alexametrics
22.8 C
Jember
Friday, 27 May 2022

ABK Hilang Belum Ditemukan

Polair Anjurkan Nelayan Gunakan Pelampung

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tim pencari masih terus berupaya menemukan anak buah kapal (ABK) yang hilang pada tragedi tenggelamnya perahu di jalur Plawangan, Pantai Pancer, Kecamatan Puger, Selasa (23/3). Penyisiran dilakukan di beberapa titik lewat jalur darat. Namun hingga kemarin (24/3), nelayan asal Kabupaten Malang itu belum juga ditemukan.

Pascakecelakaan laut yang mengakibatkan empat jukung hancur dan satu rusak parah itu kondisi ombak juga belum bersahabat. Ombak terpantau masih cukup tinggi hingga membuat sejumlah nelayan urung melaut. Satpolair Polres Jember di Puger juga sudah memasang bendera agar nelayan tak melaut. Bendera warna hitam itu terpasang di dermaga dekat tempat pelelangan ikan (TPI) di Desa Puger Kulon.

Meski begitu, tetap saja ada nelayan yang nekat melaut. Mereka menerjang ganasnya ombak demi mencari ikan di lautan. “Kecelakaan laut di Plawangan Puger sudah biasa. Nelayan juga masih ada yang berangkat meskipun ombak besar,” kata Sodiq, nelayan asal Puger Kulon.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain Plawangan memang dikenal sebagai jalur maut, kecelakaan yang merenggut korban itu juga disumbang oleh sebagian nelayan yang enggan memakai pelampung. Padahal fungsi jaket apung itu jelas untuk keselamatan mereka. Nelayan lokal yang tak menggunakan alat pelindung diri itu menganggap, pemakaian pelampung merupakan bentuk najab alias perilaku yang justru mengundang malapetaka. “Padahal, ketika menggunakan pelampung dan terjadi kecelakaan, mereka masih bisa bertahan untuk berenang,” jelas Iptu Muhammad Na’i, Kasat Polair Polres Jember.

Ia juga membenarkan, nelayan baru sebagian yang mau menggunakan pelampung. Pihaknya juga kerap mengimbau agar nelayan rajin menggunakan pelampung untuk keselamatan. Sebab, risiko diterjang ombak besar tidak pernah diketahui pasti. Bisa menimpa kapan saja dan siapa saja.

Seusai laka laut itu, pihaknya juga memberi imbauan kepada nelayan setempat agar sementara libur melaut dulu karena faktor cuaca. “Kecelakaan saat pulang melaut sudah dianggap biasa, sehingga dengan kejadian ini, nelayan juga menganggap biasa,” kata Na’i.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tim pencari masih terus berupaya menemukan anak buah kapal (ABK) yang hilang pada tragedi tenggelamnya perahu di jalur Plawangan, Pantai Pancer, Kecamatan Puger, Selasa (23/3). Penyisiran dilakukan di beberapa titik lewat jalur darat. Namun hingga kemarin (24/3), nelayan asal Kabupaten Malang itu belum juga ditemukan.

Pascakecelakaan laut yang mengakibatkan empat jukung hancur dan satu rusak parah itu kondisi ombak juga belum bersahabat. Ombak terpantau masih cukup tinggi hingga membuat sejumlah nelayan urung melaut. Satpolair Polres Jember di Puger juga sudah memasang bendera agar nelayan tak melaut. Bendera warna hitam itu terpasang di dermaga dekat tempat pelelangan ikan (TPI) di Desa Puger Kulon.

Meski begitu, tetap saja ada nelayan yang nekat melaut. Mereka menerjang ganasnya ombak demi mencari ikan di lautan. “Kecelakaan laut di Plawangan Puger sudah biasa. Nelayan juga masih ada yang berangkat meskipun ombak besar,” kata Sodiq, nelayan asal Puger Kulon.

Selain Plawangan memang dikenal sebagai jalur maut, kecelakaan yang merenggut korban itu juga disumbang oleh sebagian nelayan yang enggan memakai pelampung. Padahal fungsi jaket apung itu jelas untuk keselamatan mereka. Nelayan lokal yang tak menggunakan alat pelindung diri itu menganggap, pemakaian pelampung merupakan bentuk najab alias perilaku yang justru mengundang malapetaka. “Padahal, ketika menggunakan pelampung dan terjadi kecelakaan, mereka masih bisa bertahan untuk berenang,” jelas Iptu Muhammad Na’i, Kasat Polair Polres Jember.

Ia juga membenarkan, nelayan baru sebagian yang mau menggunakan pelampung. Pihaknya juga kerap mengimbau agar nelayan rajin menggunakan pelampung untuk keselamatan. Sebab, risiko diterjang ombak besar tidak pernah diketahui pasti. Bisa menimpa kapan saja dan siapa saja.

Seusai laka laut itu, pihaknya juga memberi imbauan kepada nelayan setempat agar sementara libur melaut dulu karena faktor cuaca. “Kecelakaan saat pulang melaut sudah dianggap biasa, sehingga dengan kejadian ini, nelayan juga menganggap biasa,” kata Na’i.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tim pencari masih terus berupaya menemukan anak buah kapal (ABK) yang hilang pada tragedi tenggelamnya perahu di jalur Plawangan, Pantai Pancer, Kecamatan Puger, Selasa (23/3). Penyisiran dilakukan di beberapa titik lewat jalur darat. Namun hingga kemarin (24/3), nelayan asal Kabupaten Malang itu belum juga ditemukan.

Pascakecelakaan laut yang mengakibatkan empat jukung hancur dan satu rusak parah itu kondisi ombak juga belum bersahabat. Ombak terpantau masih cukup tinggi hingga membuat sejumlah nelayan urung melaut. Satpolair Polres Jember di Puger juga sudah memasang bendera agar nelayan tak melaut. Bendera warna hitam itu terpasang di dermaga dekat tempat pelelangan ikan (TPI) di Desa Puger Kulon.

Meski begitu, tetap saja ada nelayan yang nekat melaut. Mereka menerjang ganasnya ombak demi mencari ikan di lautan. “Kecelakaan laut di Plawangan Puger sudah biasa. Nelayan juga masih ada yang berangkat meskipun ombak besar,” kata Sodiq, nelayan asal Puger Kulon.

Selain Plawangan memang dikenal sebagai jalur maut, kecelakaan yang merenggut korban itu juga disumbang oleh sebagian nelayan yang enggan memakai pelampung. Padahal fungsi jaket apung itu jelas untuk keselamatan mereka. Nelayan lokal yang tak menggunakan alat pelindung diri itu menganggap, pemakaian pelampung merupakan bentuk najab alias perilaku yang justru mengundang malapetaka. “Padahal, ketika menggunakan pelampung dan terjadi kecelakaan, mereka masih bisa bertahan untuk berenang,” jelas Iptu Muhammad Na’i, Kasat Polair Polres Jember.

Ia juga membenarkan, nelayan baru sebagian yang mau menggunakan pelampung. Pihaknya juga kerap mengimbau agar nelayan rajin menggunakan pelampung untuk keselamatan. Sebab, risiko diterjang ombak besar tidak pernah diketahui pasti. Bisa menimpa kapan saja dan siapa saja.

Seusai laka laut itu, pihaknya juga memberi imbauan kepada nelayan setempat agar sementara libur melaut dulu karena faktor cuaca. “Kecelakaan saat pulang melaut sudah dianggap biasa, sehingga dengan kejadian ini, nelayan juga menganggap biasa,” kata Na’i.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/