alexametrics
25.2 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Jenazah Pekerja Migran Ilegal Asal Rambipuji Dipulangkan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Muhammad Ali Gufron masih termenung. Raut wajahnya gelisah. Ia juga susah tersenyum. Dirinya belum bisa menerima sepenuhnya kematian sang ibu yang tenggelam di perairan Tanjung Balau, Johor, Malaysia, akibat pemberangkatan pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal. Jika teringat tentang ibunya, matanya memerah. Berkaca-kaca seolah akan menangis.

Pamannya, Rudi Angga Prayitno, mengatakan, remaja yang duduk di bangku SMP kelas 2 itu kondisi emosionalnya sudah lebih baik ketimbang sepekan lalu. “Sekarang sudah lebih baik. Lebih bisa menerima. Kalau awal itu, ya, merenung terus. Mikir kematian ibunya setragis ini,” kata Rudi, kemarin (24/12).

Muhammad Ali Gufron adalah anak kedua FH, PMI yang menjadi korban. Kondisinya tak jauh berbeda dengan kakak serta ayahnya. Namun, saat ini mereka sudah mulai bisa menerima kematian FH. “Suami, ibu, dan anaknya sudah mulai bisa menerima,” tutur Rudi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sejak adanya kabar kematian FH, keluarga meminta agar kepulangan jenazah FH disegerakan. Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) pun mengupayakan supaya jenazah itu segera dipulangkan ke rumah duka, setelah menjalani serangkaian pemeriksaan medis.

Selama di Malaysia, jenazah FH juga diurus oleh keluarganya, Solehati, yang juga menjadi PMI di negeri jiran tersebut. Keluarga FH di Jember berupaya untuk mengontak Solehati yang tak lain adalah sepupu FH agar turut mengurus jenazah hingga dipulangkan ke Rambipuji.

Sampai kemarin sore (24/12), jenazah itu masih ada di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepulauan Riau. Lalu, pada pukul 15.00 jenazah akan diterbangkan dari Batam menuju Bandara Juanda, Surabaya. Rencananya, jenazah akan dimakamkan setibanya di rumah duka. “Dan kebetulan untuk pendampingan pihak keluarga di Johor, Malaysia, ada kakak saya yang mendampingi pemandian jenazah di rumah sakit,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Muhammad Ali Gufron masih termenung. Raut wajahnya gelisah. Ia juga susah tersenyum. Dirinya belum bisa menerima sepenuhnya kematian sang ibu yang tenggelam di perairan Tanjung Balau, Johor, Malaysia, akibat pemberangkatan pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal. Jika teringat tentang ibunya, matanya memerah. Berkaca-kaca seolah akan menangis.

Pamannya, Rudi Angga Prayitno, mengatakan, remaja yang duduk di bangku SMP kelas 2 itu kondisi emosionalnya sudah lebih baik ketimbang sepekan lalu. “Sekarang sudah lebih baik. Lebih bisa menerima. Kalau awal itu, ya, merenung terus. Mikir kematian ibunya setragis ini,” kata Rudi, kemarin (24/12).

Muhammad Ali Gufron adalah anak kedua FH, PMI yang menjadi korban. Kondisinya tak jauh berbeda dengan kakak serta ayahnya. Namun, saat ini mereka sudah mulai bisa menerima kematian FH. “Suami, ibu, dan anaknya sudah mulai bisa menerima,” tutur Rudi.

Sejak adanya kabar kematian FH, keluarga meminta agar kepulangan jenazah FH disegerakan. Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) pun mengupayakan supaya jenazah itu segera dipulangkan ke rumah duka, setelah menjalani serangkaian pemeriksaan medis.

Selama di Malaysia, jenazah FH juga diurus oleh keluarganya, Solehati, yang juga menjadi PMI di negeri jiran tersebut. Keluarga FH di Jember berupaya untuk mengontak Solehati yang tak lain adalah sepupu FH agar turut mengurus jenazah hingga dipulangkan ke Rambipuji.

Sampai kemarin sore (24/12), jenazah itu masih ada di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepulauan Riau. Lalu, pada pukul 15.00 jenazah akan diterbangkan dari Batam menuju Bandara Juanda, Surabaya. Rencananya, jenazah akan dimakamkan setibanya di rumah duka. “Dan kebetulan untuk pendampingan pihak keluarga di Johor, Malaysia, ada kakak saya yang mendampingi pemandian jenazah di rumah sakit,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Muhammad Ali Gufron masih termenung. Raut wajahnya gelisah. Ia juga susah tersenyum. Dirinya belum bisa menerima sepenuhnya kematian sang ibu yang tenggelam di perairan Tanjung Balau, Johor, Malaysia, akibat pemberangkatan pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal. Jika teringat tentang ibunya, matanya memerah. Berkaca-kaca seolah akan menangis.

Pamannya, Rudi Angga Prayitno, mengatakan, remaja yang duduk di bangku SMP kelas 2 itu kondisi emosionalnya sudah lebih baik ketimbang sepekan lalu. “Sekarang sudah lebih baik. Lebih bisa menerima. Kalau awal itu, ya, merenung terus. Mikir kematian ibunya setragis ini,” kata Rudi, kemarin (24/12).

Muhammad Ali Gufron adalah anak kedua FH, PMI yang menjadi korban. Kondisinya tak jauh berbeda dengan kakak serta ayahnya. Namun, saat ini mereka sudah mulai bisa menerima kematian FH. “Suami, ibu, dan anaknya sudah mulai bisa menerima,” tutur Rudi.

Sejak adanya kabar kematian FH, keluarga meminta agar kepulangan jenazah FH disegerakan. Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) pun mengupayakan supaya jenazah itu segera dipulangkan ke rumah duka, setelah menjalani serangkaian pemeriksaan medis.

Selama di Malaysia, jenazah FH juga diurus oleh keluarganya, Solehati, yang juga menjadi PMI di negeri jiran tersebut. Keluarga FH di Jember berupaya untuk mengontak Solehati yang tak lain adalah sepupu FH agar turut mengurus jenazah hingga dipulangkan ke Rambipuji.

Sampai kemarin sore (24/12), jenazah itu masih ada di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepulauan Riau. Lalu, pada pukul 15.00 jenazah akan diterbangkan dari Batam menuju Bandara Juanda, Surabaya. Rencananya, jenazah akan dimakamkan setibanya di rumah duka. “Dan kebetulan untuk pendampingan pihak keluarga di Johor, Malaysia, ada kakak saya yang mendampingi pemandian jenazah di rumah sakit,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/