-uringan karena tukang becak yang beristirahat di Pasar Tegalboto buang air kecil sembarangan.

Paisah bisa dikatakan adalah pedagang satu-satunya yang tetap berjualan di Pasar Tegalboto. Dirinya berbeda dengan pedagang yang lain, karena tidak ada pilihan lagi. Apalagi dia juga sebagai seorang janda. Pasar Tegalboto yang baru direnovasi 2019 kemarin, menurutnya, sempat ada yang berjualan. “Sempat ada yang jualan di sini,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rindang, tentram, dan jauh dari kebisingan, itulah suasana Pasar Tegalboto, siang itu. Rimbunnya pohon ketepeng membuat pasar tersebut semakin nyaman untuk disinggahi para tukang becak yang ingin beristirahat sejenak. Apalagi, lantai pasar yang keramik itu masih mulus. Tembok putih dan pilar warna merah pun bersih tidak ada bercak kotor.

Ditambah lagi di antara los pasar dengan pintu harmonika warna merah itu juga masih tertutup rapat. “Tutup semua ini, tidak ada yang jualan,” ucap Paisah, pedagang rokok dan kopi di Pasar Tegalboto. Lapak jualan Paisah pun berbeda dengan yang lain. Berada di paling pojok. Bentuknya juga seperti warung dari kayu dan beratapkan asbes. Dia tak menempati salah satu kios di pasar.

Dia juga menunjukkan satu los miliknya. “Ini jatahnya aku,” terangnya. Walau diberikan kesempatan untuk mendapatkan lapak, tapi Paisah sejatinya tidak begitu senang. Sebab, harga sewa per bulannya cukup tinggi baginya. “Per bulan itu Rp 400 ribu. Tidak kuat bayarnya. Apalagi pasar ya sepi. Enak yang biasa saja. Tidak apa kalau bayar setengahnya, Rp 200 ribu per bulan,” ucapnya.

Memasuki lebih dalam lagi, Pasar Tegalboto ini seperti mati suri. Sebab, tidak ada secuil pun aktivitas laiknya pasar tradisional pada umumnya. Tidak ada pedagang dan tidak ada pembeli. Lengang. Di bagian tengah pasar, yaitu tempat terbuka, rumputnya juga telah memanjang. Sementara toiletnya masih berfungsi. Keran airnya masih mengalir. Namun sayang, pintunya telah rusak. Bahkan, penutup pintu toilet digantikan kayu tinggi sekitar setengah meter.

Semakin siang, Paisah berinisiatif membersihkan pasar dari daun ketepeng yang berjatuhan. Dengan sapu lidi, satu per satu daun itu terkumpul dan segera dibakar. Raut wajah Paisah yang awalnya semangat membersihkan, langsung merengut. Sebab, terdapat titik lokasi yang basah dan berbau kurang sedap. “Ngene iki lho. Ada toilet di belakang, kok pipis di sini,” ucapnya. Mulut perempuan 65 tahun ini pun langsung nyerocos sendiri. Dia uring-uringan karena tukang becak yang beristirahat di Pasar Tegalboto buang air kecil sembarangan.

Paisah bisa dikatakan adalah pedagang satu-satunya yang tetap berjualan di Pasar Tegalboto. Dirinya berbeda dengan pedagang yang lain, karena tidak ada pilihan lagi. Apalagi dia juga sebagai seorang janda. Pasar Tegalboto yang baru direnovasi 2019 kemarin, menurutnya, sempat ada yang berjualan. “Sempat ada yang jualan di sini,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/