alexametrics
24 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Awal Bertanding Dihajar Molak-malik, Kini Jadi Tumpuan Meraih Emas

Akhir-akhir ini, aksi kekerasan berlatar belakang perguruan silat semakin meresahkan masyarakat. Padahal, silat telah menjadi cabang olahraga prestasi. Inilah yang dibuktikan oleh M Haikal Aziz Raharjo, bahwa silat bukan untuk sok-sokan. Bahkan kini, dia satu-satunya pesilat Jember yang masuk Kontingen Jatim ke PON Papua 2021. Bagaimana perjuangannya? 

Mobile_AP_Rectangle 1

Bahkan, pada waktu itu pendekar silat lain menyarankan agar melempar handuk putih tanda untuk menyerah. Itu lantaran Haikal dihajar habis-habisan. “Saya tidak mau, karena mentalnya bisa drop nanti. Tapi, caranya waktu pertandingan dipercepat,” ungkapnya.

Dari kekalahan pertama tersebut, ungkap Arif, semangat Haikal membara. Cara agar bisa menang dalam pertandingan adalah rajin latihan. Karenanya, pada saat itu Haikal semangat latihan dan tahun depan bisa menang di pertandingan. “Bahkan pada waktu itu tidak mau memilih sparring latihan dengan temannya. Maunya sama saya,” kenangnya.

Dia mengakui, saat usia SD, atlet silat yang membanggakan untuk Jember tersebut termasuk anak yang berbuat masalah di sekolah. “Ndablek dulu itu. Sampai bapak ibunya tidak mau ke sekolah. Ndableknya ya seperti mukuli temannya, menyembunyikan sepatu gurunya. Tapi, begitu dapat juara Tapak Suci se-Jember, baru orang tuanya mau ke sekolah karena berhasil membawa nama harum sekolah,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Berkaca dari perjalanan Haikal ini, seharusnya olahraga, termasuk silat, bisa mengubah perilaku anak, membangun mental, hingga rasa menjunjung tinggi nilai kejujuran. Sebab, dalam olahraga salah satunya adalah ada unsur sportivitas.

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Bahkan, pada waktu itu pendekar silat lain menyarankan agar melempar handuk putih tanda untuk menyerah. Itu lantaran Haikal dihajar habis-habisan. “Saya tidak mau, karena mentalnya bisa drop nanti. Tapi, caranya waktu pertandingan dipercepat,” ungkapnya.

Dari kekalahan pertama tersebut, ungkap Arif, semangat Haikal membara. Cara agar bisa menang dalam pertandingan adalah rajin latihan. Karenanya, pada saat itu Haikal semangat latihan dan tahun depan bisa menang di pertandingan. “Bahkan pada waktu itu tidak mau memilih sparring latihan dengan temannya. Maunya sama saya,” kenangnya.

Dia mengakui, saat usia SD, atlet silat yang membanggakan untuk Jember tersebut termasuk anak yang berbuat masalah di sekolah. “Ndablek dulu itu. Sampai bapak ibunya tidak mau ke sekolah. Ndableknya ya seperti mukuli temannya, menyembunyikan sepatu gurunya. Tapi, begitu dapat juara Tapak Suci se-Jember, baru orang tuanya mau ke sekolah karena berhasil membawa nama harum sekolah,” paparnya.

Berkaca dari perjalanan Haikal ini, seharusnya olahraga, termasuk silat, bisa mengubah perilaku anak, membangun mental, hingga rasa menjunjung tinggi nilai kejujuran. Sebab, dalam olahraga salah satunya adalah ada unsur sportivitas.

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Mahrus Sholih

Bahkan, pada waktu itu pendekar silat lain menyarankan agar melempar handuk putih tanda untuk menyerah. Itu lantaran Haikal dihajar habis-habisan. “Saya tidak mau, karena mentalnya bisa drop nanti. Tapi, caranya waktu pertandingan dipercepat,” ungkapnya.

Dari kekalahan pertama tersebut, ungkap Arif, semangat Haikal membara. Cara agar bisa menang dalam pertandingan adalah rajin latihan. Karenanya, pada saat itu Haikal semangat latihan dan tahun depan bisa menang di pertandingan. “Bahkan pada waktu itu tidak mau memilih sparring latihan dengan temannya. Maunya sama saya,” kenangnya.

Dia mengakui, saat usia SD, atlet silat yang membanggakan untuk Jember tersebut termasuk anak yang berbuat masalah di sekolah. “Ndablek dulu itu. Sampai bapak ibunya tidak mau ke sekolah. Ndableknya ya seperti mukuli temannya, menyembunyikan sepatu gurunya. Tapi, begitu dapat juara Tapak Suci se-Jember, baru orang tuanya mau ke sekolah karena berhasil membawa nama harum sekolah,” paparnya.

Berkaca dari perjalanan Haikal ini, seharusnya olahraga, termasuk silat, bisa mengubah perilaku anak, membangun mental, hingga rasa menjunjung tinggi nilai kejujuran. Sebab, dalam olahraga salah satunya adalah ada unsur sportivitas.

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/