alexametrics
32 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Wis Kadung Sayang, Walau ke Mana-Mana Bawa Engkol Busi

Motor tua masih banyak ditemui. Skuter ini salah satunya. Saking cintanya, para pencintanya sampai rela merogoh kocek tinggi. Hanya untuk si doi tampil beda. Meski langganan mogok, mereka tidak juga kapok. Malah makin cinta. Kok bisa?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Engkol busi itu masih tergeletak, tak jauh dari skuter hitam. Di sekitarnya, terlihat seorang pemuda tengah berupaya menghidupkan motor itu. Sepertinya ia kesulitan. Sekali dua kali, motor tak langsung hidup. “Kalau rewel ini biasanya businya,” kata pemuda yang tak lain pemilik skuter itu.

Tak berselang lama, skuter pun hidup dengan suara khas, nyaring dan cempreng. “Alhamdulillah,” sahutnya lagi, setelah motor bisa distarter. Lalu, sang pemilik kembali memasukkan engkol busi tersebut ke dalam tas kecil miliknya.

Sepertinya, engkol busi itu sama pentingnya dengan kontak motor. “Engkol busi dan busi sudah seperti sangu (bekal, Red) perjalanan,” kata pemilik skuter itu, yang diketahui bernama Ikhwan Ramadhani.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ia mengaku jarang memasukkan engkol busi ke dalam jok bagasi motornya. Lebih sering ia kantongi. Katanya, kalau ketemu kawan sesama pencinta skuter di jalanan, lalu motornya mogok, hal itu bisa sangat membantu.

Motor vespa keluaran 1981 ini memang diakuinya langganan mogok. Boros bahan bakar pula. Apalagi saat dibawa jalan-jalan, rewelnya gak ketulungan. Namun, bagi pencintanya, seperti Ikhwan ini, mereka tidak pernah kapok.

Malahan, motor tua miliknya itu sudah langganan dikendarai menempuh perjalanan jauh. Misalnya ke Malang. “Pernah dulu ke Malang, touring. Selama perjalanan mogok tiga kali,” aku pemuda yang juga mahasiswa di Universitas Negeri Malang ini.

Tak heran, ke mana-mana, Ikhwan selalu membawa engkol busi. Bahkan saat ia tidak membawa skuternya, engkol busi masih tetap dikantonginya. Hal itu ia lakukan bila sewaktu-waktu ketemu dengan kawan skuter lain yang mogok. Ia bisa membantu. “Serunya juga di situ. Ketemu kawan skuter di jalan, seperti ketemu dulur (saudara, Red) baru,” katanya.

Skuter miliknya ia dapatkan sejak masih duduk di bangku SMP. Saat itu, Ikhwan mengaku sudah kepincut dengan bodi skuter yang tiada duanya. Ia pun mendapatkan motor klasik itu dari seorang pemakai yang dibelinya seharga Rp 2,5 juta pada 2014 lalu.

Skuter miliknya memang tampil sedikit beda. Mengusung tampilan klasik, namun tetap kekinian. Kata Ikhwan, ia harus merogoh kocek total Rp 23 juta untuk membuat tampilan sang skuter makin ciamik.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Engkol busi itu masih tergeletak, tak jauh dari skuter hitam. Di sekitarnya, terlihat seorang pemuda tengah berupaya menghidupkan motor itu. Sepertinya ia kesulitan. Sekali dua kali, motor tak langsung hidup. “Kalau rewel ini biasanya businya,” kata pemuda yang tak lain pemilik skuter itu.

Tak berselang lama, skuter pun hidup dengan suara khas, nyaring dan cempreng. “Alhamdulillah,” sahutnya lagi, setelah motor bisa distarter. Lalu, sang pemilik kembali memasukkan engkol busi tersebut ke dalam tas kecil miliknya.

Sepertinya, engkol busi itu sama pentingnya dengan kontak motor. “Engkol busi dan busi sudah seperti sangu (bekal, Red) perjalanan,” kata pemilik skuter itu, yang diketahui bernama Ikhwan Ramadhani.

Ia mengaku jarang memasukkan engkol busi ke dalam jok bagasi motornya. Lebih sering ia kantongi. Katanya, kalau ketemu kawan sesama pencinta skuter di jalanan, lalu motornya mogok, hal itu bisa sangat membantu.

Motor vespa keluaran 1981 ini memang diakuinya langganan mogok. Boros bahan bakar pula. Apalagi saat dibawa jalan-jalan, rewelnya gak ketulungan. Namun, bagi pencintanya, seperti Ikhwan ini, mereka tidak pernah kapok.

Malahan, motor tua miliknya itu sudah langganan dikendarai menempuh perjalanan jauh. Misalnya ke Malang. “Pernah dulu ke Malang, touring. Selama perjalanan mogok tiga kali,” aku pemuda yang juga mahasiswa di Universitas Negeri Malang ini.

Tak heran, ke mana-mana, Ikhwan selalu membawa engkol busi. Bahkan saat ia tidak membawa skuternya, engkol busi masih tetap dikantonginya. Hal itu ia lakukan bila sewaktu-waktu ketemu dengan kawan skuter lain yang mogok. Ia bisa membantu. “Serunya juga di situ. Ketemu kawan skuter di jalan, seperti ketemu dulur (saudara, Red) baru,” katanya.

Skuter miliknya ia dapatkan sejak masih duduk di bangku SMP. Saat itu, Ikhwan mengaku sudah kepincut dengan bodi skuter yang tiada duanya. Ia pun mendapatkan motor klasik itu dari seorang pemakai yang dibelinya seharga Rp 2,5 juta pada 2014 lalu.

Skuter miliknya memang tampil sedikit beda. Mengusung tampilan klasik, namun tetap kekinian. Kata Ikhwan, ia harus merogoh kocek total Rp 23 juta untuk membuat tampilan sang skuter makin ciamik.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Engkol busi itu masih tergeletak, tak jauh dari skuter hitam. Di sekitarnya, terlihat seorang pemuda tengah berupaya menghidupkan motor itu. Sepertinya ia kesulitan. Sekali dua kali, motor tak langsung hidup. “Kalau rewel ini biasanya businya,” kata pemuda yang tak lain pemilik skuter itu.

Tak berselang lama, skuter pun hidup dengan suara khas, nyaring dan cempreng. “Alhamdulillah,” sahutnya lagi, setelah motor bisa distarter. Lalu, sang pemilik kembali memasukkan engkol busi tersebut ke dalam tas kecil miliknya.

Sepertinya, engkol busi itu sama pentingnya dengan kontak motor. “Engkol busi dan busi sudah seperti sangu (bekal, Red) perjalanan,” kata pemilik skuter itu, yang diketahui bernama Ikhwan Ramadhani.

Ia mengaku jarang memasukkan engkol busi ke dalam jok bagasi motornya. Lebih sering ia kantongi. Katanya, kalau ketemu kawan sesama pencinta skuter di jalanan, lalu motornya mogok, hal itu bisa sangat membantu.

Motor vespa keluaran 1981 ini memang diakuinya langganan mogok. Boros bahan bakar pula. Apalagi saat dibawa jalan-jalan, rewelnya gak ketulungan. Namun, bagi pencintanya, seperti Ikhwan ini, mereka tidak pernah kapok.

Malahan, motor tua miliknya itu sudah langganan dikendarai menempuh perjalanan jauh. Misalnya ke Malang. “Pernah dulu ke Malang, touring. Selama perjalanan mogok tiga kali,” aku pemuda yang juga mahasiswa di Universitas Negeri Malang ini.

Tak heran, ke mana-mana, Ikhwan selalu membawa engkol busi. Bahkan saat ia tidak membawa skuternya, engkol busi masih tetap dikantonginya. Hal itu ia lakukan bila sewaktu-waktu ketemu dengan kawan skuter lain yang mogok. Ia bisa membantu. “Serunya juga di situ. Ketemu kawan skuter di jalan, seperti ketemu dulur (saudara, Red) baru,” katanya.

Skuter miliknya ia dapatkan sejak masih duduk di bangku SMP. Saat itu, Ikhwan mengaku sudah kepincut dengan bodi skuter yang tiada duanya. Ia pun mendapatkan motor klasik itu dari seorang pemakai yang dibelinya seharga Rp 2,5 juta pada 2014 lalu.

Skuter miliknya memang tampil sedikit beda. Mengusung tampilan klasik, namun tetap kekinian. Kata Ikhwan, ia harus merogoh kocek total Rp 23 juta untuk membuat tampilan sang skuter makin ciamik.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/