alexametrics
23.5 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Di Usia Senja, Buka Kursus dengan Biaya Sak Paring-Paring

Usia senja tak menghalangi Bu Min terus berjuang di dunia pendidikan. Sejak menjadi guru pada 1971 lalu, hingga kini dia tetap mangajar bocah-bocah SD di lingkungan rumahnya. Bagi perempuan 69 tahun ini, pendidikan telah menjadi nadi dalam hidupnya. Bagaimana kisahnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Bu Min sedang merampungkan jahitan sarung bantal berwarna merah. Menjahit dan membuat kue menjadi kesibukannya pascapensiun menjadi guru di tahun 2008 lalu. Walau telah purna tugas, tapi perempuan bernama lengkap Mindayani Affiar ini tetap mendedikasikan diri untuk dunia pendidikan. Dia membuka kursus untuk anak-anak di sekitar rumahnya.

Namun, sejak pandemi melanda, rumah kursus miliknya terpaksa libur. Sebab, anak-anak khawatir Bu Min terinfeksi virus Covid-19 yang terbawa oleh bocah yang belajar di rumahnya. Maklum, di usianya yang menginjak 70 tahun, kondisi fisik Bu Min cukup rentan tertular virus yang kali pertama menyebar di Kota Wuhan, Tiongkok, tersebut.

Kursusan milik Bu Min memang berbeda. Dia tidak pernah mematok tarif bagi siswa yang belajar di rumahnya. Begitupun dengan waktu belajar. Tidak ada durasi waktu yang terikat. Jika dirasa sudah selesai, maka Bu Min akan mengakhiri proses pembelajaran. Namun, umumnya pembelajaran berlangsung selama satu jam. “Kalau wali murid nanya berapa, saya bilang sak paring-paring (seikhlasnya, Red),” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Rumah kursus milik Bu Min telah ada sejak 1990-an. Dulu, motivasinya mendirikan tempat kursus hanya untuk memberikan wadah belajar bagi anak-anak di kompleks perumahannya. Lambat laun, rumah yang terletak di Jalan Bungur nomor 41 Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, ini dikenal masyarakat sebagai tempat kursusan siswa SD. Karenanya, di tahun-tahun itu, rumah itu ramai dibidik wali murid.

Siswanya datang dari berbagai kalangan dan kelas ekonomi yang berbeda. Kendati demikian, Bu Min tetap istiqamah mengajak anak-anak dari kelas ekonomi menengah ke bawah agar berkunjung ke rumahnya untuk ikut belajar. “Anak tukang pisang yang jual di jalanan, anak-anak tukang sayur. Pokoknya mereka yang punya semangat tinggi untuk maju,” kata mantan Kepala SD Shinta di Talangsari tersebut.

Sekitar dua dekade lalu, program kursusan Bu Min dikelola bersama suaminya, Strafanos Vincencius Affiar. Bu Min mengajar sebagai guru matematika, sedangkan suaminya mengajari pelajaran Bahasa Inggris.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Bu Min sedang merampungkan jahitan sarung bantal berwarna merah. Menjahit dan membuat kue menjadi kesibukannya pascapensiun menjadi guru di tahun 2008 lalu. Walau telah purna tugas, tapi perempuan bernama lengkap Mindayani Affiar ini tetap mendedikasikan diri untuk dunia pendidikan. Dia membuka kursus untuk anak-anak di sekitar rumahnya.

Namun, sejak pandemi melanda, rumah kursus miliknya terpaksa libur. Sebab, anak-anak khawatir Bu Min terinfeksi virus Covid-19 yang terbawa oleh bocah yang belajar di rumahnya. Maklum, di usianya yang menginjak 70 tahun, kondisi fisik Bu Min cukup rentan tertular virus yang kali pertama menyebar di Kota Wuhan, Tiongkok, tersebut.

Kursusan milik Bu Min memang berbeda. Dia tidak pernah mematok tarif bagi siswa yang belajar di rumahnya. Begitupun dengan waktu belajar. Tidak ada durasi waktu yang terikat. Jika dirasa sudah selesai, maka Bu Min akan mengakhiri proses pembelajaran. Namun, umumnya pembelajaran berlangsung selama satu jam. “Kalau wali murid nanya berapa, saya bilang sak paring-paring (seikhlasnya, Red),” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Rumah kursus milik Bu Min telah ada sejak 1990-an. Dulu, motivasinya mendirikan tempat kursus hanya untuk memberikan wadah belajar bagi anak-anak di kompleks perumahannya. Lambat laun, rumah yang terletak di Jalan Bungur nomor 41 Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, ini dikenal masyarakat sebagai tempat kursusan siswa SD. Karenanya, di tahun-tahun itu, rumah itu ramai dibidik wali murid.

Siswanya datang dari berbagai kalangan dan kelas ekonomi yang berbeda. Kendati demikian, Bu Min tetap istiqamah mengajak anak-anak dari kelas ekonomi menengah ke bawah agar berkunjung ke rumahnya untuk ikut belajar. “Anak tukang pisang yang jual di jalanan, anak-anak tukang sayur. Pokoknya mereka yang punya semangat tinggi untuk maju,” kata mantan Kepala SD Shinta di Talangsari tersebut.

Sekitar dua dekade lalu, program kursusan Bu Min dikelola bersama suaminya, Strafanos Vincencius Affiar. Bu Min mengajar sebagai guru matematika, sedangkan suaminya mengajari pelajaran Bahasa Inggris.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Bu Min sedang merampungkan jahitan sarung bantal berwarna merah. Menjahit dan membuat kue menjadi kesibukannya pascapensiun menjadi guru di tahun 2008 lalu. Walau telah purna tugas, tapi perempuan bernama lengkap Mindayani Affiar ini tetap mendedikasikan diri untuk dunia pendidikan. Dia membuka kursus untuk anak-anak di sekitar rumahnya.

Namun, sejak pandemi melanda, rumah kursus miliknya terpaksa libur. Sebab, anak-anak khawatir Bu Min terinfeksi virus Covid-19 yang terbawa oleh bocah yang belajar di rumahnya. Maklum, di usianya yang menginjak 70 tahun, kondisi fisik Bu Min cukup rentan tertular virus yang kali pertama menyebar di Kota Wuhan, Tiongkok, tersebut.

Kursusan milik Bu Min memang berbeda. Dia tidak pernah mematok tarif bagi siswa yang belajar di rumahnya. Begitupun dengan waktu belajar. Tidak ada durasi waktu yang terikat. Jika dirasa sudah selesai, maka Bu Min akan mengakhiri proses pembelajaran. Namun, umumnya pembelajaran berlangsung selama satu jam. “Kalau wali murid nanya berapa, saya bilang sak paring-paring (seikhlasnya, Red),” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Rumah kursus milik Bu Min telah ada sejak 1990-an. Dulu, motivasinya mendirikan tempat kursus hanya untuk memberikan wadah belajar bagi anak-anak di kompleks perumahannya. Lambat laun, rumah yang terletak di Jalan Bungur nomor 41 Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, ini dikenal masyarakat sebagai tempat kursusan siswa SD. Karenanya, di tahun-tahun itu, rumah itu ramai dibidik wali murid.

Siswanya datang dari berbagai kalangan dan kelas ekonomi yang berbeda. Kendati demikian, Bu Min tetap istiqamah mengajak anak-anak dari kelas ekonomi menengah ke bawah agar berkunjung ke rumahnya untuk ikut belajar. “Anak tukang pisang yang jual di jalanan, anak-anak tukang sayur. Pokoknya mereka yang punya semangat tinggi untuk maju,” kata mantan Kepala SD Shinta di Talangsari tersebut.

Sekitar dua dekade lalu, program kursusan Bu Min dikelola bersama suaminya, Strafanos Vincencius Affiar. Bu Min mengajar sebagai guru matematika, sedangkan suaminya mengajari pelajaran Bahasa Inggris.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/