23.7 C
Jember
Saturday, 4 February 2023

Pengacara Kades Klatakan Jember Nilai Dakwaan Jaksa Salah Sasaran

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Sidang agenda pembacaan eksepsi kasus tindak pidana pencurian yang menyeret Ali Wafa, Kades Klatakan, Kecamatan Tanggul, Jember, berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Jember, hari ini (21/11). Dalam pembelaannya, pengacara terdakwa menilai surat dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) error in persona. Artinya, orang yang didakwa keliru atau salah sasaran.

Pada surat dakwaan dari JPU di halaman pertama, tertulis terdakwa Ali Wafa melakukan pencurian di Tanah Kas Desa (TKD) Klatakan yang berada di Dusun Penggungan, yang masih berada dalam sewa orang lain. Hanya saja, tidak disebutkan bagaimana cara terdakwa mencuri. Apakah sendiri atau bersama-sama. Dakwaan itu juga disebut tidak menjelaskan apakah aksi itu telah memenuhi unsur-unsur pencurian atau penggelapan sebagaimana tertuang dalam pasal 362 dan 372 KUHP.

BACA JUGA: Geruduk PN Jember, Ratusan Warga Minta Penahanan Kades Klatakan Dialihkan

Mobile_AP_Rectangle 2

Penasihat Hukum Ali Wafa, M. Husni Thamrin mengatakan, dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saksi, tidak satupun dari para saksi yang diperiksa menyebutkan pelaku pencurian itu dilakukan oleh terdakwa Ali Wafa. “Yang ada justru pengakuan saksi Mohammad Suhud dalam BAP yang mengaku melakukan penebangan tebu dengan cara menyuruh orang lain,” katanya.

Menurutnya, penetapan tersangka menjadi sesuatu yang perlu dipertanyakan kepada pihak kepolisian. Pasalnya, tidak ada satupun saksi yang menyebut Ali Wafa melakukan pencurian di lahan TKD seluas 47,5 hektare tersebut. Bahkan, surat dakwaan dari JPU yang menyangka dan mendakwa Ali Wafa melakukan pencurian itu dinilai merekayasa. “Ini terkesan rekayasa. Sebab unsur penetapan tersangka dan unsur mencurinya tidak ada,” imbuhnya.

Sedangkan, lanjut Thamrin, saksi Mohammad Suhud yang secara tegas mengaku sebagai orang yang menyuruh orang lain melakukan penebangan tebu di TKD, justru bebas. Tidak ditetapkan sebagai tersangka. Bahkan, pembeli tebu hasil curian, pabrik gula di Jatiroto Lumajang, dan di Semboro Jember, juga tidak ditetapkan sebagai penadah.

“Padahal, hal itu telah jelas tertuang dalam Pasal 480 angka 1 KUHP. Ini semakin memperjelas bahwa penetapan tersangka atau mendakwa terdakwa sebagai pelaku pencurian adalah error in persona,” ucap Thamrin.

Sementara itu, JPU Adik Sri menyanggah eksepsi yang disampaikan oleh kuasa hukum Ali Wafa tersebut. Pihaknya akan menanggapi pembelaan pengacara terdakwa pada Kamis (24/11). Menurutnya, surat dakwaan JPU telah memenuhi unsur Pasal 143 ayat 2 KUHAP. “Surat dakwaan yang kami susun sudah sangat jelas, cermat dan lengkap,” sanggahnya.

Sidang agenda pembacaan eksepsi dipimpin langsung oleh Totok Yanuarto. Penasihat hukum dan JPU hadir langsung di ruang sidang Candra. Sementara, terdakwa Ali Wafa mengikuti sidang secara virtual dari Lapas Kelas II A Jember. (*)

Reporter: Ahmad Makmun

Foto      : Ahmad Ma’mun

Editor    : Mahrus Sholih

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Sidang agenda pembacaan eksepsi kasus tindak pidana pencurian yang menyeret Ali Wafa, Kades Klatakan, Kecamatan Tanggul, Jember, berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Jember, hari ini (21/11). Dalam pembelaannya, pengacara terdakwa menilai surat dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) error in persona. Artinya, orang yang didakwa keliru atau salah sasaran.

Pada surat dakwaan dari JPU di halaman pertama, tertulis terdakwa Ali Wafa melakukan pencurian di Tanah Kas Desa (TKD) Klatakan yang berada di Dusun Penggungan, yang masih berada dalam sewa orang lain. Hanya saja, tidak disebutkan bagaimana cara terdakwa mencuri. Apakah sendiri atau bersama-sama. Dakwaan itu juga disebut tidak menjelaskan apakah aksi itu telah memenuhi unsur-unsur pencurian atau penggelapan sebagaimana tertuang dalam pasal 362 dan 372 KUHP.

BACA JUGA: Geruduk PN Jember, Ratusan Warga Minta Penahanan Kades Klatakan Dialihkan

Penasihat Hukum Ali Wafa, M. Husni Thamrin mengatakan, dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saksi, tidak satupun dari para saksi yang diperiksa menyebutkan pelaku pencurian itu dilakukan oleh terdakwa Ali Wafa. “Yang ada justru pengakuan saksi Mohammad Suhud dalam BAP yang mengaku melakukan penebangan tebu dengan cara menyuruh orang lain,” katanya.

Menurutnya, penetapan tersangka menjadi sesuatu yang perlu dipertanyakan kepada pihak kepolisian. Pasalnya, tidak ada satupun saksi yang menyebut Ali Wafa melakukan pencurian di lahan TKD seluas 47,5 hektare tersebut. Bahkan, surat dakwaan dari JPU yang menyangka dan mendakwa Ali Wafa melakukan pencurian itu dinilai merekayasa. “Ini terkesan rekayasa. Sebab unsur penetapan tersangka dan unsur mencurinya tidak ada,” imbuhnya.

Sedangkan, lanjut Thamrin, saksi Mohammad Suhud yang secara tegas mengaku sebagai orang yang menyuruh orang lain melakukan penebangan tebu di TKD, justru bebas. Tidak ditetapkan sebagai tersangka. Bahkan, pembeli tebu hasil curian, pabrik gula di Jatiroto Lumajang, dan di Semboro Jember, juga tidak ditetapkan sebagai penadah.

“Padahal, hal itu telah jelas tertuang dalam Pasal 480 angka 1 KUHP. Ini semakin memperjelas bahwa penetapan tersangka atau mendakwa terdakwa sebagai pelaku pencurian adalah error in persona,” ucap Thamrin.

Sementara itu, JPU Adik Sri menyanggah eksepsi yang disampaikan oleh kuasa hukum Ali Wafa tersebut. Pihaknya akan menanggapi pembelaan pengacara terdakwa pada Kamis (24/11). Menurutnya, surat dakwaan JPU telah memenuhi unsur Pasal 143 ayat 2 KUHAP. “Surat dakwaan yang kami susun sudah sangat jelas, cermat dan lengkap,” sanggahnya.

Sidang agenda pembacaan eksepsi dipimpin langsung oleh Totok Yanuarto. Penasihat hukum dan JPU hadir langsung di ruang sidang Candra. Sementara, terdakwa Ali Wafa mengikuti sidang secara virtual dari Lapas Kelas II A Jember. (*)

Reporter: Ahmad Makmun

Foto      : Ahmad Ma’mun

Editor    : Mahrus Sholih

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Sidang agenda pembacaan eksepsi kasus tindak pidana pencurian yang menyeret Ali Wafa, Kades Klatakan, Kecamatan Tanggul, Jember, berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Jember, hari ini (21/11). Dalam pembelaannya, pengacara terdakwa menilai surat dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) error in persona. Artinya, orang yang didakwa keliru atau salah sasaran.

Pada surat dakwaan dari JPU di halaman pertama, tertulis terdakwa Ali Wafa melakukan pencurian di Tanah Kas Desa (TKD) Klatakan yang berada di Dusun Penggungan, yang masih berada dalam sewa orang lain. Hanya saja, tidak disebutkan bagaimana cara terdakwa mencuri. Apakah sendiri atau bersama-sama. Dakwaan itu juga disebut tidak menjelaskan apakah aksi itu telah memenuhi unsur-unsur pencurian atau penggelapan sebagaimana tertuang dalam pasal 362 dan 372 KUHP.

BACA JUGA: Geruduk PN Jember, Ratusan Warga Minta Penahanan Kades Klatakan Dialihkan

Penasihat Hukum Ali Wafa, M. Husni Thamrin mengatakan, dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saksi, tidak satupun dari para saksi yang diperiksa menyebutkan pelaku pencurian itu dilakukan oleh terdakwa Ali Wafa. “Yang ada justru pengakuan saksi Mohammad Suhud dalam BAP yang mengaku melakukan penebangan tebu dengan cara menyuruh orang lain,” katanya.

Menurutnya, penetapan tersangka menjadi sesuatu yang perlu dipertanyakan kepada pihak kepolisian. Pasalnya, tidak ada satupun saksi yang menyebut Ali Wafa melakukan pencurian di lahan TKD seluas 47,5 hektare tersebut. Bahkan, surat dakwaan dari JPU yang menyangka dan mendakwa Ali Wafa melakukan pencurian itu dinilai merekayasa. “Ini terkesan rekayasa. Sebab unsur penetapan tersangka dan unsur mencurinya tidak ada,” imbuhnya.

Sedangkan, lanjut Thamrin, saksi Mohammad Suhud yang secara tegas mengaku sebagai orang yang menyuruh orang lain melakukan penebangan tebu di TKD, justru bebas. Tidak ditetapkan sebagai tersangka. Bahkan, pembeli tebu hasil curian, pabrik gula di Jatiroto Lumajang, dan di Semboro Jember, juga tidak ditetapkan sebagai penadah.

“Padahal, hal itu telah jelas tertuang dalam Pasal 480 angka 1 KUHP. Ini semakin memperjelas bahwa penetapan tersangka atau mendakwa terdakwa sebagai pelaku pencurian adalah error in persona,” ucap Thamrin.

Sementara itu, JPU Adik Sri menyanggah eksepsi yang disampaikan oleh kuasa hukum Ali Wafa tersebut. Pihaknya akan menanggapi pembelaan pengacara terdakwa pada Kamis (24/11). Menurutnya, surat dakwaan JPU telah memenuhi unsur Pasal 143 ayat 2 KUHAP. “Surat dakwaan yang kami susun sudah sangat jelas, cermat dan lengkap,” sanggahnya.

Sidang agenda pembacaan eksepsi dipimpin langsung oleh Totok Yanuarto. Penasihat hukum dan JPU hadir langsung di ruang sidang Candra. Sementara, terdakwa Ali Wafa mengikuti sidang secara virtual dari Lapas Kelas II A Jember. (*)

Reporter: Ahmad Makmun

Foto      : Ahmad Ma’mun

Editor    : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca