alexametrics
30.1 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Ikutkan Pelatihan Menulis, Bikin Buku Ditarget Sebulan Selesai

Masa belajar di rumah rentan membuat bocah ketagihan bermain gawai. Karenanya, orang tua mati-matian mencari cara agar anak mereka tak sampai kecanduan. Sepertinya, apa yang dilakukan ibu asal Gumukmas ini bisa menjadi inspirasi. Dia mengikutkan sang buah hati dalam pelatihan menulis. Bagaimana hasilnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak pandemi berlangsung, aktivitas belajar di sekolah diganti dengan daring. Kondisi ini yang menjadi cikal bakal siswa kecanduan gawai. Dampaknya, mau tidak mau, orang tua harus turun tangan untuk mengarahkan anak-anak mereka. Targetnya, mengalihkan perhatian anak pada gawai dengan kegiatan yang lebih produktif

Inilah yang dilakukan Nikmatul Khoiroh. Ibu dua anak ini mengaku, selama pandemi, putra pertamanya tidak bisa lepas dengan ponsel. Itu karena di sisi lain, sang anak juga mengikuti pembelajaran dari rumah. “Jadi, pegang ponsel terus. Ini mengkhawatirkan,” kata guru di SMP Negeri 1 Gumukmas tersebut.

Melihat kondisi itu, dia lantas memutuskan agar anaknya, Azam Brilian Iman Muhammad, mengikuti program pelatihan Satu Siswa Satu Buku (Sasisabu). Pelatihan yang berlangsung selama 10 hari dengan tiga kali pertemuan daring ini dilakukan pada 10 Oktober 2020 lalu. Melalui pelatihan ini, Khoiroh menyebut, putranya secara perlahan mulai meninggalkan game online. “Dan waktu sebulan digunakan untuk menyelesaikan karyanya,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurutnya, memang tidak mudah mengalihkan kebiasaan putranya dari ponsel untuk fokus menulis. Namun, secara perlahan Azam pun mengikuti arahan sang ibu. Hingga akhirnya, Azam memutuskan untuk menulis tentang Pramuka. Dan berlanjut menulis buku dua bahasa atau bilingual“Saya buat perjanjian, boleh memegang HP, tapi ada syaratnya. Belajar nulis dulu. Kalau bukumu laku, nanti kamu akan mendapatkan gaji. Itu motivasi awalnya,” ucap Khoiroh.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Azam mengaku, ada dua hal di sekolah yang menjadi kesukaannya. Pertama adalah Pramuka, dan selanjutnya bahasa Inggris. Bahkan, untuk kegiatan Pramuka, dia sudah aktif sejak duduk di bangku kelas empat.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak pandemi berlangsung, aktivitas belajar di sekolah diganti dengan daring. Kondisi ini yang menjadi cikal bakal siswa kecanduan gawai. Dampaknya, mau tidak mau, orang tua harus turun tangan untuk mengarahkan anak-anak mereka. Targetnya, mengalihkan perhatian anak pada gawai dengan kegiatan yang lebih produktif

Inilah yang dilakukan Nikmatul Khoiroh. Ibu dua anak ini mengaku, selama pandemi, putra pertamanya tidak bisa lepas dengan ponsel. Itu karena di sisi lain, sang anak juga mengikuti pembelajaran dari rumah. “Jadi, pegang ponsel terus. Ini mengkhawatirkan,” kata guru di SMP Negeri 1 Gumukmas tersebut.

Melihat kondisi itu, dia lantas memutuskan agar anaknya, Azam Brilian Iman Muhammad, mengikuti program pelatihan Satu Siswa Satu Buku (Sasisabu). Pelatihan yang berlangsung selama 10 hari dengan tiga kali pertemuan daring ini dilakukan pada 10 Oktober 2020 lalu. Melalui pelatihan ini, Khoiroh menyebut, putranya secara perlahan mulai meninggalkan game online. “Dan waktu sebulan digunakan untuk menyelesaikan karyanya,” ungkapnya.

Menurutnya, memang tidak mudah mengalihkan kebiasaan putranya dari ponsel untuk fokus menulis. Namun, secara perlahan Azam pun mengikuti arahan sang ibu. Hingga akhirnya, Azam memutuskan untuk menulis tentang Pramuka. Dan berlanjut menulis buku dua bahasa atau bilingual“Saya buat perjanjian, boleh memegang HP, tapi ada syaratnya. Belajar nulis dulu. Kalau bukumu laku, nanti kamu akan mendapatkan gaji. Itu motivasi awalnya,” ucap Khoiroh.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Azam mengaku, ada dua hal di sekolah yang menjadi kesukaannya. Pertama adalah Pramuka, dan selanjutnya bahasa Inggris. Bahkan, untuk kegiatan Pramuka, dia sudah aktif sejak duduk di bangku kelas empat.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak pandemi berlangsung, aktivitas belajar di sekolah diganti dengan daring. Kondisi ini yang menjadi cikal bakal siswa kecanduan gawai. Dampaknya, mau tidak mau, orang tua harus turun tangan untuk mengarahkan anak-anak mereka. Targetnya, mengalihkan perhatian anak pada gawai dengan kegiatan yang lebih produktif

Inilah yang dilakukan Nikmatul Khoiroh. Ibu dua anak ini mengaku, selama pandemi, putra pertamanya tidak bisa lepas dengan ponsel. Itu karena di sisi lain, sang anak juga mengikuti pembelajaran dari rumah. “Jadi, pegang ponsel terus. Ini mengkhawatirkan,” kata guru di SMP Negeri 1 Gumukmas tersebut.

Melihat kondisi itu, dia lantas memutuskan agar anaknya, Azam Brilian Iman Muhammad, mengikuti program pelatihan Satu Siswa Satu Buku (Sasisabu). Pelatihan yang berlangsung selama 10 hari dengan tiga kali pertemuan daring ini dilakukan pada 10 Oktober 2020 lalu. Melalui pelatihan ini, Khoiroh menyebut, putranya secara perlahan mulai meninggalkan game online. “Dan waktu sebulan digunakan untuk menyelesaikan karyanya,” ungkapnya.

Menurutnya, memang tidak mudah mengalihkan kebiasaan putranya dari ponsel untuk fokus menulis. Namun, secara perlahan Azam pun mengikuti arahan sang ibu. Hingga akhirnya, Azam memutuskan untuk menulis tentang Pramuka. Dan berlanjut menulis buku dua bahasa atau bilingual“Saya buat perjanjian, boleh memegang HP, tapi ada syaratnya. Belajar nulis dulu. Kalau bukumu laku, nanti kamu akan mendapatkan gaji. Itu motivasi awalnya,” ucap Khoiroh.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Azam mengaku, ada dua hal di sekolah yang menjadi kesukaannya. Pertama adalah Pramuka, dan selanjutnya bahasa Inggris. Bahkan, untuk kegiatan Pramuka, dia sudah aktif sejak duduk di bangku kelas empat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/