alexametrics
32.2 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Bangkit dengan Cantik, Saling Menguatkan Mental dan Finansial

Mendampingi perempuan korban kekerasan tak cukup dilakukan dari aspek hukum saja. Secara ekonomi, mereka juga perlu diberdayakan. Inilah yang dilakukan Riza Nisriinaa, warga di Kecamatan Sumbersari. Bagaimana sepak terjangnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rasa sesak di dadanya selalu muncul ketika tidak bisa berbuat apa-apa saat ada perempuan korban kekerasan membutuhkan bantuan. Yang membikinnya lebih miris adalah dampak yang terjadi setelah proses persidangan. Korban yang berharap memiliki masa depan lebih baik, justru terpuruk lantaran trauma yang dialaminya. Hal tersebut yang membuat Riza Nisriinaa memutar otak supaya bisa bermanfaat untuk para perempuan tersebut.

Cerita bermula ketika perempuan yang tinggal di Perumahan Jember Permai, Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari ini, tengah mengikuti pelatihan perawatan kecantikan di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Jember. Dia tidak sendirian, tapi bersama beberapa perempuan lain. Tak disangka, momen itu mengubah jalan hidupnya.

“Ternyata, sebagian dari perempuan-perempuan itu adalah mantan korban kekerasan,” tutur wanita 25 tahun itu. Baik kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) maupun ketika berpacaran. Bahkan, ada pula yang mengalami pelecehan hingga kekerasan seksual.

Mobile_AP_Rectangle 2

Saat masih berkecimpung di organisasi Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jember, Nisriina kerap memberikan sosialisasi serta pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan. Mulai dari KDRT, kekerasan dalam berpacaran, hingga istri kedua tapi tidak diberi nafkah. “Ada juga yang hamil di luar nikah, tapi laki-lakinya tidak mau bertanggung jawab,” ucapnya.

Namun, kala itu, kata dia, dalam melakukan pendampingan, pihaknya kerap mengalami kesulitan. Belum lagi, proses hukum yang dilewati begitu lemah dan cenderung tidak menyelesaikan masalah. “Setelah proses persidangan selesai, justru sering kali memunculkan masalah baru,” ujarnya.

Wanita yang akrab disapa Ina tersebut menyatakan, sudah menjadi rahasia umum jika ada seseorang yang selesai melaksanakan proses persidangan, malah terpuruk secara finansial, kehilangan mata pencarian, bahkan terlilit utang. Baik korban maupun pelaku. Lalu, apa yang bisa dilakukan? Pemikiran itulah yang memacu dirinya mendirikan sebuah usaha sosial yang bernilai pemberdayaan terhadap perempuan rentan serta mantan korban kekerasan. “Dan saya beri nama Mengayu alias mempercantik diri,” tuturnya.

Bahkan, keluarga, saudara, hingga kerabatnya juga turut mendukung. Dengan mencari investor, Ina menggabungkan pelatihan kecantikan yang dia dapat dengan upaya pendampingan terhadap perempuan rentan. “Kami bertekad menanggulangi dampak finansial dan mental yang mereka derita dengan memberikan pelatihan serta lapangan kerja,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rasa sesak di dadanya selalu muncul ketika tidak bisa berbuat apa-apa saat ada perempuan korban kekerasan membutuhkan bantuan. Yang membikinnya lebih miris adalah dampak yang terjadi setelah proses persidangan. Korban yang berharap memiliki masa depan lebih baik, justru terpuruk lantaran trauma yang dialaminya. Hal tersebut yang membuat Riza Nisriinaa memutar otak supaya bisa bermanfaat untuk para perempuan tersebut.

Cerita bermula ketika perempuan yang tinggal di Perumahan Jember Permai, Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari ini, tengah mengikuti pelatihan perawatan kecantikan di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Jember. Dia tidak sendirian, tapi bersama beberapa perempuan lain. Tak disangka, momen itu mengubah jalan hidupnya.

“Ternyata, sebagian dari perempuan-perempuan itu adalah mantan korban kekerasan,” tutur wanita 25 tahun itu. Baik kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) maupun ketika berpacaran. Bahkan, ada pula yang mengalami pelecehan hingga kekerasan seksual.

Saat masih berkecimpung di organisasi Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jember, Nisriina kerap memberikan sosialisasi serta pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan. Mulai dari KDRT, kekerasan dalam berpacaran, hingga istri kedua tapi tidak diberi nafkah. “Ada juga yang hamil di luar nikah, tapi laki-lakinya tidak mau bertanggung jawab,” ucapnya.

Namun, kala itu, kata dia, dalam melakukan pendampingan, pihaknya kerap mengalami kesulitan. Belum lagi, proses hukum yang dilewati begitu lemah dan cenderung tidak menyelesaikan masalah. “Setelah proses persidangan selesai, justru sering kali memunculkan masalah baru,” ujarnya.

Wanita yang akrab disapa Ina tersebut menyatakan, sudah menjadi rahasia umum jika ada seseorang yang selesai melaksanakan proses persidangan, malah terpuruk secara finansial, kehilangan mata pencarian, bahkan terlilit utang. Baik korban maupun pelaku. Lalu, apa yang bisa dilakukan? Pemikiran itulah yang memacu dirinya mendirikan sebuah usaha sosial yang bernilai pemberdayaan terhadap perempuan rentan serta mantan korban kekerasan. “Dan saya beri nama Mengayu alias mempercantik diri,” tuturnya.

Bahkan, keluarga, saudara, hingga kerabatnya juga turut mendukung. Dengan mencari investor, Ina menggabungkan pelatihan kecantikan yang dia dapat dengan upaya pendampingan terhadap perempuan rentan. “Kami bertekad menanggulangi dampak finansial dan mental yang mereka derita dengan memberikan pelatihan serta lapangan kerja,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rasa sesak di dadanya selalu muncul ketika tidak bisa berbuat apa-apa saat ada perempuan korban kekerasan membutuhkan bantuan. Yang membikinnya lebih miris adalah dampak yang terjadi setelah proses persidangan. Korban yang berharap memiliki masa depan lebih baik, justru terpuruk lantaran trauma yang dialaminya. Hal tersebut yang membuat Riza Nisriinaa memutar otak supaya bisa bermanfaat untuk para perempuan tersebut.

Cerita bermula ketika perempuan yang tinggal di Perumahan Jember Permai, Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari ini, tengah mengikuti pelatihan perawatan kecantikan di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Jember. Dia tidak sendirian, tapi bersama beberapa perempuan lain. Tak disangka, momen itu mengubah jalan hidupnya.

“Ternyata, sebagian dari perempuan-perempuan itu adalah mantan korban kekerasan,” tutur wanita 25 tahun itu. Baik kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) maupun ketika berpacaran. Bahkan, ada pula yang mengalami pelecehan hingga kekerasan seksual.

Saat masih berkecimpung di organisasi Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jember, Nisriina kerap memberikan sosialisasi serta pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan. Mulai dari KDRT, kekerasan dalam berpacaran, hingga istri kedua tapi tidak diberi nafkah. “Ada juga yang hamil di luar nikah, tapi laki-lakinya tidak mau bertanggung jawab,” ucapnya.

Namun, kala itu, kata dia, dalam melakukan pendampingan, pihaknya kerap mengalami kesulitan. Belum lagi, proses hukum yang dilewati begitu lemah dan cenderung tidak menyelesaikan masalah. “Setelah proses persidangan selesai, justru sering kali memunculkan masalah baru,” ujarnya.

Wanita yang akrab disapa Ina tersebut menyatakan, sudah menjadi rahasia umum jika ada seseorang yang selesai melaksanakan proses persidangan, malah terpuruk secara finansial, kehilangan mata pencarian, bahkan terlilit utang. Baik korban maupun pelaku. Lalu, apa yang bisa dilakukan? Pemikiran itulah yang memacu dirinya mendirikan sebuah usaha sosial yang bernilai pemberdayaan terhadap perempuan rentan serta mantan korban kekerasan. “Dan saya beri nama Mengayu alias mempercantik diri,” tuturnya.

Bahkan, keluarga, saudara, hingga kerabatnya juga turut mendukung. Dengan mencari investor, Ina menggabungkan pelatihan kecantikan yang dia dapat dengan upaya pendampingan terhadap perempuan rentan. “Kami bertekad menanggulangi dampak finansial dan mental yang mereka derita dengan memberikan pelatihan serta lapangan kerja,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/