alexametrics
29.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Belajar sejak Sebelum TK, Jatuh Berulang Sudah Biasa

Bakat, hobi, dan kesenangan anak sejatinya bisa dilihat sejak usia dini. Di Jember, ada salah satu pembalap cilik yang sudah belajar sedari usia lima tahun. Dia sudah merasakan bagaimana nikmatnya jatuh bangun saat latihan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Akhir-akhir ini, banyak aksi balap liar yang meresahkan masyarakat. Tentu, banyak faktor yang menyebabkan keberadaannya kian tumbuh. Salah satunya, bisa jadi mereka benar-benar ingin jadi pembalap, tapi tidak tersalurkan karena tidak diarahkan oleh orang tuanya atau tidak ada yang membinanya.

Di Jalan Sumatera nomor 126, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, ada seorang anak lelaki yang fokus belajar menjadi pembalap sejak usia lima tahun. Dia adalah Ahmad Mushaddiq Hadafi, bocah kelas 5 SD. “Saya sering belajar secara rutin sejak TK,” kata putra pasangan Ahmad Yusuf dan Zilvy Oktarina itu.

Ahmad mengaku, dirinya menjadi pembalap cilik karena melihat orang tuanya dan melihat para pembalap lain. “Waktu itu saya lihat seru sekali. Akhirnya saya sangat suka,” katanya, yang kemudian meminta agar diajari mengendarai sepeda motor khusus anak-anak.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sejak itulah, dirinya mulai belajar setelah sepulang sekolah TK. Ahmad menyebut, selama belajar, dia jatuh berulang kali. “Tidak bisa dihitung, sangat sering jatuh,” paparnya.

Jatuh bangun lagi. Di balik belajar itu ada keseruan dalam diri Ahmad. Dia pun terus mencoba sepeda motornya. Selama belajar itu pun, Ahmad pernah pingsan. “Kalau luka tidak pernah, karena ada pakaian khusus pembalap. Kalau lebam sering,” tuturnya.

Sebagai pembalap cilik, Ahmad yang kini berusia 12 tahun menyebut, dirinya kerap menanyakan teknik-teknik balapan kepada orang tuanya, maupun mereka yang lebih dulu berpengalaman. Baik adu kecepatan di lintasan aspal, maupun teknik rintangan pada motor trail.

“Kalau adu speed, top speed, atau adu cepat yang sudah jalan lurusnya. Kalau rintangan, naik pas dan turun yang susah. Keduanya perlu keseimbangan, ketepatan gas dan rem,” bebernya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Akhir-akhir ini, banyak aksi balap liar yang meresahkan masyarakat. Tentu, banyak faktor yang menyebabkan keberadaannya kian tumbuh. Salah satunya, bisa jadi mereka benar-benar ingin jadi pembalap, tapi tidak tersalurkan karena tidak diarahkan oleh orang tuanya atau tidak ada yang membinanya.

Di Jalan Sumatera nomor 126, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, ada seorang anak lelaki yang fokus belajar menjadi pembalap sejak usia lima tahun. Dia adalah Ahmad Mushaddiq Hadafi, bocah kelas 5 SD. “Saya sering belajar secara rutin sejak TK,” kata putra pasangan Ahmad Yusuf dan Zilvy Oktarina itu.

Ahmad mengaku, dirinya menjadi pembalap cilik karena melihat orang tuanya dan melihat para pembalap lain. “Waktu itu saya lihat seru sekali. Akhirnya saya sangat suka,” katanya, yang kemudian meminta agar diajari mengendarai sepeda motor khusus anak-anak.

Sejak itulah, dirinya mulai belajar setelah sepulang sekolah TK. Ahmad menyebut, selama belajar, dia jatuh berulang kali. “Tidak bisa dihitung, sangat sering jatuh,” paparnya.

Jatuh bangun lagi. Di balik belajar itu ada keseruan dalam diri Ahmad. Dia pun terus mencoba sepeda motornya. Selama belajar itu pun, Ahmad pernah pingsan. “Kalau luka tidak pernah, karena ada pakaian khusus pembalap. Kalau lebam sering,” tuturnya.

Sebagai pembalap cilik, Ahmad yang kini berusia 12 tahun menyebut, dirinya kerap menanyakan teknik-teknik balapan kepada orang tuanya, maupun mereka yang lebih dulu berpengalaman. Baik adu kecepatan di lintasan aspal, maupun teknik rintangan pada motor trail.

“Kalau adu speed, top speed, atau adu cepat yang sudah jalan lurusnya. Kalau rintangan, naik pas dan turun yang susah. Keduanya perlu keseimbangan, ketepatan gas dan rem,” bebernya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Akhir-akhir ini, banyak aksi balap liar yang meresahkan masyarakat. Tentu, banyak faktor yang menyebabkan keberadaannya kian tumbuh. Salah satunya, bisa jadi mereka benar-benar ingin jadi pembalap, tapi tidak tersalurkan karena tidak diarahkan oleh orang tuanya atau tidak ada yang membinanya.

Di Jalan Sumatera nomor 126, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, ada seorang anak lelaki yang fokus belajar menjadi pembalap sejak usia lima tahun. Dia adalah Ahmad Mushaddiq Hadafi, bocah kelas 5 SD. “Saya sering belajar secara rutin sejak TK,” kata putra pasangan Ahmad Yusuf dan Zilvy Oktarina itu.

Ahmad mengaku, dirinya menjadi pembalap cilik karena melihat orang tuanya dan melihat para pembalap lain. “Waktu itu saya lihat seru sekali. Akhirnya saya sangat suka,” katanya, yang kemudian meminta agar diajari mengendarai sepeda motor khusus anak-anak.

Sejak itulah, dirinya mulai belajar setelah sepulang sekolah TK. Ahmad menyebut, selama belajar, dia jatuh berulang kali. “Tidak bisa dihitung, sangat sering jatuh,” paparnya.

Jatuh bangun lagi. Di balik belajar itu ada keseruan dalam diri Ahmad. Dia pun terus mencoba sepeda motornya. Selama belajar itu pun, Ahmad pernah pingsan. “Kalau luka tidak pernah, karena ada pakaian khusus pembalap. Kalau lebam sering,” tuturnya.

Sebagai pembalap cilik, Ahmad yang kini berusia 12 tahun menyebut, dirinya kerap menanyakan teknik-teknik balapan kepada orang tuanya, maupun mereka yang lebih dulu berpengalaman. Baik adu kecepatan di lintasan aspal, maupun teknik rintangan pada motor trail.

“Kalau adu speed, top speed, atau adu cepat yang sudah jalan lurusnya. Kalau rintangan, naik pas dan turun yang susah. Keduanya perlu keseimbangan, ketepatan gas dan rem,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/