alexametrics
23.1 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

IPSI Bakal Rumuskan Aturan Bersama

Cegah Terjadinya Bentrokan di Kemudian Hari

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perguruan silat di Jember cukup banyak. Yang tercatat dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jember saja, jumlahnya mencapai 30 perguruan. Termasuk PSHT. IPSI sendiri tak mau cawe-cawe jika ada anggota perguruan silat yang melakukan kekerasan. Sepenuhnya, IPSI menyerahkan perkara itu ke aparat penegak hukum bila ada pesilat yang terlibat persoalan kriminal.

Ketua Umum IPSI Jember Agus Supaat mengatakan, sepanjang kompetisi silat atau kejuaraan silat yang digelar, jarang terjadi bentrok atau semacamnya akibat pertandingan. Sebab, IPSI memiliki aturan tegas. Siapa saja yang membuat rusuh, mereka bisa dikeluarkan dari kompetisi. “Kalau benturan setelah pertandingan dan di dalam area GOR, maka atlet hingga kontingen bisa didiskualifikasi,” jelasnya, saat bertemu Jawa Pos Radar Jember, kemarin (21/4).

Namun, bila bentrok di luar GOR akibat dari pertandingan tersebut, diserahkan sepenuhnya ke aparat penegak hukum bila ada tindakan kriminal. “Tapi dampak akibat pertandingan sampai bentrok baik di GOR maupun di luar itu jarang terjadi. Mungkin yang sering protes ke juri saja,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Perbuatan melanggar hukum seperti bentrok, tawuran, hingga pemukulan atau pengeroyokan di luar pertandingan, maka IPSI tegas menyatakan itu bukan porsi mereka. Melainkan aparat penegak hukum. “Semua perguruan sepakat bila ada hal-hal melanggar hukum diserahkan ke aparat penegak hukum. Bila ada unsur pidana, maka hukum juga tidak bisa dilanggar,” jelas Cak Paat, sapaannya.

Dia menambahkan, secara organisasi, IPSI juga melakukan pembinaan ke perguruan silat. Bahkan, juga ada agenda pertemuan dengan pendekar dari semua perguruan. “Pendekar silat itu punya wadah namanya Satgas Pendekar. Isinya terdiri atas pendekar dari berbagai perguruan silat,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perguruan silat di Jember cukup banyak. Yang tercatat dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jember saja, jumlahnya mencapai 30 perguruan. Termasuk PSHT. IPSI sendiri tak mau cawe-cawe jika ada anggota perguruan silat yang melakukan kekerasan. Sepenuhnya, IPSI menyerahkan perkara itu ke aparat penegak hukum bila ada pesilat yang terlibat persoalan kriminal.

Ketua Umum IPSI Jember Agus Supaat mengatakan, sepanjang kompetisi silat atau kejuaraan silat yang digelar, jarang terjadi bentrok atau semacamnya akibat pertandingan. Sebab, IPSI memiliki aturan tegas. Siapa saja yang membuat rusuh, mereka bisa dikeluarkan dari kompetisi. “Kalau benturan setelah pertandingan dan di dalam area GOR, maka atlet hingga kontingen bisa didiskualifikasi,” jelasnya, saat bertemu Jawa Pos Radar Jember, kemarin (21/4).

Namun, bila bentrok di luar GOR akibat dari pertandingan tersebut, diserahkan sepenuhnya ke aparat penegak hukum bila ada tindakan kriminal. “Tapi dampak akibat pertandingan sampai bentrok baik di GOR maupun di luar itu jarang terjadi. Mungkin yang sering protes ke juri saja,” paparnya.

Perbuatan melanggar hukum seperti bentrok, tawuran, hingga pemukulan atau pengeroyokan di luar pertandingan, maka IPSI tegas menyatakan itu bukan porsi mereka. Melainkan aparat penegak hukum. “Semua perguruan sepakat bila ada hal-hal melanggar hukum diserahkan ke aparat penegak hukum. Bila ada unsur pidana, maka hukum juga tidak bisa dilanggar,” jelas Cak Paat, sapaannya.

Dia menambahkan, secara organisasi, IPSI juga melakukan pembinaan ke perguruan silat. Bahkan, juga ada agenda pertemuan dengan pendekar dari semua perguruan. “Pendekar silat itu punya wadah namanya Satgas Pendekar. Isinya terdiri atas pendekar dari berbagai perguruan silat,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perguruan silat di Jember cukup banyak. Yang tercatat dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jember saja, jumlahnya mencapai 30 perguruan. Termasuk PSHT. IPSI sendiri tak mau cawe-cawe jika ada anggota perguruan silat yang melakukan kekerasan. Sepenuhnya, IPSI menyerahkan perkara itu ke aparat penegak hukum bila ada pesilat yang terlibat persoalan kriminal.

Ketua Umum IPSI Jember Agus Supaat mengatakan, sepanjang kompetisi silat atau kejuaraan silat yang digelar, jarang terjadi bentrok atau semacamnya akibat pertandingan. Sebab, IPSI memiliki aturan tegas. Siapa saja yang membuat rusuh, mereka bisa dikeluarkan dari kompetisi. “Kalau benturan setelah pertandingan dan di dalam area GOR, maka atlet hingga kontingen bisa didiskualifikasi,” jelasnya, saat bertemu Jawa Pos Radar Jember, kemarin (21/4).

Namun, bila bentrok di luar GOR akibat dari pertandingan tersebut, diserahkan sepenuhnya ke aparat penegak hukum bila ada tindakan kriminal. “Tapi dampak akibat pertandingan sampai bentrok baik di GOR maupun di luar itu jarang terjadi. Mungkin yang sering protes ke juri saja,” paparnya.

Perbuatan melanggar hukum seperti bentrok, tawuran, hingga pemukulan atau pengeroyokan di luar pertandingan, maka IPSI tegas menyatakan itu bukan porsi mereka. Melainkan aparat penegak hukum. “Semua perguruan sepakat bila ada hal-hal melanggar hukum diserahkan ke aparat penegak hukum. Bila ada unsur pidana, maka hukum juga tidak bisa dilanggar,” jelas Cak Paat, sapaannya.

Dia menambahkan, secara organisasi, IPSI juga melakukan pembinaan ke perguruan silat. Bahkan, juga ada agenda pertemuan dengan pendekar dari semua perguruan. “Pendekar silat itu punya wadah namanya Satgas Pendekar. Isinya terdiri atas pendekar dari berbagai perguruan silat,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/