alexametrics
23.1 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Disangka Penampungan Orang Gila, Sempat Mengalami Penolakan

Mendengar bengkel jiwa, yang tergambar pertama adalah tempat penampungan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Padahal, yayasan ini sebenarnya menyembuhkan dan melindungi anak-anak di bawah umur. Terutama anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Bagaimana perjalanannya?

Mobile_AP_Rectangle 1

Setelah mendapatkan kontrakan dengan empat kali percobaan, pihaknya mulai mengatur strategi terkait dengan apa saja yang bakal dilakukan pada anak-anak terpidana itu. Langkah-langkah yang diambil pun beragam. Salah satunya dengan mengadakan pelatihan kerja bertajuk kolaborasi dengan masyarakat. Mulai dari bengkel las, motor, hingga mobil. “Alhamdulillah, masyarakat sekitar tidak anti dan malah mendukung,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Untung, pengawas di Yayasan Bengkel Jiwa, mengungkapkan, pendirian bengkel jiwa ini merupakan bentuk semangat untuk memberikan hak kepada para pelaku kriminalitas di bawah umur. “Bagaimanapun, mereka tidak boleh dibarengkan dengan tahanan orang dewasa,” tegas pria yang juga menjadi pembimbing kemasyarakatan di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Jember tersebut.

Sebetulnya, para pelaku yang berusia di bawah umur tersebut juga termasuk korban. Mereka terkontaminasi akibat pergaulan dan lingkungan. Karena itu, mereka kerap berani melakukan kejahatan seperti pencurian, penganiayaan, menjual obat-obatan terlarang, hingga kekerasan seksual. “Karena itu, mereka butuh diperhatikan supaya kembali menjadi pribadi yang baik,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun, hingga kini pihaknya belum mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, termasuk Dinas Sosial dan pemerintah daerah. Alhasil, untuk menghidupi ABH tersebut, mereka harus patungan sesama pengurus. Selama yayasan itu berdiri, sebanyak 21 ABH sudah tertangani. “Sekarang tinggal dua anak. Semoga tidak ada tindak kejahatan yang diakibatkan oleh anak-anak lagi,” katanya.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Isnein Purnomo
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Setelah mendapatkan kontrakan dengan empat kali percobaan, pihaknya mulai mengatur strategi terkait dengan apa saja yang bakal dilakukan pada anak-anak terpidana itu. Langkah-langkah yang diambil pun beragam. Salah satunya dengan mengadakan pelatihan kerja bertajuk kolaborasi dengan masyarakat. Mulai dari bengkel las, motor, hingga mobil. “Alhamdulillah, masyarakat sekitar tidak anti dan malah mendukung,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Untung, pengawas di Yayasan Bengkel Jiwa, mengungkapkan, pendirian bengkel jiwa ini merupakan bentuk semangat untuk memberikan hak kepada para pelaku kriminalitas di bawah umur. “Bagaimanapun, mereka tidak boleh dibarengkan dengan tahanan orang dewasa,” tegas pria yang juga menjadi pembimbing kemasyarakatan di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Jember tersebut.

Sebetulnya, para pelaku yang berusia di bawah umur tersebut juga termasuk korban. Mereka terkontaminasi akibat pergaulan dan lingkungan. Karena itu, mereka kerap berani melakukan kejahatan seperti pencurian, penganiayaan, menjual obat-obatan terlarang, hingga kekerasan seksual. “Karena itu, mereka butuh diperhatikan supaya kembali menjadi pribadi yang baik,” ujarnya.

Namun, hingga kini pihaknya belum mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, termasuk Dinas Sosial dan pemerintah daerah. Alhasil, untuk menghidupi ABH tersebut, mereka harus patungan sesama pengurus. Selama yayasan itu berdiri, sebanyak 21 ABH sudah tertangani. “Sekarang tinggal dua anak. Semoga tidak ada tindak kejahatan yang diakibatkan oleh anak-anak lagi,” katanya.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Isnein Purnomo
Redaktur : Mahrus Sholih

Setelah mendapatkan kontrakan dengan empat kali percobaan, pihaknya mulai mengatur strategi terkait dengan apa saja yang bakal dilakukan pada anak-anak terpidana itu. Langkah-langkah yang diambil pun beragam. Salah satunya dengan mengadakan pelatihan kerja bertajuk kolaborasi dengan masyarakat. Mulai dari bengkel las, motor, hingga mobil. “Alhamdulillah, masyarakat sekitar tidak anti dan malah mendukung,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Untung, pengawas di Yayasan Bengkel Jiwa, mengungkapkan, pendirian bengkel jiwa ini merupakan bentuk semangat untuk memberikan hak kepada para pelaku kriminalitas di bawah umur. “Bagaimanapun, mereka tidak boleh dibarengkan dengan tahanan orang dewasa,” tegas pria yang juga menjadi pembimbing kemasyarakatan di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Jember tersebut.

Sebetulnya, para pelaku yang berusia di bawah umur tersebut juga termasuk korban. Mereka terkontaminasi akibat pergaulan dan lingkungan. Karena itu, mereka kerap berani melakukan kejahatan seperti pencurian, penganiayaan, menjual obat-obatan terlarang, hingga kekerasan seksual. “Karena itu, mereka butuh diperhatikan supaya kembali menjadi pribadi yang baik,” ujarnya.

Namun, hingga kini pihaknya belum mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, termasuk Dinas Sosial dan pemerintah daerah. Alhasil, untuk menghidupi ABH tersebut, mereka harus patungan sesama pengurus. Selama yayasan itu berdiri, sebanyak 21 ABH sudah tertangani. “Sekarang tinggal dua anak. Semoga tidak ada tindak kejahatan yang diakibatkan oleh anak-anak lagi,” katanya.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Isnein Purnomo
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/