Banjir Bandang, Lima Warga Tewas

Jumai/Radar Jember SIMULASI BENCANA: Tim Relawan Tangguh Bencana mengevakuasi korban banjir bandang di Dusun Mandilis 1, Desa Sanenrejo, Kecamatan Tempurejo, Jumat (24/8) siang.

RADARJEMBER.ID – Warga Dusun Mandilis 1, Desa Sanenrejo, Tempurejo tiba-tiba panik. Banjir bandang melanda wilayah mereka. Peristiwa itu terjadi tengah malam, saat warga sedang asyik-asyiknya tertidur pulas. Penyebab banjir, sungai Sanenrejo yang melintas di kawasan tersebut meluap besar.

IKLAN

Dari kejadian itu, dikabarkan sedikitnya lima warga yang rata-rata tinggal di pinggir sungai terseret arus. Sementara lima warga lainnya mengalami luka parah, karena tertimpa reruntuhan rumah. Tim medis pun berusaha mengevakuasi para korban.

”Kegiatan ini hanya simulasi, bagaimana menanggulangi bencana. Ini gelar oleh mahasiswa KKN Unej, di tiga desa. Dipusatkan di Desa Sanenrejo, Kecamatan Tempurejo,” kata Hadzaifa Rochmatil, mahasiswa KKN Unej periode II, 2018 di Desa Sanenrejo, Tempurejo.

Simulasi itu melibatkan relawan yang baru dibentuk di tiga desa. ”Karena tiga desa ini sangat rawan terjadinya banjir dan terjadinya tanah longsor saat hujan lebat,” lanjutnya. Ada tiga titik dalam simulasi yang melibatkan TRC BPBD Jember, Relawan bencana dari tiga desa, Puskesmas serta warga itu.

Sementara Sutikno, kepala Desa Sanenrejo, Tempurejo di sela-sela simulasi mengatakan, kegiatan ini memang sangat dibutuhkan warga. Utamanya yang tinggal di sekitar Sungai Sanenrejo. ”Karena tiap musim hujan sungai selalu banjir. Selain itu juga sangat rawan terjadinya tanah longsor,” jelasnya.

Dengan simulasi ini, warga akan semakin tahu penanganan ketika terjadi hujan lebat yang mengakibatkan bencana banjir. ”Relawan yang ada di tiga desa ini memang baru terbentuk. Dan kebetulan sekali ketika terbentuk langsung mempunyai ilmu dari adik-adik KKN ini,” jelasnya.

Materi yang diberikan dalam simulasi ini adalah materi bagaimana cara relawan untuk memberikan pertolongan kepada warga menghadapi bencana sebelum petugas itu datang. Relawan itu bisa bergerak cepat lebih dahulu sebelum dilakukan penanganan oleh tim khusus.

Dia awalnya mengaku kesulitan dalam simulasi ini, karena masyarakat awam akan penanganan bencana.

Sementara Subadi, 45, warga sekitar mengaku terbantu dengan dilakukannya simulasi untuk menanggulangi ketika terjadi bencana. ”Apalagi di desa sendiri sudah terbentuk tim relawan tangguh bencana,” pungkasnya.

Reporter & Fotografer: Jumai
Editor : Hadi Sumarsono
Editor Bahasa: Yerri A Aji

Reporter :

Fotografer :

Editor :