alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Berharap Ramai dari Asrama Haji, Kaget Dengar Pembangunannya Tak Jadi

Hampir semua orang membuka usaha dengan memilih tempat ramai. Namun, Munawaroh melakukan hal sebaliknya. Dia berjualan kopi di lokasi yang super sepi. Kok bisa?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perempuan paruh baya terlihat menenteng setandan pisang ke warungnya. Dialah Munawaroh. Di tempat itu, Munawaroh mengais rezeki. Lokasinya jauh dari rumah-rumah warga. Jauh dari pusat keramaian.

Membuka warung kopi (warkop) di sebuah gang kecil dilakukan Munawaroh sudah cukup lama. Sekitar 15 tahun lalu. Dia nekat berjualan yang lokasinya berada di belakang Jember Spot Garden (JSG) demi melanjutkan hidup, sepeninggal almarhum suaminya.

Usaha warkop di sekitar kebun dan persawahan itu tentu saja tak langsung laku. Butuh waktu yang cukup lama, sehingga dirinya memiliki sejumlah pelanggan tetap. Yaitu, beberapa petani yang beraktivitas di sekitar JSG atau mereka yang tinggal di Desa Pancakarya serta Wirowongso, Kecamatan Ajung.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Setiap hari, pembelinya cuma petani. Itu setelah berjalan tiga bulan baru mulai ada pelanggan,” ulas Munawaroh yang kini berusia 55 tahun.

Ibu satu anak itu mengaku, membuka warkop di lokasi sepi dilakukan karena dirinya tak punya pekerjaan lain. Menjadi buruh tani sudah tak begitu kuat, sehingga mengadu nasib di gang tersebut.

Setelah mendapat pelanggan satu-dua orang, keberadaan warkop Munawaroh pun kian menjadi jujukan petani sekitar. Meski demikian, warkop miliknya kerap menjadi tempat utang para petani yang menjadi pelanggan. Maklum saja, orang pergi ke sawah mayoritas tak membawa dompet ataupun uang. “Kalau petani sini ada juga yang utang. Tetap saya layani,” katanya.

Nenek dua cucu ini menyebut, beberapa tahun berjalan, anak-anak yang pulang sekolah juga sempat mampir di lokasi tersebut. Selain itu, orang-orang yang sekadar melintas di lokasi, terkadang juga mampir di warungnya.

Sekitar sebelas tahun berjualan, Munawaroh seakan mendapat secercah harapan. Yaitu, adanya kabar pendirian asrama haji yang jaraknya hanya sekitar 25 meter dari berdirinya warkop. Dia pun senang pada saat bangunan asrama haji mulai dilakukan. Sebab, sejumlah pegawai banyak yang ngopi di tempatnya. “Kantor pembangunan asrama haji ini ada di sebelah warung. Itu bekas semennya,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perempuan paruh baya terlihat menenteng setandan pisang ke warungnya. Dialah Munawaroh. Di tempat itu, Munawaroh mengais rezeki. Lokasinya jauh dari rumah-rumah warga. Jauh dari pusat keramaian.

Membuka warung kopi (warkop) di sebuah gang kecil dilakukan Munawaroh sudah cukup lama. Sekitar 15 tahun lalu. Dia nekat berjualan yang lokasinya berada di belakang Jember Spot Garden (JSG) demi melanjutkan hidup, sepeninggal almarhum suaminya.

Usaha warkop di sekitar kebun dan persawahan itu tentu saja tak langsung laku. Butuh waktu yang cukup lama, sehingga dirinya memiliki sejumlah pelanggan tetap. Yaitu, beberapa petani yang beraktivitas di sekitar JSG atau mereka yang tinggal di Desa Pancakarya serta Wirowongso, Kecamatan Ajung.

“Setiap hari, pembelinya cuma petani. Itu setelah berjalan tiga bulan baru mulai ada pelanggan,” ulas Munawaroh yang kini berusia 55 tahun.

Ibu satu anak itu mengaku, membuka warkop di lokasi sepi dilakukan karena dirinya tak punya pekerjaan lain. Menjadi buruh tani sudah tak begitu kuat, sehingga mengadu nasib di gang tersebut.

Setelah mendapat pelanggan satu-dua orang, keberadaan warkop Munawaroh pun kian menjadi jujukan petani sekitar. Meski demikian, warkop miliknya kerap menjadi tempat utang para petani yang menjadi pelanggan. Maklum saja, orang pergi ke sawah mayoritas tak membawa dompet ataupun uang. “Kalau petani sini ada juga yang utang. Tetap saya layani,” katanya.

Nenek dua cucu ini menyebut, beberapa tahun berjalan, anak-anak yang pulang sekolah juga sempat mampir di lokasi tersebut. Selain itu, orang-orang yang sekadar melintas di lokasi, terkadang juga mampir di warungnya.

Sekitar sebelas tahun berjualan, Munawaroh seakan mendapat secercah harapan. Yaitu, adanya kabar pendirian asrama haji yang jaraknya hanya sekitar 25 meter dari berdirinya warkop. Dia pun senang pada saat bangunan asrama haji mulai dilakukan. Sebab, sejumlah pegawai banyak yang ngopi di tempatnya. “Kantor pembangunan asrama haji ini ada di sebelah warung. Itu bekas semennya,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perempuan paruh baya terlihat menenteng setandan pisang ke warungnya. Dialah Munawaroh. Di tempat itu, Munawaroh mengais rezeki. Lokasinya jauh dari rumah-rumah warga. Jauh dari pusat keramaian.

Membuka warung kopi (warkop) di sebuah gang kecil dilakukan Munawaroh sudah cukup lama. Sekitar 15 tahun lalu. Dia nekat berjualan yang lokasinya berada di belakang Jember Spot Garden (JSG) demi melanjutkan hidup, sepeninggal almarhum suaminya.

Usaha warkop di sekitar kebun dan persawahan itu tentu saja tak langsung laku. Butuh waktu yang cukup lama, sehingga dirinya memiliki sejumlah pelanggan tetap. Yaitu, beberapa petani yang beraktivitas di sekitar JSG atau mereka yang tinggal di Desa Pancakarya serta Wirowongso, Kecamatan Ajung.

“Setiap hari, pembelinya cuma petani. Itu setelah berjalan tiga bulan baru mulai ada pelanggan,” ulas Munawaroh yang kini berusia 55 tahun.

Ibu satu anak itu mengaku, membuka warkop di lokasi sepi dilakukan karena dirinya tak punya pekerjaan lain. Menjadi buruh tani sudah tak begitu kuat, sehingga mengadu nasib di gang tersebut.

Setelah mendapat pelanggan satu-dua orang, keberadaan warkop Munawaroh pun kian menjadi jujukan petani sekitar. Meski demikian, warkop miliknya kerap menjadi tempat utang para petani yang menjadi pelanggan. Maklum saja, orang pergi ke sawah mayoritas tak membawa dompet ataupun uang. “Kalau petani sini ada juga yang utang. Tetap saya layani,” katanya.

Nenek dua cucu ini menyebut, beberapa tahun berjalan, anak-anak yang pulang sekolah juga sempat mampir di lokasi tersebut. Selain itu, orang-orang yang sekadar melintas di lokasi, terkadang juga mampir di warungnya.

Sekitar sebelas tahun berjualan, Munawaroh seakan mendapat secercah harapan. Yaitu, adanya kabar pendirian asrama haji yang jaraknya hanya sekitar 25 meter dari berdirinya warkop. Dia pun senang pada saat bangunan asrama haji mulai dilakukan. Sebab, sejumlah pegawai banyak yang ngopi di tempatnya. “Kantor pembangunan asrama haji ini ada di sebelah warung. Itu bekas semennya,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/