alexametrics
28.2 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Tak Tentukan Tarif, Job Manggung Dianggap Sarana Menyalurkan Hobi

Tiap pekerjaan rupanya tidak selalu untuk mencari rupiah. Ada beberapa yang tujuannya sekadar hiburan atau menjalankan hobi saja. Padahal biaya yang dikeluarkan tak sedikit. Seperti para pecinta sound dan truk mini. Bagi mereka, ada job berarti kesempatan menyalurkan hobi.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gelegar suara sound siang itu cukup nyaring. Dari radius sekitar 100 meter, suaranya masih kuat terdengar. Dari sumber suara, mengarah ke salah satu rumah, di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Pakusari.

Di dalam rumah, tampak sejumlah anak usia SMP dan beberapa warga nongkrong. Di antara mereka ada salah seorang operator sound mini. Karena menarik perhatian, Jawa Pos Radar Jember mendatangi mereka. Cukup meriah. Padahal saat itu bukan sedang ada acara hajatan. “Ini anak-anak mau latihan,” ucap salah seorang warga yang menonton.

Rupanya, anak-anak dan sejumlah pemuda itu hendak latihan menari. Sambil menantikan sound disetel, mereka bikin gerakan koreografi khas jogetan sound remix. Entah siapa yang mengajari, mereka tampak lihai menari, mengikuti irama musik remix dari sound di truk mini tersebut. “Begini kalau mau ada job, kami latihan dulu,” kata Buhari Ningsih, pemilik sound dan truk mini yang sekaligus bertindak sebagai operator.

Mobile_AP_Rectangle 2

Buhari menjelaskan rutinitas di waktu senggangnya itu. Sound dan truk mini miliknya memang didesain sederhana. Bentuknya kecil. Namun, cukup untuk mengangkut sound yang memiliki bobot sekitar 40 kilogram, beserta gensetnya. Biasanya, kedua barang mini itu dibawa manggung saat ada job. Misalnya acara hajatan seperti sunatan, nikahan, lepas pisah santri pondok pesantren alias imtihan, atau acara lain sejenisnya.

Tiap manggung, Buhari mengaku harus merogoh kocek Rp 50 ribuan untuk operasional bahan bakar. Namun soal tarif, ternyata ia tidak memasang harga khusus. Bukannya enggan bersaing dengan sound mini lainnya, tapi tarif itu diakuinya tidak menjadi dasar atas aktivitas mereka. “Ini sebagai hobi saja. Meski capek, keluar biaya banyak, kami menikmati. Anak-anak juga,” katanya.

Biasanya, saat manggung untuk sekitar Pakusari, kelompok musik sound mini itu membanderol Rp 250-300 ribu. Padahal dalam satu kru, Buhari membawahi sekitar 25 orang. Sekaligus para penari. Jelas, kalau hitung-hitungan mereka digaji berapa, kecil dapatnya. “Memang bukan pekerjaan, tapi ini hobi,” tegasnya.

Saat itu, mereka memang hendak manggung ke salah satu acara imtihan, di sebuah desa di Kecamatan Pakusari. Bagi mereka, aktivitas tersebut dianggap sebagai ajang menyalurkan hobi. Hitung-hitung, juga menghibur masyarakat setempat.

Mereka bukan muncul sebulan dua bulan, tapi sudah beberapa tahun yang lalu. Modelnya pun sama, mereka tidak memasang tarif tinggi karena itu dinilainya sebagai menyalurkan hobi. “Jauh dekat sama saja. Paling tuan rumah yang mengundang kami menambahkan ongkos bahan bakar saja,” tambah Buhari.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gelegar suara sound siang itu cukup nyaring. Dari radius sekitar 100 meter, suaranya masih kuat terdengar. Dari sumber suara, mengarah ke salah satu rumah, di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Pakusari.

Di dalam rumah, tampak sejumlah anak usia SMP dan beberapa warga nongkrong. Di antara mereka ada salah seorang operator sound mini. Karena menarik perhatian, Jawa Pos Radar Jember mendatangi mereka. Cukup meriah. Padahal saat itu bukan sedang ada acara hajatan. “Ini anak-anak mau latihan,” ucap salah seorang warga yang menonton.

Rupanya, anak-anak dan sejumlah pemuda itu hendak latihan menari. Sambil menantikan sound disetel, mereka bikin gerakan koreografi khas jogetan sound remix. Entah siapa yang mengajari, mereka tampak lihai menari, mengikuti irama musik remix dari sound di truk mini tersebut. “Begini kalau mau ada job, kami latihan dulu,” kata Buhari Ningsih, pemilik sound dan truk mini yang sekaligus bertindak sebagai operator.

Buhari menjelaskan rutinitas di waktu senggangnya itu. Sound dan truk mini miliknya memang didesain sederhana. Bentuknya kecil. Namun, cukup untuk mengangkut sound yang memiliki bobot sekitar 40 kilogram, beserta gensetnya. Biasanya, kedua barang mini itu dibawa manggung saat ada job. Misalnya acara hajatan seperti sunatan, nikahan, lepas pisah santri pondok pesantren alias imtihan, atau acara lain sejenisnya.

Tiap manggung, Buhari mengaku harus merogoh kocek Rp 50 ribuan untuk operasional bahan bakar. Namun soal tarif, ternyata ia tidak memasang harga khusus. Bukannya enggan bersaing dengan sound mini lainnya, tapi tarif itu diakuinya tidak menjadi dasar atas aktivitas mereka. “Ini sebagai hobi saja. Meski capek, keluar biaya banyak, kami menikmati. Anak-anak juga,” katanya.

Biasanya, saat manggung untuk sekitar Pakusari, kelompok musik sound mini itu membanderol Rp 250-300 ribu. Padahal dalam satu kru, Buhari membawahi sekitar 25 orang. Sekaligus para penari. Jelas, kalau hitung-hitungan mereka digaji berapa, kecil dapatnya. “Memang bukan pekerjaan, tapi ini hobi,” tegasnya.

Saat itu, mereka memang hendak manggung ke salah satu acara imtihan, di sebuah desa di Kecamatan Pakusari. Bagi mereka, aktivitas tersebut dianggap sebagai ajang menyalurkan hobi. Hitung-hitung, juga menghibur masyarakat setempat.

Mereka bukan muncul sebulan dua bulan, tapi sudah beberapa tahun yang lalu. Modelnya pun sama, mereka tidak memasang tarif tinggi karena itu dinilainya sebagai menyalurkan hobi. “Jauh dekat sama saja. Paling tuan rumah yang mengundang kami menambahkan ongkos bahan bakar saja,” tambah Buhari.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gelegar suara sound siang itu cukup nyaring. Dari radius sekitar 100 meter, suaranya masih kuat terdengar. Dari sumber suara, mengarah ke salah satu rumah, di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Pakusari.

Di dalam rumah, tampak sejumlah anak usia SMP dan beberapa warga nongkrong. Di antara mereka ada salah seorang operator sound mini. Karena menarik perhatian, Jawa Pos Radar Jember mendatangi mereka. Cukup meriah. Padahal saat itu bukan sedang ada acara hajatan. “Ini anak-anak mau latihan,” ucap salah seorang warga yang menonton.

Rupanya, anak-anak dan sejumlah pemuda itu hendak latihan menari. Sambil menantikan sound disetel, mereka bikin gerakan koreografi khas jogetan sound remix. Entah siapa yang mengajari, mereka tampak lihai menari, mengikuti irama musik remix dari sound di truk mini tersebut. “Begini kalau mau ada job, kami latihan dulu,” kata Buhari Ningsih, pemilik sound dan truk mini yang sekaligus bertindak sebagai operator.

Buhari menjelaskan rutinitas di waktu senggangnya itu. Sound dan truk mini miliknya memang didesain sederhana. Bentuknya kecil. Namun, cukup untuk mengangkut sound yang memiliki bobot sekitar 40 kilogram, beserta gensetnya. Biasanya, kedua barang mini itu dibawa manggung saat ada job. Misalnya acara hajatan seperti sunatan, nikahan, lepas pisah santri pondok pesantren alias imtihan, atau acara lain sejenisnya.

Tiap manggung, Buhari mengaku harus merogoh kocek Rp 50 ribuan untuk operasional bahan bakar. Namun soal tarif, ternyata ia tidak memasang harga khusus. Bukannya enggan bersaing dengan sound mini lainnya, tapi tarif itu diakuinya tidak menjadi dasar atas aktivitas mereka. “Ini sebagai hobi saja. Meski capek, keluar biaya banyak, kami menikmati. Anak-anak juga,” katanya.

Biasanya, saat manggung untuk sekitar Pakusari, kelompok musik sound mini itu membanderol Rp 250-300 ribu. Padahal dalam satu kru, Buhari membawahi sekitar 25 orang. Sekaligus para penari. Jelas, kalau hitung-hitungan mereka digaji berapa, kecil dapatnya. “Memang bukan pekerjaan, tapi ini hobi,” tegasnya.

Saat itu, mereka memang hendak manggung ke salah satu acara imtihan, di sebuah desa di Kecamatan Pakusari. Bagi mereka, aktivitas tersebut dianggap sebagai ajang menyalurkan hobi. Hitung-hitung, juga menghibur masyarakat setempat.

Mereka bukan muncul sebulan dua bulan, tapi sudah beberapa tahun yang lalu. Modelnya pun sama, mereka tidak memasang tarif tinggi karena itu dinilainya sebagai menyalurkan hobi. “Jauh dekat sama saja. Paling tuan rumah yang mengundang kami menambahkan ongkos bahan bakar saja,” tambah Buhari.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/