alexametrics
24.7 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Dari Kemoterapi hingga Operasi, Seperti Dapat Azab dan Mukjizat

Perjuangan orang melawan penyakit mungkin terlihat biasa. Banyak ditemui. Padahal tidak sedikit dari mereka yang berjuang antara hidup dan mati melawan penyakitnya. Seperti Ocha, seorang penderita kanker ovarium.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu cuaca sedang cerah. Ocha belum selesai berkemas di rumahnya, Jalan Gajah Mada 13 A nomor 01, Lingkungan Condro, Kaliwates, Selasa (8/2) lalu. Ia harus segera, sebab keesokan harinya, Rabu (9/2), adalah jadwal Ocha kembali cek dan kontrol kondisinya di RS dr Soetomo, Surabaya.

Menggunakan kereta api, Ocha sampai di Surabaya pagi harinya. Ia pun segera menuju ke salah satu ruang di rumah sakit tersebut untuk bertemu dokter yang terbiasa menanganinya.

Ya, perempuan bernama lengkap Rossalia Putri Ariani itu memang terbiasa wira-wiri Jember-Surabaya. Sejak dinyatakan sembuh dari kanker ovarium yang dideritanya sekitar 2,5 tahun, kini harus dia rutin untuk cek dan kontrol kondisi terbarunya. “Bukan untuk berobat lagi, hanya kontrol saja,” katanya, membuka pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Jember, kemarin (21/2).

Mobile_AP_Rectangle 2

Ocha memang masih muda. Umur 23 tahun. Tapi, penyakit sepertinya tidak pandang usia. Ocha mengisahkan, selepas lulus SMA 2018 lalu, ia sempat merasakan sakit linu di bagian bawah perutnya. Tepat sekitar organ kewanitaannya.

Waktu itu, ia tidak menaruh curiga. Dianggapnya hal biasa saja. “Tapi lama-lama, kok nggak ilang sakitnya. Malah muncul benjolan kecil. Akhirnya, aku periksa ke RS Bina Sehat,” katanya. Setelah diperiksa, ternyata diketahui Ocha mengidap kista. “Kata dokter saya dianjurkan harus operasi. Ya, kaget,” ucap perempuan kelahiran 98 itu.

Tak hanya dokter, keluarganya pun sempat menyarankannya operasi. “Aku masih 20 tahunan waktu itu. Takut operasi. Aku ndak mau lah,” kenangnya.

Sebulan dua bulan setelah periksa itu, Ocha mulai menunjukkan kondisi fisiknya sedang tidak baik-baik saja. Awalnya, ia sering merasa lelah dan mudah drop. Bahkan, ia sempat mendaki gunung kala itu. Bareng suaminya, di Banyuwangi. “Seminggu pulang dari situ, saya di Jember lagi kondisi sudah drop, lemas, sampai muntah. Akhirnya dirujuk ke IGD Bina Sehat lagi,” sahutnya.

Ocha pun sempat dirawat beberapa hari, tapi tidak lama. Ia diminta beristirahat di rumah sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Dan benar, penyakit Ocha sepertinya semakin menjalar. Berdasar keterangan dokter yang memeriksa saat itu, Ocha didiagnosis menderita kanker ovarium stadium 4B atau akhir. Penanganannya harus segera operasi dan kemoterapi.

Wajah Ocha seketika muram ketika mengingat masa itu. Sesaat kemudian, ia kembali melanjutkan kisahnya. “Dari rumah sakit itu, saya dirujuk lagi ke RS DKT Jember untuk kemoterapi,” kenangnya.

Mengetahui hal itu, keluarga dan suami awalnya sempat mencoba membujuk Ocha agar tabah dan mau menjalani pengobatan tahap lanjut. Seminggu kemudian, ia akhirnya menjalani kemo pertamanya di RS DKT Jember. “Kemoterapi sebulan sekali selama enam bulan,” paparnya.

Ocha memang tidak pernah diberikan obat. Ia hanya kemo. Mungkin secara medis, penyakitnya memang hanya ampuh dilawan dengan kemoterapi. Ia sangat merasakan efek dari pengobatan tersebut. Ocha mengungkapkan, awal kali dilakukan kemoterapi, perutnya membesar seperti hamil sembilan bulan. Layaknya berisi janin kembar. “Jangankan gerak, saya salat saja sambil tidur, ngedipkan mata. Selama beberapa hari. Kondisi sangat berat,” tuturnya.

Suka tidak suka, hal itu harus dijalani Ocha. Kemo pertama, dampak ke fisik tubuhnya sudah sedemikian, padahal masih menyisakan lima kali. “Saya sempat mikir. Ya Allah, apa saya kena azab ini,” ucapnya, lirih.

Efek kemoterapi yang didapat tubuh Ocha pun beragam. Mulai dari rambut rontok, kulit keriput, wajah pucat, dan lain-lainnya. Efek kemo itu perlahan mulai mereda saat ia memasuki bulan kelima. “Saat itu saya sudah bisa sepedaan. Alhamdulillah, salat juga bisa normal,” katanya, dibalut senyum.

Kondisi Ocha pascakemoterapi itu seperti berangsur pulih. Bahkan, ia bisa menyempatkan diri menonton Cinta Laura saat gelaran JFC 2019 lalu. “Namanya pingin, deket juga. Jadi, dibela-belain. Bahkan, saya sampai didorong pakai kursi roda,” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu cuaca sedang cerah. Ocha belum selesai berkemas di rumahnya, Jalan Gajah Mada 13 A nomor 01, Lingkungan Condro, Kaliwates, Selasa (8/2) lalu. Ia harus segera, sebab keesokan harinya, Rabu (9/2), adalah jadwal Ocha kembali cek dan kontrol kondisinya di RS dr Soetomo, Surabaya.

Menggunakan kereta api, Ocha sampai di Surabaya pagi harinya. Ia pun segera menuju ke salah satu ruang di rumah sakit tersebut untuk bertemu dokter yang terbiasa menanganinya.

Ya, perempuan bernama lengkap Rossalia Putri Ariani itu memang terbiasa wira-wiri Jember-Surabaya. Sejak dinyatakan sembuh dari kanker ovarium yang dideritanya sekitar 2,5 tahun, kini harus dia rutin untuk cek dan kontrol kondisi terbarunya. “Bukan untuk berobat lagi, hanya kontrol saja,” katanya, membuka pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Jember, kemarin (21/2).

Ocha memang masih muda. Umur 23 tahun. Tapi, penyakit sepertinya tidak pandang usia. Ocha mengisahkan, selepas lulus SMA 2018 lalu, ia sempat merasakan sakit linu di bagian bawah perutnya. Tepat sekitar organ kewanitaannya.

Waktu itu, ia tidak menaruh curiga. Dianggapnya hal biasa saja. “Tapi lama-lama, kok nggak ilang sakitnya. Malah muncul benjolan kecil. Akhirnya, aku periksa ke RS Bina Sehat,” katanya. Setelah diperiksa, ternyata diketahui Ocha mengidap kista. “Kata dokter saya dianjurkan harus operasi. Ya, kaget,” ucap perempuan kelahiran 98 itu.

Tak hanya dokter, keluarganya pun sempat menyarankannya operasi. “Aku masih 20 tahunan waktu itu. Takut operasi. Aku ndak mau lah,” kenangnya.

Sebulan dua bulan setelah periksa itu, Ocha mulai menunjukkan kondisi fisiknya sedang tidak baik-baik saja. Awalnya, ia sering merasa lelah dan mudah drop. Bahkan, ia sempat mendaki gunung kala itu. Bareng suaminya, di Banyuwangi. “Seminggu pulang dari situ, saya di Jember lagi kondisi sudah drop, lemas, sampai muntah. Akhirnya dirujuk ke IGD Bina Sehat lagi,” sahutnya.

Ocha pun sempat dirawat beberapa hari, tapi tidak lama. Ia diminta beristirahat di rumah sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Dan benar, penyakit Ocha sepertinya semakin menjalar. Berdasar keterangan dokter yang memeriksa saat itu, Ocha didiagnosis menderita kanker ovarium stadium 4B atau akhir. Penanganannya harus segera operasi dan kemoterapi.

Wajah Ocha seketika muram ketika mengingat masa itu. Sesaat kemudian, ia kembali melanjutkan kisahnya. “Dari rumah sakit itu, saya dirujuk lagi ke RS DKT Jember untuk kemoterapi,” kenangnya.

Mengetahui hal itu, keluarga dan suami awalnya sempat mencoba membujuk Ocha agar tabah dan mau menjalani pengobatan tahap lanjut. Seminggu kemudian, ia akhirnya menjalani kemo pertamanya di RS DKT Jember. “Kemoterapi sebulan sekali selama enam bulan,” paparnya.

Ocha memang tidak pernah diberikan obat. Ia hanya kemo. Mungkin secara medis, penyakitnya memang hanya ampuh dilawan dengan kemoterapi. Ia sangat merasakan efek dari pengobatan tersebut. Ocha mengungkapkan, awal kali dilakukan kemoterapi, perutnya membesar seperti hamil sembilan bulan. Layaknya berisi janin kembar. “Jangankan gerak, saya salat saja sambil tidur, ngedipkan mata. Selama beberapa hari. Kondisi sangat berat,” tuturnya.

Suka tidak suka, hal itu harus dijalani Ocha. Kemo pertama, dampak ke fisik tubuhnya sudah sedemikian, padahal masih menyisakan lima kali. “Saya sempat mikir. Ya Allah, apa saya kena azab ini,” ucapnya, lirih.

Efek kemoterapi yang didapat tubuh Ocha pun beragam. Mulai dari rambut rontok, kulit keriput, wajah pucat, dan lain-lainnya. Efek kemo itu perlahan mulai mereda saat ia memasuki bulan kelima. “Saat itu saya sudah bisa sepedaan. Alhamdulillah, salat juga bisa normal,” katanya, dibalut senyum.

Kondisi Ocha pascakemoterapi itu seperti berangsur pulih. Bahkan, ia bisa menyempatkan diri menonton Cinta Laura saat gelaran JFC 2019 lalu. “Namanya pingin, deket juga. Jadi, dibela-belain. Bahkan, saya sampai didorong pakai kursi roda,” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu cuaca sedang cerah. Ocha belum selesai berkemas di rumahnya, Jalan Gajah Mada 13 A nomor 01, Lingkungan Condro, Kaliwates, Selasa (8/2) lalu. Ia harus segera, sebab keesokan harinya, Rabu (9/2), adalah jadwal Ocha kembali cek dan kontrol kondisinya di RS dr Soetomo, Surabaya.

Menggunakan kereta api, Ocha sampai di Surabaya pagi harinya. Ia pun segera menuju ke salah satu ruang di rumah sakit tersebut untuk bertemu dokter yang terbiasa menanganinya.

Ya, perempuan bernama lengkap Rossalia Putri Ariani itu memang terbiasa wira-wiri Jember-Surabaya. Sejak dinyatakan sembuh dari kanker ovarium yang dideritanya sekitar 2,5 tahun, kini harus dia rutin untuk cek dan kontrol kondisi terbarunya. “Bukan untuk berobat lagi, hanya kontrol saja,” katanya, membuka pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Jember, kemarin (21/2).

Ocha memang masih muda. Umur 23 tahun. Tapi, penyakit sepertinya tidak pandang usia. Ocha mengisahkan, selepas lulus SMA 2018 lalu, ia sempat merasakan sakit linu di bagian bawah perutnya. Tepat sekitar organ kewanitaannya.

Waktu itu, ia tidak menaruh curiga. Dianggapnya hal biasa saja. “Tapi lama-lama, kok nggak ilang sakitnya. Malah muncul benjolan kecil. Akhirnya, aku periksa ke RS Bina Sehat,” katanya. Setelah diperiksa, ternyata diketahui Ocha mengidap kista. “Kata dokter saya dianjurkan harus operasi. Ya, kaget,” ucap perempuan kelahiran 98 itu.

Tak hanya dokter, keluarganya pun sempat menyarankannya operasi. “Aku masih 20 tahunan waktu itu. Takut operasi. Aku ndak mau lah,” kenangnya.

Sebulan dua bulan setelah periksa itu, Ocha mulai menunjukkan kondisi fisiknya sedang tidak baik-baik saja. Awalnya, ia sering merasa lelah dan mudah drop. Bahkan, ia sempat mendaki gunung kala itu. Bareng suaminya, di Banyuwangi. “Seminggu pulang dari situ, saya di Jember lagi kondisi sudah drop, lemas, sampai muntah. Akhirnya dirujuk ke IGD Bina Sehat lagi,” sahutnya.

Ocha pun sempat dirawat beberapa hari, tapi tidak lama. Ia diminta beristirahat di rumah sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Dan benar, penyakit Ocha sepertinya semakin menjalar. Berdasar keterangan dokter yang memeriksa saat itu, Ocha didiagnosis menderita kanker ovarium stadium 4B atau akhir. Penanganannya harus segera operasi dan kemoterapi.

Wajah Ocha seketika muram ketika mengingat masa itu. Sesaat kemudian, ia kembali melanjutkan kisahnya. “Dari rumah sakit itu, saya dirujuk lagi ke RS DKT Jember untuk kemoterapi,” kenangnya.

Mengetahui hal itu, keluarga dan suami awalnya sempat mencoba membujuk Ocha agar tabah dan mau menjalani pengobatan tahap lanjut. Seminggu kemudian, ia akhirnya menjalani kemo pertamanya di RS DKT Jember. “Kemoterapi sebulan sekali selama enam bulan,” paparnya.

Ocha memang tidak pernah diberikan obat. Ia hanya kemo. Mungkin secara medis, penyakitnya memang hanya ampuh dilawan dengan kemoterapi. Ia sangat merasakan efek dari pengobatan tersebut. Ocha mengungkapkan, awal kali dilakukan kemoterapi, perutnya membesar seperti hamil sembilan bulan. Layaknya berisi janin kembar. “Jangankan gerak, saya salat saja sambil tidur, ngedipkan mata. Selama beberapa hari. Kondisi sangat berat,” tuturnya.

Suka tidak suka, hal itu harus dijalani Ocha. Kemo pertama, dampak ke fisik tubuhnya sudah sedemikian, padahal masih menyisakan lima kali. “Saya sempat mikir. Ya Allah, apa saya kena azab ini,” ucapnya, lirih.

Efek kemoterapi yang didapat tubuh Ocha pun beragam. Mulai dari rambut rontok, kulit keriput, wajah pucat, dan lain-lainnya. Efek kemo itu perlahan mulai mereda saat ia memasuki bulan kelima. “Saat itu saya sudah bisa sepedaan. Alhamdulillah, salat juga bisa normal,” katanya, dibalut senyum.

Kondisi Ocha pascakemoterapi itu seperti berangsur pulih. Bahkan, ia bisa menyempatkan diri menonton Cinta Laura saat gelaran JFC 2019 lalu. “Namanya pingin, deket juga. Jadi, dibela-belain. Bahkan, saya sampai didorong pakai kursi roda,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/