alexametrics
21.3 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Disangka Penampungan Orang Gila, Sempat Mengalami Penolakan

Mendengar bengkel jiwa, yang tergambar pertama adalah tempat penampungan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Padahal, yayasan ini sebenarnya menyembuhkan dan melindungi anak-anak di bawah umur. Terutama anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Bagaimana perjalanannya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Obrolan beberapa orang di salah satu rumah kontrakan itu terdengar lantang dari halaman. Tepatnya di Jalan Sri Tanjung, RT 3, RW 11, Lingkungan Kaliwining, Kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari. Diskusi mereka begitu gayeng hingga tergambar ambisi dan optimisme tentang masa depan ABH.

“Jadi, misi kami bukan hanya penanganan, melainkan pencegahan juga,” tutur Agus kepada rekan-rekannya. Kalimat itu selanjutnya direspons para pengurus lain dengan berbagai opsi dan rangkaian perencanaan yang ciamik.

Setidaknya, ada lima orang yang kala itu sedang menjalankan tugas piket di yayasan tersebut. Namanya Yayasan Bengkel Jiwa. Pria yang bernama lengkap Agus Wahyu Permana itu adalah ketua yayasannya. Dia menjelaskan, tempat itu merupakan lembaga yang berdiri untuk menangani, melindungi, serta mendidik para tahanan anak di Kabupaten Jember. Juga menampung anak dari luar daerah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Agus menuturkan, yayasan ini berdiri sejak 29 Februari 2019 lalu. Pengalaman semasa bekerja menjadi pekerja sosial (peksos) di Surabaya menjadi bekal dirinya untuk menangani kasus-kasus yang dilakukan atau dialami oleh anak di bawah 18 tahun. Sebab, dia menemui beberapa anak yang ditindak secara hukum lantaran melakukan tindak pidana. Seperti mengonsumsi sekaligus mengedarkan ganja, kekerasan seksual, penjambretan, serta pembegalan. Padahal, sikap beberapa pelaku tidak menunjukkan anak nakal.

Pengalamannya menangani anak pelaku serta korban kriminalitas selama di Surabaya tersebut menjadi motivasi tersendiri saat dipindahtugaskan di Kabupaten Jember. “Mirisnya, pelaku kriminalitas di bawah umur tidak memiliki tempat di Jember,” papar pekerja sosial perlindungan anak Kementerian Sosial (Kemensos) tersebut.

Menurut dia, sebenarnya ada tempat sejenis, tapi kurang maksimal karena tidak semua ABH bisa masuk. Jadi, mau tidak mau, pihaknya tergugah untuk mendirikan Yayasan Bengkel Jiwa.

Bermodalkan dana pribadi bersama beberapa rekan, yayasan pun dibentuk. Awalnya, berupaya mencari kontrakan sebagai sekretariat. Namun ternyata, banyak masyarakat yang menolak. Beberapa mengira bahwa kontrakan itu akan digunakan sebagai tempat untuk menampung ODGJ. “Makin tidak setuju lagi karena yang diasuh adalah anak-anak kriminal,” ucapnya. Sebab, masyarakat takut anak-anak di lingkungan mereka terkontaminasi.

Tiadanya dukungan dari lembaga pemerintah juga menjadi kendala lain. Sehingga, pihaknya harus bahu-membahu dalam menghidupi ABH yang rata-rata berasal dari keluarga kurang mampu tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Obrolan beberapa orang di salah satu rumah kontrakan itu terdengar lantang dari halaman. Tepatnya di Jalan Sri Tanjung, RT 3, RW 11, Lingkungan Kaliwining, Kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari. Diskusi mereka begitu gayeng hingga tergambar ambisi dan optimisme tentang masa depan ABH.

“Jadi, misi kami bukan hanya penanganan, melainkan pencegahan juga,” tutur Agus kepada rekan-rekannya. Kalimat itu selanjutnya direspons para pengurus lain dengan berbagai opsi dan rangkaian perencanaan yang ciamik.

Setidaknya, ada lima orang yang kala itu sedang menjalankan tugas piket di yayasan tersebut. Namanya Yayasan Bengkel Jiwa. Pria yang bernama lengkap Agus Wahyu Permana itu adalah ketua yayasannya. Dia menjelaskan, tempat itu merupakan lembaga yang berdiri untuk menangani, melindungi, serta mendidik para tahanan anak di Kabupaten Jember. Juga menampung anak dari luar daerah.

Agus menuturkan, yayasan ini berdiri sejak 29 Februari 2019 lalu. Pengalaman semasa bekerja menjadi pekerja sosial (peksos) di Surabaya menjadi bekal dirinya untuk menangani kasus-kasus yang dilakukan atau dialami oleh anak di bawah 18 tahun. Sebab, dia menemui beberapa anak yang ditindak secara hukum lantaran melakukan tindak pidana. Seperti mengonsumsi sekaligus mengedarkan ganja, kekerasan seksual, penjambretan, serta pembegalan. Padahal, sikap beberapa pelaku tidak menunjukkan anak nakal.

Pengalamannya menangani anak pelaku serta korban kriminalitas selama di Surabaya tersebut menjadi motivasi tersendiri saat dipindahtugaskan di Kabupaten Jember. “Mirisnya, pelaku kriminalitas di bawah umur tidak memiliki tempat di Jember,” papar pekerja sosial perlindungan anak Kementerian Sosial (Kemensos) tersebut.

Menurut dia, sebenarnya ada tempat sejenis, tapi kurang maksimal karena tidak semua ABH bisa masuk. Jadi, mau tidak mau, pihaknya tergugah untuk mendirikan Yayasan Bengkel Jiwa.

Bermodalkan dana pribadi bersama beberapa rekan, yayasan pun dibentuk. Awalnya, berupaya mencari kontrakan sebagai sekretariat. Namun ternyata, banyak masyarakat yang menolak. Beberapa mengira bahwa kontrakan itu akan digunakan sebagai tempat untuk menampung ODGJ. “Makin tidak setuju lagi karena yang diasuh adalah anak-anak kriminal,” ucapnya. Sebab, masyarakat takut anak-anak di lingkungan mereka terkontaminasi.

Tiadanya dukungan dari lembaga pemerintah juga menjadi kendala lain. Sehingga, pihaknya harus bahu-membahu dalam menghidupi ABH yang rata-rata berasal dari keluarga kurang mampu tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Obrolan beberapa orang di salah satu rumah kontrakan itu terdengar lantang dari halaman. Tepatnya di Jalan Sri Tanjung, RT 3, RW 11, Lingkungan Kaliwining, Kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari. Diskusi mereka begitu gayeng hingga tergambar ambisi dan optimisme tentang masa depan ABH.

“Jadi, misi kami bukan hanya penanganan, melainkan pencegahan juga,” tutur Agus kepada rekan-rekannya. Kalimat itu selanjutnya direspons para pengurus lain dengan berbagai opsi dan rangkaian perencanaan yang ciamik.

Setidaknya, ada lima orang yang kala itu sedang menjalankan tugas piket di yayasan tersebut. Namanya Yayasan Bengkel Jiwa. Pria yang bernama lengkap Agus Wahyu Permana itu adalah ketua yayasannya. Dia menjelaskan, tempat itu merupakan lembaga yang berdiri untuk menangani, melindungi, serta mendidik para tahanan anak di Kabupaten Jember. Juga menampung anak dari luar daerah.

Agus menuturkan, yayasan ini berdiri sejak 29 Februari 2019 lalu. Pengalaman semasa bekerja menjadi pekerja sosial (peksos) di Surabaya menjadi bekal dirinya untuk menangani kasus-kasus yang dilakukan atau dialami oleh anak di bawah 18 tahun. Sebab, dia menemui beberapa anak yang ditindak secara hukum lantaran melakukan tindak pidana. Seperti mengonsumsi sekaligus mengedarkan ganja, kekerasan seksual, penjambretan, serta pembegalan. Padahal, sikap beberapa pelaku tidak menunjukkan anak nakal.

Pengalamannya menangani anak pelaku serta korban kriminalitas selama di Surabaya tersebut menjadi motivasi tersendiri saat dipindahtugaskan di Kabupaten Jember. “Mirisnya, pelaku kriminalitas di bawah umur tidak memiliki tempat di Jember,” papar pekerja sosial perlindungan anak Kementerian Sosial (Kemensos) tersebut.

Menurut dia, sebenarnya ada tempat sejenis, tapi kurang maksimal karena tidak semua ABH bisa masuk. Jadi, mau tidak mau, pihaknya tergugah untuk mendirikan Yayasan Bengkel Jiwa.

Bermodalkan dana pribadi bersama beberapa rekan, yayasan pun dibentuk. Awalnya, berupaya mencari kontrakan sebagai sekretariat. Namun ternyata, banyak masyarakat yang menolak. Beberapa mengira bahwa kontrakan itu akan digunakan sebagai tempat untuk menampung ODGJ. “Makin tidak setuju lagi karena yang diasuh adalah anak-anak kriminal,” ucapnya. Sebab, masyarakat takut anak-anak di lingkungan mereka terkontaminasi.

Tiadanya dukungan dari lembaga pemerintah juga menjadi kendala lain. Sehingga, pihaknya harus bahu-membahu dalam menghidupi ABH yang rata-rata berasal dari keluarga kurang mampu tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/