alexametrics
26.6 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Bersihkan Seragam Silat dari Premanisme

Sebulan, Lima Kasus Libatkan Perguruan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Insiden pemukulan yang dilakukan oleh oknum perguruan silat di Jember makin kerap terjadi hingga meresahkan masyarakat. Pelakunya berasal dari berbagai wilayah atau kecamatan. Meski sebagian sudah diamankan oleh kepolisian, namun banyak pula yang sampai hari ini belum tertangkap. Mereka ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO) kepolisian alias buron.

Selain jumlah pelaku yang banyak, motif kasusnya pun beragam. Berawal dari cekcok sampai berakhir dengan adu jotos. Hingga soal atribut perguruan silat, tugu perguruan silat, sampai persoalan masker yang berlambang salah satu perguruan.

Rentetan perkara yang terjadi ini mengindikasikan bahwa penindakan hukum terhadap kasus-kasus tersebut belum memberi efek jera. Akibatnya, kasus serupa terjadi lagi dan lagi. Aksi oknum perguruan silat itu pula yang menyulut perhatian masyarakat. Warga sudah jengah dengan beragam kekerasan itu. Mereka menilai, seyogianya ilmu bela diri dipergunakan untuk hal-hal positif, bukan sebaliknya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Catatan Jawa Pos Radar Jember sebulan terakhir ini saja, ada lima kasus yang melibatkan anggota perguruan silat. Empat kasus penganiayaan, dan satu kasus perusakan tugu perguruan silat lain. Tiga perkara penganiayaan dan perusakan telah ditangani oleh kepolisian. Aparat juga menetapkan beberapa tersangka. Sementara, kasus teranyar, soal pemukulan di Ambulu, masih belum diketahui siapa pelakunya.

Kasus pemukulan terbaru ini menimpa seorang santri GASMI, salah satu aliran seni bela diri Pagar Nusa, Rabu (19/5) malam. Saat itu, korban yang berasal dari Jatiroto, Lumajang, tengah mengenakan masker bertulis Pagar Nusa (PN). Dia mendadak diserang oleh sejumlah orang tak dikenal hingga babak belur di sekitar jalan menuju arah Watu Ulo, Kecamatan Ambulu.

Peristiwa tersebut memantik GASMI Jember mengawal proses hukumnya ke pihak kepolisian dengan melaporkan tindakan pidana tersebut ke Polsek Ambulu. Namun, pihak Kepolisian Ambulu justru bungkam saat dikonfirmasi. Mereka enggan memberikan komentar.

Kendati GASMI Jember menegaskan korban pemukulan itu bukan warganya, melainkan Warga GASMI Pagar Nusa Ranting Jatiroto, Cabang Lumajang, namun pihaknya tetap mengawal kasus itu. “Oleh sebab itu, kami imbau kepada seluruh warga GASMI Jember maupun Lumajang agar tetap tertib. Menunggu komando ketua, sambil menunggu pihak kepolisian,” tegas Denis Irawan, Sekretaris GASMI Jember, saat memberikan pernyataan terbuka yang diterima Jawa Pos Radar Jember, kemarin (20/5).

Di tempat terpisah, Kepolisian Sektor Puger juga membikin pers rilis tentang kasus pidana yang juga dilakukan oknum perguruan silat. Kali ini, yang dilakukan adalah perusakan tugu milik warga Ikatan Pencak Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti di Dusun Lengkong, Desa Wonosari, Kecamatan Puger.

Kapolsek Puger AKP Ribut Budiyono menjelaskan, kasus perusakan tugu yang terjadi pada Sabtu (15/5) dini hari itu dilakukan oleh oknum dari perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Puger. Menurutnya, tugu itu dirusak karena warga PSHT tidak terima ada tugu perguruan silat lain yang berdiri di wilayah Wonosari.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Insiden pemukulan yang dilakukan oleh oknum perguruan silat di Jember makin kerap terjadi hingga meresahkan masyarakat. Pelakunya berasal dari berbagai wilayah atau kecamatan. Meski sebagian sudah diamankan oleh kepolisian, namun banyak pula yang sampai hari ini belum tertangkap. Mereka ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO) kepolisian alias buron.

Selain jumlah pelaku yang banyak, motif kasusnya pun beragam. Berawal dari cekcok sampai berakhir dengan adu jotos. Hingga soal atribut perguruan silat, tugu perguruan silat, sampai persoalan masker yang berlambang salah satu perguruan.

Rentetan perkara yang terjadi ini mengindikasikan bahwa penindakan hukum terhadap kasus-kasus tersebut belum memberi efek jera. Akibatnya, kasus serupa terjadi lagi dan lagi. Aksi oknum perguruan silat itu pula yang menyulut perhatian masyarakat. Warga sudah jengah dengan beragam kekerasan itu. Mereka menilai, seyogianya ilmu bela diri dipergunakan untuk hal-hal positif, bukan sebaliknya.

Catatan Jawa Pos Radar Jember sebulan terakhir ini saja, ada lima kasus yang melibatkan anggota perguruan silat. Empat kasus penganiayaan, dan satu kasus perusakan tugu perguruan silat lain. Tiga perkara penganiayaan dan perusakan telah ditangani oleh kepolisian. Aparat juga menetapkan beberapa tersangka. Sementara, kasus teranyar, soal pemukulan di Ambulu, masih belum diketahui siapa pelakunya.

Kasus pemukulan terbaru ini menimpa seorang santri GASMI, salah satu aliran seni bela diri Pagar Nusa, Rabu (19/5) malam. Saat itu, korban yang berasal dari Jatiroto, Lumajang, tengah mengenakan masker bertulis Pagar Nusa (PN). Dia mendadak diserang oleh sejumlah orang tak dikenal hingga babak belur di sekitar jalan menuju arah Watu Ulo, Kecamatan Ambulu.

Peristiwa tersebut memantik GASMI Jember mengawal proses hukumnya ke pihak kepolisian dengan melaporkan tindakan pidana tersebut ke Polsek Ambulu. Namun, pihak Kepolisian Ambulu justru bungkam saat dikonfirmasi. Mereka enggan memberikan komentar.

Kendati GASMI Jember menegaskan korban pemukulan itu bukan warganya, melainkan Warga GASMI Pagar Nusa Ranting Jatiroto, Cabang Lumajang, namun pihaknya tetap mengawal kasus itu. “Oleh sebab itu, kami imbau kepada seluruh warga GASMI Jember maupun Lumajang agar tetap tertib. Menunggu komando ketua, sambil menunggu pihak kepolisian,” tegas Denis Irawan, Sekretaris GASMI Jember, saat memberikan pernyataan terbuka yang diterima Jawa Pos Radar Jember, kemarin (20/5).

Di tempat terpisah, Kepolisian Sektor Puger juga membikin pers rilis tentang kasus pidana yang juga dilakukan oknum perguruan silat. Kali ini, yang dilakukan adalah perusakan tugu milik warga Ikatan Pencak Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti di Dusun Lengkong, Desa Wonosari, Kecamatan Puger.

Kapolsek Puger AKP Ribut Budiyono menjelaskan, kasus perusakan tugu yang terjadi pada Sabtu (15/5) dini hari itu dilakukan oleh oknum dari perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Puger. Menurutnya, tugu itu dirusak karena warga PSHT tidak terima ada tugu perguruan silat lain yang berdiri di wilayah Wonosari.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Insiden pemukulan yang dilakukan oleh oknum perguruan silat di Jember makin kerap terjadi hingga meresahkan masyarakat. Pelakunya berasal dari berbagai wilayah atau kecamatan. Meski sebagian sudah diamankan oleh kepolisian, namun banyak pula yang sampai hari ini belum tertangkap. Mereka ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO) kepolisian alias buron.

Selain jumlah pelaku yang banyak, motif kasusnya pun beragam. Berawal dari cekcok sampai berakhir dengan adu jotos. Hingga soal atribut perguruan silat, tugu perguruan silat, sampai persoalan masker yang berlambang salah satu perguruan.

Rentetan perkara yang terjadi ini mengindikasikan bahwa penindakan hukum terhadap kasus-kasus tersebut belum memberi efek jera. Akibatnya, kasus serupa terjadi lagi dan lagi. Aksi oknum perguruan silat itu pula yang menyulut perhatian masyarakat. Warga sudah jengah dengan beragam kekerasan itu. Mereka menilai, seyogianya ilmu bela diri dipergunakan untuk hal-hal positif, bukan sebaliknya.

Catatan Jawa Pos Radar Jember sebulan terakhir ini saja, ada lima kasus yang melibatkan anggota perguruan silat. Empat kasus penganiayaan, dan satu kasus perusakan tugu perguruan silat lain. Tiga perkara penganiayaan dan perusakan telah ditangani oleh kepolisian. Aparat juga menetapkan beberapa tersangka. Sementara, kasus teranyar, soal pemukulan di Ambulu, masih belum diketahui siapa pelakunya.

Kasus pemukulan terbaru ini menimpa seorang santri GASMI, salah satu aliran seni bela diri Pagar Nusa, Rabu (19/5) malam. Saat itu, korban yang berasal dari Jatiroto, Lumajang, tengah mengenakan masker bertulis Pagar Nusa (PN). Dia mendadak diserang oleh sejumlah orang tak dikenal hingga babak belur di sekitar jalan menuju arah Watu Ulo, Kecamatan Ambulu.

Peristiwa tersebut memantik GASMI Jember mengawal proses hukumnya ke pihak kepolisian dengan melaporkan tindakan pidana tersebut ke Polsek Ambulu. Namun, pihak Kepolisian Ambulu justru bungkam saat dikonfirmasi. Mereka enggan memberikan komentar.

Kendati GASMI Jember menegaskan korban pemukulan itu bukan warganya, melainkan Warga GASMI Pagar Nusa Ranting Jatiroto, Cabang Lumajang, namun pihaknya tetap mengawal kasus itu. “Oleh sebab itu, kami imbau kepada seluruh warga GASMI Jember maupun Lumajang agar tetap tertib. Menunggu komando ketua, sambil menunggu pihak kepolisian,” tegas Denis Irawan, Sekretaris GASMI Jember, saat memberikan pernyataan terbuka yang diterima Jawa Pos Radar Jember, kemarin (20/5).

Di tempat terpisah, Kepolisian Sektor Puger juga membikin pers rilis tentang kasus pidana yang juga dilakukan oknum perguruan silat. Kali ini, yang dilakukan adalah perusakan tugu milik warga Ikatan Pencak Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti di Dusun Lengkong, Desa Wonosari, Kecamatan Puger.

Kapolsek Puger AKP Ribut Budiyono menjelaskan, kasus perusakan tugu yang terjadi pada Sabtu (15/5) dini hari itu dilakukan oleh oknum dari perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Puger. Menurutnya, tugu itu dirusak karena warga PSHT tidak terima ada tugu perguruan silat lain yang berdiri di wilayah Wonosari.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/