alexametrics
24 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Modifikasi Manekin Jadi Robot, Bisa Manggut-Manggut dan Jalan-Jalan

Pelaksanaan yudisium di Universitas Jember (Unej) tampak berbeda dari tahun sebelumnya. Jika biasanya pesertanya adalah mahasiswa, kali ini digantikan dengan manekin. Memanfaatkan teknologi robotika, boneka manusia itu bisa bergerak dan menerima ijazah secara simbolis. Kok bisa ya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tono dan Tini, begitulah orang memanggilnya. Keduanya bukan anak kembar, tapi dalam yudisium Fakultas Teknik Universitas Jember (Unej), pekan kemarin, justru membikin gempar. Apalagi, mereka terus berdiri tak ada letihnya. Maklum saja, Tono dan Tini adalah nama robot karya tim robotika perguruan tinggi berjuluk Kampus Tegalboto tersebut. Tono dan Tini mewakili 89 yudisi dalam yudisium daring itu.

Bentuk si Tono dan Tini tidak seperti robot seperti di film-film robot. Bertubuh metal, kekar, dan mengenakan helm. Bentuknya justru mirip manusia. Memiliki rambut, dua mata, hidung, dua kaki, dan dua tangan. Kepala Tono dan Tini juga bisa manggut-manggut. Mereka tampak serasi dengan mengenakan jas almamater. Sementara itu, di bagian muka, dibenamkan seperangkat gawai untuk menampilkan wajah yudisi lewat aplikasi Zoom.

Khoirul Anam, dosen Fakultas Teknik yang sekaligus tim robotika Unej, mengatakan bahwa dua robot yang dibuat semirip mungkin dengan manusia ini terbuat dari manekin. “Namun, di dalamnya terdapat motor dan sensor agar bisa bergerak dan dikendalikan dari jarak jauh,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (22/2).

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, boneka pengganti yudisi dan wisudawan secara daring itu awalnya dibuat satu saja. Menyerupai perempuan. Belakangan, ternyata ada yang minta agar dibuatkan laki-laki juga.

Selama pandemi Covid-19, tim robotika Unej yang di dalamnya juga ada mahasiswa, memang mulai membuat robot. Untuk menyelesaikan satu robot membutuhkan waktu sampai tiga bulan. Bahkan, dalam pembuatan robot itu tidak sekadar memikirkan teknis gerakan manekin, tapi juga riasannya.

Biayanya, kata Khoirul, untuk satu robot Tini berkisar Rp 20 juta. Tapi saat membuat Tono, lebih besar lagi, sekitar Rp 25 juta. Sedangkan untuk remote-nya memakai kendali drone dan energi robot tersebut berasal dari baterai. “Yang pertama lebih murah karena beberapa komponennya pakai yang lama. Sedangkan saat membuat lagi yang baru, komponennya beli semua,” ungkapnya.

Ternyata, Tono dan Tini tidak sekadar bertugas di acara seremonial belaka. Dua sejoli robot ini juga diproyeksikan bakal memiliki banyak tugas dan peran di masa mendatang. Menurut tokoh di balik pembuatan robot Tono dan Tini tersebut, keduanya diproyeksikan akan mendampingi anak berkebutuhan khusus atau anak dengan sindrom autis dalam belajar. “Kami mendesain robot bisa menjalankan banyak tugas. Semisal menjembatani pasien dengan dokter dan perawat,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tono dan Tini, begitulah orang memanggilnya. Keduanya bukan anak kembar, tapi dalam yudisium Fakultas Teknik Universitas Jember (Unej), pekan kemarin, justru membikin gempar. Apalagi, mereka terus berdiri tak ada letihnya. Maklum saja, Tono dan Tini adalah nama robot karya tim robotika perguruan tinggi berjuluk Kampus Tegalboto tersebut. Tono dan Tini mewakili 89 yudisi dalam yudisium daring itu.

Bentuk si Tono dan Tini tidak seperti robot seperti di film-film robot. Bertubuh metal, kekar, dan mengenakan helm. Bentuknya justru mirip manusia. Memiliki rambut, dua mata, hidung, dua kaki, dan dua tangan. Kepala Tono dan Tini juga bisa manggut-manggut. Mereka tampak serasi dengan mengenakan jas almamater. Sementara itu, di bagian muka, dibenamkan seperangkat gawai untuk menampilkan wajah yudisi lewat aplikasi Zoom.

Khoirul Anam, dosen Fakultas Teknik yang sekaligus tim robotika Unej, mengatakan bahwa dua robot yang dibuat semirip mungkin dengan manusia ini terbuat dari manekin. “Namun, di dalamnya terdapat motor dan sensor agar bisa bergerak dan dikendalikan dari jarak jauh,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (22/2).

Dia menjelaskan, boneka pengganti yudisi dan wisudawan secara daring itu awalnya dibuat satu saja. Menyerupai perempuan. Belakangan, ternyata ada yang minta agar dibuatkan laki-laki juga.

Selama pandemi Covid-19, tim robotika Unej yang di dalamnya juga ada mahasiswa, memang mulai membuat robot. Untuk menyelesaikan satu robot membutuhkan waktu sampai tiga bulan. Bahkan, dalam pembuatan robot itu tidak sekadar memikirkan teknis gerakan manekin, tapi juga riasannya.

Biayanya, kata Khoirul, untuk satu robot Tini berkisar Rp 20 juta. Tapi saat membuat Tono, lebih besar lagi, sekitar Rp 25 juta. Sedangkan untuk remote-nya memakai kendali drone dan energi robot tersebut berasal dari baterai. “Yang pertama lebih murah karena beberapa komponennya pakai yang lama. Sedangkan saat membuat lagi yang baru, komponennya beli semua,” ungkapnya.

Ternyata, Tono dan Tini tidak sekadar bertugas di acara seremonial belaka. Dua sejoli robot ini juga diproyeksikan bakal memiliki banyak tugas dan peran di masa mendatang. Menurut tokoh di balik pembuatan robot Tono dan Tini tersebut, keduanya diproyeksikan akan mendampingi anak berkebutuhan khusus atau anak dengan sindrom autis dalam belajar. “Kami mendesain robot bisa menjalankan banyak tugas. Semisal menjembatani pasien dengan dokter dan perawat,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tono dan Tini, begitulah orang memanggilnya. Keduanya bukan anak kembar, tapi dalam yudisium Fakultas Teknik Universitas Jember (Unej), pekan kemarin, justru membikin gempar. Apalagi, mereka terus berdiri tak ada letihnya. Maklum saja, Tono dan Tini adalah nama robot karya tim robotika perguruan tinggi berjuluk Kampus Tegalboto tersebut. Tono dan Tini mewakili 89 yudisi dalam yudisium daring itu.

Bentuk si Tono dan Tini tidak seperti robot seperti di film-film robot. Bertubuh metal, kekar, dan mengenakan helm. Bentuknya justru mirip manusia. Memiliki rambut, dua mata, hidung, dua kaki, dan dua tangan. Kepala Tono dan Tini juga bisa manggut-manggut. Mereka tampak serasi dengan mengenakan jas almamater. Sementara itu, di bagian muka, dibenamkan seperangkat gawai untuk menampilkan wajah yudisi lewat aplikasi Zoom.

Khoirul Anam, dosen Fakultas Teknik yang sekaligus tim robotika Unej, mengatakan bahwa dua robot yang dibuat semirip mungkin dengan manusia ini terbuat dari manekin. “Namun, di dalamnya terdapat motor dan sensor agar bisa bergerak dan dikendalikan dari jarak jauh,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (22/2).

Dia menjelaskan, boneka pengganti yudisi dan wisudawan secara daring itu awalnya dibuat satu saja. Menyerupai perempuan. Belakangan, ternyata ada yang minta agar dibuatkan laki-laki juga.

Selama pandemi Covid-19, tim robotika Unej yang di dalamnya juga ada mahasiswa, memang mulai membuat robot. Untuk menyelesaikan satu robot membutuhkan waktu sampai tiga bulan. Bahkan, dalam pembuatan robot itu tidak sekadar memikirkan teknis gerakan manekin, tapi juga riasannya.

Biayanya, kata Khoirul, untuk satu robot Tini berkisar Rp 20 juta. Tapi saat membuat Tono, lebih besar lagi, sekitar Rp 25 juta. Sedangkan untuk remote-nya memakai kendali drone dan energi robot tersebut berasal dari baterai. “Yang pertama lebih murah karena beberapa komponennya pakai yang lama. Sedangkan saat membuat lagi yang baru, komponennya beli semua,” ungkapnya.

Ternyata, Tono dan Tini tidak sekadar bertugas di acara seremonial belaka. Dua sejoli robot ini juga diproyeksikan bakal memiliki banyak tugas dan peran di masa mendatang. Menurut tokoh di balik pembuatan robot Tono dan Tini tersebut, keduanya diproyeksikan akan mendampingi anak berkebutuhan khusus atau anak dengan sindrom autis dalam belajar. “Kami mendesain robot bisa menjalankan banyak tugas. Semisal menjembatani pasien dengan dokter dan perawat,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/